Kamis, 15/04/2010 12:17 WIB
Sa'aduddin, Kesederhanaan Seorang Bupati
Djoko Tjiptono - detikNews
<http://openx.
ER_HERE>
Jakarta - Sederhana. Itulah prinsip utama Sa'aduddin. Orang nomor satu
di Kabupaten Bekasi ini ke mana-mana kerap tampil seadanya. Kedua
kakinya sangat jarang berbalut sepatu kulit mengkilat. Ditambah lagi,
sikap cueknya terhadap aturan protokoler yang serba formil.
Banyak peristiwa unik dari sikap santai serta jauh dari protokoler yang
dilakoni Sa'aduddin. Salah satunya ketika melakukan kunjungan kerja ke
salah satu kecamatan. Dia diam-diam duduk di sebuah warung kopi tak jauh
dari lokasi acara tujuannya. Dia tersenyum geli saat mendengar obrolan
beberapa pengunjung warung kopi itu.
"Mereka bertanya-tanya, kok bupatinya nggak datang-datang ya," ungkap
Sa'aduddin saat berbicara dengan detikcom, Kamis (15/4/2010).
Bapak dari 8 anak ini mengaku dirinya tidak anti protokoler yang serba
resmi. Dia hanya ingin tidak terlalu formil saat bertemu warganya. Sebab
dengan demikian, dia bisa mendengar dan melihat lebih dekat kondisi
warganya.
"Kalau kita jauh, warga tentunya ya juga jauh. Ukuran sukses juga tidak
dinilai dari harta atau jabatan, tapi bagaimana saya bisa siap melayani
dan memberikan yang terbaik bagi warga masyarakat sepanjang jabatan saya
ini," ujar Sa'aduddin.
Sejak memimpin Kabupaten Bekasi, penyandang gelar doktor ini telah
melakukan berbagai terobosan. Untuk urusan pendidikan, dia menggratiskan
biaya pendidikan mulai tingkat SD hingga SMP. Tunjangan bagi
kesejahteraan para guru pun tak luput diberikan.
Layanan kesehatan masyarakat pun menjadi perhatiannya. Termasuk di
antaranya mengupayakan peningkatan pelayanan rumah sakit di Kabupaten
Bekasi dengan meningkatkan kelas plus ketersediaan peralatan.
Demikian pula dengan sektor ekonomi. Sa'adudin tengah gencar melakukan
optimalisasi sumber penerimaan serta merevisi beberapa regulasi terkait
retribusi daerah. Dia juga menggiring pihak swasta agar terlibat dalam
proses pembangunan.
"Keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan sangat strategis. Terlebih
jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Bekasi mencapai lebih dari 143
ribu orang," tutur Sa'aduddin.
Diakui Sa'aduddin, menarik minat swasta untuk melakukan investasi di
wilayahnya bukan perkara sepele. Sebab, para investor butuh kepastian
hukum dan iklim yang kondusif. Terutama masalah birokrasi dan perizinan
usaha yang berbelit-belit. Untuk itulah, Pemkab Bekasi berniat
menerapkan pelayanan perizinan satu atap.
"Ke depan, layanan perizinan ini akan kita tingkatkan statusnya menjadi
sebuah badan," terang Sa'duddin.
Di akhir cerita, Sa'aduddin mengaku mempunyai 3 doa utama yang selalu
dilafalkan setiap hari. Pertama, dirinya selalu berdoa agar bisa
menjalani hidup dengan ikhlas. Kedua, dia berdoa agar dirinya selalu
istiqomah.
"Yang terakhir adalah bagaimana saya ini nanti dapat meninggal dalam
kondisi beriman dan khusnul khotimah," ungkapnya.
(djo/nrl)
http://www.detiknew
sederhanaan-
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
====================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar