Kontributor: Munzir Almusawa
Sunday, 12 October 2008
Laporan Perjalanan Dakwah Majelis Rasulullah ke Wilayah
Manokwari Papua, Irian Barat
Selasa 7 Oktober 2008, Kami, tiga personil, Munzir almusawa, Sdr
Saeful Zahri, dan Sdr Hamidi Sanusi. Selasa, 22.45 WIB kami meninggalkan
Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ujung Pandang untuk pindah pesawat,
kami tiba di Ujung pandang pk 23.45 WITA (00.45 WIB), lalu meneruskan
perjalanan menuju Manokwari Irian Barat,
Pagi Rabu 8 oktober 2008, kami tiba di Manokwari pk 7.45 WIT (5.45 wib).
Pelukan hangat dan haru dari KH Ahmad Baihaqy membuat saya bertanya tanya,
beliau mendahului saya ke Manokwari ini hanya sekitar dua minggu, namun
beliau memeluk saya seakan akan sudah bertahun tahun tak jumpa, firasat saya
mengatakan bahwa beliau menemui medan dakwah yang sangat berat, dan memang
ternyata firasat saya benar, ketika kami keluar dari Bandara kami melihat
dari beberapa mobil yang diparkir (bandara disana sangat sepi), saya melihat
ada dua buah mobil Land cruiser hijau dan merah yang menyolok dari mobil
lainnya, kekar dan gagah dilengkapi lampu kabut dan lampu biru sirene
diatasnya, dan memang mobil itulah yang kemudian mengantar kami ke medan
dakwah yang sangat berat.
ImageHarga penyewaan mobil itu 4 juta rupiah per hari, maka dua mobil itu
digunakan dua hari total 18 juta rupiah, dan memang tak ada mobil yang bisa
melintas kewilayah wilayah itu kecuali mobil mobil tertentu karena medan
yang demikian berat, dan memang mobil sangat sedikit pula, dan jarang yang
mau menyewakan untuk jarak jauh kecuali dengan harga yang mahal.
Kami dijamu makan pagi dirumah salah seorang tokoh muslim di Manokwari, lalu
kami melanjutkan perjalanan ke wilayah Ransiki, yaitu kampung halaman
puluhan santri KH Ahmad Baihaqi yang baru saja beliau asuh di kediaman
beliau Jakarta selama dua tahun berselang.
Jalan yang beraspal namun sangat sempit itu sangat jarang dilalui mobil,
barangkali dalam 10-15 menit kita baru menemui motor atau mobil lain yang
melintas, sepanjang jalan saya lebih banyak menangis daripada bicara, walau
diselingi canda dan percakapan, namun airmata ini terus tak tertahan, hati
bagaikan teriris iris melihat banyaknya gereja, besarnya lambang salib, dan
papan papan pengumuman besar yang bertuliskan : "MANOKWARI KOTA INJIL", dan
tak ada iklan lain yang terpampang dihampir setiap tikungan jalan
diperjalanan itu selain kalimat itu.., kalimat yang sangat menyesakkan
hati..
Saya terus berharap dan berharap jika melihat ada beberapa rumah (disana
yang disebut perkampungan adalah beberapa rumah saja), saya sangat berharap
melihat masjid, dan ternyata setiap ada bangunan besar mestilah Gereja,
walau ada beberapa masjid saja namun sungguh sangat terkucil dan sedikit,
Ditengah tengah hutan atau kampung yang kita lewati jika tampak ada orang
maka saya berharap harap dengan mata yang sibuk mencari cari ingin melihat
seorang muslim, dengan pakaian peci putih atau peci hitam, atau wanita
berjilbab, namun sepanjang jalan sekitar 3 jam perjalanan tak saya temukan
pemandangan itu..
Saya terus membatin dan merintih.. Bumi ini milik Allah.. kenapa yang makmur
adalah rumah rumah penyembahan pada selain Allah..?, bukankah Indonesia
adalah negeri muslimin terbesar di dunia..?, lalu kemana muslimin di pulau
terbesar ini..?
Kupandangi wajah wajah mereka yang kita lewati, dan hati terus berdoa :
Wahai Allah, jadikan orang ini muslim.., jadikan ia mengenal sujud..,
jadikan ia ummat nabi Mu.., wahai Allah jangan matikan ia dalam agama ini..
doa ini tak habis habisnya terbersit dihati.., jika melihat anak anak yang
bermain gembira di sekitar sekolah gereja maka aku menangis lagi, Rabbiy
anak anak ini.. wahai tuhanku anak anak ini.., jangan kau jadikan mereka
pastor pastor yang memerangi muslimin kelak.. hingga akan murtad ditangan
mereka banyak muslimin.. Wahai Tuhanku.. jangan..
Ingin rasanya saya turun dari mobil dan bersujud dan menangis sekeras
kerasnya dalam sujud.., Tidak saya melihat ada Baliho besar atau papan
pengumuman kecuali bertuliskan "MANOKWARI KOTA INJIL..", kiri kanan gereja
dan gereja.. Ingin rasanya aku buta agar tak pernah melihat pemandangan yg
mengiris hati seperti ini..,
ImageImageSetelah hampir tiga jam perjalanan dan sudah mendekati wilayah
Ransiki, maka tiba tiba muncul pemandangan yang mengharukan.
pemuda dengan motor dan bendera bendera tampak parkir.. bendera apakah
gerangan..?, sudut mata saya yang sedari tadi mencari muslim ke segenap
penjuru dan selalu tak menemukan apa apa hanya memandang dengan setengah
hati pada pemuda pemuda bermotor dengan bendera itu,
Ketika kami semakin dekat maka bendera semakin jelas.. SUBHANALLAH.
ternyata Bendera Majelis Rasulullah saw.!, beberapa pemuda dari penduduk
asli diantaranya berjaket Majelis Rasulullah saw menyambut kedatangan
kami.., Subhanallah.
hampir tak percaya dengan yang saya lihat.. apakah saya mimpi..??, saya
hanya diam di mobil dan menyambut uluran tangan mereka dengan haru.., peci
peci putih..!, muslimin..!, bendera Majelis Rasulullah..
Rasulullah..
Rabbiy..
Tak lama kemudian puluhan motor lainnya dengan bendera Majelis Rasulullah
saw pun ikut menyambut kami, diikuti sebuah mobil bak terbuka yang dipenuhi
santri KH Ahmad Baihaqi yang memang sedang mudik di kampung halaman mereka
ini, dengan baju baju gamis putih, peci putih, dan rebana Thola'al Badru
alaina..
ImageKH Ahmad Baihaqi adalah seorang pemuda yang aktif dalam perluasan
dakwah dibanyak wilayah, beliau adalah Murid Almarhum Gus Maksum ALjauhari,
rumah beliau adalah di wilayah Manggarai Jakarta selatan, beliau seorang
yang sangat gigih dalam perjuangan dakwah, dengan kehidupan yang sangat
sederhana, dan semangat juang yang tinggi beliau terus menembus wilayah
wilayah Irian Barat untuk menyebarkan dakwah, khususnya pada pemuda pemudi,
dan beliau bersedia pula menjadikan rumahnya di Manggarai sebagai tempat
mukim para santri tersebut, luar biasa, bukan hal yang mudah memandu,
mendidik, dan membimbing 30 santri dari Irian Barat, mengajari mereka
mengaji, shalat, ceramah, maulid, qasidah, dan mereka belajar tanpa dibebani
biaya apa apa, KH Ahmad Baihaqi berjuang untuk menafkahi santri santri itu,
dan fihak Majelis Rasulullah saw sering turut membantu dan tak ada artinya
dibanding perjuangan beliau,
Kenapa beliau mengajarkan pula maulid, qasidah dan rebana..?, karena untuk
berdakwah di wilayah mereka kelak akan sangat cepat menarik masyarakat jika
dengan alat musik rebana, karena hal itu juga menjadi hiburan yang dengan
itu bisa merangkul banyak masyarakat di setiap wilayah,
Beliau sering kunjung ke Manokwari untuk berdakwah, dan beliau aktif pula
sebagai kordinator Majelis Rasulullah saw di Pusat, juga sebagai pimpinan
cabang Manggarai dan Manokwari Irian Barat, jiwa saya seakan menyatu dengan
beliau dengan semangat yang satu pula, pembenahan ummat, dan menjadikan
Rasul saw sebagai idola dan panutan, dan berjalan dengan manhaj Guru Mulia
Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh,
Dua tahun yang silam saya berkunjung ke Manokwari bersama beliau dan
mengunjungi beberapa tokoh ulama, diantaranya adalah Gus Jumhari, Almarhum
Gus Ali (abah ali), yang masing masing telah mempunyai pesantren di
perkampungan Transmigran sekitar kota Manokwari, dan kemudian disetujuilah
untuk membawa santri santri ke Jakarta dari anak anak penduduk asli, maka
merekapun berdatangan ke Jakarta dan berdomisili di kediaman KH Ahmad
Baihaqi, dan kemudian Abah ali wafat.. setelah puluhan tahun berdakwah di
wilayah wilayah Irian barat, Santri santri tersebut memang sedang pulang
kampung pada awal dan pertengahan ramadhan, dan berlebaran disana bersama
keluarga mereka yang sebagian besar masih beragama nasrani.
ImageKetika rombongan kami, yaitu dua mobil Land Cruiser (karena medan yang
kami tempuh tak bisa dilewati selain mobil 4 wd), tiba di Ransiki, maka
seluruh masyarakat keluar menyambut, kira kira sekitar 200 orang muslimin
muslimat, saya turun dari mobil tidak boleh menginjak tanah kecuali mesti
menginjak piring yang terbuat dari keramik mewah, dan berusia ratusan tahun,
dan ketika ditanya sudah berapa lama usianya merekapun tidak tahu, dan
mereka hanya berkata piring piring itu sudah ada sebelum mereka dan ayah
ayah mereka lahir, demikian adat disana memuliakan tamu agung, piring besar
berdiamater 50cm itu disiapkan di bawah pintu mobil.., Subhanallah.
Kemudian piring itu dijadikan cindera mata bagi tamu agung tersebut..,
sungguh sangat hangat sambutan mereka, airmata saya terus mengalir karena
haru dan gembira bisa berkumpul dengan muslimin
ImageImageJamuan makan pagi pk 11.00 WIT, diteruskan acara halal bihalal,
maulid dhiya'ullami dan tausiyah saya di masjid jami Ransiki diakhiri dengan
shalat jamaah dhuhur, dan kesemua muslimin muslimat hadir, setelah shalat
dhuhur maka kami meneruskan perjalanan ke Bintuni, Jarak tempuh Manokwari
Ransiki 100km, dan Manokwar Bintuni adalah 300km.
Perjalanan diteruskan..
Siwi, satu satunya musholla di jarak tempuh berjam jam itu sangat dijaga dan
dirawat oleh beberapa muslimin di wilayah Siwi tersebut, subhanallah. dalam
puluhan perkampungan yang jaraknya sangat berjauhan dan berjam jam
perjalanan itu, dan terpisah pisah dengan rimba belantara itu hanya ada satu
musholla saja, dan belum ada masjid..
Sebagian para santri ada yang tidak dibolehkan lagi kembali ke Jakarta oleh
muslimin di salah satu wilayah itu.. kenapa..?, karena mereka tak punya imam
untuk shalat.. Dengan suara lirih dan tertunduk mereka berkata : "kami sudah
masuk islam tapi kami ingin tahu caranya shalat, kami belum tahu", maka
selama anak itu bersama mereka, ia menjadi imam, dan jika anak itu sakit
maka tak ada shalat di wilayah itu.., dan anak itu pula mengajari tarawih,
mereka tak pernah tahu shalat tarawih, dan mereka baru pertama kali pula
mengadakan Takbiran di malam idul fitri.., dan jika anak itu meninggalkan
mereka ke Jakarta maka tak ada lagi shalat diwilayah itu.. Subhanallah.
Airmata saya terus mengalir.., kita di Jakarta makmur dengan para ulama,
habaib, kyai dan para Da'I, ternyata ada di wilayah saudara saudara kita
yang sudah belasan tahun masuk islam namun ingin shalat tapi tak ada yg
mengajarinya, Wilayah kita makmur dengan masjid dan musholla dan majelis
taklim, namun disini musholla ada untuk wilayah yang mesti ditempuh berjam
jam naik mobil..
ImageSetelah sekitar 1 jam dari Ransiki, kami mengunjungi sebuah
perkampungan, yang di kampung itu hanya ada satu rumah muslim, namun Allah
swt memberikan anugerah padanya, karena ia dan KH Ahmad Baihaqi berhasil
merekrut beberapa keluarganya untuk masuk islam, dan saat kunjungan itu pula
dilangsungkan pernikahan antara dua pemuda muslim dengan dua wanita yang
baru masuk islam, saya mendapat kehormatan untuk menikahkannya, Sungguh
sangat mengharukan.
masih nasrani namun mulai mendekati keislaman,
ImageKami meneruskan perjalanan ke Bintuni.. Jalanan yang sangat sulit
dilewati, kubangan Lumpur yang terus menghalangi mobil yang melintas sangat
parah dan sulit dilalui, beberapa kali mobil land cruiser itu menggerung
karena terjebak dalam kubangan Lumpur, tinggi Lumpur mencapai 50cm atau
lebih, dan berkali kali mobil itu miring dan hampir terguling karena
terjebak pada dalamnya Lumpur, Dua mobil kami terus terseok seok melintasi
medan Lumpur sepanjang puluhan kilometer, dan konon dalam sekali melintas
bisa berkali kali ganti ban karena ban mobil tercabik batu batu gunung yang
tajam ditengah kubangan Lumpur..,
Kami tiba di Bintuni pk 20.30 WIT, setelah jarak tempuh sekitar 12 jam dari
Manokwari, kami diperkenankan istirahat di hotel Kabira, satu satunya hotel
di kota Bintuni yang dilengkapi ac, kami beristirahat.
Kamis, 9 oktober 2008, Dinihari sebelum subuh saya terkaget dari tidur,
ternyata suara gemuruh hujan deras yang seakan akan menghancurkan atap dari
dahsyatnya, saya kembali tidur beberapa saat dan kemudian bangun untuk
Qiyamullail, lalu termenung sambil berdzikir dan doa, sungguh perjalanan
yang sangat melelahkan, namun haru dan gembira,
ImageImageTernyata mereka yang tidak tidur malam itu untuk memasang umbul
umbul Majelis Rasulullah saw dan spanduk serta baliho Majelis Rasulullah,
mereka mengatakan malam itu hanya hujan gerimis, tak ada hujab deras.., lalu
hujan deras apa yang membuat saya bangun dari tidur semalam..?, Wallahu
A'lam
Pk 8.30 WIT (6.30 wib), riuh suara arak arakan masyarakat untuk menyambut
kedatangan kami sudah semakin ramai, sekaligus acara halal bihalal, tabuhan
hadroh yang khas papua sangat mengharukan, ratusan muslimin sudah memenuhi
halaman parkir hotel dan mereka berdiri memegang spanduk dan baliho
menyambut kedatangan saya, subhanallah. subhanallah.
mereka, maka riuh sambutan mereka dan saya berpelukan dengan para tokoh
masyarakat setempat, mereka menangis haru, sebagian orang orang tua menjerit
dalam tangis.. Ada apakah gerangan..?
ImageSambil berjalan dengan iring iringan hadroh dan arak arakan kegembiraan
mereka menuju Masjid salah seorang tokoh masyarakat menjelaskan sambil
memegang tangan saya, ia berkata Lirih : "Kami sedari dulu hanya dengar saja
dari datuk datuk kami tentang habib, kami tak pernah jumpa dengan para
habib, kami hanya dengar saja dari orang orang tua kami, dan pagi ini kami
bisa berjumpa dengan yang dinamakan habib, dan inilah pertama kali seorang
habib mengunjungi Bintuni setelah ratusan tahun tak pernah ada kunjungan ke
wilayah ini". Kali ini saya yg menangis haru.., subhanallah.
itulah mereka menangis..,
Arak arakan yang semakin riuh ketika semakin dekat pada masjid, dan para
jamaah hadroh adalah orang orang sepuh, acara di mulai dengan sambutan
sambutan, berdirilah salah seorang tokoh dan menyampaikan sekilas sambutan,
lalu berdiri tokoh lainnya, dan dari penyampaian mereka bahwa dijelaskan
bahwa Islam masuk Papua sebelum Kristen, dan Islam sudah ada di Bintuni pada
abad ke 16 Masehi, kemudian hilang dan tak tercatatkan sejarah, lalu
tercatatkan pula di Bintuni pada abad ke 18 Masehi, dan ada beberapa wilayah
yang diberi nama dengan nama dari bahasa arab, yaitu wilayah yang dipakai
untuk jalan menuju Bintuni dinamakan wilayah Babo, mereka berkata bahwa yang
dimaksud adalah Baabussalam, yaitu Pintu keselamatan, karena pendatang di
masa lalu mesti melalui wilayah itu untuk masuk ke Bintuni.
ImageImageKemudian maulid Dhiya'ullami dilantunkan, bersama Jamaah Hadroh
dari putra putra Ransiki Papua, kemudian saya menyampaikan Tausyiah dan
diakhiri doa. Kami dijamu makan siang oleh para tokoh, lalu saya berkata
pada mereka : "saya minta dipilihkan makanan untuk saya oleh tokoh tokoh,
karena saya ingin makan makanan yang dipilihkan oleh tokoh tokoh, agar saya
mendapat keberkahan dari tangan bapak bapak yang mulia, maka disendokkan
pada saya "Papeda" yaitu bubur sagu yang dihidangkan dengan semacam sop
Ikan, masya Allah..
Setelah acara jamuan maka kami kembali ke hotel, dan saya duduk
bercengkerama dengan beberapa tokoh islam, dan mereka menyampaikan beberapa
cerita tentang perjuangan islam, diantaranya bagaimana muslimin dihimpit
oleh kalangan Nasrani, mereka menyebut suatu kejadian beberapa tahun yang
silam, bahwa disebuah wilayah antara Sorong dan Papua terdapat sebuah suku
dipinggir pantai, kebanyakan di wilayah itu muslimin, namun mereka tak ada
lagi yang mengajarkan islam hingga turun temurun, mereka muslim tapi tak
tahu agama islam, mereka sudah tidak kenal syahadat, mereka hanya mengenal
satu ajaran adat, yaitu tak boleh makan babi, padahal babi adalah santapan
yang masyhur di Irian, mereka menganggap itu hukum adat, padahal itu hukum
islam, dan kepala suku mempunyai satu barang yang dikeramatkan, ia adalah
sebuah kotak yang menyimpan pusaka turun temurun yang dipegang oleh kepala
suku dari generasi ke generasi, mereka tak tahu benda apa itu,
Ketika mulai banyak para nelayan muslimin yang kunjung, mereka minta
sebidang tanah pada kepala suku untuk musholla, maka kepala suku
mengizinkan, lalu mereka kunjung kerumah kepala suku, dalam sambutan hangat
itu kepala suku menunjukkan pusaka yang disimpan ratusan tahun dan
diwariskan dari datuk datuknya, ketika kotak itu dibuka, maka para nelayan
pun kaget dan bertakbir, ternyata isinya adalah Alqur'an yang sudah sangat
tua.., Subhanallah.
namun karena mungkin tak ada para dai dai pengganti, maka ajaran islam pun
hilang dan tak lagi dikenali, tinggallah pusaka yang diwasiati turun temurun
itu yang ada pada mereka, ternyata ia adalah Kitabullah, Alqur'anulkarim.
Maka kepala suku ini pun kembali memeluk islam, tak lama kabar sampai kepada
Koramil dan kecamatan yang camat dan Danramil adalah Nasrani, mereka
memanggil kepala suku itu dan mendampratnya habis habisan karena telah
memberi sebidang tanah untuk muslimin membangun musholla, dan kepala suku
dipaksa untuk mengusir mereka dan kepala suku tetap pada pendiriannya, maka
kepala suku itu ditelanjangi hingga hanya celana dalamnya yg disisakan, lalu
ia disiksa dan dicambuki dengan kulit ikan pari, Ikan pari terkenal dengan
kulitnya yang penuh duri tajam yang beracun., kepala suku tetap tidak mau
merubah keputusannya.
tak mau mencabut izin untuk pembangunan musholla.. Subhanallah.
kejadian penjelasan tentang Alqur'an itu maka 80 kepala keluarga di Suku itu
kembali pada islam.
Juga Diantara keluh kesah tokoh agama tersebut, mereka berkata : "dimana
da'I da'I muslimin dari Jakarta?, dimana para hartawan dari Jakarta?, mereka
hanya mau teriak teriak di televisi, dan sebagian dari kami tak ada listrik,
jikapun wilayah yang sudah ada listrik belum tentu punya televisi, lalu
darimana kami akan mengenal dan belajar islam?, kami hanya dengar dari teman
teman yang punya televisi, bahwa para hartawan di Jakarta selalu mengirimkan
dana uang banyak ke Palestina, Bosnia, Afghanistan, bagaimana mereka memberi
bantuan kesana dan melupakan kami, kami muslimin yang sebangsa dengan
mereka, kami masyarakat Papua menerima republik Indonesia karena kami tahu
Republik Indonesia adalah Muslimin, namun setelah kami jadi saudara mereka
kami dikucilkan dan ditinggalkan.
luar negeri dan kami disini susah dan tak mampu membangun musholla pun.."
Masya Allah.
Pk 13.30 WIT kami menuju pulang, diantar tangis airmata para tokoh muslimin,
setelah berpelukan, mobil melaju dan kami melihat dari kejauhan mereka masih
berdiri termangu mengantar kepergian kami, selamat Tinggal Kota Bintuni.,
kami sempat mampir ke rumah salah seorang ustaz di perkampungan Transmigran,
yaitu di SP 5 (SP = satuan pemukiman), lalu kami meneruskan perjalanan
pulang..
ImageAkibat hujan deras semalam, maka medan jalur pulang lebih buruk dari
saat kemarin, Land Cruiser yang saya tumpangi sempat terperosok dan terjebak
Lumpur dan tak bisa keluar dari Lumpur, kami beristirahat dan makan siang di
pinggir jalan tempat mobil kami terjebak, setelah makan siang, maka mobil
Land cruiser yang juga bersama kami pun menarik mobil itu keluar dari
cengkeraman Lumpur, usaha yang cukup sulit itu pun akhirnya berhasil,
setelah Lumpur itu di pacul terlebih dahulu untuk memudahkan mobil keluar
dari jebakan Lumpur tersebut, seakan akan Bintuni tak mau kami
meninggalkannya dan berusaha menahan mobil kami..
Kami berhenti sesaat di wilayah Mamai, menurunkan seorang anak santri
bimbingan KH Ahmad Baihaqi, ayahnya masih nasrani, dan sudah mulai tertarik
masuk islam, dan ia mengizinkan anaknya belajar di Jakarta dibawah bimbingan
KH Ahmad Baihaqi, saya berdoa untuk ayahnya dan berfoto bersama, lalu kami
pamit dan Meneruskan perjalanan,
Kami singgah di wilayah Kiwi, yaitu musholla yang dijaga oleh muslimin yang
kami mampiri kemarin, kami berpamitan, ternyata musholla itu dibangun oleh
seorang pengusaha wanita dari Jakarta, Ibu Tuti, demikian mereka
menyebutnya, Ibu Tuti berkediaman di Tebet Jakarta selatan, dan ia sedang di
wilayah ini dalam usahanya, semoga Allah melimpahkan kepadanya keberkahan
dan kesuksesan, karena telah mendirikan musholla, yang menjadi satu satunya
musholla di radius puluhan kilometer wilayah sekitar.
ImageKami meneruskan perjalanan menuju Ransiki.., Ditengah perjalanan itu
saya sekilas tertidur dan bermimpi, saya melihat seorang habib, ia pemuda
tampan seusia dengan saya, ia dengan pakaian putih, ia berkata pada saya :
"saya dahulu berdakwah di wilayah ini dan saya dikejar kejar dan akhirnya
saya dibunuh disini..". saya terbangun dan melihat kearah kiri tempat
perjumpaan kami dalam mimpi.., ternyata hanya semak belukar dan rimba yang
gelap.. airmata saya mengalir lagi sambil melafadzkan fatihah untuknya.. ia
membawa dakwah Nabi saw ditengah tengah pedalaman seperti ini, lalu wafat
sebagai syahid dan kuburnya tak dikenali orang didalam rimba belantara Irian
barat..
Kami tiba di Ransiki untuk makan malam dan berpamitan dengan para orang tua
santri, saya diperlihatkan Alqur'an yang disobek sobek oleh Nasrani di
wilayah Ransiki, saya tak tahan, saya menciumi Alqur'an itu dan menangis
sekeras kerasnya, merekapun turut menjerit dan menangis, saya terlintas
untuk marah dan menginstruksikan balas, namun akhirnya saya tenang, dan
berdoa agar Allah hujankan hidayah bagi semua yang menyembah selain Allah,
agar Allah hujani hidayah dan memenuhi papua dengan muslimin dan agar Allah
jadikan penduduk Papua sebagai Ahlussujud..
bukan Manokwari kota Injil, tapi sebagai wilayah sayyidina Muhammad saw..
ImageKetika kami sudah dimobil, mereka melepas kepergian kami dengan adzan,
lalu selesai adzan mobil meluncur pelahan dan puluhan muslimin menjerit
tangis pilu melepas kepergian kami di gelapnya malam.., suara jerit tangis
mereka benar benar menyayat hati.., mereka sangat cinta pada saya dan
sayapun demikian, saat saya turun dari mobil anak anak pemuda papua
berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, karena Mobil Land
cruiser itu sangat tinggi hingga saya agak kepayahan saat turun dari mobil,
mereka berebutan menaruh kaki saya ditelapak tangan mereka, saya menghalau
mereka namun mereka tidak perduli menjadikan tangan tangan mereka sebagai
injakan kaki saya sebelum ke bumi.., wahai Rabbiy alangkah suci hati mereka,
mereka muallaf, mereka baru memeluk islam, betapa mereka mencintai karung
dosa ini, bahkan mereka selalu berusaha menciumi saya, pundak, tangan
punggung, dada, jika mereka ada kesempatan dekat mereka terus menciumi saya
ditubuh sekenanya, saya menjadi akrab pula dengan mereka, saya bercanda
dengan mereka, berfoto dalam berangkulan dengan mereka, dan mereka semakin
gembira,
ImageKetika mobil meluncur meninggalkan Ransiki dan para pemuda setempat,
maka tubuh saya terus meriang, ditengah hentakan dan guncangan mobil yang
terus melewati medan berat, saya terus dihantui perasaan yang beraneka
ragam, sedih, haru, semangat juang, tangis, dan terus terbayang diwajah saya
betapa sulitnya para da'I terdahulu di wilayah ini, wilayah yang terjauh di
Indonesia, terbayang kepala suku yang baru masuk islam, ia dilucuti
pakaiannya, disiksa dan dicambuk dengan Kulit ikan pari yang berduri karena
membela Alqur'an.., ia tetap bertahan dan menahan sakit, padahal ia baru
saja memeluk islam, terbayang seorang habib muda yang dikejar kejar lalu
dibantai dan dibunuh ditengah rimba sebagaimana mimpi saya., terbayang
wilayah wilayah muslimin yang ingin belajar shalat namun tak ada yang
mengajarinya, mereka hanya bisa shalat jika berjamaah dan belum bisa shalat
sendiri, maka jika imam itu (pemuda belasan tahun) sakit maka tidak ada
shalat di kampung itu.., anak muda itu muallaf dan baru saja belajar
shalat.., ia sudah berjuang di wilayahnya mengajarkan shalat..
Terbayang pula keluhan mereka tentang tidak adanya pengajaran islam untuk
mereka, mereka hanya bisa lihat islam di TV dan sebagian besar wilayah
perkampungan tidak punya tv, bahkan listrik hanya ada hingga jam 12 malam,
lalu padam.. dan mereka mengeluh : "Lalu bagaimana kami belajar islam..?",
terbayang wajah para santri dari Ransiki Papua yang selalu hadir di Majelis
Malam selasa di Masjid Almunawar Pancoran Jakarta, mereka baru belajar dasar
agama saja, namun mereka sudah menjadi dai dai di wilayahnya dan wilayah
sekitar, mengislamkan keluarganya, mengajak kakaknya masuk islam, mengajak
ibunya masuk islam, subhanallah.
Bayangan bayangan itu benar benar mengiris hati saya.. terlintas dihati
untuk meninggalkan Jakarta dan berdakwah di Papua, biarlah saya mati dibunuh
dalam dakwah dan terkubur tanpa dikenali orang dimana kubur saya, duh..
betapa habib muda yang syahid itu dimanjakan dan dicintai Allah..
duh.. betapa mulianya anak anak muda cilik itu yang menjadi kesayangan Rasul
saw kelak karena baktinya pada Nabi Muhammad saw, mereka mengajarkan shalat,
mereka mengajar ngaji, menyebar maulid dhiya ullami, mereka mengibarkan
bendera Majelis Rasulullah saw, memasang umbul umbul Majelis Rasulullah saw
di wilayah wilayah mereka.., subhanallah.
meriang, setiba di Manokwari kami langsung beristirahat di kediaman Bpk Hj
Shohib, dan bermalam..
ImageJumat 10 Oktober 2008, Pelukan terakhir perpisahan dengan KH Ahmad
Baihaqi dan beberapa penduduk Ransiki sangat mengharukan.
ingin melepas pelukan KH Ahmad Baihaqi, dia akan terus berjuang lagi,
sebagaimana saya datang ia sangat erat memeluk saya, dan firasat saya bahwa
ia sudah melewati masa masa berat, dan ternyata benar, dan kini ia harus
kembali berjuang sendiri, kami harus meninggalkannya, saya sangat tidak tega
dan berat meninggalkannya, saya terus memeluknya dan saya tak bisa menahan
tangis, dan iapun menangis keras.., saya mulai merasa goncangan dahsyat
dihati, saya harus melepas pelukan ini dan pergi, hati saya benar benar pilu
dan pandangan mulai pudar, saya risau jika saya teruskan maka saya akan
jatuh pingsan, maka saya melepas pelukannya dan berbalik.. berjalan ke
pesawat dan tak berani membalikkan tubuh untuk memandangnya lagi.. saya
tidak kuat melihat pemuda mulia itu tegak sendiri memandang kepergian kami..
ia akan terus berjuang sendiri hingga 23 oktober 2008 mendatang, ia akan
kembali ke Jakarta bersama santri santri Ransiki..
Saya duduk di kursi pesawat., saya tulis akhir dari laporan ini, selamat
tinggal Bintuni, selamat Tinggal Ransiki, selamat tinggal Musholla siwi,
selamat tinggal para pejuang dakwah, selamat tinggal para muallaf yang terus
berjuang ditengah panasnya cuaca hutan tropis. selamat tinggal Manokwari,
wahai Manokwari.. kau digelari kota Injil. betapa mencekik gelarmu..,
Rabbiy hujani Papua dengan Hujan Hidayah, bangkitkan kemuliaan muslimin,
menegakkan kedamaian dan keimanan di wilayah mereka, tumbuhkan generasi muda
mudi yang mencintai Rasulullah saw, cabut keinginan mereka untuk menyembah
selain My Rabbiy. hujani mereka dengan keberkahan dan kemakmuran, singkirkan
tangan tangan kuffar yang terus meracuni akidah mereka..
Saya membatalkan keinginan untuk tinggal di Papua, karena jika saya wafat
disana maka perkembangan ini akan terhambat pula, biarlah saya di Jakarta,
namun kami akan menyiapkan santri santri dan muda mudi yang akan menjadi
laskar Muhammad saw di wilayah mereka, kini pun sebagian dari mereka telah
berpencar ke wilayah wilayah sekitar mereka, memimpin shalat, mengajarkan
Iman, mengajak kepada Islam, dan kita akan terus menyatukan barisan dan
memperkuatnya hingga Manokwari bukan lagi bernama Manokwari kota Injil, tapi
Irian Barat wilayah Sayyidina Muhammad saw.. amiin..
pesawat kami mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pada
Jumat Petang pk 20.00 wib.
<http://www.majelisr
24> Klik disini untuk melihat Galery Perjalan Dakwah Majelis Rasulullah ke
Wilayah Manokwari.
**Dapatkan vcd perjalanan dakwah Majelis Rasulullah saw di Manokwari,
dilengkapi kunjungan ke wilayah wilayah Ransiki, Bintuni, dll, juga
perjalanan yg penuh hambatan dan jalanan berlumpur.
[Non-text portions of this message have been removed]
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar