Rabu, 05 November 2008

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2348

sekolah-kehidupan

Messages In This Digest (6 Messages)

Messages

1a.

Tentang rumah aku dan mereka sebuah metafora

Posted by: "ahsin udin" ahsin_dn@yahoo.com   ahsin_dn

Wed Nov 5, 2008 2:52 am (PST)



Tentang rumah aku dan
mereka sebuah metafora

 

Bismillahirrahmannirrahiim.. 

Ibarat rumah
yang makin besar makin banyak orang yang datang dengan motif dan niat-niat
tertentu, ada yang merusak ada yang membangun. ada yang tidak nyaman kemudian
pindah rumah tapi adapula yang tetap tinggal dan mencoba memperbaiki

Yah rumah
sekarang mungkin tidak seindah masa pengantin dahulu, kecil mungil tapi
indah… Tidak segembira saat anak-anak mulai tumbuh dan berkembang…
merangkak kian kemari, berlari-lari tertatih kemudian jatuh…

Yang tinggal
terkadang hanya bisa tersenyum ketika anak-anak mulai mengenal pensil dan
mencoret-coret tembok serta ruangan,

Yang tinggal terkadang sedih ketika saudara-saudarnya
pergi meninggalkan rumah, Meninggalkan kenangan…

 Meninggalkan  perjuangan yang belum usai…

Yang tinggal akan lebih sedih lagi ketika saudaranya
malah mengolok-olok rumah mereka dahulu.. rumah mereka yang sekarang tampak
kotor…

 Lupakan mereka bagaimana orang tua kita berjuang
membangun rumah itu?

 Darah, air mata, lapar dan dahaga telah dikorbankan
untuk membangun pondasinya..

 Ah sudahlah… yang  tinggal hanya ingin beramal
sholih menjaga dan merawat rumah ini, berharap menjadi menjadi amal yang
mengalir untuk orang tua kami…

 orang tua yang kami cintai…

 Mungkin
banyak orang lupa awal mereka dilahirkan dan dibesarkan di rumah

ini, mungkin banyak yang sudah 'pintar' dan 'lebih' untuk mau membanggakan

bahkan hanya untuk mengingat indahnya rumah ini.

Tapi aku tak akan pernah lupa bahwa rumah ini dan seluruh penghuninya adalah

sahabat terbaiku di dalam hidupku yang telah memberikan tausiah, cinta dan

ukhuwah yang tak kenal batas. Aku tetap merasa bahwa rumahku ini harus aku

banggakan terlebih mengingatnya.

Biarlah mungkin banyak yang sudah mengotorinya ataupun melupakannya, tapi

diriku dan seluruh hidupku akan selalu berjuang membersihkan, merawat dan

membangun rumah ini meskipun dimulai dari teras belakang.

Wassalam

Handri Susanto-Rumahku dan keluargaku yang saat ini di Kota Tangerang

__________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
2a.

Re: [sekolah-kehidupan] (Canda) Minta HP ? Kasih, daah…

Posted by: "Andri Pranolo" apranolo@gmail.com   and_pci

Wed Nov 5, 2008 2:59 am (PST)

Amin. Dengan senang hati, silahkan kami tunggu kang hadian ya... :)

2008/11/4 Hadian Febrianto <hadianf@gmail.com>

> oh gitu ya? kok yang ilang HP orang jogja semua ya?
>
> Mas dan Mba dalam waktu dekat mudah2an saya bisa ke jogja dan solo lagi...
> mudah2an bisa bertemu... amin
>
>
>
>
> --
> Regards,
> Hadian Febrianto, S.Si
> PT SAGA VISI PARIPURNA
> Jl. Rereng Barong no.53 Bandung 40123
> Ph/fax: (+6222) 2507537
>
>

--
Andri Pranolo
Gendeng GK IV/953, Yogyakarta 55225
Telp. (+62)274-547015/ (+62)81392554050)
http://apranolo.staff.ugm.ac.id
3a.

Re: (Canda) Minta HP ? Kasih, daah…

Posted by: "cahaya.khairani" cahaya.khairani@yahoo.com   cahaya.khairani

Wed Nov 5, 2008 5:03 am (PST)


Jangan lupa bawa oleh-oleh... HP juga boleh, Sony Ericcson oke, Nokia
juga nggak nolak... he he

Kalo mo mampir : Perumahan SGPLB F.14 Jl Wates KM 3 Jogjakarta

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "Hadian Febrianto"
<hadianf@...> wrote:
>
> oh gitu ya? kok yang ilang HP orang jogja semua ya?
>
> Mas dan Mba dalam waktu dekat mudah2an saya bisa ke jogja dan solo
lagi...
> mudah2an bisa bertemu... amin
>
>
>
> --
> Regards,
> Hadian Febrianto, S.Si
> PT SAGA VISI PARIPURNA
> Jl. Rereng Barong no.53 Bandung 40123
> Ph/fax: (+6222) 2507537
>

4.

(Catcil) Ibu, Jangan Sia-siakan Anakmu

Posted by: "cahaya.khairani" cahaya.khairani@yahoo.com   cahaya.khairani

Wed Nov 5, 2008 5:12 am (PST)



Tulisan ini adalah tulisan lama yang saya revisi. Sebuah momen
pertemuan saya dengan Yanti membuat saya teringat kembali pada
peristiwa memilukan yang kemudian menggerakkan saya menuliskannya
kembali agar kita menyadari di luar sana "peristiwa" ini ada…

Siang sangat terik ketika saya menyusuri Malioboro. Langkah saya
terhenti begitu pandangan saya tertuju pada seorang ibu yang tengah
menawar sebuah gelang aksesoris. Walau empat tahun telah berlalu, saya
masih sangat mengingat jelas wajah itu. Sebenarnya saya enggan
menyapanya, namun keberadaan seorang bocah kumal disampingnya membuat
saya tak dapat mencegah diri saya untuk menyapa Yanti.

"Yanti…apa kabar…? Sehat,kan…?",

Tangan saya meraih kepala Yanti dan membelai sayang rambutnya yang
kusam. Umur Yanti tentunya sudah menginjak 10 tahun sekarang. Dia
terlihat terkejut, senang dan bingung. Membaca kebingungannya saya pun
bertanya,

"Sudah lupa ya sama mbak…?".

Yanti mengangguk. Wajar, karena selama hidup di jalanan tentulah ia
telah bertemu banyak orang yang datang dan pergi apalagi kami bertemu
ketika usianya masih 6 tahun. Aku sendiri tak mengharapkan ia mengingatku.

Berbeda dengan Yanti, ibunya segera mengenali saya begitu dia menoleh
ke belakang, melihat orang yang menyapa anaknya.

"Eeeh, Mbak…! Mbak saya bisa nggak masukkan Yanto ke panti asuhan,
Yanto kepengen sekolah!".

Saya hanya tersenyum kecut, kemudian berlalu setelah berpamitan dengan
sopan.

***

"Kasih Ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang jalan". Demikian
pepatah yang menggambarkan kasih sayang ibu yang tak lekang oleh waktu
kepada anaknya. Namun rupanya pepatah itu tak berlaku bagi seorang
ibu, yang belum sempat saya ketahui namanya.

Sore itu hujan turun cukup deras di tanah Jogja, namun tak menghalangi
saya keluar dari kost untuk mengunjungi anak-anak jalanan, murid
mengaji saya di perempatan jalan raya.. Hujan deras seperti ini
membuat saya khawatir. Dimana mereka berteduh? Bagaimana mereka
menghalau dingin? Bagaimana jika mereka sakit?.

Sudah tiga tahun saya melakukan pendampingan anak jalanan, selama tiga
tahun itu, belum banyak yang saya dapat berikan untuk mereka.
Sebaliknya, merekalah yang banyak memberi untuk saya. Bersama mereka,
saya belajar makna bersyukur, dan dengannya saya menemukan makna
hidup. Bersama mereka saya selalu berlatih untuk selalu ikhlas,
belajar memberi tanpa mengharapkan menerima, belajar memahami tanpa
mengharapkan dipahami, belajar mencintai tanpa mengharapkan dicintai.
Mereka juga membuat saya selalu berwajah ceria dalam setiap kondisi.

Bersama dua sahabat saya, kami bertiga menembus wilayah yang amat
jarang disentuh oleh wanita. Jarang, karena kehidupan jalanan adalah
kehidupan yang keras, mau tidak mau kami akan berhadapan dengan anak
jalanan yang berkelahi, mabuk, atau nge-drug.

Tepat di bawah jembatan layang saya melihat seorang anak berselimutkan
kain spanduk dengan ditemani ibu, kakak, dan adiknya. Sang kakak
berusia 10 tahun dan sang adik berusia 3 tahun. Menyadari mereka dalam
kesusahan, saya belokkan sepeda motor saya menghampiri mereka. Anak
perempuan berusia 6 tahun yang kemudian saya ketahui bernama Yanti
tampak begitu pucat, tubuhnya menggigil kedinginan. Dengan cuaca
dingin setelah beberapa hari hujan, tidur hanya beralaskan sepotong
kardus dan berselimutkan kain spanduk tentu membuatnya sangat
kedinginan. Selintas saya teringat pada kasur empuk dan selimut tebal
yang hangat di kamar kost saya. Ah…betapa lebih beruntungnya saya…

"Sudah tujuh hari sakit , Mbak. Batuk-batuk, muntah, buang air besar,
batuk sama buang air besarnya keluar darah…", ujar sang ibu.

Saya coba memeriksa kondisi Yanti, badannya sangat panas, dia terlihat
begitu lemah dan menderita, sontak saya berfikir untuk membawa Yanti
ke dokter.

Di ruang UGD Yanti menangis ketika jarum infus menusuk pergelangan
tangannya yang mungil. Yanti harus dirawat beberapa hari di rumah
sakit. Kakaknya, Nugroho dan adiknya, Yanto yang berusia 3 tahun saya
titipkan pada sahabat saya, karena rumah sakit tidak memperbolehkan
anak-anak ikut berjaga di rumah sakit.

Selama berjaga di rumah sakit sang ibu menceritakan kisah hidupnya.
Dia menikah dengan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Suaminya kasar dan tak pernah di rumah apalagi memberi uang belanja
untuk keperluan sehari-hari. Kalaupun pulang, bukan uang yang
diberikan tetapi justru meminta uang pada istrinya. Tak tahan dengan
kelakuan sang suami, sang ibu membawa ketiga anaknya hidup di jalanan.
Tidur berpindah-pindah, di bawah jembatan, di pasar atau di emperan
toko. Untuk mengisi perut, ia menjadikan anak-anaknya pengemis.
Menurut keterangan para ibu yang anaknya dirawat di bangsal yang sama,
sang ibu kerap terlihat di perempatan jalan menunggui anaknya
mengemis. Sementara anak-anaknya berpanas-panasan, berhujan-hujanan,
bertaruh nyawa di tengah padatnya arus kendaraan, sang ibu
bersantai-santai dengan berpayung ria menunggu anak-anaknya menyetor
receh yang mereka dapatkan.

Cerita yang kerap saya dengar dan lihat dari kehidupan orang-orang
yang hidup di jalanan. Pada akhirnya, anak-anak yang menjadi korban.
Di jalanan, anak-anak lebih dapat menarik simpati para pemakai jalan.
Uang 30 ribu, 50 ribu, bahkan lebih dapat diraup dalam waktu singkat,
berbeda halnya dengan orang dewasa. Karena itulah para orang tua yang
putus asa dan berpikiran sempit menggunakan anak-anaknya untuk mencari
rejeki. Walaupun ada juga orang tua yang pada awalnya tidak
mengijinkan, tapi ditengah-tengah , dengan alasan himpitan ekonomi,
dibiarkannya juga anak-anak mencari penghidupan di jalanan.

Setelah tujuh hari, Yanti dinyatakan sehat dari sakit bronchitis dan
muntaber yang dideritanya. Setelah mengurus segala persyaratan untuk
memperoleh keringanan biaya, pihak rumah sakit membebaskan biaya
perawatan, gratis. Keceriaan kanak-kanak menghiasi wajah Yanti, senyum
manja mulai terlihat diwajahnya, sungguh menggemaskan. Siapa yang
menyangka, bocah manis dan lucu itu bersama dua saudaranya dengan tega
oleh sang ibu ditawarkan kepada para ibu di rumah sakit untuk diambil
sebagai anak.

"Sudah capek saya ngurus anak-anak ini", kata sang ibu.

Niat sang ibu untuk meninggalkan anak-anaknya akhirnya diwujudkan
dengan cara yang dramatis. Ketika itu, begitu Yanti keluar dari rumah
sakit, dengan dibantu beberapa orang teman, saya membawa Yanti, ibu,
kakak dan adiknya ke sebuah panti sosial. Itulah tempat yang menurut
saya dapat menjadi solusi. Dari hasil survey saya sebelumnya, panti
itu memberikan satu kamar untuk tiap keluarga, makan gratis, uang
saku, dan pelatihan keterampilan agar kelak dapat mandiri. Dan yang
terpenting Yanti tidak harus tidur di jalanan yang ketika siang penuh
asap kendaraan, dan ketika malam diselimuti udara dingin, yang
pastinya itu semua akan lebih membahayakan kesehatan Yanti yang telah
terjangkit bronchitis. Namun begitu tiba di depan Panti, sang ibu
menolak untuk tinggal seperti kesepakatan kami. Dengan menggendong
Yanto, anaknya yang paling kecil, sang ibu berlari dan kemudian
menumpangi becak yang kebetulan lewat. Saya mencoba mengejar dan
mencegahnya.

"Jangan pergi, Bu. Kalau ibu gak mau tinggal disini, kita bisa cari
tempat yang lain. Tapi ibu gak boleh tinggalin anak-anak ibu. Yanti
baru sembuh, dia butuh ibu!".

"Saya gak mau ngurus, mbak. Terserah mbak mau apakan Nugroho sama
Yanti", jawab sang ibu acuh tak acuh, berlalu tanpa menoleh lagi ke
belakang melihat kepada Nogroho dan Yanti yang memandang kepergian
ibunya tanpa mengerti apa yang tengah terjadi. Dada saya terasa sesak,
air mata menetes. Peristiwa yang selama ini hanya saya lihat di
sinetron, terjadi di depan mata saya…

Yanti dan kakaknya saya serahkan ke panti asuhan. Semakin hari
kesehatan Yanti semakin membaik. Dia dan kakaknya dirawat dengan baik
di sana. Kakak beradik itu terlihat bersih, tidak kumal seperti ketika
mereka hidup di jalanan. Mereka selalu terlihat ceria dan bahagia tiap
kali saya menjenguknya. Mereka belajar mengaji dan sholat di panti
asuhan itu. Menurut laporan pengurus panti, semula Nugroho tidak mau
sholat dan mengaji, dia mengaku bukan islam, Nugroho hanya melihat
saja teman-temannya sholat dan mengaji. Pantas saja mereka memanggil
saya "Suster" di awal pertemuan kami. Rupanya pakaian biarawati mereka
anggap sama dengan jilbab lebar yang saya pakai.

Waktu pun berlalu. Nugroho telah bersekolah sedang Yanti sudah tidak
sabar menunggu tahun depan untuk bersekolah. Masa depan cerah menanti
mereka. Namun suatu hari, tanpa sepengetahuan pengurus panti asuhan,
sang ibu datang dan membawa mereka entah kemana…

Saya baru melihat mereka kembali berbulan-bulan kemudian, di
perempatan jalan, dengan penampilan kumuh tak terurus. Yanti, Nugroho
dan adiknya, tengah tertawa ceria bersama sang ibu. Tak peduli
padatnya lalu lintas, tak peduli teriknya matahari, tak peduli bahwa
sang ibu pernah meninggalkan mereka begitu saja…

Sungguh, melihat tawa ceria anak-anak itu di tengah pahitnya hidup
yang mereka lalui, saya tak habis mengerti, mengapa sang ibu tega
meninggalkan mereka begitu saja…mengapa sang ibu datang kembali di
saat masa depan cerah terbuka bagi mereka…mengapa sang ibu begitu tega
meraup rejeki dari tangan-tangan mungil mereka yang menengadah…saya
hanya dapat berdo'a semoga tidak ada lagi anak-anak bernasib sama
seperti Yanti dan kedua saudaranya…

http://www.cahayakhairani.multiply.com

5.

[OOT] Sejarah Paralel

Posted by: "erwin erwin" eskesuma@yahoo.com

Wed Nov 5, 2008 5:31 am (PST)

assalamu'alaikum,
rekans maaf mengganggu, dan keluar dari topik.
 
saya ingin sekali membaca sejarah yang ditulis secara 'paralel'. maksudnya begini, sebagai contoh, ketika masa kelahiran rasulullah dan awal syi'arnya islam di makkah dan madinah pada masa yang sama apakah yang terjadi di wilayah eropa, china, india, ataupun indonesia?.
 
contoh lagi, ketika masa ken arok, apakah yang terjadi di belahan bumi lain di masa itu?
 
 
sepertinya akan sangat menyenangkan membaca sejarah yang ditulis paralel demikian dan akan banyak hikmah di sana.
 
atas berbagi ilmunya, saya sampaikan terima kasih
 
 

6a.

Re: (Inspirasi)  Pelajaran untuk Tetap Bertahan

Posted by: "Rajawali Gurun" rajawaligurun@yahoo.com   rajawaligurun

Wed Nov 5, 2008 5:32 am (PST)


Pak Teha....Makasih atas tulisannya.
Karya tulis yang selalu saya tunggu, enak untuk dilahap dan dicerna oleh pikiran dan perasaan. Inspirasinya selalu menularkan energi yang positif untuk perubahan-perubahan yang positif. Rasanya saya seperti dialiri saluran tambahan tenaga dalam dari jarak jauh untuk menapaki hari-hari kami jauh dari negeri yang penuh hijau dedaunan dengan aroma tanah basah dan gemericik air jatuh dari pancuran.
 
Seperti saya yang terbang jauh.....ke negeri orang untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena sulitnya mencari penghidupan di negeri sendiri terpaksa mengkulikan diri di negeri orang. Berharap ada sedikit membawa modal untuk melakukan perubahan-perubahan di kampung halaman kelak....suatu saat nanti.
 
"Salam kehidupan",
dari pengembara di gurun pasir.

--- On Wed, 11/5/08, teha <teha.sugiyo@toserbayogya.com> wrote:

From: teha <teha.sugiyo@toserbayogya.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] (Inspirasi) Pelajaran untuk Tetap Bertahan
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "dale carnegie" <dale_carnegie_bdg@yahoogroups.com>, ek_farida@yahoo.co.id, "NADIA SUTANTO" <isabelnrs@hotmail.com>, "pito" <pito@bdg.centrin.net.id>, keth_mary@yahoo.com, soekmadewi@yahoo.com
Date: Wednesday, November 5, 2008, 8:12 AM

Inspirasi
PELAJARAN UNTUK TETAP BERTAHAN
Kita semua mengalami perubahan. Tidak ada sesuatu pun yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Segala sesuatu mengalir laksana air. Pantha rei, kaikuden manei, kata Herakleitos, filsuf Yunani itu. Ada banyak macam proses perubahan. Ada yang secara lembut, hampir tidak terasa, sehingga baru membuat kita tersadar ketika segala sesuatunya sudah hancur. Bayangkan seekor katak yang berada di panci air yang sedang direbus. Air yang tadinya dingin makin lama makin hangat dan panas, dan ketika merasa nyaman dengan kehangatan air, yang sedikit demi sedikit berubah menjadi mendidih, sang katak pun tak sempat lagi melompat. Akhirnya katak itu "matang" dalam kuali.
Ada perubahan yang mendadak dan tiba-tiba. Kisah tsunami Aceh, tanah longsor, dan banjir bandang yang memorakporandakan segala yang ada, berlangsung secara mendadak dan tiba-tiba. Tanpa sadar segala sesuatunya telah berubah menjadi menyedihkan.
Setiap saat perubahan itu terjadi.
Bagaimana kita menyikapi perubahan yang terjadi sehingga kita tetap bertahan? Ada empat (4) pelajaran yang dapat membantu kita untuk bertahan. (Sesungguhnya banyak pelajaran yang dapat membuat kita bertahan, tapi kali ini kita belajar 4 hal saja).
Sapi. "Kotoran saya padat nutrisi!"
Moral cerita ini adalah: Kebohongan (bullshit = kotoran sapi), dapat membawa Anda ke posisi puncak. Tapi Anda tidak dapat bertahan di sana!
 
Moral cerita ini adalah: Tidak semua orang yang memberi "masalah" adalah musuh Anda. Tidak semua orang yang membantu Anda keluar dari masalah itu adalah teman. Apabila Anda berada dalam masalah, tutup mulut Anda, dan jangan banyak bicara!

..
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ingat bahwa di mana pun kau atau ke mana pun kau menghadap... TUHAN TAHU

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Terima kasih kepada Sena Iskandar dan Elsa Agustina, yang telah mengirimkan naskah untuk inspirasi ini!

Live as if you were to die tomorrow
learn as if you were to live forever. (Gandhi)

Recent Activity
Visit Your Group
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Everyday Wellness

on Yahoo! Groups

Find groups that will

help you stay fit.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: