Selasa, 16 September 2008

[daarut-tauhiid] Jalan Menuju Ke Langit..

Jalan Menuju Ke Langit..

Sumber,
http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/09/jalan-menuju-ke-langit-mendekat-kepada.html

Bahasa sehari-hari mengenal istilah; Alloh SWT yang di atas, atau
Alloh SWT yang di langit. Langit sering didefinisikan sebagai batas
pandangan mata. Dalam al Qur'an langit disebut dengan nama sama' atau
samawat. Dalam bahasa Arab, sama' mengandung dua arti, pertama; ma
`ala ka, apa yang di atasmu. Dari pengertian ini maka plafon di rumah
kita di sebut langit-langit. Ke dua; langit adalah ungkapan tentang
sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Jika di sebut sorga berada di langit artinya akal manusia tidak akan
mampu melacak keberadaannya. Sorga dapat dilacak dengan keyakinan atau
iman, bukan dengan ratio. Bahasa sehari-hari juga suka menggunakan
istilah langit meski kurang tepat, misalnya menyebut kecantikan luar
biasa dari seorang gadis dengan menyebut cantiknya selangit, kekayaan
yang sangat banyak disebut kayanya selangit , dan ungkapan semisal
lainnya.

Orang beriman meyakini bahwa di balik alam raya ini ada alam langit
atau `alam malakut satu "tempat" yang sangat tinggi dimana blue print
alam raya dengan segala kehidupannya itu berada dan dikendalikan, dan
Allah bersemayam di `arasy Nya mengendalikan kekuasaanya melalui
sistem sunnatulllah, dan Dia mengontrolnya secara detail hingga
jatuhnya selembar daunpun berada dalam kontrol Nya.

Di mana letak alam malakut dan dimana `arasy Alloh SWT, akal manusia
tidak mungkin menjangkaunya, karena Alloh Maha Tinggi sedangkan
manusia sebagai hamba memiliki keterbatasan yang sangat banyak. Meski
demikian, dengan sifat Rahman dan Rahim Nya Alloh memberi
infrastruktur kepada manusia untuk dapat mendekat kepada Nya. Allah
menempatkan sifat ilahiah pada setiap manusia, apa yang dalam agama
disebut nasut.

Allah juga menempatkan cahaya (nur) Nya pada setiap hati (qalb)
manusia, disebut nuraniyyun (hati nurani) yang memiki kapasitas
pandangan batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala, oleh Al
Qur'an disebut bashirah (Q/75:14-15). Jika sifat Alloh SWT al Bashir
mengandung arti Alloh SWT mampu melihat sesuatu secara total tanpa
alat bantu, maka bashirah nya manusia atau hati nurani manusia juga
dapat menembus dinding-dinding pembatas, secara internal melihat diri
sendiri, introspeksi secara jujur dan hati nurani tidak bisa diajak
berdusta, sedangkan secara ekternal, nurani dapat menerobos ke alam
malakut bercengkerama dengan ruhaniyyun (malaikat atau arwah manusia)
dan bahkan bisa bercengkerama dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi
Penyayang. Di alam malakut manusia bisa berjumpa dengan arwah manusia
yang telah lama meninggal, dan jika beruntung bisa berjumpa dengan Nabi.

Dengan sifat Nasut itulah manusia pada suatu ketika rindu kepada Alloh
SWT. Sifat Nasut itu bagaikan api yang selalu menyala ke atas. Orang
yang sedang rindu kepada Alloh SWT, maka pandangannya selalu ke "atas"
mencari Dia Yang Maha Tinggi di "alam atas". Kerinduan kepada Alloh
SWT itu memuncak ketika seseorang berhasil bekerja keras mensucikan
jiwanya (tazkiyyat an nafs) hingga jiwanya mencapai tingkat nafs al
muthma'innah, yakni jiwa yang tenang, atau ketika Alloh SWT berkenan
mendekati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki Nya sehingga orang itu
dalam waktu cepat tersucikan jiwanya (Q/ 4:49)

Di sisi lain, Alloh SWT memiliki sifat kemanusiaan (Lahut) yang selalu
merindukan kehadiran manusia ke haribaan rahmat Nya. Alloh SWT sangat
antausias menyongsong hambanya. Jika manusia mendekati Alloh SWT
dengan jalan kaki, maka Alloh SWT akan menyongsongnya dengan berlari.
Itulah yang menyebabkan ada orang yang sudah sejak kecil menjadi
muslim tetapi tak kunjung berkualitas, sementara ada orang yang belum
lama menjadi "mu'allaf" tetapi sudah mencapai pencerahan
spiritualitas, karena ia disongsong oleh Alloh SWT. Di satu pihak,
manusia memang memiliki bakat kerinduan kepada Alloh SWT dan untuk itu
ia berusaha naik ke "atas" (taraqqi), di pihak lain, Alloh SWT yang
merindukan kehadiran manusia berlari turun dari "atas" (tanazul)
menyongsong setiap hambanya yang berusaha keras mendekat (taqarrub).
Ada tiga jalan yang bisa ditempuh manusia mendekat kepada Nya.

Pertama: Thariqah as Syar`iy, jalan syar'i. Siapa saja yang berusaha
keras konsisten mengikuti syari'at, salatnya, puasanya, berdagangnya,
berpolitiknya, dan seluruh aspek hidupnya, maka dijamin ujungnya
adalah dar al muqarrabin, wisma khusus untuk orang-orang dekat. Siapa
saja yang secara konsisten mengikti petunjuk Alloh SWT dalam hidupnya,
yakni mengikuti aturan Alloh SWT tentang halal-haram, mengerjakan
perintahNya dan menjauhi larangan Nya, maka ia berpeluang untuk
menjadi orang dekat Nya.

Kedua: Thariqah ahl az zikr, jalannya ahli zikir. Barang siapa yang
dalam hidupnya selalu berzikir maka ia akan sampai ke tingkat dekat
dengan Allah. Zikir artinya menyebut atau mengingat. Orang awam
berzikir dengan mulutnya dalam bentuk menyebut asma Allah atau kalimah
thayyibah, meski hatinya belum tentu ingat Allah. Lihatlah orang yang
ikut zikir bersama Arifin Ilham, ia bisa menangis haru interospeksi.
Jika zikir itu dipelihara, dikerjakan secara sistemik, maka
lama-kelamaan hatinya menjadi dekat dengan Alloh SWT yang selalu
disebutnya. Sementara orang khawas berzikir dengan hatinya. Keadaan
apapun yang dihadapinya dalam hidup, hatinya tetap mengingat Allah.
Ada beberapa tingkatan zikir, yaitu zikir jahr, zikir keras-keras,
kemudian meningkat ke zikir khofiy, zikir yang tidak mengeluarkan
suara tetapi penuh d dalam hati, kemudian tafakkur, berkelana secara
ruhaniyyah merenungkan kebesaran Allah, dan yang tertinggi adalah
tadabbur, yakni melihat benda atau alampun langsung terbayang Sang
Pencipta (tadabbur `alam).

Ketiga: Thariqah mujahidah as Syaqa, memilih jalan yang sulit. Bagi
penganut jalan ini, hidup secara biasa itu berarti tidak tahu diri dan
kurang bersyukur kepada Alloh SWT. Ia wajibkan dirinya mengerjakan
yang sunnah, ia haramkan untuk dirinya apa yang sesungguhnya halal,
semata-mata karena tahu diri. Ia lebih suka tidur di lantai, meski
memiliki kasur, ia memakan makanan yang tidak enak meski tersedia
makanan lezat, pokoknya semua yang sulit menjadi pilihannya. Baginya
menempuh kesulitan dalam perjalanan mendekat kepada Alloh SWT itu satu
kenikmatan, dan baginya pula, menggunakan fasilitas kemudahan dalam
perjalanan kepada Alloh SWT itu memalukan. Wallohu a`lam.

Salam Cinta,
agussyafii

Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
achmad.mubarok@yahoo.com atau http://mubarok-institute.blogspot.com

__._,_.___
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Recent Activity
Visit Your Group
Give Back

Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar

Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: