Pejabat Yang Sangat Sederhana
Oleh : Uti Konsen.U.M. (APPost)
"Setiap
orang adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya.
Seorang raja/penguasa adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap
rakyatnya…. " ( HR.Bukhari – Muslim )
Kehidupan para sahabat Nabi SAW banyak dipenuhi berbagai macam
pribadi yang menawan yang menjadi suri teladan bagi generasi yang
datang kemudian. Dan pangkal dari pribadi menawan itu adalah
semata-mata karena dorongan keikhlasan dalam memeluk Islam dan
menjalankan syariat-syariat-
terima dan dihadapi dengan jiwa yang tabah, istiqamah. Yang penting
Allah meridhai perjalanan dan perjuangan hidupnya. Semboyan yang
berkembang ketika itu adalah "Hidup mulia atau mati syahid ".
Salah satu diantaranya ialah Salman Al Farisi. Ia adalah salah
seorang sahabat Nabi SAW yang sangat sederhana dan salah seorang
sahabat yang gagah berani lagi cerdas otaknya. Ia mampu menciptakan
teori penggalian parit sekitar Madinah, tatkala pasukan musuh mau
menggempurnya. Ia juga dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW
yang memiliki akhlakul karimah, sehingga Rasulullah SAW memasukkannya
ke dalam golongan Ahlul-Bait.
Sepeninggalan Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar dan khalifah
berikutnya menugasi Salman sebagai gubernur wilayah Mada'in. Salman
sebetulnya menolak menduduki jabatan yang begitu tinggi itu.. Ia
berkomentar, "Jabatan itu manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya ". Tapi lantaran "dipaksa", maka ia terima juga demi pengabdian kepada
Allah. Karena itu ia pun sangat baik kepada rakyatnya dan hidup di
tengah-tengah mereka.
Sebagai seorang amir, Salman menerima tunjangan sampai 6.000 dinar
setahun (jumlah yang sangat sederhana untuk ukuran waktu itu ). Meski
demikian, hampir seluruh tunjangannya itu ia serahkan kepada fakir
miskin. Ia cuma mengambil satu dirham yang digunakan sebagai modal
untuk membeli daun dan pelepah korma yang lantas dianyam dan dijual
sendiri ke pasar, laku tiga dirham. Uang tiga dirham itu dibagi tiga,
satu dirham untuk modal, satu dirham untuk nafkah keluarga, dan satu
dirham lagi untuk fakir miskin. Begitulah selalu dilakukan oleh Salman
Al Farisi, sebagai amir negeri Mada'in.
Salman Al Farisi juga dikenal sebagai seorang pejabat yang senang
membantu orang yang kesulitan. Satu hari misalnya, ketika ia melihat
seorang Syria kerepotan membawa barang dagangannya maka secara spontan,
Salman membawakan barang dagangan itu. Ditengah jalan, diantara anggota
masyarakat ada yang mengenalnya dan mengucapkan salam "Assalamu'alaikum ya Amir ". Mendengar nama Amir disebut, orang Syria itu kaget bukan kepalang. Ia tidak mengira, jika "kuli"
yang membawa barangnya adalah Gubernur Negeri Mada'in. Dengan penuh
rasa hormat, orang itu meminta barangnya untuk dibawanya sendiri. Tapi
Salman tidak membolehkannya. Ia terus membawanya sampai ke tempat
tujuan.
Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash datang ke rumah Salman, ia melihat Salman sedang sedih. "Demi Allah," kilah Salman kepada tamunya, "Saya
bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan hidup di dunia, tapi
ingat pesan Rasulullah "Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan
dunia ini seperti bekal seorang pengelana".Padahal barang yang saya miliki cukup banyak, " kata Salman mengakhiri tangisnya.
"Bangunan rumah Salman, hanya sekedar dapat digunakan bernaung
di waktu panas dan berteduh di kala hujan. Jika penghuninya berdiri,
kepalanya terantuk sampai langit-langit, dan jika berbaring kakinya
sampai ke dinding. Sedang di dalamnya tak ada perabotan kecuali sebuah
piring untuk makan dan baskom nuntuk persediaan air. Meski demikian, ia
tetap risau, menganggap barang-barang yang dimilikinya masih berlebihan," tulis Badruzzaman Busyairi dalam buku 'Bunga Rampai Ajaran Islam no 14 ". Masya Allah.
Di rumahnya, Salman tanpa ragu mengerjakan sendiri pekerjaan yang
semestinya digarap pelayannya. Sedang rumahnya sangat sederhana, tidak
mengesankan sebagai rumah seorang Gubernur. Sebaliknya lebih menyerupai
rumah rakyat kecil yang miskin. Salman akhirnya wafat dalam keadaan
bersih, tidak meninggalkan harta yang berarti, kecuali pesan-pesannya
yang terus dikenang lantaran didukung oleh sikap dan sifat hidupnya
yang sederhana dan ikhlas, yang sudah sangat jarang ditemukan dalam
kehidupan akhir-akhir ini. Contoh lain. Di masa Khalifah Umar bin
Khattab RA, Abu Hurairah diangkat menjadi Amir (setingkat Gubernur)
untuk wilayah Bahrain. Umar yang sangat teliti melihat Abu Hurairah
jadi murah rezekinya, curiga dan memerintahkan hartanya diserahkan
kepada Baitulmal. Abu Hurairah RA setelah menjelaskan bahwa harta yang
dimiliknya itu berasal dari yang halal dan sah, akhirnya menyerahkannya
ke Baitulmal seraya berdoa demi keampunan dan keselamatan Umar,
sekaligus memohon pengunduran diri dari jabatannya.
Selang beberapa lama, Khalifah Umar memintanya untuk duduk lagi
dalam pemerintahan dengan jabatan baru yang lebih tinggi. Tapi dengan
arifnya, Abu Hurairah menolak. Katanya "Aku ingin kehormatanku tidak
tercela, hartaku tidak dirampas, penggungku tidak dipukul. Dan aku
takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa kasih sayang." Wallahualam. **
____________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar