Jumat, 16 April 2010

[daarut-tauhiid] Buah Tabkirut Tajnid

Buah Tabkirut Tajnid

Oleh: Tim dakwatuna.com
________________________________
http://www.dakwatuna.com


dakwatuna.com – Pagi itu, situasi kota Mansoura berjalan seperti
biasa. Kendaraan terlihat mulai berdesak-desakan di jalan-jalan yang
sempit. Suara klakson bertabrakan di udara kota, membangunkan
penghuninya untuk mulai beraktivitas. Di salah satu sudut jalan,
tempat berdirinya sebuah bangunan megah ada kejadian yang menarik.
Tepatnya di super market Awadallah, kejadian ini mengambil settingnya.
Pelakunya adalah seorang anak berseragam Tsanawiyah dengan seorang
pria dewasa berbaju parlente.

Alkisah, pria tersebut sedang berbelanja untuk keperluan rumah
tangganya. Terlihat beberapa jenis barang telah memenuhi setengah
keranjang barang yang didorongnya. Ketika sedang asyik memilih susu,
ia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang senantiasa
mengawasinya dari jauh. Pria itu lalu memilih satu merk susu yang
sering dikunsumsinya dan memasukkannya ke dalam keranjang barang. Ia
segera menuju ke kasir untuk membayar. Tapi tiba-tiba ia terhenti
karena di hadapannya ada seorang anak perempuan berseragam sekolah
Tsanawiyah menghalangi langkahnya.

"Maaf paman, ada satu barang yang saya tidak setuju paman membelinya"
kata anak perempuan tersebut kepada pria berbaju parlente. "Mohon
paman mengembalikan barang itu ke tempatnya dan memilih barang yang
lain" lanjut si anak. Pria itu terkejut. Kenapa ada seorang anak
perempuan yang berani protes dengan barang yang menjadi haknya. Karena
heran ia balik bertanya: "Barang apa itu?" "Susu yang terakhir paman
beli" jawab si anak. Pria itu semakin heran, memangnya ada apa dengan
susu yang barusan dibelinya. Ia kemudian mengeceknya kembali. Mungkin
si anak mengingatkannya agar tidak mengkonsumsi susu tersebut karena
masa berlakunya sudah habis. Tapi, ketika ia memeriksa label produksi,
tidak ada yang bermasalah. Terhitung baru satu minggu susu itu
diproduksi. Lalu ada masalah apa?

Karena bingung, pria itu kembali bertanya kepada si anak "Kenapa adik
meminta saya untuk mengembalikan susu ini, apa ada yang salah dengan
susu ini?" Mendengar pertanyaan itu, si anak menarik napas panjang. Ia
seakan mengumpulkan seluruh tenaganya untuk memberikan jawaban,
"Paman, apakah paman tahu kalau susu yang barusan paman beli produk
negara Denmark, negara yang menghina dan merendahkan martabat Nabi
kita dengan kartun-kartun amoral? "Paman, sebagai seorang muslim kita
seharusnya tidak lagi membeli produk-produk negara Denmark. Apakah
paman sanggup bertemu dengan Rasulullah saw nanti di hari kiamat
sementara paman masih meminum susu buatan negara yang menghina
beliau?" Lanjut si anak dengan penuh keyakinan.
Pria itu menarik napas panjang. Ada kekaguman dalam hatinya melihat
anak perempuan yang ada di hadapannya. Sekalipun masih duduk di bangku
Tsanawiyah, tapi komitmennya terhadap Islam melebihi dirinya. Ia
bahkan tidak terpikir untuk memboikot produk-produk Denmark. Setelah
menimbang-nimbang, ia akhirnya menuruti kehendak hati anak perempuan
itu. Susu Denmark yang ada di keranjang ia ambil dan dikembalikan ke
tempatnya semula. Si anak perempuan mengucapkan terima kasih kemudian
segera berlalu ke tempat lain di dalam super market.

Setelah si anak pergi, hati pria dewasa itu kembali diusik dengan
nafsunya. Beragam pikiran berkecamuk di kepalanya. Ada satu pertanyaan
muncul dalam benaknya: "Apakah saya harus memboikot produk Denmark?"
Masalah boikot khan masih menjadi perdebatan ulama. Memang ada yang
mengatakan bahwa boikot itu wajib. Tapi khan juga ada ulama-ulama lain
yang membolehkan untuk mengkonsumsi barang-barang yang masuk kategori
untuk diboikot. Lagi pula anak perempuan yang sempat memprotesnya
sudah pergi. Toh, anak itu tidak akan melihat kalau ia mengambil
kembali susu yang telah dikembalikannya.

Sambil menengok kiri-kanan, pria itu mengambil kembali susu yang baru
saja ia taruh dan segera menuju ke kasir. Tapi sekali lagi, ia tidak
menyadari bahwa ada sepasang mata yang masih mengawasinya di balik
etalase-etalase super market. Mata itu semakin miris. Mulai ada
kelopak-kelopak air yang perlahan-lahan menyembul di mata itu. Pemilik
mata itu segera beranjak dari tempatnya menuju kasir.

Pria berbaju parlente yang sedang antri di kasir merasa sangat
bersalah ketika tiba-tiba dari belakang anak perempuan yang sempat
memprotesnya karena membeli susu datang menghampirinya dengan wajah
berlinangan airmata. "Paman, bukankah sudah saya katakan bahwa susu
yang paman beli itu produk Denmark? Bukankah paman juga tahu bahwa
koran Denmark telah menghina Nabi? Mengapa paman masih juga mau
membeli produk orang-orang yang menghina Nabi? Lirih suara anak
perempuan itu bercampur isak tangis bertanya kepadanya.

Pria itu sejenak tertegun. Tidak mampu berkata apa-apa. Baginya,
membeli susu produk Denmark tidak berarti apa-apa. Tapi tidak bagi
anak perempuan di hadapannya. Dalam pandangannya membeli satu susu
produk Denmark toh tidak terlalu berpengaruh bagi pasang surut ekonomi
negara Denmark. Khan untung yang didapat dengan satu susu bagi negara
Denmark tidak berarti apa-apa. Masih ada orang lain yang lebih
memiliki komitmen dibanding dirinya untuk melakukan boikot. Tapi tidak
bagi anak perempuan yang menangis di depannya. Bagi anak itu, seorang
muslim yang membeli satu susu produk negara yang menghina Nabi berarti
telah merelakan Nabi yang mulia untuk dihina dan dilecehkan. Bagi si
anak, hal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tetap harus ada yang
mengingatkan.

Sejurus kemudian, pria itu kembali ke tempat etalase susu ditemani si
anak perempuan. Susu yang hampir dibayarnya segera ditaruh lagi. Ia
kemudian menyatakan kepada anak perempuan yang ada di hadapannya:
"Adik saya berjanji bahwa mulai sekarang saya tidak akan lagi membeli
produk-produk Denmark."

Kisah di atas adalah kejadian nyata sebagaimana yang diceritakan oleh
seorang kawan yang tinggal di Mansoura. Sengaja saya ceritakan kembali
di sini untuk memperlihatkan kepada pembaca bahwa banyak orang yang
mungkin memiliki paradigma seperti pria yang diceritakan di atas.
Mungkin ada di antara kita yang serba acuh tak acuh dan tidak merasa
ikut bertanggung jawab terhadap pelecehan yang dilakukan oleh media
massa negara Denmark terhadap nabi Muhammad saw.. Atau mungkin ada
juga di antara kita yang ikut prihatin terhadap pelecehan tersebut
tapi hanya sebatas tanggapan lisan saja. Ikut aktif demonstrasi di
sana-sini tapi bingung, tindakan apalagi yang harus dilakukan untuk
membuktikan cinta kita terhadap nabi Muhammad saw.

Anak perempuan dalam kisah di atas mengajarkan kita satu tindakan
riil, yang mungkin dilupakan oleh sebagian kita yang terjerat dengan
aktivitas keseharian. Boikot! Merupakan tindakan riil. Boikot dalam
skala kecil maupun skala besar. Satu susu seharga 3 sampai 4 pound
Mesir sekilas tidak terlalu berpengaruh bagi naik-turunnya ekonomi
Denmark. Tapi tetap merupakan produk yang harus diboikot.

Anak perempuan di atas mengajarkan kita bahwa tanggung jawab terhadap
pelecehan yang dilakukan oleh koran Jylliands Posten di Denmark harus
dipikul oleh seluruh umat Islam dalam semua tataran. Para pegawai yang
sering terjebak dengan rutinitas kantor memiliki tanggungjawab yang
sama dengan para demonstran yang turun ke jalan-jalan. Para ibu yang
asyik mengurusi keperluan rumah tangga dan mengurusi anak memiliki
tanggungjawab yang sama dengan para wartawan dan penulis yang bersuara
lantang melalui penanya di media-media massa. Dan tanggungjawab itu
terakumulasi dalam satu kata: boikot!

Karena keberadaan anak perempuan itu, bersama dengan teman-temannya
yang lain dalam satu komitmen; bersama orangtuanya yang telah berhasil
mendidiknya untuk memiliki komitmen; bersama para guru yang berhasil
mengajarnya di bangku-bangku sekolah untuk mensosialisasikan
kebenaran; dan bersama masyarakat yang turut mendukung dan juga ikut
bertanggung jawab mentarbiyah sehingga mereka dapat tumbuh menjadi
batu karang yang mempertahakankan kebenaran. Buah dari tabkirut
tajnid, pendinian tarbiyah; semua itulah yang menjadikan Barat kembali
mengevaluasi pandangan mereka terhadap Islam. Ternyata, umat Islam
sekalipun terkesan lemah, terpecah belah, terbelakang, tapi masih
menyimpan satu kekuatan besar. Kekuatan itu bernama cinta dan
komitmen, buah dari masyru' tabkirut tajnid, program pendinian
tarbiyah sejak di bangku SLTP.

Cinta dan komitmen terhadap Islam yang dapat memaksa Denmark meminta
maaf kepada umat Islam di seantero dunia. Karena mereka saat ini
menghadapi kerugian ekonomi secara besar-besaran. Akibat aksi boikot
yang dilakukan di negara-negara Islam, Denmark mengalami kerugian
ekonomi hampir 1.8 juta dollar AS setiap hari atau sekitar 15 milyar
rupiah.

Memasuki awal tahun ini, semangat tabkirut tajnid harus mendorong kita
untuk melahirkan generasi-generasi yang cinta Islam, cinta Rasulnya
dan cinta kepada umat Islam.

http://www.dakwatuna.com/2007/buah-tabkirut-tajnid/


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
daarut-tauhiid-digest@yahoogroups.com
daarut-tauhiid-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
daarut-tauhiid-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tidak ada komentar: