Messages In This Digest (25 Messages)
- 1a.
- Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK From: Zubair Awwam
- 1b.
- Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK From: patisayang
- 2a.
- (CERPEN) PAMIT From: Zubair Awwam
- 3a.
- Re: Buletin SK ?? From: aris El Durra
- 4a.
- Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK - Dari Abiy! From: patisayang
- 5a.
- To => P. WidhiRe: [sekolah-kehidupan] [Kelana Kuliner] STMJ Mantabs! From: patisayang
- 6a.
- Re: [Numpang Lewat] Mohon segera mengirimkan alamat From: patisayang
- 7a.
- (Ruang Keluarga) Dilarang Jualan From: INDARWATI HARSONO
- 7b.
- Re: (Ruang Keluarga) Dilarang Jualan From: Nursalam AR
- 7c.
- Re: (Ruang Keluarga) Dilarang Jualan From: inga_fety
- 8a.
- [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan jelan From: Nursalam AR
- 8b.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: Lia Octavia
- 8c.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: Lia Octavia
- 8d.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: ukhti hazimah
- 8e.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: ammy ramdhania
- 8f.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: abinyajundi
- 8g.
- Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j From: inga_fety
- 9.
- [Ruang Film] Kungfu Panda From: Rini Nurul Badariah
- 10a.
- [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen From: Rini Nurul Badariah
- 10b.
- Re: [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen From: ukhti hazimah
- 10c.
- Re: [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen From: Rini Agus Hadiyono
- 11.
- Re: (bioskop) matahari yang takkan pernah padam => mbak retno From: Lia Octavia
- 12a.
- Siap Menang Tidak Siap Kalah From: galih@asmo.co.id
- 12b.
- Re: Siap Menang Tidak Siap Kalah From: sismanto
- 13a.
- Re: (catatan kecil) Jenuh From: Lia Octavia
Messages
- 1a.
-
Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK
Posted by: "Zubair Awwam" zubair_ibnu_awwam@yahoo.com zubair_ibnu_awwam
Wed Nov 12, 2008 3:44 pm (PST)
met ya Kang....
moga panjang rezeki, panjang umur asal jangan panjang jodoh
nanti timbulnya poligami deh.....hahahaha
ups, nanti bunda Endah jd cembuturut deh...hehehe
met ya kang
sukses selalu!
amin1
--- On Tue, 11/11/08, Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com > wrote:
From: Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
Subject: [sekolah-kehidupan] [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK
To: "sekolah-kehidupan@yahoogroups. " <sekolah-kehidupan@com yahoogroups. >com
Date: Tuesday, November 11, 2008, 2:34 AM
Assalamu'alaikum wrwb
Selamat hari lahir untuk Kang Dani Ardiansyah, Ketua Umum SK Pusat periode 2008-2010, pada hari ini, 11 November 2008. Semoga sepanjang sisa umurmu menjadi berkah dan manfaat bagi banyak orang. Amin.
Salam
Lia
- 1b.
-
Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK
Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com patisayang
Wed Nov 12, 2008 6:11 pm (PST)
Daniiii!!! biar telat aku ucapin met ulang tahun ya... Semoga
bertambah rejekinya yang barokah, sukses membawa diri dan keluarganya
ke surga. amin... Jadi besanan gak kita? Hihihi...
salam,
Indar, Slamet, Ais n calon mantu: Yasmin
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Nursalam AR"com
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> Dani ultah hari ini? Maaf telat tahu:).
> >
> > 'Met milad, Bro. "Being older is definite but being wise is a choice".
> >
> > Semoga diri, keluarga dan segenap amanah yang disandang makmur
adanya:)
> >
> > Tabik hormat,
> >
> > Salam & Yuny
> >
> >
> >
> > 2008/11/10 Lia Octavia <liaoctavia@...>
> >
> > Assalamu'alaikum wrwb
> >>
> >> Selamat hari lahir untuk Kang Dani Ardiansyah, Ketua Umum SK
Pusat periode
> >> 2008-2010, pada hari ini, 11 November 2008. Semoga sepanjang sisa
umurmu
> >> menjadi berkah dan manfaat bagi banyak orang. Amin.
> >>
> >>
> >> Salam
> >> Lia
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> > --
> > -"Let's dream together!"
> > Nursalam AR
> > Translator, Writer & Writing Trainer
> > 0813-10040723
> > E-mail: salam.translator@...
> > YM ID: nursalam_ar
> > http://nursalam.multiply. com
> >
> >
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply. com
>
- 2a.
-
(CERPEN) PAMIT
Posted by: "Zubair Awwam" zubair_ibnu_awwam@yahoo.com zubair_ibnu_awwam
Wed Nov 12, 2008 3:45 pm (PST)
PAMIT
Cordova
"Entin
pergi dulu ya, Mak! Entin juga sekalian nitip Adul sama Emak sampai Entin
pulang bawa uang banyak buat biaya sekolah Adul dan juga buat perbaiki rumah.
Doai Entin ya Emak di Jakarta nanti," ucap Entin anak semata wayang Emak Asih
yang telah memberikan ia seorang cucu untuknya.
Emak
yang dicium anak perempuannya merantau ke kota besar tak mampu menampung
bulir-bulir airmatanya. Matanya yang menyiratkan keraguan lantas berakhir dengan
menganak air bening yang meleleh lewat
sudut-sudut kelopak matanya yang
mengerut itu.
Rosmini
yang sejak tadi menunggu Entin tak sabar melihat sepasang ibu dan anak itu
berangkulan, mengharubiru.
"Ayolah, Tin, bus sudah menunggu
lama. Lekaslah cepatan!" seru Rosmini kawan di kampungnya sejak kecil yang
sudah lebih dahulu bekerja di kota besar, Jakarta.
"Mak,
Ros sama Entin berangkat dulu, ya. Doakan kita ya Mak nanti di kota," lanjut
Rosmini ketika hendak meninggalkan kampung bersama Entin.
"Mak,
titip Entin ya, Ros? Jangan lupa beri kabar buat, Mak!"
"Baik,
Mak nanti Ros kabari lagi. Ros sama Entin berangkat ya, Mak. Assalamualaikum...."
Itulah
pertemuan terakhir kali Emak Asih kepada anak perempuannya sebelum benar-benar
meninggalkan dirinya serta kampung halamannya untuk pergi merantau ke kota
besar. Kini setelah dua tahun kepergian
Entin merantau mengikuti kawan kecil kampungnya itu Emak Asih sudah tak
menerima kabar lagi. Sepucuk surat pun tak pernah lagi ia terima. Yang ada
hanya kebisuan yang nampak di wajah keriput tua Emak Asih ketika tiap kali bertanya
kepada pengantar surat dari kelurahan ketika melewati rumahnya. Hingga
pengantar surat dari kelurahan itu merasa iba terhadap keadaan Emak Asih.
"Ma'af
ya Emak tidak ada surat lagi buat Emak Asih. Sabar saja ya Emak nanti ada surat
lagi kok buat Emak sama Adul." Begitulah yang dilontarkan oleh Aden, pengantar
surat dari kelurahan tiap kali melewati rumah yang hanya berpenghuni dua orang
anak manusia saja. Seorang cucu yang merindukan kehadiran ibunya serta seorang
ibu yang merindukan pula kedatangan anak perempuannya. Emak Asihlah orangtua
itu. Apalagi cucu semata wayangnya bernama Adul sering kali menanyakan keberadaan
ibunya. Tak lain Entin yang entah berada dimana sekarang ini. Terlebih ketika
ia menerima surat tak selalu ditemukan alamat anaknya itu di pucuk surat.
"Nek,
ibu kapan ya pulangnya? Adul kangen sama ibu. Karena Adul kangen sekali
sampai-sampai mimpiin ibu bawain Adul baju seragam sekolah putih-putih
semua," ujar polos Adul cucu Emak Asih suatu hari.
Emak
Asih yang mendengar cerita dari anak usia delapan tahun tak mampu menjawab.
Hanya senyuman tawar yang dapat ia lontarkan kepada cucunya itu. Tapi sayangnya
senyuman itu tak tertangkap oleh anak seusia cucunya itu. Bagiamana mungkin
anak seusia Adul mau mengerti arti dibalik senyuman Emak Asih? Emak Asih semakin terpuruk.
"Sabar
ya, Dul? Nanti ibu kamu datang kok. Oya, nanti kalau ibu kamu datang Adul mau
minta apa nanti?" Akhirnya Emak Asih bisa mengalihkan pembicaraan itu sambil mengusap
kepala cucunya dengan penuh keharuan yang meraja.
***
Hari itu langit gulita memayungi rumah berdindingan
anyaman bambu. Tanda hujan badai akan datang. Dimana-mana orang-orang di
kampungnya enggan untuk keluar diri. Tapi lain hal dengan Emak Asih, ia masih
menyusuri setapak demi setapak jalan berbatu untuk mencari Adul. Sejak sepulang
sekolah cucunya itu sudah menghilang. Emak Asih tak tahu kemana cucunya itu
pergi. Hingga sesekali bibirnya yang tanpa polesan serta menghitam itu terus
menceracau. Mengutuk dirinya karena telah berlaku berbohong untuk menutupi
kemana keberadaan ibunya sebenarnya. Tak lain Entin, anak perempuannya. Hingga
tak menyadari langkah gontainya menghantar ke sebuah terminal tua.
"Emak Asih sedang apa di sini?" tanya tetangga kampungnya
yang mengenal dirinya itu ketika melihat Emak Asih seperti orang linglung.
"Emak lagi mencari Adul. Cucu Emak. Dik Rasyid melihat
Adul tidak," ujar Emak Asih menanyakan
keberadaan cucunya itu kepada tetangganya.
"Oya,
Emak tadi Adul ada di sana. Entah menunggu siapa saya tidak tahu tapi ia tidak
sendirian. Sepertinya Adul bersama seorang lelaki sebay adengan saya. Coba Emak
Asih lihat dulu benar itu cucu Emak atau bukan. Ya, sudah kalau begitu saya
duluan ya Emak takut nanti keburu hujan turun makin deras. "
"Terima
kasih ya, Nak Rasyid."
"Ya,
Emak! Hati-hati ya, Mak."
Tidak
lama kemudian Emak Asih akhirnya menemui cucunya yang sedang menunggu di kursi
tua di terminal. Emak Asih tak mampu lagi berkata-kata saat cucunya itu sedang
menatapi setiap bus yang masuk terminal. Emak Asih hanya melihat nanar wajah
polos cucunya yang tak mengerti kehidupan bagi orang setua Emak Asih. Yang ada
pada diri cucunya itu hanya mampu
merindukan kedatangan orang yang melahirakn dirinya.
"Pulang,
yuk, Dul? Kok kamu bisa kemari. Siapa yang mengantar?!"
"Adul
diantar sama Om itu, Emak," tunjuk tangan mungil Adul ke arah lelaki yang
sedang membeli sesuatu untuk cucunya.
"Memangnya
kamu kenal sama orang itu," lanjut Emak lagi bertanya kepada cucunya sambil menunjuk
pula ke arah seorang lelaki. Tak lain lelaki yang sama ditunjuk cucunya.
"Kenal
Emak! Katanya Om itu ayah Adul. Makanya Adul mau diajak kemari."
Emak
Asih yang mendengarkan ucapan dari cucunya itu terkejut. Apakah ucapan itu
dapat dibenarkan atau tidak. Atau, jangan-jangan cucunya itu mengarang saja..
Tapi tak mungkin anak seusia cucunya berkata bohong. Menyembunyikan yang tak
benar seperti dirinya yang selama ini menutup rapat keberadaan seorang anak kepada
ibu kandungnya. Emak Asih makin tak perdaya.
Hati
Emak Asih semakin teriris ketika mendengar ucapan yang dilontarkan dari
cucunya. Hingga ia teringat awal kepergian anak perempuannya yang kala itu tak
memberitahukan keberadaan ayah sesungguhnya dari seorang anak yang ada di hadapannya
sekarang ini. Yang ia tahu ayah dari cucunya itu sudah tiada. Meninggalkan
dirinya dan juga Entin anak sematang wayangnya selama-lamanya. Dan kini orang
yang tak pernah ia kira kini kembali lagi menemui dirinya.
"Assalamualaikum...,Emak?
Emak kenapa kemari," tiba-tiba suara yang tak asing menyeruak kembali ke dalam
gendang telinga Emak Asih.
Samar-samar
Emak melihat lelaki yang ada di depan matanya. Ia mencoba mengingat-ingat wajah
yang tersimpan di benaknya. Ia mencoba mencari tahu. Namun ketika ia ingin
mengetahui siapa sesungguhnya lelaki itu Emak Asih semakin hidupnya bagai
kepingan yang sudah hancur lebur. Ia tahu benar siapa lelaki yang berada
sekarang ini. Ya, lelaki yang bersama Emak Asih dan cucunya itu tak lain lelaki
yang telah membuat hidup anakperempuannya senggsara dan tak memiliki tali nahkoda.
Terombang-ambing. Dan akhirnya memutuskan merantauyang kini tak tahu kemana
keberadaannya sekarang.. Seperti bumi telah menenggelamkan anak perempuannya.
"Mau apa
kamu kemari lagi. Sudah cukup kamu korbankan anak, Emak. Sekarang untuk apa
kamu sudi datang kemari." Seperti adegan siluet film semua kenangan yang
membuat Emak Asih terluka makin menganga terpampang luas.
"Saya
mau minta izin untuk pamit membawa Adul ke Jakarta, Emak."
Emak
yang mendengar mulut besar lelaki yang pernah menjadi bagian hidup anak
perempuannya itu kini meminta haknya untuk membawa cucunya tanpa melihat luka
sedikit pun yang ada di hati Emak Asih. Yang ada hanya keegoisan lelaki itu.. Mau
menang sendiri. Sampai-sampai
Adul cucunya yang selama ini menemani hari-harinya di rumah berdidingkan anyaman
bambu itu akan dibawa pula olehnya. Sungguh betapa tak memiliki rasa perikemanusiaan
orang yang melakukan itu. Terlebih orang yang sudah bertahun-tahun meninggalkan
dirinya serta istrinya, Entin, kini sudah berada di dekat matanya. Entah sudah
beberapa banyak Emak Asih mengeluarkan tetesan airmatanya di matanya itu. Ia keluarkan
untuk anak perempuannya serta cucunya, Adul. Dan kini ada seseorang meminta pamit
untuk membawa cucunya. Tak lain ayah kandung cucunya itu. Lagi-lagi Emak Asih tak
mampu berbuat banyak. Hanya mampu terdiam. Hingga tiba-tiba Emak Asih membisu, sebisu
terminal tua yang menjadi kenangan terakhir keberangkatan anak semata wayang,
Entin untuk pamit merantau.*(cd)
Perkantoran
Ciputat, 11 November 2008
Pukul.
23.58 Waktu InsyaAllah Bagian Barat (WIBB)
Saat
ditemani tembang Hikayat Cinta-nya Glenn Fredly feat Dewi Persik. Goyang,
Mang....!!
- 3a.
-
Re: Buletin SK ??
Posted by: "aris El Durra" apri_eldurra@yahoo.com aris_eldurra
Wed Nov 12, 2008 3:45 pm (PST)
makasih buat sahabat eska yang telah memberikan dukungannya..
semoga bisa di beri keistiqomahan..amiin.
sementara ini, aku coba sebulan sekali dulue..bertahap emang inginnya
seminggu sekali (kayak buletin jumat..)..
buat mas are_dier yang di Solo..alamatnya solonya mana yaa???..
buat teman-teman sk yang di solo adakah selain mas are_dier???...
salam buat semua...ditunggu komentarnya..buat tak buat di edisi
berikutnya..he..he... he..
salam
aris_el durra
"If Allah you have, you have at all"
home :
apriyanto aris
wisma El Durra, jalan mayor ahcmadi 197
Klumprit Mojolaban Sukoharjo jawa Tengah
(0271) 612.586
office :
apriyanto aris
bangsal Amarta, RS jiwa daerah Surakarta. Jl. Kihajar Dewantoro No. 80
Kotak Pos 187 Surakarta 57126.
Telp 081.728.311.02
- 4a.
-
Re: [Lonceng] Met Milad Untuk Ketua SK - Dari Abiy!
Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com patisayang
Wed Nov 12, 2008 5:55 pm (PST)
Achie..tu ya. bikin aku senyum lagi sama drama satu babakmu. datang ke
bogor jeng? smsmu udah aku bales tuh.
salam,
Indar
mamanya Yasmin n Ais
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Agung Argopocom
<gopo_alhusna@...> wrote:
>
> Wakakak...
> Â
> Uwak Danse (mama celing manggil Danse)
> Â
> kata Mama ama Papa Abiy, Uwak ulang taun yax? xixixix... kadonya
mana, Wak?
> Â
> Mama : Eitss Abiy, yang ulang tahun itu Uwak Dani, kenapa malah kamu
yang minta kado?
> Â
> Abiy: Ich, Mama gimana, cih! Kata Mama diculuh minta kado...
> Â
> Mama : Pssst... Abiy, mama ngga nyuruh kamu minta kado. Mama nyuruh
kamu minta ampao ke Uwak Dani... udah buru sana...
> Â
> kucluk... kucluk... Abiy pun berjalan dengan tu-wa-tu-wanya...
> menghampiri Nibras yang saat itu sedang makan koko krunch sambil
dengerin musik nasyid dengan gaya Metal!
> Â
> Abiy: Bras... Bras... kata mama aku diculuh minta Bapao cama kamu...
ciniin bapaonya!
> Â
> Abiy merebut mangkok yang ada di tangan Nibras.
> Â
> Nibras:
> Woaaa... Ummmii... Abiy nakaaalll....!!!
> Â
> Mbak Enda yang sedang masak sayur asem masih memegang centong di
tangan, tergopoh-gopoh keluar dari dapur sambil celingukan. "Hah? Abi
nakal sama Nibras?"
> Â
> terlihat Dani sedang duduk sambil baca koran, Mbak Endah menghampiri
Dani dan menggetok kepalanya dengan centong.
> Â
> Dani : Aduh, Ummi kok mukul Abi, sih?
> Mbak Endah : Kata Nibras, Abi nakal... ya, Ummi pukul...
> Â Nibras nangisnya tambah kencang.
> Â
> Nibras: Ummmiii... Abiy ngabisin koko kluch punya Iblas...
> Â
> Mbak Endah dan Dani menengok ke arah Abiy. Abiy yang gembul sedang
menyeruput kuah terakhir sereal yang lezat. Di sampingnya Achi TM dan
Gopo lagi cengengesan.
> Â
> Mama Achi : Hehehe... sori, ya, Danse... padahal cuman mau ngucapin.
Met Ulang Tahun. Terus sekarang ampaonya mana?
> Â
> Gubrak!
> Â
>
>
>
_____________________ _________ _________ _________ _________ _
> Dapatkan alamat Email baru Anda!
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
> http://mail.promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
>
- 5a.
-
To => P. WidhiRe: [sekolah-kehidupan] [Kelana Kuliner] STMJ Mantabs!
Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com patisayang
Wed Nov 12, 2008 6:04 pm (PST)
Ih, jadi kangen deh sama Sby. Apalagi Bamara dan ikan bakarnya. Tapi
kayaknya itu bukan ikan gurame deh Siu. baronang kalau nggak salah.
Yup, aku jadi ngiler ngebayangin aja. Thanks ya, udah dibawain
jauh-jauh dari Sby pas hamil Yasmin kemarin. :)
salam,
Indar
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , Siwi LH <siuhik@...> wrote:com
>
> Satu lagi ikon kuliner Surabaya yang rasanya bener2 menggigit, Nasi
Bebek. Kalo ke Surabaya nggak sempetin makan yang satu ini kurang
afdhol rasanya. Karena Bebek Surabaya selalu diakui rasanya lain.
Kalau menu ini sangat buanyak dijumpai dari kelas kaki lima
(kebanyakan) sampai kelas resto (jarang bangetsss!) Dan menurut saya
lebih enak makan Bebek kaki lima dengan bebek rasa Resto, selain harga
rasanya juga lain... Bebek yang menggoyang lidah bisa dicari di
samping Sekolah Ta'miriyah samping Kantor Pos Besar Kebon Rojo kalau
siang, kalo mulai jam 15.00 keatas bisa dicari di jalan Perak, mau
masuk Tol, namanya Bebek Yudi. Istimewanya selain dagingnya yg empuk
juga sambelnya yg pake pencit, alias mangga muda. Dan kalo di
Ta'miriyah minumnya es tape ketan hitam, suegerr tenan rek!....Ada
lagi bebek Kranggan, bebek Bratang, Bebek depan BCA Tugu PAhlawan,
kalo disini persiapkan mental karena anda harus mengantri kayak antri
sembako. Dari sebelum Maghrib
> pembeli udah membludak. Ada satu menu lagi andalan saya Ikan Bakar
Bamara (Mbak Indar ni pengunjung tetap Rumah makan ini) ikannya gurame
yang dibakar dengan bumbu yang uenakkk tenan... sambelnya pake pencit,
nasinya kebul-kebul..nyam...nyam. ..nyam... kl ikan bakar ini ada
dijalan Purwodadi.*suer ngiler dotcom*
>
- 6a.
-
Re: [Numpang Lewat] Mohon segera mengirimkan alamat
Posted by: "patisayang" patisayang@yahoo.com patisayang
Wed Nov 12, 2008 6:05 pm (PST)
InsyaAllah aku datang ke raker Mas. Thanks.
salam
Indar
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Hadian Febrianto"com
<hadianf@...> wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wr.wb
>
> Sahabat-sahabat sekalian, mohon maaf numpang lewat:
>
> Kepada nama yang ada di bawah ini, diharapkan SEGERA mengirimkan
alamat yang
> bisa dijangkau oleh jasa kurir (waduh kesannya pedalaman banget
ya?). Atau
> mohon konfirmasi jika ada yang ingin mengambil langsung pada saat raker,
> terima kasih.
>
> Peserta calon novelist ESKA:
> 1. Syafaatus Syarifah *-sudah ok*-
> 2. Sayyid Madany Syani
> 3. dr. Dito -*sudah ok*-
> 4. Siwi LH -*sudah ok*-
> 5. Nursalam
> 6. Sismanto -*sudah ok*-
> 7. Anthony Roy
> 8. Indarpati
> 9. Rusdin
> 10. Achi
> 11. Fiyan Arjun -*diambil saat raker, ok*-
> 12. Diajeng Septri
> 13. Ummu Alif -*sudah ok*-
>
> Jika ada yang kesulitan mengirim email (mungkin saat perjalanan,
dll) dapat
> mengirimkan via SMS ke saya di *081322360136* atau 022 93041975. terima
> kasih
>
>
> --
> Regards,
> Hadian Febrianto, S.Si
> PT SAGA VISI PARIPURNA
> Jl. Rereng Barong no.53 Bandung 40123
> Ph/fax: (+6222) 2507537
>
- 7a.
-
(Ruang Keluarga) Dilarang Jualan
Posted by: "INDARWATI HARSONO" patisayang@yahoo.com patisayang
Wed Nov 12, 2008 6:07 pm (PST)
Dilarang Jualan
Dua
anak segera menghampiri Ais begitu gadis kecil tujuh tahun itu
menapak koridor kelas. Kasak kusuk, perhatian mereka tersedot ke isi
tas Ais. Seolah tak sabar untuk segera melakukan transaksi mereka
berusaha membuka resleting tas. Sementara Ais, mencuri pandang dengan
sedikit segan ke arahku. Sesampainya di kelas, ketidaksabaran itu
memuncak.
âLupa,
nggak bawa,â kata Ais setelah tak menemukan apa yang dicarinya dari
saku depan tasnya.
Tak
banyak kata, salah seorang temannya yang kemudian kutahu kakak kelas
bernama Kamila membantu dengan membuka bagian tas yang lain, mencoba
menemukan apa yang sudah dinantinya. Meski dengan hasil yang sama,
nihil.
Kemarin
sore, Ais memang mengaku kalau dinasehati ustadzahnya agar tak jualan
lagi. Gara-garanya, transaksi itu dilakukan saat jam pelajaran. Meski
sudah kuwanti-wanti, tetap saja dia melakukan itu di saat jam
pelajaran.
âTemen-temen
pada mau lihat Ma,â begitu alasannya.
âTapi
kan Kakak yang jual. Mestinya Kakak ingat nasehat Mama. Sekarang yang
rugi kan Kakak sendiri. Udah kena tegur ustadzah, nggak bisa dapat
tambahan uang saku lagi,â kataku.
âIya
deh, Kakak janji,â katanya lagi. âTapi Mama bikinin lagi ya. Udah
pada pesan tuh.â
Aku
hanya tersenyum sembari menstater motor merahku. Mendung hitam
menggantung, memberati langit senja itu.
Anakku
itu, selalu saja mempunyai ide untuk jualan. Entah secara alamiah
anak-anak memang seperti itu atau dia ingat pengalamannya saat masih
di Sidoarjo, betapa asyiknya mendapat duit dan melayani pembeli es
lilin di rumah kami.
Setelah
gagal membujukku untuk membuat es lilin nanas dan kacang ijo untuk
dijual seperti dulu, dia mengalihkan perhatiannya ke buku-buku. Mau
dijual, atau mau bikin perpustakaan. Dia merancang juga, bagaimana
sistem pinjam meminjamnya. Peminjam berada di sini, pakai kartu
pinjaman seperti ini, bla bla bla.
Sekarang,
kecenderungannya jualan itu dilampiaskan pada pernak-pernik dari kain
flanel yang tengah kutekuni. Setelah berhasil coba-coba dengan boneka
jari, aku mencoba membuat bros dengan bentuk wajah gadis berjilbab.
Beberapa barangku itu lalu dibawanya ke sekolah. Sambutan temannya
ternyata luar biasa. Mereka pada suka. Hari pertama jualan beneran,
dari 4 tempat tissue yang kubawakan laku 2 buah. Dan dari 5 buah
brosnya laku 3 buah. Uangnya, jangan ditanya. Tak sesuai dengan harga
yang kutetapkan. Tapi biarlah, namanya juga anak-anak dan dia belum
mengerti sepenuhnya nilai uang dan perhitungannya.
âSebenarnya
temenku banyak yang mau beli Ma. Tapi mereka nggak bawa duit,â
akunya. Karena tak ada kantin dan jajan sudah diselesaikan sekolah,
anak-anak itu memang biasa tak membawa uang jajan.
âBesok
saja katanya. Nanti malam Mama bikin lagi yang banyak ya.â Katanya
lagi.
Malamnya,
aku membuat bros dengan bentuk hati bertuliskan namanya. Bersama
tempat tissue dan bros gadis berjilbab kesukaannya, sengaja
kumasukkan di plastik tersendiri. Ternyata hal itu meletupkan ide
lain di kepalanya. âBikin paket komplit, Ma. Komplit satu kalau
brosnya dua, komplit dua kalau brosnya tiga.â Katanya sembari
memilah warna dari tempat tissue dan bros yang senada. Bahkan sebelum
berangkat tidur dia masih saja cerewet mengatur pernak-pernik yang
senada.
Seperti
saat dia menjual sticker pada teman SDNnya dulu, aku membiarkan saja.
Kalau perlu kudukung seperti sekarang untuk menumbuhkan jiwa
wirausahanya. Segi positifnya, dia juga belajar mengerti nilai uang
dan perhitungannya. Hanya, yang kurang kuwaspadai, namanya anak-anak,
meski sudah kuwanti-wanti jangan mengeluarkan jualannya itu di jam
pelajaran, tetap saja dilanggar.
Petang
ini, usai sholat maghrib dia mengeluarkan berlembar-lembar uang
ribuan dan dua lima ribuan. âIni dari Hana, Zalfa, sama Rizka, Ma,â
katanya. âZalfa pesen yang bentuk bintang pake manik-manik atasnya.
Hana dua tapi duitnya kurang. Bla bla blaâ¦â
Aku
tersenyum saja, rebah di karpet ruang tengah, kelelahan setelah
seharian âthawafâ di Plaza Senayan dan Mall Cilandak. Ugh, gadis
kecilku itu memang ada-ada saja! ï
Tanah
Baru, 30/10/08 06.00
- 7b.
-
Re: (Ruang Keluarga) Dilarang Jualan
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Wed Nov 12, 2008 6:35 pm (PST)
Hihi...hebat euy Ais! Bakat wirausahanya sudah ada. Tinggal dipupuk, Mbak!
Selamat memupuk;p, Awas, jgn kebablasan bisa-bisa ditegur Komnas Anak karena
"mengeksploitasi anak",hehe...
Btw, bagus juga idenya untuk mendidik anak berwirausaha. Mungkin idenya
cocok juga untuk anakku nanti:)
Tabik,
Nursalam AR
2008/11/12 INDARWATI HARSONO <patisayang@yahoo.com >
> Dilarang Jualan
>
>
> Dua anak segera menghampiri Ais begitu gadis kecil tujuh tahun itu
> menapak koridor kelas. Kasak kusuk, perhatian mereka tersedot ke isi tas
> Ais. Seolah tak sabar untuk segera melakukan transaksi mereka berusaha
> membuka resleting tas. Sementara Ais, mencuri pandang dengan sedikit segan
> ke arahku. Sesampainya di kelas, ketidaksabaran itu memuncak.
>
>
> "Lupa, nggak bawa," kata Ais setelah tak menemukan apa yang dicarinya
> dari saku depan tasnya.
>
>
> Tak banyak kata, salah seorang temannya yang kemudian kutahu kakak kelas
> bernama Kamila membantu dengan membuka bagian tas yang lain, mencoba
> menemukan apa yang sudah dinantinya. Meski dengan hasil yang sama, nihil.
>
>
> Kemarin sore, Ais memang mengaku kalau dinasehati ustadzahnya agar tak
> jualan lagi. Gara-garanya, transaksi itu dilakukan saat jam pelajaran. Meski
> sudah kuwanti-wanti, tetap saja dia melakukan itu di saat jam pelajaran.
>
>
> "Temen-temen pada mau lihat Ma," begitu alasannya.
>
> "Tapi kan Kakak yang jual. Mestinya Kakak ingat nasehat Mama. Sekarang
> yang rugi kan Kakak sendiri. Udah kena tegur ustadzah, nggak bisa dapat
> tambahan uang saku lagi," kataku.
>
> "Iya deh, Kakak janji," katanya lagi. "Tapi Mama bikinin lagi ya. Udah
> pada pesan tuh."
>
> Aku hanya tersenyum sembari menstater motor merahku. Mendung hitam
> menggantung, memberati langit senja itu.
>
>
> Anakku itu, selalu saja mempunyai ide untuk jualan. Entah secara alamiah
> anak-anak memang seperti itu atau dia ingat pengalamannya saat masih di
> Sidoarjo, betapa asyiknya mendapat duit dan melayani pembeli es lilin di
> rumah kami.
>
>
> Setelah gagal membujukku untuk membuat es lilin nanas dan kacang ijo
> untuk dijual seperti dulu, dia mengalihkan perhatiannya ke buku-buku. Mau
> dijual, atau mau bikin perpustakaan. Dia merancang juga, bagaimana sistem
> pinjam meminjamnya. Peminjam berada di sini, pakai kartu pinjaman seperti
> ini, bla bla bla.
>
>
> Sekarang, kecenderungannya jualan itu dilampiaskan pada pernak-pernik
> dari kain flanel yang tengah kutekuni. Setelah berhasil coba-coba dengan
> boneka jari, aku mencoba membuat bros dengan bentuk wajah gadis berjilbab.
> Beberapa barangku itu lalu dibawanya ke sekolah. Sambutan temannya ternyata
> luar biasa. Mereka pada suka. Hari pertama jualan beneran, dari 4 tempat
> tissue yang kubawakan laku 2 buah. Dan dari 5 buah brosnya laku 3 buah.
> Uangnya, jangan ditanya. Tak sesuai dengan harga yang kutetapkan. Tapi
> biarlah, namanya juga anak-anak dan dia belum mengerti sepenuhnya nilai uang
> dan perhitungannya.
>
>
> "Sebenarnya temenku banyak yang mau beli Ma. Tapi mereka nggak bawa
> duit," akunya. Karena tak ada kantin dan jajan sudah diselesaikan sekolah,
> anak-anak itu memang biasa tak membawa uang jajan.
>
> "Besok saja katanya. Nanti malam Mama bikin lagi yang banyak ya." Katanya
> lagi.
>
>
> Malamnya, aku membuat bros dengan bentuk hati bertuliskan namanya.
> Bersama tempat tissue dan bros gadis berjilbab kesukaannya, sengaja
> kumasukkan di plastik tersendiri. Ternyata hal itu meletupkan ide lain di
> kepalanya. "Bikin paket komplit, Ma. Komplit satu kalau brosnya dua, komplit
> dua kalau brosnya tiga." Katanya sembari memilah warna dari tempat tissue
> dan bros yang senada. Bahkan sebelum berangkat tidur dia masih saja cerewet
> mengatur pernak-pernik yang senada.
>
>
> Seperti saat dia menjual sticker pada teman SDNnya dulu, aku membiarkan
> saja. Kalau perlu kudukung seperti sekarang untuk menumbuhkan jiwa
> wirausahanya. Segi positifnya, dia juga belajar mengerti nilai uang dan
> perhitungannya. Hanya, yang kurang kuwaspadai, namanya anak-anak, meski
> sudah kuwanti-wanti jangan mengeluarkan jualannya itu di jam pelajaran,
> tetap saja dilanggar.
>
>
> Petang ini, usai sholat maghrib dia mengeluarkan berlembar-lembar uang
> ribuan dan dua lima ribuan. "Ini dari Hana, Zalfa, sama Rizka, Ma," katanya.
> "Zalfa pesen yang bentuk bintang pake manik-manik atasnya. Hana dua tapi
> duitnya kurang. Bla bla blaâ¦"
>
>
> Aku tersenyum saja, rebah di karpet ruang tengah, kelelahan setelah
> seharian 'thawaf' di Plaza Senayan dan Mall Cilandak. Ugh, gadis kecilku itu
> memang ada-ada saja! ï
>
>
> *Tanah Baru, 30/10/08 06.00*
>
>
>
--
-"Let's dream together!"
Nursalam AR
Translator, Writer & Writing Trainer
0813-10040723
E-mail: salam.translator@gmail.com
YM ID: nursalam_ar
http://nursalam.multiply. com
- 7c.
-
Re: (Ruang Keluarga) Dilarang Jualan
Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Wed Nov 12, 2008 11:35 pm (PST)
pasti ais senang bgt yah mbak bisa dapat uang dari hasil usahanya:)
segala sesuatu mmg py sisi positif dan negatif yah, mbak?
tapi, mmg bnr, jiwa wirausaha ais sdh ada tuh mbak?:)
salam untuk ais..
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , INDARWATI HARSONOcom
<patisayang@...> wrote:
>
>
>
>
> Dilarang Jualan
>
>
>
> Dua
> anak segera menghampiri Ais begitu gadis kecil tujuh tahun itu
> menapak koridor kelas. Kasak kusuk, perhatian mereka tersedot ke isi
> tas Ais. Seolah tak sabar untuk segera melakukan transaksi mereka
> berusaha membuka resleting tas. Sementara Ais, mencuri pandang dengan
> sedikit segan ke arahku. Sesampainya di kelas, ketidaksabaran itu
> memuncak.
>
>
>
>
> âLupa,
> nggak bawa,â kata Ais setelah tak menemukan apa yang dicarinya dari
> saku depan tasnya.
>
>
>
> Tak
> banyak kata, salah seorang temannya yang kemudian kutahu kakak kelas
> bernama Kamila membantu dengan membuka bagian tas yang lain, mencoba
> menemukan apa yang sudah dinantinya. Meski dengan hasil yang sama,
> nihil.
>
>
>
> Kemarin
> sore, Ais memang mengaku kalau dinasehati ustadzahnya agar tak jualan
> lagi. Gara-garanya, transaksi itu dilakukan saat jam pelajaran. Meski
> sudah kuwanti-wanti, tetap saja dia melakukan itu di saat jam
> pelajaran.
>
>
>
> âTemen-temen
> pada mau lihat Ma,â begitu alasannya.
> âTapi
> kan Kakak yang jual. Mestinya Kakak ingat nasehat Mama. Sekarang yang
> rugi kan Kakak sendiri. Udah kena tegur ustadzah, nggak bisa dapat
> tambahan uang saku lagi,â kataku.
> âIya
> deh, Kakak janji,â katanya lagi. âTapi Mama bikinin lagi ya. Udah
> pada pesan tuh.â
> Aku
> hanya tersenyum sembari menstater motor merahku. Mendung hitam
> menggantung, memberati langit senja itu.
>
>
>
> Anakku
> itu, selalu saja mempunyai ide untuk jualan. Entah secara alamiah
> anak-anak memang seperti itu atau dia ingat pengalamannya saat masih
> di Sidoarjo, betapa asyiknya mendapat duit dan melayani pembeli es
> lilin di rumah kami.
>
>
>
> Setelah
> gagal membujukku untuk membuat es lilin nanas dan kacang ijo untuk
> dijual seperti dulu, dia mengalihkan perhatiannya ke buku-buku. Mau
> dijual, atau mau bikin perpustakaan. Dia merancang juga, bagaimana
> sistem pinjam meminjamnya. Peminjam berada di sini, pakai kartu
> pinjaman seperti ini, bla bla bla.
>
>
>
>
> Sekarang,
> kecenderungannya jualan itu dilampiaskan pada pernak-pernik dari kain
> flanel yang tengah kutekuni. Setelah berhasil coba-coba dengan boneka
> jari, aku mencoba membuat bros dengan bentuk wajah gadis berjilbab.
> Beberapa barangku itu lalu dibawanya ke sekolah. Sambutan temannya
> ternyata luar biasa. Mereka pada suka. Hari pertama jualan beneran,
> dari 4 tempat tissue yang kubawakan laku 2 buah. Dan dari 5 buah
> brosnya laku 3 buah. Uangnya, jangan ditanya. Tak sesuai dengan harga
> yang kutetapkan. Tapi biarlah, namanya juga anak-anak dan dia belum
> mengerti sepenuhnya nilai uang dan perhitungannya.
>
>
>
> âSebenarnya
> temenku banyak yang mau beli Ma. Tapi mereka nggak bawa duit,â
> akunya. Karena tak ada kantin dan jajan sudah diselesaikan sekolah,
> anak-anak itu memang biasa tak membawa uang jajan.
>
> âBesok
> saja katanya. Nanti malam Mama bikin lagi yang banyak ya.â Katanya
> lagi.
>
>
>
> Malamnya,
> aku membuat bros dengan bentuk hati bertuliskan namanya. Bersama
> tempat tissue dan bros gadis berjilbab kesukaannya, sengaja
> kumasukkan di plastik tersendiri. Ternyata hal itu meletupkan ide
> lain di kepalanya. âBikin paket komplit, Ma. Komplit satu kalau
> brosnya dua, komplit dua kalau brosnya tiga.â Katanya sembari
> memilah warna dari tempat tissue dan bros yang senada. Bahkan sebelum
> berangkat tidur dia masih saja cerewet mengatur pernak-pernik yang
> senada.
>
>
>
>
> Seperti
> saat dia menjual sticker pada teman SDNnya dulu, aku membiarkan saja.
> Kalau perlu kudukung seperti sekarang untuk menumbuhkan jiwa
> wirausahanya. Segi positifnya, dia juga belajar mengerti nilai uang
> dan perhitungannya. Hanya, yang kurang kuwaspadai, namanya anak-anak,
> meski sudah kuwanti-wanti jangan mengeluarkan jualannya itu di jam
> pelajaran, tetap saja dilanggar.
>
>
>
> Petang
> ini, usai sholat maghrib dia mengeluarkan berlembar-lembar uang
> ribuan dan dua lima ribuan. âIni dari Hana, Zalfa, sama Rizka, Ma,â
> katanya. âZalfa pesen yang bentuk bintang pake manik-manik atasnya.
> Hana dua tapi duitnya kurang. Bla bla blaâ¦â
>
>
>
>
> Aku
> tersenyum saja, rebah di karpet ruang tengah, kelelahan setelah
> seharian âthawafâ di Plaza Senayan dan Mall Cilandak. Ugh, gadis
> kecilku itu memang ada-ada saja! ï
>
>
>
> Tanah
> Baru, 30/10/08 06.00
>
- 8a.
-
[catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan jelan
Posted by: "Nursalam AR" nursalam.ar@gmail.com
Wed Nov 12, 2008 6:29 pm (PST)
*Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?*
*Oleh Nursalam AR*
*"If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and
become more, you are a leader.'" (John Quincy Adams, Presiden ke-6 Amerika
Serikat)*
* *
*Lembang (2007)*
Semalam di Lembang, Bandung, merupakan pengalaman mahal. Dalam 1 malam yang
jadi rangkaian halal bihalal dan rapat kerja milis Sekolah Kehidupan (Eska)
selama Sabtu-Ahad, 10-11 November 2007, banyak pengalaman didapat. Jangankan
2 hari 1 malam, semalam saja sudah berkesan. Meski kadang saya berpikir
apakah ini bukan efek noraknya saya yang jarang bepergian? *Ah, dasar
Betawi, betah di wilayah.*
Dalam perjalanan pulang semobil bersama Mas Danu (sopir), Rusdin, Dikdik,
Yayan, Meli dan Lia di tengah guyuran hujan lebat merata antara
Lembang-Jakarta, saya termangu menatap keluar jendela mobil yang berembun.
Dalam remang kabut senja Tol Cipularang dan pemandangan bukit berbelah
berbalut hamparan pohon di kiri kanan, ingatan saya terpulang pada episode
malam Minggu itu. Malam Minggu yang lain daripada malam-malam Minggu yang
biasa.
Di aula Padepokan Tumaritis, Lembang, malam hari. Enam puluhan orang
berkumpul mendekap dingin dalam barisan kursi teratur menghadap meja di
depan. Sekitar lima orang bocah bersemangat berjoget seiring musik
mengikuti sang instruktur yang tampak super bersemangat. Ditimpali canda
yang hadir, dan terkadang tingkah para bocah pejoget yang ngambek, tarian
itu sungguh menghangatkan malam. Setidaknya membuat rahang berolahraga,
tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh menyehatkan.
Sejam kemudian rapat kerja Eska dimulai. Nursalam, Suhadi, Adjie, Bunda Amy,
Pak Teha dan Bunda Icha duduk di depan menghadap ke arah hadirin. Agenda:
pembahasan program-program 2007-2008 dan kesepakatan tentang pembentukan
Yayasan Sekolah Kehidupan. Tema berat dan serius. Tapi tetap saja canda
berhamburan. Di penghujung rapat sekitar pukul 11 malam, terjadi perdebatan
tentang usulan perpanjangan waktu rapat dan desakan agar program dibahas
lebih detil. Atas dasar pertimbangan waktu, dikompromikan bahwa semua
program akan diseleksi oleh Badan Pengurus Harian (BPH) dan diumumkan di
milis Eska. Sebagian peserta yang masih bertahan kembali ke pondokan. Yang
bertumbangan di awal sudah terlelap ditemani dinginnya Lembang. Yang
kelaparan mencari cemilan hangat di luar pondokan. Khusus kaum yang satu
ini, mereka sudah dibekali ilmu kanuragan ilmu *bajing luncat* untuk
melompati pagar.
Usai rapat, hujan deras. Acara api unggun batal. Padahal Dani (Ketua Panitia
Raker) sudah menyiapkan kayu api unggun yang setinggi orang dewasa. Mungkin
setara dengan tingginya tumpukan kayu bakar di zaman Namrud untuk membakar
Nabi Ibrahim. Sebagian peserta bersih-bersih sebelum tidur. Menyikat gigi,
berkumur dengan air yang luarbiasa dingin. Suhu malam itu sekitar 15 derajat
Celcius. Taufiq bersungut-sungut kesal. Katanya ada yang bercanda kelewatan,
memasukkan es balok ke kamar mandi.
Tengah malam di musholla Padepokan Tumaritis.* *Lima-enam orang berdiskusi
di musholla selepas sholat Isya. Diskusi hangat tentang pengalaman hidup
yang berat tapi tetap dengan tawa. Satu per satu bertumbangan, balik ke
pondokan. Fiyan masih terus mengetik di laptop milik Taufiq. Jika tidak
dihentikan Dani barangkali anak itu tetap akan mengetik hingga Subuh. Di
mimpinya pun mungkin ia sedang mengetik.
Di kamar penginapan, sekitar* *jam satu pagi. Seorang pemuda kurus tepekur
di ranjang atas nyaris menyundul langit-langit. Ia sibuk menulis di
*diary*-nya.
Rekan di ranjang bawah terlelap di bawah balutan selimut tebal.
Taufiq : Belum tidur, Mas Nur?
Pemuda Kurus : Belum. Belum nyiapin kado.
Taufiq terus berceloteh tentang rencana masa depannya. Ternyata beberapa
sahabat yang lain seperti Chandra dan Fiyan belum terlelap. Mereka asyik
ngobrol. Hingga jam dua pagi, suasana sepi. Si pemuda kurus masih bersila
merenung. Jemari kakinya kram kedinginan. Ia pun menyudahi renungannya
tentang *Cinderella Complex*, sindrom takut kesuksesan, yang terinspirasi
dari curhat seorang sahabat di musholla. Betapa seribu peluang keberhasilan
akan percuma menghampiri jika kita tak berani menjemput dan mencobanya. Takut
gagal itu memalukan namun takut kesuksesan tentu lebih memalukan.
"Wah, udah melek, Mas Nur?" Sebuah suara menyeret saya dari pulau lamunan.
Meli yang tadi bersuara. Ya, saya baru *ngeh* ternyata masih berada di dalam
mobil yang melaju di jalan Tol Pondok Gede. *Oh, Jakarta, here I come!*
Saya tersenyum. Manis tentunya. Rupanya tadi saya sempat tertidur di pojokan
mobil. Kondisi badan yang kurang fit sejak sebelum berangkat didera acara
maraton raker dan halal bihalal praktis membawa efek pegal-pegal dan sedikit
demam. *Ah, Nursalam, gimana nanti malam pertamamu? *Maklum, saat raker itu
sebulan jelang pernikahan saya pada Desember 2007.
*No pain no gain. Jer basuki mawa bea*. Harga sebuah sakit adalah bahagia
atas kesembuhan. Harga sebuah kelelahan adalah pengalaman hidup. Tersisa
kini di benakku sebagai ketua Eska: *what's next?* Apa selanjutnya? Komitmen
dan perlakuan di sebuah komunitas dunia maya tentu berbeda. Namun siapapun
penumpangnya, gerbong Sekolah Kehidupan akan terus melaju. *Que sera sera.*
*Situgintung 2, (Juli 2008)*
Saya bersama istri, Yuni Meganingrum, tiba di Situ Gintung, Ciputat, Banten
sekitar pukul 8 pagi. Ahad itu, 27 Juli 2008, ada Milad (ulang tahun dalam
bahasa Arab) ke-2 komunitas Sekolah Kehidupan (SK) di lokasi danau wisata di
perbatasan Jakarta dan Banten tersebut. Alhasil, dari tempat tinggal kami di
Lenteng Agung (perbatasan Jakarta dan Depok) ke perbatasan barat DKI ini
perlu waktu 1,5 jam dengan angkutan umum. Lebih banyak, sebetulnya, waktu
habis untuk menunggu bis *Deborah* jurusan Lebak Bulus dari arah Depok. Dari
Terminal Lebak Bulus ke Situ Gintung hanya perlu 20 menit. Itu karena akhir
pekan. Di hari biasa, karena kemacetan kronis sejak 1980-an, waktu tempuh
bisa mulur jadi 1 jam.
Saat tiba di kawasan *Outbond *Situ Gintung -- yang berjarak 100 meter di
sebelah kanan kolam renang Situ Gintung yang dulu jadi lokasi kopdar (kopi
darat) ke-2 SK pada September 2006 penjaga tiket di balik jendela tiket
yang sebatas dada langsung menyergap dengan pertanyaan,"Sekolah Kehidupan
ya?"
Saya langsung ge-er. *Ah, bapak tahu saja saya ketua SK*, batinku. Saya
mengangguk cepat, tanpa menunggu ia meminta tanda tangan. Petugas yang baik
hati dan ganteng itu lantas mengisyaratkan agar kami segera masuk lewat
pintu gerbang sempit dengan jajaran besi di kiri kanan. Cukup sempit untuk
Yuni yang sedang hamil lima bulan. Menuju ke aula Situ Gintung sebagai
tempat acara, kami disapa angin lembut danau sepanjang 200 meter jalan
setapak berkelok. Beberapa anjing penjaga setinggi paha saya (untuk
informasi, tinggi saya 175 cm) berkeliaran. Sebagian lagi bergolek malas di
tepi jalan sambil mengibas-kibaskan ekornya yang berbulu tebal, mengusir
lalat.
Setelah berada di dalam dan sempat bantu sana-sini termasuk bolak-balik
keluar gerbang untuk menjemput para peserta yang kebingungan mencari TKP
(Tempat Kejadian Permiladan), ke-ge-eran saya berkurang drastis. Rupanya
sang petugas yang entah kenapa setelah saya tidak ge-er lagi berubah jadi
tidak begitu ganteng lagi menangkap wajah bingungku ketika di depan loket
tiket tak ada sepotong pun panitia yang *standby* seperti rancangan acara
sebelumnya.
Sebelumnya, dalam konsep acara, di-*design* agar ada panitia yang *standby *di
loket tiket sehingga peserta Milad tidak perlu membayar tiket masuk karena
sudah termasuk dalam Rp. 65000, biaya pendaftaran Milad yang sudah
ditransfer sebelum hari H. Tapi saya maklum juga karena jumlah panitia yang
terbatas terserap dalam penyiapan TKP. Termasuk Dikdik, Yayan dan Galih
trio tim logistik yang bahkan menginap di lokasi sehari sebelumnya.
Bersama Fiyan dan Dani, mereka ditemani angin dingin malam, nyamuk-nyamuk
ganas (yang bukan cuma nakal) dan lolongan anjing yang sesekali iseng masuk
ke arena aula yang tak berdinding tersebut. Sungguh heroik bukan perjuangan
mereka? Saya dan Yuni sendiri merasakan dinginnya angin malam Situ Gintung
ketika bersama beberapa panitia (Catur, Retno, Fiyan, Taufiq, Diyah, Kiki,
Novi dan Nia) terjebak hujan selepas acara Milad hingga pukul tujuh malam.
Alhamdulillah, atas pengertian dan kerjasama, kami berhasil keluar dari
Situgintung. Sungguh mengharukan ketika semua bekerja ikhlas tanpa imbalan
untuk suatu cita-cita bersama.
Dengan harapan cita-cita bersama itulah, pada acara milad Eska tersebut,
saya lepaskan jabatan ketua SK selanjutnya kepada Dani Ardiansyah.
Peluncuran buku *Menggenggam Cahaya* pun menandai akhir masa jabatan. Akhir
Juli itu adalah awal kepemimpinan baru di SK, sebuah kepemimpinan dalam
kurun waktu yang ideal, dua tahun, setidaknya menurut saya. Karena sejak
awal terpilih, saya selalu menanamkan kepada diri saya bahwa saya hanyalah
pemimpin transisi. Transisi dari periode kepemimpinan penuh oleh Pak Sinang
(*founder* SK) kepada ketua berikutnya siapa pun ia yang akan lebih
menggerakkan SK. Tugas utama saya yang saya tetapkan di hati -- adalah
menjaga peralihan tersebut dan membangun *chemistry* yang merupakan akar
soliditas dan kebersamaan SK.
*Quo Vadis SK?*
Spirit Lembang hingga spirit Situgintung 2 adalah cerminan dan jiwa
komunitas SK yang hangat, solid, bersahabat dan berdayaguna bagi sekitar.
Akankan berlanjut di masa yang akan datang?
Kini SK di bawah kepemimpinan Dani akan menyelenggarakan Raker untuk
merumuskan program. Selepas jabatan ketua SK, saya -- yang kini salah satu
anggota Pembina Harian Kabinet SK melihat sedemikian banyak kerja nyata
kabinet Dani dengan peluncuran buku *Kolak Ramadhan* dan program *1000 Cinta
Ramadhan*. Tepatlah asumsi saya di awal kepemimpinan sobat yang satu ini.
Sebagai seorang *man of action*, Dani tentunya dengan kontribusi aktif
anggota SK yang lain --memang tepat memimpin SK yang sudah saatnya lebih
aktif dan progresif. Masa pemupukan soliditas dan *chemistry* serta
pengikatan visi bersama di bawah kabinet sebelumnya sudah cukup tuntas. Kini
saatnya SK bergerak di atas landasan tersebut!
*Quo vadis* SK? Akan kemana SK? SK akan bergerak menjulang ke atas dan
mengakar ke bawah, itu salah satu jawabannya. Jawaban yang lain? SK akan ke
Puncak, Bandung, Surabaya, Yogya dan banyak tempat di negri ini. SK akan
membuka cabang di banyak wilayah selain di Jakarta, Bandung, Yogya, Bogor,
Surabaya dan Mesir. Dengan dukungan para bahu raksasa di komunitas ini,
dengan tanpa perlu menafikan kontribusi aktif banyak pihak, kabinet
Eskavaganza bisa mencapainya. *Yes, we can!*
Persoalan keluhan kurangnya "kehangatan", dominasi suatu pihak, kurangnya
tulisan bermutu dan lain-lain, saya kira, adalah persoalan wajar dalam
sebuah organisasi yang bertumbuh di dunia yang tak hampa udara, di alam yang
tak bebas nilai dan bukan di belantara yang terisolasi. Setiap fase punya
keluhan dan masalahnya masing-masing. Seperti halnya bayi yang beranjak
besar, ada kalanya ia mencret-mencret atau batuk rejan. Sepanjang imunitas (
*mana'ah*) sang bayi kuat dengan asupan bergizi dalam komunitas, ini
berupa stimulus program yang progresif, kekompakan dan prasangka positif
anggota ---ia akan bertahan menghadapi zaman, Insya Allah.
Yang diperlukan kini adalah *road map*, peta jalan, untuk kemana SK akan di
bawa. Inilah topik penting yang layak dibahas dalam raker SK pada 15-16
November nanti. Karena suatu komunitas akan abadi, dan tak luluh dalam
lipatan zaman, jika ia tak bergantung pada figur atau persona tertentu
dalam hal pemikiran atau bentuk yang lain. Inilah bagian dari proses
transisi yang belum tuntas dari masa kabinet sebelumnya.
Dalam kepemimpinan ada paradoks yakni *two heads are better than one, two
cooks spoil the broth*. Namun, paradoks kedua adagium tersebut akan selaras
jika kita sama-sama memaknainya dengan semangat "jika kita bersama, Insya
Allah, kita bisa".
Selamat Raker! Semoga Tuhan memberkati!
*Jakarta, 13 November 2008*
--
-"Let's dream together!"
Nursalam AR
Translator, Writer & Writing Trainer
0813-10040723
E-mail: salam.translator@gmail.com
YM ID: nursalam_ar
http://nursalam.multiply. com
- 8b.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Wed Nov 12, 2008 7:03 pm (PST)
Saya benar-benar tercenung membaca tulisan Mas Nur di bawah ini. Ingatan
saya kembali pada masa setahun yang lalu, saat raker kabinet 2007-2008
dilaksanakan di Situgintung. Udara dingin sedingin es balok yang ditaruh di
bak kamar mandi dan perjalanan Jakarta-Bandung yang saya mulai sejak satu
hari sebelumnya dengan Meli pada saat itu.
Terima kasih, Mas Nur, atas sebuah kilas balik sebelum raker akhir pekan
mendatang.
Salam
Lia
2008/11/13 Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com >
> *Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> *"If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and
> become more, you are a leader.'" (John Quincy Adams, Presiden ke-6 Amerika
> Serikat)*
>
> * *
>
> *Lembang (2007)*
>
> Semalam di Lembang, Bandung, merupakan pengalaman mahal. Dalam 1 malam yang
> jadi rangkaian halal bihalal dan rapat kerja milis Sekolah Kehidupan (Eska)
> selama Sabtu-Ahad, 10-11 November 2007, banyak pengalaman didapat. Jangankan
> 2 hari 1 malam, semalam saja sudah berkesan. Meski kadang saya berpikir
> apakah ini bukan efek noraknya saya yang jarang bepergian? *Ah, dasar
> Betawi, betah di wilayah.*
>
>
>
> Dalam perjalanan pulang semobil bersama Mas Danu (sopir), Rusdin, Dikdik,
> Yayan, Meli dan Lia di tengah guyuran hujan lebat merata antara
> Lembang-Jakarta, saya termangu menatap keluar jendela mobil yang berembun.
> Dalam remang kabut senja Tol Cipularang dan pemandangan bukit berbelah
> berbalut hamparan pohon di kiri kanan, ingatan saya terpulang pada episode
> malam Minggu itu. Malam Minggu yang lain daripada malam-malam Minggu yang
> biasa.
>
>
>
> Di aula Padepokan Tumaritis, Lembang, malam hari. Enam puluhan orang
> berkumpul mendekap dingin dalam barisan kursi teratur menghadap meja di
> depan. Sekitar lima orang bocah bersemangat berjoget seiring musik
> mengikuti sang instruktur yang tampak super bersemangat. Ditimpali canda
> yang hadir, dan terkadang tingkah para bocah pejoget yang ngambek, tarian
> itu sungguh menghangatkan malam. Setidaknya membuat rahang berolahraga,
> tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh menyehatkan.
>
>
>
> Sejam kemudian rapat kerja Eska dimulai. Nursalam, Suhadi, Adjie, Bunda
> Amy, Pak Teha dan Bunda Icha duduk di depan menghadap ke arah hadirin.
> Agenda: pembahasan program-program 2007-2008 dan kesepakatan tentang
> pembentukan Yayasan Sekolah Kehidupan. Tema berat dan serius. Tapi tetap
> saja canda berhamburan. Di penghujung rapat sekitar pukul 11 malam, terjadi
> perdebatan tentang usulan perpanjangan waktu rapat dan desakan agar program
> dibahas lebih detil. Atas dasar pertimbangan waktu, dikompromikan bahwa
> semua program akan diseleksi oleh Badan Pengurus Harian (BPH) dan diumumkan
> di milis Eska. Sebagian peserta yang masih bertahan kembali ke pondokan.
> Yang bertumbangan di awal sudah terlelap ditemani dinginnya Lembang. Yang
> kelaparan mencari cemilan hangat di luar pondokan. Khusus kaum yang satu
> ini, mereka sudah dibekali ilmu kanuragan ilmu *bajing luncat* untuk
> melompati pagar.
>
>
>
> Usai rapat, hujan deras. Acara api unggun batal. Padahal Dani (Ketua
> Panitia Raker) sudah menyiapkan kayu api unggun yang setinggi orang dewasa.
> Mungkin setara dengan tingginya tumpukan kayu bakar di zaman Namrud untuk
> membakar Nabi Ibrahim. Sebagian peserta bersih-bersih sebelum tidur.
> Menyikat gigi, berkumur dengan air yang luarbiasa dingin. Suhu malam itu
> sekitar 15 derajat Celcius. Taufiq bersungut-sungut kesal. Katanya ada yang
> bercanda kelewatan, memasukkan es balok ke kamar mandi.
>
>
>
> Tengah malam di musholla Padepokan Tumaritis.* *Lima-enam orang berdiskusi
> di musholla selepas sholat Isya. Diskusi hangat tentang pengalaman hidup
> yang berat tapi tetap dengan tawa. Satu per satu bertumbangan, balik ke
> pondokan. Fiyan masih terus mengetik di laptop milik Taufiq. Jika tidak
> dihentikan Dani barangkali anak itu tetap akan mengetik hingga Subuh. Di
> mimpinya pun mungkin ia sedang mengetik.
>
>
>
> Di kamar penginapan, sekitar* *jam satu pagi. Seorang pemuda kurus tepekur
> di ranjang atas nyaris menyundul langit-langit. Ia sibuk menulis di *diary
> *-nya. Rekan di ranjang bawah terlelap di bawah balutan selimut tebal.
>
>
>
> Taufiq : Belum tidur, Mas Nur?
>
> Pemuda Kurus : Belum. Belum nyiapin kado.
>
>
>
> Taufiq terus berceloteh tentang rencana masa depannya. Ternyata beberapa
> sahabat yang lain seperti Chandra dan Fiyan belum terlelap. Mereka asyik
> ngobrol. Hingga jam dua pagi, suasana sepi. Si pemuda kurus masih bersila
> merenung. Jemari kakinya kram kedinginan. Ia pun menyudahi renungannya
> tentang *Cinderella Complex*, sindrom takut kesuksesan, yang terinspirasi
> dari curhat seorang sahabat di musholla. Betapa seribu peluang keberhasilan
> akan percuma menghampiri jika kita tak berani menjemput dan mencobanya. Takut
> gagal itu memalukan namun takut kesuksesan tentu lebih memalukan.
>
>
>
> "Wah, udah melek, Mas Nur?" Sebuah suara menyeret saya dari pulau lamunan.
> Meli yang tadi bersuara. Ya, saya baru *ngeh* ternyata masih berada di
> dalam mobil yang melaju di jalan Tol Pondok Gede. *Oh, Jakarta, here I
> come!*
>
>
>
> Saya tersenyum. Manis tentunya. Rupanya tadi saya sempat tertidur di
> pojokan mobil. Kondisi badan yang kurang fit sejak sebelum berangkat didera
> acara maraton raker dan halal bihalal praktis membawa efek pegal-pegal dan
> sedikit demam. *Ah, Nursalam, gimana nanti malam pertamamu? *Maklum, saat
> raker itu sebulan jelang pernikahan saya pada Desember 2007.
>
>
>
> *No pain no gain. Jer basuki mawa bea*. Harga sebuah sakit adalah bahagia
> atas kesembuhan. Harga sebuah kelelahan adalah pengalaman hidup. Tersisa
> kini di benakku sebagai ketua Eska: *what's next?* Apa selanjutnya?
> Komitmen dan perlakuan di sebuah komunitas dunia maya tentu berbeda. Namun
> siapapun penumpangnya, gerbong Sekolah Kehidupan akan terus melaju. *Que
> sera sera.*
>
>
>
> *Situgintung 2, (Juli 2008)*
>
> Saya bersama istri, Yuni Meganingrum, tiba di Situ Gintung, Ciputat, Banten
> sekitar pukul 8 pagi. Ahad itu, 27 Juli 2008, ada Milad (ulang tahun dalam
> bahasa Arab) ke-2 komunitas Sekolah Kehidupan (SK) di lokasi danau wisata di
> perbatasan Jakarta dan Banten tersebut. Alhasil, dari tempat tinggal kami di
> Lenteng Agung (perbatasan Jakarta dan Depok) ke perbatasan barat DKI ini
> perlu waktu 1,5 jam dengan angkutan umum. Lebih banyak, sebetulnya, waktu
> habis untuk menunggu bis *Deborah* jurusan Lebak Bulus dari arah Depok. Dari
> Terminal Lebak Bulus ke Situ Gintung hanya perlu 20 menit. Itu karena akhir
> pekan. Di hari biasa, karena kemacetan kronis sejak 1980-an, waktu tempuh
> bisa mulur jadi 1 jam.
>
>
>
> Saat tiba di kawasan *Outbond *Situ Gintung -- yang berjarak 100 meter di
> sebelah kanan kolam renang Situ Gintung yang dulu jadi lokasi kopdar (kopi
> darat) ke-2 SK pada September 2006 penjaga tiket di balik jendela tiket
> yang sebatas dada langsung menyergap dengan pertanyaan,"Sekolah Kehidupan
> ya?"
>
>
>
> Saya langsung ge-er. *Ah, bapak tahu saja saya ketua SK*, batinku. Saya
> mengangguk cepat, tanpa menunggu ia meminta tanda tangan. Petugas yang baik
> hati dan ganteng itu lantas mengisyaratkan agar kami segera masuk lewat
> pintu gerbang sempit dengan jajaran besi di kiri kanan. Cukup sempit untuk
> Yuni yang sedang hamil lima bulan. Menuju ke aula Situ Gintung sebagai
> tempat acara, kami disapa angin lembut danau sepanjang 200 meter jalan
> setapak berkelok. Beberapa anjing penjaga setinggi paha saya (untuk
> informasi, tinggi saya 175 cm) berkeliaran. Sebagian lagi bergolek malas di
> tepi jalan sambil mengibas-kibaskan ekornya yang berbulu tebal, mengusir
> lalat.
>
>
>
> Setelah berada di dalam dan sempat bantu sana-sini termasuk bolak-balik
> keluar gerbang untuk menjemput para peserta yang kebingungan mencari TKP
> (Tempat Kejadian Permiladan), ke-ge-eran saya berkurang drastis. Rupanya
> sang petugas yang entah kenapa setelah saya tidak ge-er lagi berubah jadi
> tidak begitu ganteng lagi menangkap wajah bingungku ketika di depan loket
> tiket tak ada sepotong pun panitia yang *standby* seperti rancangan acara
> sebelumnya.
>
>
>
> Sebelumnya, dalam konsep acara, di-*design* agar ada panitia yang *standby
> *di loket tiket sehingga peserta Milad tidak perlu membayar tiket masuk
> karena sudah termasuk dalam Rp. 65000, biaya pendaftaran Milad yang sudah
> ditransfer sebelum hari H. Tapi saya maklum juga karena jumlah panitia yang
> terbatas terserap dalam penyiapan TKP. Termasuk Dikdik, Yayan dan Galih
> trio tim logistik yang bahkan menginap di lokasi sehari sebelumnya.
>
>
>
> Bersama Fiyan dan Dani, mereka ditemani angin dingin malam, nyamuk-nyamuk
> ganas (yang bukan cuma nakal) dan lolongan anjing yang sesekali iseng masuk
> ke arena aula yang tak berdinding tersebut. Sungguh heroik bukan perjuangan
> mereka? Saya dan Yuni sendiri merasakan dinginnya angin malam Situ
> Gintung ketika bersama beberapa panitia (Catur, Retno, Fiyan, Taufiq, Diyah,
> Kiki, Novi dan Nia) terjebak hujan selepas acara Milad hingga pukul tujuh
> malam. Alhamdulillah, atas pengertian dan kerjasama, kami berhasil keluar
> dari Situgintung. Sungguh mengharukan ketika semua bekerja ikhlas tanpa
> imbalan untuk suatu cita-cita bersama.
>
>
>
> Dengan harapan cita-cita bersama itulah, pada acara milad Eska tersebut,
> saya lepaskan jabatan ketua SK selanjutnya kepada Dani Ardiansyah.
> Peluncuran buku *Menggenggam Cahaya* pun menandai akhir masa jabatan.
> Akhir Juli itu adalah awal kepemimpinan baru di SK, sebuah kepemimpinan
> dalam kurun waktu yang ideal, dua tahun, setidaknya menurut saya. Karena
> sejak awal terpilih, saya selalu menanamkan kepada diri saya bahwa saya
> hanyalah pemimpin transisi. Transisi dari periode kepemimpinan penuh oleh
> Pak Sinang (*founder* SK) kepada ketua berikutnya siapa pun ia yang
> akan lebih menggerakkan SK. Tugas utama saya yang saya tetapkan di hati --
> adalah menjaga peralihan tersebut dan membangun *chemistry* yang merupakan
> akar soliditas dan kebersamaan SK.
>
>
>
> *Quo Vadis SK?*
>
> Spirit Lembang hingga spirit Situgintung 2 adalah cerminan dan jiwa
> komunitas SK yang hangat, solid, bersahabat dan berdayaguna bagi sekitar.
> Akankan berlanjut di masa yang akan datang?
>
>
>
> Kini SK di bawah kepemimpinan Dani akan menyelenggarakan Raker untuk
> merumuskan program. Selepas jabatan ketua SK, saya -- yang kini salah satu
> anggota Pembina Harian Kabinet SK melihat sedemikian banyak kerja nyata
> kabinet Dani dengan peluncuran buku *Kolak Ramadhan* dan program *1000
> Cinta Ramadhan*. Tepatlah asumsi saya di awal kepemimpinan sobat yang satu
> ini. Sebagai seorang *man of action*, Dani tentunya dengan kontribusi
> aktif anggota SK yang lain --memang tepat memimpin SK yang sudah saatnya
> lebih aktif dan progresif. Masa pemupukan soliditas dan *chemistry* serta
> pengikatan visi bersama di bawah kabinet sebelumnya sudah cukup tuntas. Kini
> saatnya SK bergerak di atas landasan tersebut!
>
>
>
> *Quo vadis* SK? Akan kemana SK? SK akan bergerak menjulang ke atas dan
> mengakar ke bawah, itu salah satu jawabannya. Jawaban yang lain? SK akan ke
> Puncak, Bandung, Surabaya, Yogya dan banyak tempat di negri ini. SK akan
> membuka cabang di banyak wilayah selain di Jakarta, Bandung, Yogya, Bogor,
> Surabaya dan Mesir. Dengan dukungan para bahu raksasa di komunitas ini,
> dengan tanpa perlu menafikan kontribusi aktif banyak pihak, kabinet
> Eskavaganza bisa mencapainya. *Yes, we can!*
>
>
>
> Persoalan keluhan kurangnya "kehangatan", dominasi suatu pihak, kurangnya
> tulisan bermutu dan lain-lain, saya kira, adalah persoalan wajar dalam
> sebuah organisasi yang bertumbuh di dunia yang tak hampa udara, di alam yang
> tak bebas nilai dan bukan di belantara yang terisolasi. Setiap fase punya
> keluhan dan masalahnya masing-masing. Seperti halnya bayi yang beranjak
> besar, ada kalanya ia mencret-mencret atau batuk rejan. Sepanjang imunitas (
> *mana'ah*) sang bayi kuat dengan asupan bergizi dalam komunitas, ini
> berupa stimulus program yang progresif, kekompakan dan prasangka positif
> anggota ---ia akan bertahan menghadapi zaman, Insya Allah.
>
>
>
> Yang diperlukan kini adalah *road map*, peta jalan, untuk kemana SK akan
> di bawa. Inilah topik penting yang layak dibahas dalam raker SK pada 15-16
> November nanti. Karena suatu komunitas akan abadi, dan tak luluh dalam
> lipatan zaman, jika ia tak bergantung pada figur atau persona tertentu
> dalam hal pemikiran atau bentuk yang lain. Inilah bagian dari proses
> transisi yang belum tuntas dari masa kabinet sebelumnya.
>
>
>
> Dalam kepemimpinan ada paradoks yakni *two heads are better than one, two
> cooks spoil the broth*. Namun, paradoks kedua adagium tersebut akan
> selaras jika kita sama-sama memaknainya dengan semangat "jika kita bersama,
> Insya Allah, kita bisa".
>
>
>
> Selamat Raker! Semoga Tuhan memberkati!
>
>
>
> *Jakarta, 13 November 2008*
>
>
>
>
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@gmail.com
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply. com
>
>
>
- 8c.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Wed Nov 12, 2008 7:07 pm (PST)
2008/11/13 Lia Octavia <liaoctavia@gmail.com >
> Saya benar-benar tercenung membaca tulisan Mas Nur di bawah ini. Ingatan
> saya kembali pada masa setahun yang lalu, saat raker kabinet 2007-2008
> dilaksanakan di *Lembang*. Udara dingin sedingin es balok yang ditaruh di
> bak kamar mandi dan perjalanan Jakarta-Bandung yang saya mulai sejak satu
> hari sebelumnya dengan Meli pada saat itu.
>
> Terima kasih, Mas Nur, atas sebuah kilas balik sebelum raker akhir pekan
> mendatang.
>
> Salam
> Lia
>
> 2008/11/13 Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com >
>
> *Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?*
>>
>> *Oleh Nursalam AR*
>>
>>
>>
>> *"If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and
>> become more, you are a leader.'" (John Quincy Adams, Presiden ke-6 Amerika
>> Serikat)*
>>
>> * *
>>
>> *Lembang (2007)*
>>
>> Semalam di Lembang, Bandung, merupakan pengalaman mahal. Dalam 1 malam
>> yang jadi rangkaian halal bihalal dan rapat kerja milis Sekolah Kehidupan
>> (Eska) selama Sabtu-Ahad, 10-11 November 2007, banyak pengalaman didapat.
>> Jangankan 2 hari 1 malam, semalam saja sudah berkesan. Meski kadang saya
>> berpikir apakah ini bukan efek noraknya saya yang jarang bepergian? *Ah,
>> dasar Betawi, betah di wilayah.*
>>
>>
>>
>> Dalam perjalanan pulang semobil bersama Mas Danu (sopir), Rusdin, Dikdik,
>> Yayan, Meli dan Lia di tengah guyuran hujan lebat merata antara
>> Lembang-Jakarta, saya termangu menatap keluar jendela mobil yang berembun.
>> Dalam remang kabut senja Tol Cipularang dan pemandangan bukit berbelah
>> berbalut hamparan pohon di kiri kanan, ingatan saya terpulang pada episode
>> malam Minggu itu. Malam Minggu yang lain daripada malam-malam Minggu yang
>> biasa.
>>
>>
>>
>> Di aula Padepokan Tumaritis, Lembang, malam hari. Enam puluhan orang
>> berkumpul mendekap dingin dalam barisan kursi teratur menghadap meja di
>> depan. Sekitar lima orang bocah bersemangat berjoget seiring musik
>> mengikuti sang instruktur yang tampak super bersemangat. Ditimpali canda
>> yang hadir, dan terkadang tingkah para bocah pejoget yang ngambek, tarian
>> itu sungguh menghangatkan malam. Setidaknya membuat rahang berolahraga,
>> tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh menyehatkan.
>>
>>
>>
>> Sejam kemudian rapat kerja Eska dimulai. Nursalam, Suhadi, Adjie, Bunda
>> Amy, Pak Teha dan Bunda Icha duduk di depan menghadap ke arah hadirin.
>> Agenda: pembahasan program-program 2007-2008 dan kesepakatan tentang
>> pembentukan Yayasan Sekolah Kehidupan. Tema berat dan serius. Tapi tetap
>> saja canda berhamburan. Di penghujung rapat sekitar pukul 11 malam, terjadi
>> perdebatan tentang usulan perpanjangan waktu rapat dan desakan agar program
>> dibahas lebih detil. Atas dasar pertimbangan waktu, dikompromikan bahwa
>> semua program akan diseleksi oleh Badan Pengurus Harian (BPH) dan diumumkan
>> di milis Eska. Sebagian peserta yang masih bertahan kembali ke pondokan.
>> Yang bertumbangan di awal sudah terlelap ditemani dinginnya Lembang. Yang
>> kelaparan mencari cemilan hangat di luar pondokan. Khusus kaum yang satu
>> ini, mereka sudah dibekali ilmu kanuragan ilmu *bajing luncat* untuk
>> melompati pagar.
>>
>>
>>
>> Usai rapat, hujan deras. Acara api unggun batal. Padahal Dani (Ketua
>> Panitia Raker) sudah menyiapkan kayu api unggun yang setinggi orang dewasa.
>> Mungkin setara dengan tingginya tumpukan kayu bakar di zaman Namrud untuk
>> membakar Nabi Ibrahim. Sebagian peserta bersih-bersih sebelum tidur.
>> Menyikat gigi, berkumur dengan air yang luarbiasa dingin. Suhu malam itu
>> sekitar 15 derajat Celcius. Taufiq bersungut-sungut kesal. Katanya ada yang
>> bercanda kelewatan, memasukkan es balok ke kamar mandi.
>>
>>
>>
>> Tengah malam di musholla Padepokan Tumaritis.* *Lima-enam orang
>> berdiskusi di musholla selepas sholat Isya. Diskusi hangat tentang
>> pengalaman hidup yang berat tapi tetap dengan tawa. Satu per satu
>> bertumbangan, balik ke pondokan. Fiyan masih terus mengetik di laptop milik
>> Taufiq. Jika tidak dihentikan Dani barangkali anak itu tetap akan mengetik
>> hingga Subuh. Di mimpinya pun mungkin ia sedang mengetik.
>>
>>
>>
>> Di kamar penginapan, sekitar* *jam satu pagi. Seorang pemuda kurus
>> tepekur di ranjang atas nyaris menyundul langit-langit. Ia sibuk menulis di
>> *diary*-nya. Rekan di ranjang bawah terlelap di bawah balutan selimut
>> tebal.
>>
>>
>>
>> Taufiq : Belum tidur, Mas Nur?
>>
>> Pemuda Kurus : Belum. Belum nyiapin kado.
>>
>>
>>
>> Taufiq terus berceloteh tentang rencana masa depannya. Ternyata beberapa
>> sahabat yang lain seperti Chandra dan Fiyan belum terlelap. Mereka asyik
>> ngobrol. Hingga jam dua pagi, suasana sepi. Si pemuda kurus masih bersila
>> merenung. Jemari kakinya kram kedinginan. Ia pun menyudahi renungannya
>> tentang *Cinderella Complex*, sindrom takut kesuksesan, yang terinspirasi
>> dari curhat seorang sahabat di musholla. Betapa seribu peluang keberhasilan
>> akan percuma menghampiri jika kita tak berani menjemput dan mencobanya. Takut
>> gagal itu memalukan namun takut kesuksesan tentu lebih memalukan.
>>
>>
>>
>> "Wah, udah melek, Mas Nur?" Sebuah suara menyeret saya dari pulau
>> lamunan. Meli yang tadi bersuara. Ya, saya baru *ngeh* ternyata masih
>> berada di dalam mobil yang melaju di jalan Tol Pondok Gede. *Oh, Jakarta,
>> here I come!*
>>
>>
>>
>> Saya tersenyum. Manis tentunya. Rupanya tadi saya sempat tertidur di
>> pojokan mobil. Kondisi badan yang kurang fit sejak sebelum berangkat didera
>> acara maraton raker dan halal bihalal praktis membawa efek pegal-pegal dan
>> sedikit demam. *Ah, Nursalam, gimana nanti malam pertamamu? *Maklum, saat
>> raker itu sebulan jelang pernikahan saya pada Desember 2007.
>>
>>
>>
>> *No pain no gain. Jer basuki mawa bea*. Harga sebuah sakit adalah bahagia
>> atas kesembuhan. Harga sebuah kelelahan adalah pengalaman hidup. Tersisa
>> kini di benakku sebagai ketua Eska: *what's next?* Apa selanjutnya?
>> Komitmen dan perlakuan di sebuah komunitas dunia maya tentu berbeda. Namun
>> siapapun penumpangnya, gerbong Sekolah Kehidupan akan terus melaju. *Que
>> sera sera.*
>>
>>
>>
>> *Situgintung 2, (Juli 2008)*
>>
>> Saya bersama istri, Yuni Meganingrum, tiba di Situ Gintung, Ciputat,
>> Banten sekitar pukul 8 pagi. Ahad itu, 27 Juli 2008, ada Milad (ulang tahun
>> dalam bahasa Arab) ke-2 komunitas Sekolah Kehidupan (SK) di lokasi danau
>> wisata di perbatasan Jakarta dan Banten tersebut. Alhasil, dari tempat
>> tinggal kami di Lenteng Agung (perbatasan Jakarta dan Depok) ke perbatasan
>> barat DKI ini perlu waktu 1,5 jam dengan angkutan umum. Lebih banyak,
>> sebetulnya, waktu habis untuk menunggu bis *Deborah* jurusan Lebak Bulus
>> dari arah Depok. Dari Terminal Lebak Bulus ke Situ Gintung hanya perlu 20
>> menit. Itu karena akhir pekan. Di hari biasa, karena kemacetan kronis
>> sejak 1980-an, waktu tempuh bisa mulur jadi 1 jam.
>>
>>
>>
>> Saat tiba di kawasan *Outbond *Situ Gintung -- yang berjarak 100 meter di
>> sebelah kanan kolam renang Situ Gintung yang dulu jadi lokasi kopdar (kopi
>> darat) ke-2 SK pada September 2006 penjaga tiket di balik jendela tiket
>> yang sebatas dada langsung menyergap dengan pertanyaan,"Sekolah Kehidupan
>> ya?"
>>
>>
>>
>> Saya langsung ge-er. *Ah, bapak tahu saja saya ketua SK*, batinku. Saya
>> mengangguk cepat, tanpa menunggu ia meminta tanda tangan. Petugas yang baik
>> hati dan ganteng itu lantas mengisyaratkan agar kami segera masuk lewat
>> pintu gerbang sempit dengan jajaran besi di kiri kanan. Cukup sempit untuk
>> Yuni yang sedang hamil lima bulan. Menuju ke aula Situ Gintung sebagai
>> tempat acara, kami disapa angin lembut danau sepanjang 200 meter jalan
>> setapak berkelok. Beberapa anjing penjaga setinggi paha saya (untuk
>> informasi, tinggi saya 175 cm) berkeliaran. Sebagian lagi bergolek malas di
>> tepi jalan sambil mengibas-kibaskan ekornya yang berbulu tebal, mengusir
>> lalat.
>>
>>
>>
>> Setelah berada di dalam dan sempat bantu sana-sini termasuk bolak-balik
>> keluar gerbang untuk menjemput para peserta yang kebingungan mencari TKP
>> (Tempat Kejadian Permiladan), ke-ge-eran saya berkurang drastis. Rupanya
>> sang petugas yang entah kenapa setelah saya tidak ge-er lagi berubah jadi
>> tidak begitu ganteng lagi menangkap wajah bingungku ketika di depan loket
>> tiket tak ada sepotong pun panitia yang *standby* seperti rancangan acara
>> sebelumnya.
>>
>>
>>
>> Sebelumnya, dalam konsep acara, di-*design* agar ada panitia yang *standby
>> *di loket tiket sehingga peserta Milad tidak perlu membayar tiket masuk
>> karena sudah termasuk dalam Rp. 65000, biaya pendaftaran Milad yang sudah
>> ditransfer sebelum hari H. Tapi saya maklum juga karena jumlah panitia yang
>> terbatas terserap dalam penyiapan TKP. Termasuk Dikdik, Yayan dan Galih
>> trio tim logistik yang bahkan menginap di lokasi sehari sebelumnya.
>>
>>
>>
>> Bersama Fiyan dan Dani, mereka ditemani angin dingin malam, nyamuk-nyamuk
>> ganas (yang bukan cuma nakal) dan lolongan anjing yang sesekali iseng masuk
>> ke arena aula yang tak berdinding tersebut. Sungguh heroik bukan perjuangan
>> mereka? Saya dan Yuni sendiri merasakan dinginnya angin malam Situ
>> Gintung ketika bersama beberapa panitia (Catur, Retno, Fiyan, Taufiq, Diyah,
>> Kiki, Novi dan Nia) terjebak hujan selepas acara Milad hingga pukul tujuh
>> malam. Alhamdulillah, atas pengertian dan kerjasama, kami berhasil keluar
>> dari Situgintung. Sungguh mengharukan ketika semua bekerja ikhlas tanpa
>> imbalan untuk suatu cita-cita bersama.
>>
>>
>>
>> Dengan harapan cita-cita bersama itulah, pada acara milad Eska tersebut,
>> saya lepaskan jabatan ketua SK selanjutnya kepada Dani Ardiansyah.
>> Peluncuran buku *Menggenggam Cahaya* pun menandai akhir masa jabatan.
>> Akhir Juli itu adalah awal kepemimpinan baru di SK, sebuah kepemimpinan
>> dalam kurun waktu yang ideal, dua tahun, setidaknya menurut saya. Karena
>> sejak awal terpilih, saya selalu menanamkan kepada diri saya bahwa saya
>> hanyalah pemimpin transisi. Transisi dari periode kepemimpinan penuh oleh
>> Pak Sinang (*founder* SK) kepada ketua berikutnya siapa pun ia yang
>> akan lebih menggerakkan SK. Tugas utama saya yang saya tetapkan di hati --
>> adalah menjaga peralihan tersebut dan membangun *chemistry* yang
>> merupakan akar soliditas dan kebersamaan SK.
>>
>>
>>
>> *Quo Vadis SK?*
>>
>> Spirit Lembang hingga spirit Situgintung 2 adalah cerminan dan jiwa
>> komunitas SK yang hangat, solid, bersahabat dan berdayaguna bagi sekitar.
>> Akankan berlanjut di masa yang akan datang?
>>
>>
>>
>> Kini SK di bawah kepemimpinan Dani akan menyelenggarakan Raker untuk
>> merumuskan program. Selepas jabatan ketua SK, saya -- yang kini salah satu
>> anggota Pembina Harian Kabinet SK melihat sedemikian banyak kerja nyata
>> kabinet Dani dengan peluncuran buku *Kolak Ramadhan* dan program *1000
>> Cinta Ramadhan*. Tepatlah asumsi saya di awal kepemimpinan sobat yang
>> satu ini. Sebagai seorang *man of action*, Dani tentunya dengan
>> kontribusi aktif anggota SK yang lain --memang tepat memimpin SK yang sudah
>> saatnya lebih aktif dan progresif. Masa pemupukan soliditas dan *
>> chemistry* serta pengikatan visi bersama di bawah kabinet sebelumnya
>> sudah cukup tuntas. Kini saatnya SK bergerak di atas landasan tersebut!
>>
>>
>>
>> *Quo vadis* SK? Akan kemana SK? SK akan bergerak menjulang ke atas dan
>> mengakar ke bawah, itu salah satu jawabannya. Jawaban yang lain? SK akan ke
>> Puncak, Bandung, Surabaya, Yogya dan banyak tempat di negri ini. SK akan
>> membuka cabang di banyak wilayah selain di Jakarta, Bandung, Yogya, Bogor,
>> Surabaya dan Mesir. Dengan dukungan para bahu raksasa di komunitas ini,
>> dengan tanpa perlu menafikan kontribusi aktif banyak pihak, kabinet
>> Eskavaganza bisa mencapainya. *Yes, we can!*
>>
>>
>>
>> Persoalan keluhan kurangnya "kehangatan", dominasi suatu pihak, kurangnya
>> tulisan bermutu dan lain-lain, saya kira, adalah persoalan wajar dalam
>> sebuah organisasi yang bertumbuh di dunia yang tak hampa udara, di alam yang
>> tak bebas nilai dan bukan di belantara yang terisolasi. Setiap fase punya
>> keluhan dan masalahnya masing-masing. Seperti halnya bayi yang beranjak
>> besar, ada kalanya ia mencret-mencret atau batuk rejan. Sepanjang imunitas (
>> *mana'ah*) sang bayi kuat dengan asupan bergizi dalam komunitas, ini
>> berupa stimulus program yang progresif, kekompakan dan prasangka positif
>> anggota ---ia akan bertahan menghadapi zaman, Insya Allah.
>>
>>
>>
>> Yang diperlukan kini adalah *road map*, peta jalan, untuk kemana SK akan
>> di bawa. Inilah topik penting yang layak dibahas dalam raker SK pada 15-16
>> November nanti. Karena suatu komunitas akan abadi, dan tak luluh dalam
>> lipatan zaman, jika ia tak bergantung pada figur atau persona tertentu
>> dalam hal pemikiran atau bentuk yang lain. Inilah bagian dari proses
>> transisi yang belum tuntas dari masa kabinet sebelumnya.
>>
>>
>>
>> Dalam kepemimpinan ada paradoks yakni *two heads are better than one, two
>> cooks spoil the broth*. Namun, paradoks kedua adagium tersebut akan
>> selaras jika kita sama-sama memaknainya dengan semangat "jika kita bersama,
>> Insya Allah, kita bisa".
>>
>>
>>
>> Selamat Raker! Semoga Tuhan memberkati!
>>
>>
>>
>> *Jakarta, 13 November 2008*
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> --
>> -"Let's dream together!"
>> Nursalam AR
>> Translator, Writer & Writing Trainer
>> 0813-10040723
>> E-mail: salam.translator@gmail.com
>> YM ID: nursalam_ar
>> http://nursalam.multiply. com
>>
>>
>>
>
>
- 8d.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Wed Nov 12, 2008 7:35 pm (PST)
Membangun chemistry di masa transisi, kalimat yang pas!! Masa di mana aku banyak belajar dan mengenal SK, termasuk mengenal mantan ketua SK yang TOP dengan semua motivasinya [thx...thx...]
Seru mah klo diinget-inget masa jabatan 2007-2008, apalagi kalo inget ma detik-detik akhir "pemerintahan" 2007/2008. Wah...seru puol :P
eniwei, thx a lot mas salam en keep struggle mas dani ^_^ [ketua yang keren-keren neh]
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
_____________________ _________ __
From: Nursalam AR <nursalam.ar@gmail.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Cc: Kang Dani <fil_ardy@yahoo.com >
Sent: Thursday, November 13, 2008 9:28:59 AM
Subject: [sekolah-kehidupan] [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan jelang raker SK)
Dari Lembang Ke
Situgintung, SK Akan Kemana?
Oleh Nursalam
AR
- 8e.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "ammy ramdhania" ammy_ram@yahoo.co.id ammy_ram
Wed Nov 12, 2008 8:07 pm (PST)
Awal SK yang keren
dari sebuah acara milad ke 1 di Pasar Festival dulu.....
mengenal banyak teman yang asalnya tahu dari tulisannya doang
ketemu muka
rasanya sudsah kenal bertahun tahun
Mbak Icha, Mbak Dyah, Veby, Mas suhadi, Mas Adjie (kemana yah?), Syasya, ichen dan suaminya, mbak indar, MAs Nur, Feti, pak teha, om asfi, Achi, dll
Â
Dan jalianan keindahan bersahabat semaikn kental saat kita bertemu di lembang.
Subhanallah,semalam itu membuat saya semakin geer betapa banyak sahabat eska yang menyayangi saya, sepertinya kita adalah saudara yang sangat akrab.
Apalagi dengan petuahnya Eyang Teha..terharu deh...
Berbagi cerita dengan Kak Icha, rasanya aku dapat tempat curhat yang tepat seumur hidupku.
Â
Haaa.... disini aku semakin kenal baik dan makin akrab dengan shinta, novi, dani, retno,lia, asma, ugik, mbak has, taufik, dll.
Â
ditambah lagi dengan peetemuan-pertemuan kecil Sk bandung , saling bersms...
bahkan saling menguatkan semangat. Di sini aku kembali merasakan betapa teman-teman menyayangi aku
Â
Situ gintung milad ke 2, aku lebih menikmati silahturahmi sekaligus curhat dengan mbak Dyah DJ, Mbak Icha, Endah, dani, dll. Jujur agak boring, tapi aku coba nikmati karena di Sk ini aku ingin berbaur dengan banyak teman dan berusaha tetap enjoy (abis trio z ga ikut sih, jadi umi jobless...he..he..he)
Di sini aku menemukanbanyakmakna persahabtan, namun aku agak mulai kabur dengan vsisi misi SK pada awalnya.
Aku tidak rela SK disamakan dengan milis penulisan lain.
ESKA adalah ESKA, jangan samakan dengan organisasi lain walaupun jujur anggota ESKA merangkap anggota milis itu pula.
(Di raker besok enggak usah kebayakan puisi yah....)
Untung ada cerita kapal karamnya Eyang TEHA...semangat lagi...
Â
RAker di puncak sekarang, aku terpaksa harus absen.
Dokter belum mengijinkan aku banyak bergerak. TUlang sudah membaik namun bengkak belum juga mereda, tapi masih diobservasi. Jadi aku absen yah teman
Â
Aku titip pesan untuk KETUA ESKA sekarang berikut kabinet eskavaganza. Tolong majukan ESKA dalam koridor visi dan misi ESka terjaga ke ESKA annya, jiwa eska tertanam dalam diri insan eska agar tetap eska bukan yang lain...
Â
ESKA kita tidak sama dengan yang lain...
ESKA tetap ESKA
Â
AMMY
cimahi
Â
--- Pada Kam, 13/11/08, ukhti hazimah <ukhtihazimah@yahoo.com > menulis:
Dari: ukhti hazimah <ukhtihazimah@yahoo.com >
Topik: Re: [sekolah-kehidupan] [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan jelang raker SK)
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Tanggal: Kamis, 13 November, 2008, 10:35 AM
Membangun chemistry di masa transisi, kalimat yang pas!! Masa di mana aku banyak belajar dan mengenal SK, termasuk mengenal mantan ketua SK yang TOP dengan semua motivasinya [thx...thx.. .]
Seru mah klo diinget-inget masa jabatan 2007-2008, apalagi kalo inget ma detik-detik akhir "pemerintahan" 2007/2008. Wah...seru puol :P
eniwei, thx a lot mas salam en keep struggle mas dani ^_^ [ketua yang keren-keren neh]
Â
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumen atapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk. multiply. com ; http://sinthionk. rezaervani. com
YM : SINTHIONK
From: Nursalam AR <nursalam.ar@ gmail.com>
To: sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com
Cc: Kang Dani <fil_ardy@yahoo. com>
Sent: Thursday, November 13, 2008 9:28:59 AM
Subject: [sekolah-kehidupan] [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan jelang raker SK)
Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?
Oleh Nursalam AR
Â
National service in Indonesia? - 8f.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "abinyajundi" abinyajundi@yahoo.com abinyajundi
Wed Nov 12, 2008 8:48 pm (PST)
dalam satu sesi obrolan dengan mas adjie
paska milad I, ternyata kita memiliki prinsip yang sama
seandainya eska hanya sekedar ajang kumpul2
niscaya secepatnya kami akan say good bye to eska
namun dalam perjalanannya ternyata bukan sekedar kumpul2 aja
tapi begitu banyak energi positf yang dilemparkan anak2 eska dan ini
mengasyikkan buat saya
saya pandang ini milis jelas beda dengan milis penulisan lainnya
(sepanjang yg saya tau lho:))
kebersamaan, kepedulian, invovasi2 yag mengalir mungkin beberapa
point yang perlu dipertahankan sambil terus meningkatkan apa2 yang
masih kurang.
saya setuju dengan pandangan mas nursalam bahwa eska perlu road map
yang mengawal segala gerak langkah eska, namun kita juga menyadarai
bahwa ini adalah juga bukan perkara gampang dan tidak bisa
diselesaikan dalam 2 periode kepemimpinan
semoga eska ke depan akan terus bergerak tidak diam dan hanya
bergelut dalam sunyi .....siapapun pimpinannya.
Bravo Eska Selamat Ber Raker Ria!maaf saya gak bisa hadir karena
sang nyonya masih dalam tahap recovery dan pinginnya ditungguin
melulu hi..hi... (duh indahnya cinta :) )
salam
abinyajundi-sidoarjo dan sekitarnya
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Nursalam AR"com
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
- 8g.
-
Re: [catcil] Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana? (catatan j
Posted by: "inga_fety" inga_fety@yahoo.com inga_fety
Wed Nov 12, 2008 11:28 pm (PST)
tadi tergerak membaca tulisan ini setelah di webnya sk melihat
displaynya ym mas dani, bagi saya, peristiwa SK (dipasar festival dan
di lembang) sejalan dengan peristiwa hidup. mulai dari milad di pasar
festival yang sehari setelah itu saya diajak nikah oleh suami yang
baru satu kali ketemu via telpon, terus dilanjutkan dengan kegiatan
dilembang ditengah-tengah persiapan akad nikah, disambi konsultasi
dengan mas nur tentang masalah undangan disaat sesi eyang teha sambil
berpesan ke mas nur untuk tidak cerita tentang persiapan pernikahan,
itupun bercerita ke mas nur karena mendapat komentar dari mas nur:
kenapa saya semakin kurus saat itu.
hmm, penuh kenangan kepengurusan kemarin:)
salam untuk semua yang beraker..
kyknya akan ada sesuatu yg spesial dari raker kali ini:)
salam,
fety
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , "Nursalam AR"com
<nursalam.ar@...> wrote:
>
> *Dari Lembang Ke Situgintung, SK Akan Kemana?*
>
> *Oleh Nursalam AR*
>
>
>
> *"If your actions inspire others to dream more, learn more, do more, and
> become more, you are a leader.'" (John Quincy Adams, Presiden ke-6
Amerika
> Serikat)*
>
> * *
>
> *Lembang (2007)*
>
> Semalam di Lembang, Bandung, merupakan pengalaman mahal. Dalam 1
malam yang
> jadi rangkaian halal bihalal dan rapat kerja milis Sekolah Kehidupan
(Eska)
> selama Sabtu-Ahad, 10-11 November 2007, banyak pengalaman didapat.
Jangankan
> 2 hari 1 malam, semalam saja sudah berkesan. Meski kadang saya berpikir
> apakah ini bukan efek noraknya saya yang jarang bepergian? *Ah, dasar
> Betawi, betah di wilayah.*
>
>
>
> Dalam perjalanan pulang semobil bersama Mas Danu (sopir), Rusdin,
Dikdik,
> Yayan, Meli dan Lia di tengah guyuran hujan lebat merata antara
> Lembang-Jakarta, saya termangu menatap keluar jendela mobil yang
berembun.
> Dalam remang kabut senja Tol Cipularang dan pemandangan bukit berbelah
> berbalut hamparan pohon di kiri kanan, ingatan saya terpulang pada
episode
> malam Minggu itu. Malam Minggu yang lain daripada malam-malam Minggu
yang
> biasa.
>
>
>
> Di aula Padepokan Tumaritis, Lembang, malam hari. Enam puluhan orang
> berkumpul mendekap dingin dalam barisan kursi teratur menghadap meja di
> depan. Sekitar lima orang bocah bersemangat berjoget seiring musik
> mengikuti sang instruktur yang tampak super bersemangat. Ditimpali canda
> yang hadir, dan terkadang tingkah para bocah pejoget yang ngambek,
tarian
> itu sungguh menghangatkan malam. Setidaknya membuat rahang berolahraga,
> tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh menyehatkan.
>
>
>
> Sejam kemudian rapat kerja Eska dimulai. Nursalam, Suhadi, Adjie,
Bunda Amy,
> Pak Teha dan Bunda Icha duduk di depan menghadap ke arah hadirin.
Agenda:
> pembahasan program-program 2007-2008 dan kesepakatan tentang pembentukan
> Yayasan Sekolah Kehidupan. Tema berat dan serius. Tapi tetap saja canda
> berhamburan. Di penghujung rapat sekitar pukul 11 malam, terjadi
perdebatan
> tentang usulan perpanjangan waktu rapat dan desakan agar program dibahas
> lebih detil. Atas dasar pertimbangan waktu, dikompromikan bahwa semua
> program akan diseleksi oleh Badan Pengurus Harian (BPH) dan diumumkan di
> milis Eska. Sebagian peserta yang masih bertahan kembali ke
pondokan. Yang
> bertumbangan di awal sudah terlelap ditemani dinginnya Lembang. Yang
> kelaparan mencari cemilan hangat di luar pondokan. Khusus kaum yang satu
> ini, mereka sudah dibekali ilmu kanuragan ilmu *bajing luncat* untuk
> melompati pagar.
>
>
>
> Usai rapat, hujan deras. Acara api unggun batal. Padahal Dani (Ketua
Panitia
> Raker) sudah menyiapkan kayu api unggun yang setinggi orang dewasa.
Mungkin
> setara dengan tingginya tumpukan kayu bakar di zaman Namrud untuk
membakar
> Nabi Ibrahim. Sebagian peserta bersih-bersih sebelum tidur. Menyikat
gigi,
> berkumur dengan air yang luarbiasa dingin. Suhu malam itu sekitar 15
derajat
> Celcius. Taufiq bersungut-sungut kesal. Katanya ada yang bercanda
kelewatan,
> memasukkan es balok ke kamar mandi.
>
>
>
> Tengah malam di musholla Padepokan Tumaritis.* *Lima-enam orang
berdiskusi
> di musholla selepas sholat Isya. Diskusi hangat tentang pengalaman hidup
> yang berat tapi tetap dengan tawa. Satu per satu bertumbangan, balik ke
> pondokan. Fiyan masih terus mengetik di laptop milik Taufiq. Jika tidak
> dihentikan Dani barangkali anak itu tetap akan mengetik hingga Subuh. Di
> mimpinya pun mungkin ia sedang mengetik.
>
>
>
> Di kamar penginapan, sekitar* *jam satu pagi. Seorang pemuda kurus
tepekur
> di ranjang atas nyaris menyundul langit-langit. Ia sibuk menulis di
> *diary*-nya.
> Rekan di ranjang bawah terlelap di bawah balutan selimut tebal.
>
>
>
> Taufiq : Belum tidur, Mas Nur?
>
> Pemuda Kurus : Belum. Belum nyiapin kado.
>
>
>
> Taufiq terus berceloteh tentang rencana masa depannya. Ternyata beberapa
> sahabat yang lain seperti Chandra dan Fiyan belum terlelap. Mereka asyik
> ngobrol. Hingga jam dua pagi, suasana sepi. Si pemuda kurus masih
bersila
> merenung. Jemari kakinya kram kedinginan. Ia pun menyudahi renungannya
> tentang *Cinderella Complex*, sindrom takut kesuksesan, yang
terinspirasi
> dari curhat seorang sahabat di musholla. Betapa seribu peluang
keberhasilan
> akan percuma menghampiri jika kita tak berani menjemput dan
mencobanya. Takut
> gagal itu memalukan namun takut kesuksesan tentu lebih memalukan.
>
>
>
> "Wah, udah melek, Mas Nur?" Sebuah suara menyeret saya dari pulau
lamunan.
> Meli yang tadi bersuara. Ya, saya baru *ngeh* ternyata masih berada
di dalam
> mobil yang melaju di jalan Tol Pondok Gede. *Oh, Jakarta, here I come!*
>
>
>
> Saya tersenyum. Manis tentunya. Rupanya tadi saya sempat tertidur di
pojokan
> mobil. Kondisi badan yang kurang fit sejak sebelum berangkat didera
acara
> maraton raker dan halal bihalal praktis membawa efek pegal-pegal dan
sedikit
> demam. *Ah, Nursalam, gimana nanti malam pertamamu? *Maklum, saat
raker itu
> sebulan jelang pernikahan saya pada Desember 2007.
>
>
>
> *No pain no gain. Jer basuki mawa bea*. Harga sebuah sakit adalah
bahagia
> atas kesembuhan. Harga sebuah kelelahan adalah pengalaman hidup. Tersisa
> kini di benakku sebagai ketua Eska: *what's next?* Apa selanjutnya?
Komitmen
> dan perlakuan di sebuah komunitas dunia maya tentu berbeda. Namun
siapapun
> penumpangnya, gerbong Sekolah Kehidupan akan terus melaju. *Que sera
sera.*
>
>
>
> *Situgintung 2, (Juli 2008)*
>
> Saya bersama istri, Yuni Meganingrum, tiba di Situ Gintung, Ciputat,
Banten
> sekitar pukul 8 pagi. Ahad itu, 27 Juli 2008, ada Milad (ulang tahun
dalam
> bahasa Arab) ke-2 komunitas Sekolah Kehidupan (SK) di lokasi danau
wisata di
> perbatasan Jakarta dan Banten tersebut. Alhasil, dari tempat tinggal
kami di
> Lenteng Agung (perbatasan Jakarta dan Depok) ke perbatasan barat DKI ini
> perlu waktu 1,5 jam dengan angkutan umum. Lebih banyak, sebetulnya,
waktu
> habis untuk menunggu bis *Deborah* jurusan Lebak Bulus dari arah
Depok. Dari
> Terminal Lebak Bulus ke Situ Gintung hanya perlu 20 menit. Itu
karena akhir
> pekan. Di hari biasa, karena kemacetan kronis sejak 1980-an, waktu
tempuh
> bisa mulur jadi 1 jam.
>
>
>
> Saat tiba di kawasan *Outbond *Situ Gintung -- yang berjarak 100
meter di
> sebelah kanan kolam renang Situ Gintung yang dulu jadi lokasi kopdar
(kopi
> darat) ke-2 SK pada September 2006 penjaga tiket di balik jendela
tiket
> yang sebatas dada langsung menyergap dengan pertanyaan,"Sekolah
Kehidupan
> ya?"
>
>
>
> Saya langsung ge-er. *Ah, bapak tahu saja saya ketua SK*, batinku. Saya
> mengangguk cepat, tanpa menunggu ia meminta tanda tangan. Petugas
yang baik
> hati dan ganteng itu lantas mengisyaratkan agar kami segera masuk lewat
> pintu gerbang sempit dengan jajaran besi di kiri kanan. Cukup sempit
untuk
> Yuni yang sedang hamil lima bulan. Menuju ke aula Situ Gintung sebagai
> tempat acara, kami disapa angin lembut danau sepanjang 200 meter jalan
> setapak berkelok. Beberapa anjing penjaga setinggi paha saya (untuk
> informasi, tinggi saya 175 cm) berkeliaran. Sebagian lagi bergolek
malas di
> tepi jalan sambil mengibas-kibaskan ekornya yang berbulu tebal, mengusir
> lalat.
>
>
>
> Setelah berada di dalam dan sempat bantu sana-sini termasuk bolak-balik
> keluar gerbang untuk menjemput para peserta yang kebingungan mencari TKP
> (Tempat Kejadian Permiladan), ke-ge-eran saya berkurang drastis. Rupanya
> sang petugas yang entah kenapa setelah saya tidak ge-er lagi
berubah jadi
> tidak begitu ganteng lagi menangkap wajah bingungku ketika di
depan loket
> tiket tak ada sepotong pun panitia yang *standby* seperti rancangan
acara
> sebelumnya.
>
>
>
> Sebelumnya, dalam konsep acara, di-*design* agar ada panitia yang
*standby *di
> loket tiket sehingga peserta Milad tidak perlu membayar tiket masuk
karena
> sudah termasuk dalam Rp. 65000, biaya pendaftaran Milad yang sudah
> ditransfer sebelum hari H. Tapi saya maklum juga karena jumlah
panitia yang
> terbatas terserap dalam penyiapan TKP. Termasuk Dikdik, Yayan dan
Galih
> trio tim logistik yang bahkan menginap di lokasi sehari sebelumnya.
>
>
>
> Bersama Fiyan dan Dani, mereka ditemani angin dingin malam,
nyamuk-nyamuk
> ganas (yang bukan cuma nakal) dan lolongan anjing yang sesekali
iseng masuk
> ke arena aula yang tak berdinding tersebut. Sungguh heroik bukan
perjuangan
> mereka? Saya dan Yuni sendiri merasakan dinginnya angin malam Situ
Gintung
> ketika bersama beberapa panitia (Catur, Retno, Fiyan, Taufiq, Diyah,
Kiki,
> Novi dan Nia) terjebak hujan selepas acara Milad hingga pukul tujuh
malam.
> Alhamdulillah, atas pengertian dan kerjasama, kami berhasil keluar dari
> Situgintung. Sungguh mengharukan ketika semua bekerja ikhlas tanpa
imbalan
> untuk suatu cita-cita bersama.
>
>
>
> Dengan harapan cita-cita bersama itulah, pada acara milad Eska tersebut,
> saya lepaskan jabatan ketua SK selanjutnya kepada Dani Ardiansyah.
> Peluncuran buku *Menggenggam Cahaya* pun menandai akhir masa
jabatan. Akhir
> Juli itu adalah awal kepemimpinan baru di SK, sebuah kepemimpinan dalam
> kurun waktu yang ideal, dua tahun, setidaknya menurut saya. Karena sejak
> awal terpilih, saya selalu menanamkan kepada diri saya bahwa saya
hanyalah
> pemimpin transisi. Transisi dari periode kepemimpinan penuh oleh Pak
Sinang
> (*founder* SK) kepada ketua berikutnya siapa pun ia yang akan lebih
> menggerakkan SK. Tugas utama saya yang saya tetapkan di hati -- adalah
> menjaga peralihan tersebut dan membangun *chemistry* yang merupakan akar
> soliditas dan kebersamaan SK.
>
>
>
> *Quo Vadis SK?*
>
> Spirit Lembang hingga spirit Situgintung 2 adalah cerminan dan jiwa
> komunitas SK yang hangat, solid, bersahabat dan berdayaguna bagi
sekitar.
> Akankan berlanjut di masa yang akan datang?
>
>
>
> Kini SK di bawah kepemimpinan Dani akan menyelenggarakan Raker untuk
> merumuskan program. Selepas jabatan ketua SK, saya -- yang kini
salah satu
> anggota Pembina Harian Kabinet SK melihat sedemikian banyak kerja
nyata
> kabinet Dani dengan peluncuran buku *Kolak Ramadhan* dan program
*1000 Cinta
> Ramadhan*. Tepatlah asumsi saya di awal kepemimpinan sobat yang satu
ini.
> Sebagai seorang *man of action*, Dani tentunya dengan kontribusi aktif
> anggota SK yang lain --memang tepat memimpin SK yang sudah saatnya lebih
> aktif dan progresif. Masa pemupukan soliditas dan *chemistry* serta
> pengikatan visi bersama di bawah kabinet sebelumnya sudah cukup
tuntas. Kini
> saatnya SK bergerak di atas landasan tersebut!
>
>
>
> *Quo vadis* SK? Akan kemana SK? SK akan bergerak menjulang ke atas dan
> mengakar ke bawah, itu salah satu jawabannya. Jawaban yang lain? SK
akan ke
> Puncak, Bandung, Surabaya, Yogya dan banyak tempat di negri ini. SK akan
> membuka cabang di banyak wilayah selain di Jakarta, Bandung, Yogya,
Bogor,
> Surabaya dan Mesir. Dengan dukungan para bahu raksasa di komunitas ini,
> dengan tanpa perlu menafikan kontribusi aktif banyak pihak, kabinet
> Eskavaganza bisa mencapainya. *Yes, we can!*
>
>
>
> Persoalan keluhan kurangnya "kehangatan", dominasi suatu pihak,
kurangnya
> tulisan bermutu dan lain-lain, saya kira, adalah persoalan wajar dalam
> sebuah organisasi yang bertumbuh di dunia yang tak hampa udara, di
alam yang
> tak bebas nilai dan bukan di belantara yang terisolasi. Setiap fase
punya
> keluhan dan masalahnya masing-masing. Seperti halnya bayi yang beranjak
> besar, ada kalanya ia mencret-mencret atau batuk rejan. Sepanjang
imunitas (
> *mana'ah*) sang bayi kuat dengan asupan bergizi dalam komunitas, ini
> berupa stimulus program yang progresif, kekompakan dan prasangka positif
> anggota ---ia akan bertahan menghadapi zaman, Insya Allah.
>
>
>
> Yang diperlukan kini adalah *road map*, peta jalan, untuk kemana SK
akan di
> bawa. Inilah topik penting yang layak dibahas dalam raker SK pada 15-16
> November nanti. Karena suatu komunitas akan abadi, dan tak luluh dalam
> lipatan zaman, jika ia tak bergantung pada figur atau persona tertentu
> dalam hal pemikiran atau bentuk yang lain. Inilah bagian dari proses
> transisi yang belum tuntas dari masa kabinet sebelumnya.
>
>
>
> Dalam kepemimpinan ada paradoks yakni *two heads are better than
one, two
> cooks spoil the broth*. Namun, paradoks kedua adagium tersebut akan
selaras
> jika kita sama-sama memaknainya dengan semangat "jika kita bersama,
Insya
> Allah, kita bisa".
>
>
>
> Selamat Raker! Semoga Tuhan memberkati!
>
>
>
> *Jakarta, 13 November 2008*
>
>
>
>
>
>
> --
> -"Let's dream together!"
> Nursalam AR
> Translator, Writer & Writing Trainer
> 0813-10040723
> E-mail: salam.translator@...
> YM ID: nursalam_ar
> http://nursalam.multiply. com
>
- 9.
-
[Ruang Film] Kungfu Panda
Posted by: "Rini Nurul Badariah" rinurbad@gmail.com thee_ok
Wed Nov 12, 2008 7:40 pm (PST)
Po, seekor panda gemuk yang senantiasa memimpikan menjadi master
kungfu. Bahkan dalam mimpinya, ia melihat The Furious Five yang sangat
diidolakannya membungkuk hormat. Diam-diam Po memang mengagumi
kehebatan mereka dan mengoleksi figurinnya. Tetapi ia tidak sampai
hati mengutarakan rasa cintanya pada kungfu kepada sang ayah yang
menghendaki Po meneruskan warung mi milik keluarga, sampai Master
Oogwald [atau Oogwarts? maaf, saya lupa] menentukan saatnya telah tiba
untuk memilih seorang Dragon Warrior guna menghadapi Tai Lung. Tai
Lung adalah macan berkekuatan besar yang tengah dikurung dalam
penjara. Menurut Oogwald, tidak lama lagi ia akan melarikan diri dan
kembali ke Jade Palace.
Master Tigress, salah satu dari Furious Five, mengira dirinya akan
ditunjuk. Namun Oogwald menunjuk Po, yang terpental ke halaman istana
dengan bantuan mercon. Sudah barang tentu Tigress kecewa, bahkan
Master Shifu yang mendidik mereka menduga Oogwald keliru mengambil
keputusan.
Melihat manusia berkungfu-ria, kita sudah biasa. Namun bagaimana kalau
hewan-hewan beradu kelihaian dalam hal itu? Dipadu efek spesial yang
keren, film animasi ini menjadi tontonan menawan buat
saya - yang bahkan tidak mengikuti serial Avatar dengan setia meskipun
kesengsem penampilan dan musik latarnya yang bernapas oriental kental.
Keunikan Kungfu Panda antara lain pada pemilihan hewan-hewan yang
tidak selalu nampak kuat, misalnya Oogwald si kura-kura, Snake yang
ternyata dapat berlaga dengan memukau, dan Mantis si belalang [atau
jangkrik?]. Termasuk Po sendiri, tentunya.
Adegan yang cukup menyentuh ialah ketika Tigress menyingkap luka lama
Shifu. Ia tak pernah tersenyum sejak Tai Lung, yang batal menjadi
Dragon Warrior dan tidak memperoleh Dragon Scroll, berubah jahat.
Padahal Shifu mencintai dan menggemblengnya bagaikan anak sendiri.
Banyak kutipan yang menggetarkan hati dari dialog-dialog film ini,
antara lain,
"There is no accident."
"Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today's a gift. That's
why it's called present."
"To make something special, you just have to believe that it's
special."
Pelajaran pun saya petik dari metode Shifu melatih Po, yang
menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan tabiatnya. Ia menyadari bahwa
panda itu berbeda dengan Furious Five. Sebuah pesan bahwa tiap
individu memiliki keunikan, tak mungkin diperlakukan sama persis.
Kungfu Panda menyisipkan humor pula. Kala Po menyajikan hidangan untuk
teman-temannya di Jade Palace, ia menirukan suara Shifu dan
memlesetkan perkataannya saat melatih. Juga saat Po menerima
perawatan akupunktur dan jarumnya salah ditusukkan karena bulunya
sangat tebal.
Film ini kian asyik ditonton
dengan sulih suara sejumlah aktor ternama, di antaranya Dustin
Hoffmann, Angelina Jolie, dan Lucy Liu.
--
Salam,
Rini Nurul Badariah
http://rinurbad.multiply. com
http://sinarbulan.multiply. com
- 10a.
-
[Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen
Posted by: "Rini Nurul Badariah" rinurbad@gmail.com thee_ok
Wed Nov 12, 2008 7:40 pm (PST)
Sub judul: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan
Penulis: H. Pidi Baiq
Ilustrator: H. Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Beli di: Tisera, Jatinangor Town Square
Harga: 30 ribuan
Skor: 8
Apabila Anda lebih gemar membaca buku yang haha-hihi sampai bongkok
dan bikin airmata berhamburan bahkan beser, mungkin tidak akan
menyukai buku ini. Pidi Baiq melontarkan hal-hal yang benar-benar
sederhana dan menghuni pikirannya [kemudian blognya] dengan gaya yang
'merusak' EYD tetapi tetap baku. Ini sudah terlihat di sampul dalam,
'Inilah ini, Drunken Molen
Inilah ini dari saya,
dan itulah itu diri kamu.'
Saya sudah 'menaruh hati' pada buku ini [mungkin seharusnya saya
membaca Drunken Monster dulu, namun belum ketemu di toko terdekat]
sejak jalan-jalan di blog penulisnya. Pidi Baiq menggelitik senyuman
dengan caranya sendiri, tidak berusaha mati-matian untuk 'ngabodor',
tetapi seperti ucapan seorang teman baik yang pernah menimba ilmu di
kampus yang sama dengan beliau, "Hal-hal sepele bisa jadi bahan
omongan berbobot di tangan dia."
Pada tulisan pembuka, Naruto Bersyukur, ia mencuatkan pemikiran
tentang kelembutan rumah tangga. Kemudian dengan cueknya mengadakan
syukuran atas keberhasilan Timur, sang putra, menamatkan game PS.
Menurut Pidi, tindakan itu tak perlu dipertanyakan sebab banyak juga
syukuran yang dilakukan dengan alasan mengada-ada [bahkan memaksakan
diri].
Di halaman-halaman selanjutnya, Pidi mengemukakan aneka persoalan yang
terlihat 'remeh' tetapi membuat saya merenung, antara lain
guru TK yang selalu perempuan dan stiker bertuliskan
(maaf) Wasit Goblog yang, memprihatinkannya,
banyak ditempel di bodi motor anak-anak remaja Bandung. Saya
terbahak-bahak menyimak kejailan bapak dua anak ini menghidangkan
banyak buah untuk sales (yang biasanya diusir secara halus atau dengan
bantingan pintu, bukan dimuliakan sebagai tamu) dan memberikan
doorprize pada ibu-ibu yang menghadiri ulang tahun istrinya. Doorprize
kreatif yang bukan berbau materi belaka, bahkan ada yang memperoleh
mandi gratis di rumah sang empunya hajatan. Juga ulah Pidi dan teman
kuliahnya dalam angkot yang sukses merusak ingatan anak SMP mengenai
film Lion King.
Terkadang Pidi menghadirkan sentilan yang amat halus, tetapi mendadak
juga sangat gamblang seperti lirik-lirik lagunya di grup band Panas
Dalam. Misalnya petikan di bawah ini,
'..si Emak yang meskipun sudah uzur, masih harus tetap bekerja, demi
bisa membantu meringankan beban pemerintah agar dengan begitu
pemerintah tidak usah lagi repot memikirkan nasib dan keadaan mereka.
Supaya pemerintah bisa fokus menyelesaikan apa?' (halaman 174)
--
Salam,
Rini Nurul Badariah
http://rinurbad.multiply. com
http://sinarbulan.multiply. com
- 10b.
-
Re: [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen
Posted by: "ukhti hazimah" ukhtihazimah@yahoo.com ukhtihazimah
Wed Nov 12, 2008 8:04 pm (PST)
hmmm...aku punya drunken monster, tapi masih aku baca satu-dua bab. Ngocol sih cuman kadang muncul pikiran "yang nulis "beres" kan?" ;P coz banyolannya rada aneh dan terasa lain. Bisa dibilang sangat-sangat CUEK cara dia menuangkan dan rada kasar [mungkin ini yang bikin lain daripada yang lain]
But, ntar aku baca deh drunken monsternya sampe tuntas huehehehehe....
:sinta:
"Keindahan selalu hadir saat manusia berpikir positif"
BloG aKu & buKu
http://jendelakumenatapdunia. blogspot. com
BloG RaMe-RaMe
http://sinthionk.multiply. ; http://sinthionk.com rezaervani. com
YM : SINTHIONK
_____________________ _________ __
From: Rini Nurul Badariah <rinurbad@gmail.com >
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups. com
Sent: Thursday, November 13, 2008 10:11:28 AM
Subject: [sekolah-kehidupan] [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen
Sub judul: Kumpulnya Kisah Tidak Teladan
Penulis: H. Pidi Baiq
Ilustrator: H. Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Beli di: Tisera, Jatinangor Town Square
Harga: 30 ribuan
Skor: 8
- 10c.
-
Re: [Ruang Baca] Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen
Posted by: "Rini Agus Hadiyono" rinurbad@yahoo.com rinurbad
Wed Nov 12, 2008 9:10 pm (PST)
Hmmm..rada kasar, Sin?
menurutku sih masih kasar lirik lagu-lagunya.
Tapi ya, itu soal selera. Mungkin karena aku juga orangnya 'kasar'
hehehe..
peace!
- 11.
-
Re: (bioskop) matahari yang takkan pernah padam => mbak retno
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Wed Nov 12, 2008 7:52 pm (PST)
waaaah mbak retno, aku udah nonton being john malkovich, tapi belum nonton
film bigfish-nya tim burton.
bagus ya, mbak?
salam ya buat mbak citra... aku kok tiba-tiba keingetan sama mbak citra yah
^_^
ttg akting jim carey, ya mungkin juga krn ia pernah dirawat di RSJ jadi
kadang suka berlebihan. tapi sebenarnya justru krn itulah dia jadi terkenal,
karena aktingnya yang berlebihan di film-film bergenre komedi (yang malah
menurutku itu bukan komedi tetapi lebih banyak satirnya). itulah blessing in
disguise-nya, mbak.
manusia memang makhluk yang super kompleks ^_^
btw, aku posting resensimu ini di blogku lho. ^_^
Salam
Lia
On Wed, Nov 12, 2008 at 3:11 PM, Bu CaturCatriks <punya_retno@yahoo.com >wrote:
> dear all,
>
> utk mbak fety: iya nih, panjang bgt. aku pas baca ulang juga
> mikir "ya olloo, gua nulis apa aja, ya??". anyway, thanks utk
> membaca tulisan panjang ini, ya, mbak fety yg baik :)
>
> utk mbak lia: iyaaaa, aku ingetingetinget pernah ngobrolin ini
> lamaaa bgt sama dirimu!aku biasanya juga nggak suka jim carrey,
> karena suka berlebihan aktingnya (hmmm, mungkin karena dulu dia
> pernah dirawat di RSJ kali, ya). oya, mbak lia pasti juga suka
> bigfish-nya tim burton dan being john malkovich (hmmm, mungkin yg
> ini mbak lia nggak akan begitu suka, tapi film surealis ini oke, kok)
>
> utk mbak achi: ah, mbak achi ini suka berlebihan memuji :). justru
> aku yg minder sm penulis skrip handal kaya mbak achi dan mbak divin.
> kemampuan visual deskriptifku buruk bgt, nih. ajari saya, suhu!
> osh! :)
>
> -retno-
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "inga_fety"
> <inga_fety@...> wrote:
> >
> > retno, resensi yang panjang bgt:)
> > tapi, selalu indah dengan cara retno bertutur.
> >
> >
> > saalm,
> > fety
> >
> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "Bu CaturCatriks"
> > <punya_retno@> wrote:
> > >
> > > Matahari yang Takkan Pernah Padam
> > > Oleh: Retnadi Nur'aini
> > >
> > > Judul : Eternal Sunshine of the Spotless Mind
> > > Sutradara : Michel Gondry
> > > Penulis naskah : Charlie Kaufman, Michel Gondry
> > > Pemain : Jim Carrey, Kate Winslet, Elijah Wood,
> Kirsten
> > > Dunst
> > >
> > >
> > > Karena matahari tak pernah tenggelam.
> > > Ia membakar hari sampai gosong,
> > > Dan, terjadilah malam
> > > (disadur dari ucapan Diva pada Gio, dalam Supernova:Dewi Lestari)
> > >
> > > Hubungan Joel Barish (Jim Carrey) dan Clementine Krucynzky (Kate
> > > Winslet) bukanlah suatu hubungan yang ideal. Sementara Joel
> adalah
> > > seorang pria yang rentan terhadap depresi, Clementine justru
> adalah
> > > seorang wanita yang impulsif.
> > >
> > > Namunseperti hukum magnetisopposite attracts. Kehidupan garing
> > > Joel menjadi lebih berwarna dengan adanya kehadiran Clementine.
> > > Clementine yang gemar mengganti cat rambutnya sesuai warna
> jaket.
> > > Clementine yang hobi membuat boneka kentang. Clementine yang
> bermain
> > > piano, sementara Joel menari di atas kasur. Clementine yang
> > > mengajaknya ke Mantouk, berseluncur di atas lapisan es Sungai
> > > Charles tanpa papan luncur. Untuk kemudian berbaring bersisian
> di
> > > atas lapisan es yang dingin. Dan bersama-sama, mencoba memetakan
> > > rasi bintang-bintang.
> > >
> > > It was fun. At first. Sampaiseperti banyak pasangan lainnya di
> > > duniamereka bertengkar. Ada kalanya rutinitas makan di restoran
> > > Cina membuat mereka bosan. "Dinner's Dead," begitu istilah Joel.
> Ada
> > > kalanya kebiasaan buruk Joel meninggalkan helai-helai rambut
> > > menempel di sabun batangan mereka, juga kebiasaan mabuk
> Clementine,
> > > tak lagi bisa ditolerir. Ada kalanya Joel cemburu. Ada kalanya,
> baik
> > > Joel maupun Clementine, salah bicara, salah intonasi,
> miskomunikasi.
> > > Yang berakhir dengan jeritan di kuping, kata-kata menyakitkan,
> > > bantingan pintu, dan salah satu dari mereka minggat.
> > >
> > > Bosan dengan hubungan ini, Clementine pun pergi ke Lacuna
> Inc.dan
> > > bertemu Dr Howard Mierzwak (Tom Wilkinson). Suatu tempat yang
> bisa
> > > menghapus ingatan tentang seseorang dari memori pikiran kita.
> > > Prosedurnya sederhana saja. Pertama, otakmu akan discan dan
> > > dipetakan. Kemudian, kamu harus membawa semua benda yang
> > > mengingatkanmu pada orang itusemua mug, foto, surat cinta,
> lukisan,
> > > pakaian, hadiah, perhiasansemua. Setelah terkumpul semua,
> kemudian
> > > kamu harus bercerita secara mendetil mengenai kenanganmu,
> > > berdasarkan benda itu. Detil ini bukan hanya sekedar waktu,
> hari,
> > > tanggal. Namun juga, impian, harapan, ketakutan yang dibagi,
> saat
> > > ada momen yang melibatkan benda itu. Sebagai arsip, digunakan
> kaset
> > > rekaman.
> > >
> > > Tahap prosedur berikutnya adalah kamu minum obat tidur di malam
> > > harinya. Saat kamu terlelap, para petugas Lacuna akan
> menyambangi
> > > rumahmu, dan melakukan prosedur penghapusan memori. Untuk
> kemudian,
> > > esok paginya, wala! kamu pun terlahir menjadi orang yang baru.
> > > Bersih dari setiap sel memori menyakitkan.
> > >
> > > Untuk menjaga agar memori yang telah direproduksi itu tetap
> steril,
> > > Lacuna pun mengirimkan sejumlah surat pada orang terdekat si
> klien.
> > > Yang berisikan imbauan agar mereka tak menyebutkan nama oknum
> yang
> > > telah dihapus dari ingatan klien mereka. Surat inilah yang
> kemudian
> > > terpaksa ditunjukkan seorang sahabat mereka, karena Joel terus
> > > menerus mengeluh betapa Clementine cepat sekali melupakannya
> pasca
> > > mereka putus. Betapa Clementine bahkan tampak tak mengenalnya,
> saat
> > > Joel datang ke toko buku tempatnya bekerja membawa kalung cantik
> > > sebagai hadiah untuk berbaikan. Dan betapa Clementine bahkan
> telah
> > > memiliki pacar baru, Patrick (Elijah Wood)remaja pria yang
> kerap
> > > dipanggilnya dengan "Baby Boy."
> > >
> > > Merasa sakit hati, marah, dan ingin balas dendam, Joel pun
> > > melancarkan serangan balik. Ia datang ke Lacuna, mendaftar untuk
> > > dihapuskan ingatan tentang Clementine. Well, secara teoritis,
> > > menghapuskan kenangan menyakitkan mungkin mudah. Kenapa? Karena
> > > secara naluriah, kita sendiri tak ingin mengingatnya lebih
> dalam.
> > > Dalam buku Psikologi Komunikasi karya Djalaluddin Rakhmat,
> > > disebutkan, bahwa manusia punya kecenderungan untuk mengulangi
> hal-
> > > hal yang mereka sukai, dan meninggalkan hal-hal yang tidak
> mereka
> > > sukai.
> > >
> > > Logis, tentu saja. Namun bagaimana dengan kenangan-kenangan
> indah?
> > > Kenangan yang sempurna cantiknya, menghangatkan jiwa, dan
> membuatmu
> > > merasa menjadi makhluk paling bahagia dan beruntung sejagad
> raya?
> > > Bagaimana caramu menghapusnya?
> > >
> > > Pertanyaan inilah yang secara tak sadar mengusik kepala Joel.
> Karena
> > > belakangan ia sadar, bahwa ternyata, ingatannya tentang
> Clementine
> > > tidaklah melulu tentang pertenngkaran dan Clementine mabuk-
> mabukan.
> > > Namun juga Clementine cantik, yang dengan caranya yang cukup
> > > eksentrik, mengajarinya untuk bersikap "lepas", dan bersenang-
> > > senang. Yang membuat Joel yang kaku dan pendiam, betah mengobrol
> > > berjam-jam di telpon. Yang spontanitas dan impulsivitasnya pada
> > > banyak hal mencengangkan, namun sekaligus juga menimbulkan
> sensasi
> > > pada diri Joel untuk berani mencoba hal-hal baruseperti tiba-
> tiba
> > > saja menyapa Joel yang duduk di bangku kereta, atau mengambil
> > > potongan ayam goreng di piring Joel, atau menyelinap masuk ke
> rumah
> > > orang saat mereka berkencan di pantai atau nonton film.
> > >
> > > Atau saat Clementine menanggalkan salah satu "jubah"
> > > dan "topeng"nya, dengan bertanya pada Joel: "Joely, am I ugly?".
> > > Sambil menghela napas, Clementine pun berkisah tentang betapa
> > > beratnya menjadi anak kecil. Betapa Clementine kecil pernah
> punya
> > > satu boneka yang dinamainya dengan namanya sendiri. "And
> everyday I
> > > said to her `You can't be ugly! Be pretty!'," lanjut Clementine.
> > > "Seolah-olah dengan berkata begitu, maka saya bisa mentransform
> diri
> > > saya sendiri untuk menjadi cantik," isak Clementine. Menyaksikan
> > > sisi rapuh dan insecure Clementine ini, Joel pun luluh. Secara
> > > naluriah Joel pun merengkuhnya, untuk kemudian menghujaninya
> dengan
> > > ciuman sambil berujar "You're pretty, pretty, pretty, pretty,
> > > pretty.."
> > >
> > > Ah, cinta
> > > ***
> > >
> > > Script Eternal Sunshine of the Spotless Mind tidak ditulis
> dengan
> > > runutan kronologis seperti interpretasi saya di atas. Ia juga
> tidak
> > > dihiasi banyak kalimat corny berisi rayuan dan gombalan "eneng
> > > kembang abang kumbang" seperti film komedi romantis.
> > >
> > > Sebaliknya, alur film yang sudah saya tonton untuk ke-7 kalinya
> ini,
> > > malah terkesan acakmeski bukan acak random, namun acak
> terstruktur
> > > dan bertujuan. Menonton film ini, kita akan mengikuti jalan
> pikiran
> > > Joel, yang di tengah-tengah prosedur penghapusan ingatannya
> tentang
> > > Clementine, seketika tersadar bahwa: ia mencintai Clementine
> atau
> > > setidaknya, mencintai semua kenangan indah tentang Clementine.
> > > Namun, karena Joel sedang berada dalam keadaan tak sadar, ia tak
> > > bisa membatalkan prosedur itu. Sehingga satu-satunya cara adalah
> > > Joel di alam bawah sadar main kucing-kucingan dengan para
> petugas
> > > penghapus ingatan. Literally.
> > >
> > > Disinilah saya terkagum-kagum pada scene-scene dalam film
> surealis
> > > ini. Betapa Gondry bisa menerjemahkan dunia surealisme dan dunia
> > > realisme, dengan pas. Ada banyak adegan dimana Joel berlari-lari
> > > bersama Clementine, sambil terus mencari ruang ingatannya yang
> masih
> > > tersisa tentang Clementine. Mulai dari adegan Joel terbangun di
> tepi
> > > pantai bersama Clementine, atau adegan mereka berseluncur di
> > > Mantouk. Atau saat Joel mencoba mencari ruang ingatannya yang
> paling
> > > memalukan dan tak ingin diingatnya, agar bisa menyimpan ingatan
> > > tentang Clementine rapat-rapat disana. Seperti misalnya, adegan
> Joel
> > > kecil tengah merajuk di bawah meja karena tak boleh makan kue,
> > > sampai adegan Joel remaja bermasturbasi.
> > >
> > > Adegan-adegan inilah yang bagi saya justru terasa romantis.
> Karena
> > > tampak jelas, bahwa Joel berjuang sekuat tenaga untuk menyimpan
> > > Clementine dalam ingatannya, dalam genggamannya. Apalagi
> definisi
> > > dari operasionalisasi konsep itu, selain cinta?
> > >
> > > Padahal, di sisi lain, Joel mestinya tidak perlu berpayah-payah.
> > > Karena, pun Clementine sudah punya pacar baru, pun mereka berdua
> > > sudah sama-sama terhapus ingatannya satu sama lain, pada
> akhirnya,
> > > mereka akan saling jatuh cinta lagi. Satu faktor yang tak bisa
> > > dikontrol oleh metode penghapusan manapun. Faktor itu bernama:
> > > Takdir.
> > > ***
> > >
> > > Film yang menuai banyak pujian dari para kritikus film ini tak
> hanya
> > > bertutur tentang matahari cinta yang tak pernah padam di benak
> Joel
> > > dan Clementine. Namun juga, pada asisten si dokterMary (Kirsten
> > > Dunst) dan Howard. Sebagai pria beristri, hubungan mereka juga
> > > bukanlah hubungan yang ideal. Merasa letih menangis dan
> berharap,
> > > Mary minta pada Howard untuk menghapus ingatannya.
> > >
> > > Namun seperti matahari yang tak pernah tenggelam dan
> menggosongkan
> > > hari sampai malam, Mary lagi-lagi jatuh cinta pada Howard. Pada
> > > malam saat Howard turun tangan untuk menangani kasus Joel, Mary
> > > mengungkapkan perasaannya. Saat mereka berciuman, istri Howard
> > > datang melabrak Howard. Satu komentar pendek wanita itu,
> seketika
> > > menyadarkan Mary akan banyak hal.
> > >
> > > Bahwa, setiap orang berhak atas setiap ingatannya. Baik itu
> kenangan
> > > indah atau menyakitkan. Karena dari sanalah seseorang bisa
> belajar
> > > untuk bertumbuh dan dewasa. Bahwa pun sudah dihapus berkali-
> kali,
> > > tetap bukanlah hal mudah untuk mengenyahkan cinta begitu saja.
> > > Dengan niatan itulah, Mary kemudian mengembalikan semua kaset
> > > rekaman kepada setiap klien mereka. Termasuk Joel dan
> Clementine.
> > > Yang pada saat itu, (kembali) saling tertarik satu sama lain.
> > >
> > > Tentu saja, butuh jiwa besar bagi Joel dan Clementine, untuk
> tabah
> > > mendengarkan kaset rekaman satu sama lain. Yang banyak berisi
> keluh
> > > kesah seputar ketidakpuasan mereka terhadap diri satu sama lain.
> > > Butuh kesabaran dan ketenangan tingkat tinggi, untuk
> mendengarkan
> > > banyak pernyataan spontan yang diedit ataupun dieufemisme
> mengenai
> > > hubungan mereka selama ini. Dan ya, tentu saja, seperti banyak
> > > manusia biasa lainnya di dunia, mereka bersikap reaktif
> bertengkar.
> > >
> > > Dimana Clementine lari menuju lift, untuk kemudian disusul Joel.
> > > Inilah salah satu adegan favorit saya. Saat Clementine yang
> putus
> > > asa berujar "I'm just a fucked up girl, Joel... I'm not
> perfect."
> > > Yang hanya dijawab "Ok," oleh Joel, dengan satu senyum
> pengertian.
> > >
> > > Disinilah saya sontak teringat pada salah satu diskusi saya
> bersama
> > > Citra. Bahwa basically, cinta adalah satu paket. Kita tidak
> hanya
> > > menerima tumpukan kado cantik berlapis kain sutra dan
> berbalutkan
> > > pita satin. Namun juga harus sekaligus menerima bungkusan-
> bungkusan
> > > hitam.
> > >
> > > Dan bahwa suatu hubungan interpersonal adalah proses untuk
> membuka
> > > semua kado dan bungkusan itu, untuk kemudian menerima isinya
> dengan
> > > lapang dadaapapun itu. Seperti lirik lagu penutup dalam film
> > > ini. "Everybody Got to Learn Sometime.."
> > >
> > > Ya, kan?
> > >
> >
>
>
>
- 12a.
-
Siap Menang Tidak Siap Kalah
Posted by: "galih@asmo.co.id" galih@asmo.co.id
Wed Nov 12, 2008 10:20 pm (PST)
Lagi, untuk yang kesekian kali, dan entah akan berulang untuk yang ke
berapa kalinya hal yang aku tonton itu akan terus terjadi. Pagi tadi
sebuah berita mengenai pilkada kembali menjadi top news (saya pikir sih
berita kayak gini mah sudah basi). Berita mengenai gugatan dari salah satu calon peserta
pilkada yang kalah pada perhitungan akhir versi KPU.
Kalau dihitung jumlah gugatan yang terjadi dari mulai pilkada itu
diselenggarakan sampai saat ini mungkin akan sama banyaknya dengan jumlah
pilkada itu sendiri. Banyak alasan dan argumentasi yang dijadikan alat
untuk melakukan gugatan oleh pihak yang kalah, dari mulai penggelembungan
suara, tidak transparan, money politic, dsb.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa mereka yang kalah sering ngotot
mengeluarkan suara ketidakpuasan atas berlangsungnya pemilihan tersebut?
Seharusnya ketika sedari awal mencalonkan setiap calon menyadari bahwa
hanya akan ada satu pemenang dan yang sisanya harus menerima kekalahan.
Apakah ini yang dinamakan mental siap menang tapi tidak siap kalah (kagak intelek banget)?
Sungguh sangat disayangkan apabila sebuah pesta demokrasi tersandung
pelaksanaannya hanya karena sifat kekanak-kanakan calon peserta. Mengingat
untuk mengadakan pesta demokrasi ini sudah mengeluarkan banyak biaya yang
kalau ditelusuri biaya tersebut hasil dari setoran rakyat kepada
pemerintah. Bok ya, jangan buang-buang duit rakyat..., rakyat sudah susah.
Yang parah seperti kasus pilkada yang terjadi di Sulawesi (pemilihan
gubernur salah satu propinsi kalau gak salah). Kedua kubu, yang menang dan
yang kalah, menggunakan masanya untuk saling protes, demo, bahkan saling
serang. Saya berfiikir bego banget yang jadi pendukungnya. Mau-maunya
membela mati-matian untuk seorang calon pemimpin yang belu tentu akan
berbuat sama untuk mereka. Sudah pilkadanya pakai uang rakyat, hasilnya di
demo dan ada tuntutan untuk pengulangan pemilihan. cape deh... Bayangkan kalau beneran diulang, rakyat juga yang harus merogoh kocek.
Belum lagi acara rusak merusak, sepertinya sifat anarkis sudah membudaya
di negara kita (bukan hanya FPI saja, harus fair dong, masa parpol jauh
lebih banyak). Segala macam fasilitas pemerintahan dirusak yang otomatis
memerlukan perbaikan kembali, duit lagi, rakyat lagi. Pinter sedikit
kenapa?
Sepertinya pemilu yang baru saja berlangsung di negara Paman Sam perlu
dicontoh (bukan bermaksud membanggakan). Ketika Mc Cain dinyatakan kalah
beliau tidak langsung mengajukan mosi tidak percaya dan melayangkan
gugatan. Malah dia mengucapkan selamat kepada rivalnya, itu baru fair.
Sudahlah wahai calom pemimpin, kalau tidak siap kalah dalam pertarungan
jangan maju nanti akan capek sia-sia. Tahu sendiri kan, yang namanya
pilkada atau pemilu buth duit banyak. Nah, karena ambisi pengen tercatat
namanya di deretan nama-nama pemimpin di negara ini bela-belain ngutang
deh. Yang namanya hutang kan harus di bayar, bagaimana cara bayarnya? Mau
tidak mau harus menang dalam pemilihan tersebut. Kalau sudah seperti ini
menurut saya sudah bukan lagi perjuangan yang tulus untuk rakyat. Walhasil
bukan namanya yang tercatat di deretan pemimpin bangsa malah tercatat
sebagai pimpinan kerusuhan di negara ini.
Kemudian untuk yang menjadi kroco-kroco. Jangan pernah mati-matian membela
manusia karena kebenaran itu orang belum terjamin dan terbukti, apalagi
masih calon. Yang namanya mau berbuat untuk rakyat tidak mesti lewat
kursi, beneran, tanpa jalur kursi jika orang-orang itu mau berbuat untuk rakyat masih
bisa. Ingat yang namanya suster apung? Adalagi seorang warga dari Bandung
yang membuat perpustakaan buat masyarakat sekitar, atau seorang bidan
keliling yang membeli ambulance dari koceknya sendiri yang kemudian
berkeliling di wilayah Jakarta melayani ibu-ibu hamil yang kurang mampu, free of charge lagi. Jangan jadikan kursi sebagai lahan untuk mendulang emas Pak, Bu.
Sudahlah, buang jauh-jauh politik mercu suar, buat saja kerja rill. Orang
akan menilai dengan sendirinya. Kalaupun orang tidak dapat menilai
yakinlah mata Tuhan itu tidak pernah terpejam.
13 November 2008, 13.05 pm
- 12b.
-
Re: Siap Menang Tidak Siap Kalah
Posted by: "sismanto" siril_wafa@yahoo.co.id siril_wafa
Wed Nov 12, 2008 11:28 pm (PST)
Tulisnnya bijak sekali om..
nampaknya ccok sekali jika dicalonkan sebagai pemimpin di wilayah
jakarta dan sekitarnya, Meski Jakarta sebagai pusat SK tapi khan
perlu dibuat wilayah juga. bagaimana dengan yang lain? ^_^
-sis-
--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. , galih@... wrote:com
>
> Lag
- 13a.
-
Re: (catatan kecil) Jenuh
Posted by: "Lia Octavia" liaoctavia@gmail.com octavialia
Thu Nov 13, 2008 12:47 am (PST)
iya bener banget, mbak fety... dan perlu taktik tersendiri untuk
memenangkannya... ^_^
thanks, mbak...
Salam
lia
2008/11/12 inga_fety <inga_fety@yahoo.com >
> jenuh dengan rutinitas memang milik semua orang yah, mbak:D
>
> salam,
> fety
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups. <sekolah-kehidupan%com 40yahoogroups. com>,
> "Lia Octavia"
>
> <liaoctavia@...> wrote:
> >
> > Jenuh
> >
> >
> > Suara angin siang itu terdengar aneh, menerpa pinggiran bingkai jendela
> > disertai gugurnya daun-daun pohon akasia di halaman parkir. Mentari
> > tersenyum setengah hati sementara hawa yang dingin-setelah-hujan membuat
> > saya membenamkan diri dalam sweater hitam yang membungkus saya
> rapat-rapat.
> > Pendingin udara berdesis. Suasana ruangan kerja begitu hening. Hanya
> detak
> > detik keyboard komputer yang ditekan terdengar di setiap sudut.
> Hening yang
> > aneh. Udara nyaris tidak bergerak dan membuat saya nyaris tercekik.
> >
> > Perlahan saya membuka winamp di komputer saya dan memutar beberapa
> lagu di
> > listplay. Musik berpendaran bagai hujan di sekitar meja kerja saya.
> > Tiba-tiba sebuah pesan muncul di layar monitor.
> >
> > "Mbak, aku lagi jenuh banget! Bosan! Rasanya pengen marah aja dari tadi
> > pagi," saya menatap layar monitor dengan pikiran beterbangan.
> >
> > "Ada apa, Mbak?" ketik saya.
> >
> > "Aku lagi sensi banget. Rasanya pengen memaki-maki orang!" balasnya.
> >
> > Saya terdiam lalu melayangkan pandangan saya ke luar jendela. Dari
> lantai
> > dua ini, dengan jelas terlihat dahan-dahan pohon akasia masih
> memukul-mukul
> > jendela ruangan kantor.
> > Tiba-tiba sebuah suara membelah pikiran saya.
> >
> > "Aku jenuuuuh!!! Ngapain sih enaknya? Pulang ke rumah atau jalan-jalan?
> > Kemana? Ke Bunaken atau ke bulan?" seorang rekan kerja saya
> berteriak sambil
> > memukul meja. Beberapa helai kertas berserakan di lantai.
> >
> > Belum sempat saya berkata-kata, seorang rekan kerja saya yang lain yang
> > duduk di depan meja saya memukul partisi meja yang membatasi meja saya
> > dengan mejanya.
> >
> > "Aku jugaaa! Bosaaaan! Iih aku kesal banget! Pengen makan apa ya
> enaknya?
> > Makan orang kali ya?" Partisi hijau di hadapan saya bergetar. Monitor di
> > hadapan saya berkedip.
> >
> > "Mbak, aku kesel banget sama bosku. Nyari-nyari alasan macam-macam. Aku
> > kesal!" tulisan itu muncul menghiasi monitor saya. Saya menatap meja
> kerja
> > saya yang berantakan. Banyak dokumen yang belum selesai, email-email
> > pekerjaan dari seantero dunia yang belum dibalas. Inilah dunia
> dengan segala
> > warna warninya. Warna warni yang bisa setiap saat menggedor dan
> mendobrak
> > benteng pertahanan kesabaran, mengguncangkan keikhlasan dan niat yang
> > tergurat sebelum melangkahkan kaki keluar rumah tadi pagi. Warna
> warni yang
> > kini mengeluarkan silet-silet kecilnya. Yang tajam dan menyilaukan mata
> > diterpa sinar mentari yang setengah hati. Bagaimana bisa berkelit dan
> > menghindari silet-silet tajam yang beterbangan ke segala arah?
> Rupanya Jenuh
> > yang bertopeng ninja itu sedang mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.
> >
> > Saya bangkit dari tempat duduk saya. Mengambil handuk kecil, keluar
> > ruangan, menuruni tangga lalu masuk ke kamar mandi di lantai satu.
> Perlahan
> > saya membuka keran air dan seiring dengan tetesan pertama yang membasuh
> > wajah saya, saya menatap tajam pada silet yang sedang tersenyum sinis di
> > samping kiri saya, lalu berbalik terbang, pergi sambil berteriak parau
> > melalui pintu depan. Dan Jenuh turut berlutut di samping sajadah
> saya, siang
> > itu.
> >
> >
> > Jakarta, 12 November 2008 at 12.00 p.m.
> >
> > http://mutiaracinta.multiply. com
> >
>
>
>
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar