Messages In This Digest (25 Messages)
- 1a.
- Re: teori relativitas From: Suharyo Sumowidagdo
- 1b.
- Re: teori relativitas From: arifianto keren
- 1c.
- Re: teori relativitas From: Suharyo Sumowidagdo
- 1d.
- Re: teori relativitas From: Muhammad Hikam
- 1e.
- Re: teori relativitas From: yyoorrggaa
- 1f.
- Re: teori relativitas From: bustanus salatin
- 1g.
- Re: teori relativitas From: Eka Subyantara
- 1h.
- Re: teori relativitas From: zxabidin
- 1i.
- Re: teori relativitas From: yyoorrggaa
- 1j.
- Re: teori relativitas From: Suharyo Sumowidagdo
- 1k.
- Re: teori relativitas From: JIPI Hari
- 1l.
- Re: teori relativitas From: zxabidin
- 1m.
- Re: teori relativitas From: Suharyo Sumowidagdo
- 2a.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Asis Pattisahusiwa
- 2b.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Suharyo Sumowidagdo
- 2c.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Asis Pattisahusiwa
- 2d.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Suharyo Sumowidagdo
- 2e.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Asis Pattisahusiwa
- 2f.
- Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA From: Haryo Sumowidagdo
- 3a.
- Re: Pendaratan di bulan, benarkah ? From: Asis Pattisahusiwa
- 3b.
- Re: Pendaratan di bulan, benarkah ? From: yyoorrggaa
- 4.
- Re: [astronomi_indonesia] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ? From: Tri Laksmana
- 5.
- Re: [indonesia] Re: Batas kecepatan dalam relativitas--ciptaan perta From: yorga effendi
- 6.
- MOHON BANTUANNYA.. From: h3py08
- 7.
- Bls: [FISIKA] teori relativitas From: Mariano Nathanael
Messages
- 1a.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Wed Nov 5, 2008 10:10 pm (PST)
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Muhammad Hikam"com
<m.hikam@...> wrote:
>
> Mas Haryo,
>
> Apa bener secara konstruksi hukum-hukum fisika tidak bergantung pada
> pengamat?
> Bagaimana dengan hasil eksperimen double-slit yang amat tergantung
pada cara
> mengamati?
Pak Hikam ...
Hasil eksperimen/pengamatannya _berbeda_.
Hukum fisika yang memprediksi hasil eksperimennya _sama_.
Analognya (meski tidak pas) mirip dengan orang melihat matahari dari
Banda Aceh dan dari Jayapura. Tinggi matahari di atas horizon berbeda,
tapi semuanya bisa dimengerti dan dijelaskan dari geometri optik.
> Memang secara konstruksi siapa pun yang mengamati asalkan cara
mengamatinya
> sama maka hasilnya akan sama. Kalau tidak ada yang mengamati? Apa
ada hukum
> Fisika? :-)
Masalahnya .. kalau tidak ada yang mengamati .. maka tidak ada yang
perlu dibicarakan. Ini jatuh ke diskusi filosofis, seperti yang
Handhika tulis itu. Saya saat ini belum berminat menjadi filsuf, jadi
tidak bisa komentar.
Haryo
- 1b.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "arifianto keren" arifianto_ipb@yahoo.com arifianto_ipb
Wed Nov 5, 2008 11:37 pm (PST)
Hemat saya jika memang tidak ada yang sanggup untuk mengamati suatu fenomena maka tidak akan ada yang mempermasalahkan fenomena tersebut. mungkin fenomena tersebut betul-betul terjadi tapi karena kita tidak memiliki alat (indera) untuk mengamatinya maka siapa yang tahu.
Bagaimana kalo pertanyaannya dibalik. bagaimana jika manusia memiliki alat indera tambahan? misalnya dapat "melihat" dimensi ke-5 atau lebih, maka pastinya pandangan kita terhadap dunia akan benar-benar berbeda.
misalnya saja ada seseorang yang memiliki jumlah indera lebih dari anda mengatakan di hadapan anda ada sebuah makhluk yang sedang memukuli anda dengan keras, sedangkan anda tidak dapat melihat, mendengar atau merasakan kehadiran "makhluk" tersebut. apakah anda percaya? sedangkan orang tersebut dapat melihatnya dengan jelas karena kelebihan inderanya tersebut?
Regards,
Arifianto
Science Depatment
BINUSSCHOOLSimprug
Jl. Sultan Iskandar Muda Kav G-8
Simprug JAKARTA SELATAN 12220 INDONESIA
Phone:62 21 724 3663 Ext: 4805
Fax: 62 21 7278 3939
http://www.binus-school.net
_____________________ _________ __
From: Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. >edu
To: fisika_indonesia@yahoogroups. com
Sent: Thursday, November 6, 2008 1:10:58 PM
Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas
--- In fisika_indonesia@ yahoogroups. com, "Muhammad Hikam"
<m.hikam@... > wrote:
>
> Mas Haryo,
>
> Apa bener secara konstruksi hukum-hukum fisika tidak bergantung pada
> pengamat?
> Bagaimana dengan hasil eksperimen double-slit yang amat tergantung
pada cara
> mengamati?
Pak Hikam ...
Hasil eksperimen/pengamat annya _berbeda_.
Hukum fisika yang memprediksi hasil eksperimennya _sama_.
Analognya (meski tidak pas) mirip dengan orang melihat matahari dari
Banda Aceh dan dari Jayapura. Tinggi matahari di atas horizon berbeda,
tapi semuanya bisa dimengerti dan dijelaskan dari geometri optik.
> Memang secara konstruksi siapa pun yang mengamati asalkan cara
mengamatinya
> sama maka hasilnya akan sama. Kalau tidak ada yang mengamati? Apa
ada hukum
> Fisika? :-)
Masalahnya .. kalau tidak ada yang mengamati .. maka tidak ada yang
perlu dibicarakan. Ini jatuh ke diskusi filosofis, seperti yang
Handhika tulis itu. Saya saat ini belum berminat menjadi filsuf, jadi
tidak bisa komentar.
Haryo
- 1c.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Wed Nov 5, 2008 11:53 pm (PST)
Kelihatannya dalam konteks diskusi semacam ini, definisi 'indera'
harus diperluas untuk juga mencakup alat-alat eksperimen yang bisa
mengubah sinyal yang tidak kasat mata menjadi sinyal yang bisa dilihat
indra manusia dan diolah.
Tentang dimensi ekstra, sebenarnya ada beberapa metode eksperimen
untuk melihat apakah ada dimensi ekstra tersebut.
1. Konsistensi potensial 1/r gravitasi Newton. Penyimpangan dari 1/r
yang signifikan menunjukkan adanya dimensi ekstra. Ada beberapa
eksperimen yang mencoba mengecek hukum Newton menggunakan neutron
dingin (cold neutron) hingga skala sub-milimeter.
2. Dalam konteks eksperimen semacam di Tevatron atau LHC, sinyal
eksperimen yang sangat kentara adalah produksi sebuah partikel tanpa
ada partikel lain untuk mengimbangi momentum partikel tersebut. Contoh:
proton + antiproton -> F + G, dimana F adalah partikel yang kita kenal
sehari-hari (misalnya foton/cahaya) dan G adalah graviton (kuanta
medan gravitasi). Dalam beberapa model, G menghilang ke dimensi
ekstra di luar dimensi 4 kita (ke-5, -6, ...). Jadi F hanya dilihat
sendirian.
Hukumm kekekalan momentum mengharuskan momentum F + G = 0. Hanya kalau
G bisa masuk ke dimensi ekstra, maka kelihatannnya F melanggar hukum
kekekalan momentum. Padahal sebenarnya ini mengindikasikan adanya
dimensi ekstra.
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , arifianto kerencom
<arifianto_ipb@...> wrote:
>
> Hemat saya jika memang tidak ada yang sanggup untuk mengamati suatu
fenomena maka tidak akan ada yang mempermasalahkan fenomena tersebut.
mungkin fenomena tersebut betul-betul terjadi tapi karena kita tidak
memiliki alat (indera) untuk mengamatinya maka siapa yang tahu.
>
> Bagaimana kalo pertanyaannya dibalik. bagaimana jika manusia
memiliki alat indera tambahan? misalnya dapat "melihat" dimensi ke-5
atau lebih, maka pastinya pandangan kita terhadap dunia akan
benar-benar berbeda.
>
> misalnya saja ada seseorang yang memiliki jumlah indera lebih dari
anda mengatakan di hadapan anda ada sebuah makhluk yang sedang
memukuli anda dengan keras, sedangkan anda tidak dapat melihat,
mendengar atau merasakan kehadiran "makhluk" tersebut. apakah anda
percaya? sedangkan orang tersebut dapat melihatnya dengan jelas karena
kelebihan inderanya tersebut?
>
> Regards,
>
> Arifianto
> Science Depatment
> BINUSSCHOOLSimprug
> Jl. Sultan Iskandar Muda Kav G-8
> Simprug JAKARTA SELATAN 12220 INDONESIA
> Phone:62 21 724 3663 Ext: 4805
> Fax: 62 21 7278 3939
> http://www.binus-school.net
>
>
>
>
> _____________________ _________ __
> From: Suharyo Sumowidagdo <sss5946@...>
> To: fisika_indonesia@yahoogroups. com
> Sent: Thursday, November 6, 2008 1:10:58 PM
> Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas
>
>
> --- In fisika_indonesia@ yahoogroups. com, "Muhammad Hikam"
> <m.hikam@ > wrote:
> >
> > Mas Haryo,
> >
> > Apa bener secara konstruksi hukum-hukum fisika tidak bergantung pada
> > pengamat?
> > Bagaimana dengan hasil eksperimen double-slit yang amat tergantung
> pada cara
> > mengamati?
>
> Pak Hikam ...
>
> Hasil eksperimen/pengamat annya _berbeda_.
> Hukum fisika yang memprediksi hasil eksperimennya _sama_.
>
> Analognya (meski tidak pas) mirip dengan orang melihat matahari dari
> Banda Aceh dan dari Jayapura. Tinggi matahari di atas horizon berbeda,
> tapi semuanya bisa dimengerti dan dijelaskan dari geometri optik.
>
> > Memang secara konstruksi siapa pun yang mengamati asalkan cara
> mengamatinya
> > sama maka hasilnya akan sama. Kalau tidak ada yang mengamati? Apa
> ada hukum
> > Fisika? :-)
>
> Masalahnya .. kalau tidak ada yang mengamati .. maka tidak ada yang
> perlu dibicarakan. Ini jatuh ke diskusi filosofis, seperti yang
> Handhika tulis itu. Saya saat ini belum berminat menjadi filsuf, jadi
> tidak bisa komentar.
>
> Haryo
>
- 1d.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Muhammad Hikam" m.hikam@gmail.com hikam2003
Thu Nov 6, 2008 12:15 am (PST)
Mas Haryo,
Termasuk dalam jenis indra adalah "indra pemikiran" atau "indra kesadaran".
Mereka yang sudah terbiasa dengan school of thought adanya dimensi ekstra
tentu dengan mudah menyadari adanya dimensi ekstra tersebut, dan dalam
konstruksi eksperimen dapat disusun untuk suatu pembuktian. You get what
you are looking for. Sampai saat ini saya masih kesulitan untuk mencari
pengamat yang obyektif.
Bagaimana pun, tidak mungkin memisahkan Fisika dan Filsafat, at this level.
On Thu, Nov 6, 2008 at 2:53 PM, Suharyo Sumowidagdo <
sss5946@garnet.acns.fsu. > wrote:edu
>
> Kelihatannya dalam konteks diskusi semacam ini, definisi 'indera'
> harus diperluas untuk juga mencakup alat-alat eksperimen yang bisa
> mengubah sinyal yang tidak kasat mata menjadi sinyal yang bisa dilihat
> indra manusia dan diolah.
>
> Tentang dimensi ekstra, sebenarnya ada beberapa metode eksperimen
> untuk melihat apakah ada dimensi ekstra tersebut.
>
> 1. Konsistensi potensial 1/r gravitasi Newton. Penyimpangan dari 1/r
> yang signifikan menunjukkan adanya dimensi ekstra. Ada beberapa
> eksperimen yang mencoba mengecek hukum Newton menggunakan neutron
> dingin (cold neutron) hingga skala sub-milimeter.
>
> 2. Dalam konteks eksperimen semacam di Tevatron atau LHC, sinyal
> eksperimen yang sangat kentara adalah produksi sebuah partikel tanpa
> ada partikel lain untuk mengimbangi momentum partikel tersebut. Contoh:
>
> proton + antiproton -> F + G, dimana F adalah partikel yang kita kenal
> sehari-hari (misalnya foton/cahaya) dan G adalah graviton (kuanta
> medan gravitasi). Dalam beberapa model, G menghilang ke dimensi
> ekstra di luar dimensi 4 kita (ke-5, -6, ...). Jadi F hanya dilihat
> sendirian.
>
> Hukumm kekekalan momentum mengharuskan momentum F + G = 0. Hanya kalau
> G bisa masuk ke dimensi ekstra, maka kelihatannnya F melanggar hukum
> kekekalan momentum. Padahal sebenarnya ini mengindikasikan adanya
> dimensi ekstra.
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups. <fisika_indonesia%com 40yahoogroups. com>,
> arifianto keren
>
> <arifianto_ipb@...> wrote:
> >
> > Hemat saya jika memang tidak ada yang sanggup untuk mengamati suatu
> fenomena maka tidak akan ada yang mempermasalahkan fenomena tersebut.
> mungkin fenomena tersebut betul-betul terjadi tapi karena kita tidak
> memiliki alat (indera) untuk mengamatinya maka siapa yang tahu.
> >
> > Bagaimana kalo pertanyaannya dibalik. bagaimana jika manusia
> memiliki alat indera tambahan? misalnya dapat "melihat" dimensi ke-5
> atau lebih, maka pastinya pandangan kita terhadap dunia akan
> benar-benar berbeda.
> >
> > misalnya saja ada seseorang yang memiliki jumlah indera lebih dari
> anda mengatakan di hadapan anda ada sebuah makhluk yang sedang
> memukuli anda dengan keras, sedangkan anda tidak dapat melihat,
> mendengar atau merasakan kehadiran "makhluk" tersebut. apakah anda
> percaya? sedangkan orang tersebut dapat melihatnya dengan jelas karena
> kelebihan inderanya tersebut?
> >
> > Regards,
> >
> > Arifianto
> > Science Depatment
> > BINUSSCHOOLSimprug
> > Jl. Sultan Iskandar Muda Kav G-8
> > Simprug JAKARTA SELATAN 12220 INDONESIA
> > Phone:62 21 724 3663 Ext: 4805
> > Fax: 62 21 7278 3939
> > http://www.binus-school.net
> >
> >
> >
> >
> > _____________________ _________ __
> > From: Suharyo Sumowidagdo <sss5946@...>
>
> > To: fisika_indonesia@yahoogroups. <fisika_indonesia%com 40yahoogroups. com>
> > Sent: Thursday, November 6, 2008 1:10:58 PM
> > Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas
> >
> >
> > --- In fisika_indonesia@ yahoogroups. com, "Muhammad Hikam"
> > <m.hikam@ > wrote:
> > >
> > > Mas Haryo,
> > >
> > > Apa bener secara konstruksi hukum-hukum fisika tidak bergantung pada
> > > pengamat?
> > > Bagaimana dengan hasil eksperimen double-slit yang amat tergantung
> > pada cara
> > > mengamati?
> >
> > Pak Hikam ...
> >
> > Hasil eksperimen/pengamat annya _berbeda_.
> > Hukum fisika yang memprediksi hasil eksperimennya _sama_.
> >
> > Analognya (meski tidak pas) mirip dengan orang melihat matahari dari
> > Banda Aceh dan dari Jayapura. Tinggi matahari di atas horizon berbeda,
> > tapi semuanya bisa dimengerti dan dijelaskan dari geometri optik.
> >
> > > Memang secara konstruksi siapa pun yang mengamati asalkan cara
> > mengamatinya
> > > sama maka hasilnya akan sama. Kalau tidak ada yang mengamati? Apa
> > ada hukum
> > > Fisika? :-)
> >
> > Masalahnya .. kalau tidak ada yang mengamati .. maka tidak ada yang
> > perlu dibicarakan. Ini jatuh ke diskusi filosofis, seperti yang
> > Handhika tulis itu. Saya saat ini belum berminat menjadi filsuf, jadi
> > tidak bisa komentar.
> >
> > Haryo
> >
>
>
>
- 1e.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "yyoorrggaa" yyoorrggaa@yahoo.com yyoorrggaa
Thu Nov 6, 2008 8:32 am (PST)
Buat aq, pertanyaan tsb sangat menarik karena implikasi dari
pertanyaan ini adalah : apakah postulat einstein (bahwa kecepatan
maksimum di alam semesta adalah kecepatan cahaya) itu benar?
jangan-jangan postulat itu muncul hanya karena keterbatasan indra
kita belaka... Yaitu "hanya" karena Tuhan tidak mendesainkan bagi
kita indra untuk mendeteksi gelombang yang lebih cepat dari C.
Ok coba kita telaah lebih lanjut.
Teori relativitas einstein diturunkan dengan mempostulatkan
kecepatan cahaya sebagai kecepatan maksimum yang mungkin ada. Karena
kita mengindra sesuatu dengan perantaraan gel cahaya, maka jika kita
bergerak mendekati c, gerakan yang diindra akan melambat. disisi
lain, harus kita sadari kalau "waktu" sebenarnya adalah ilusi yang
timbul akibat pengamatan momen-momen siklik.
jika momen2 tersebut terjadi lebih lambat, maka "waktu" akan
melambat. Nah kalau batas kecepatan relatif teratas adalah
kecepatan suara, maka itulah "visi" terjauh manusia. sehingga
nampaknya kalau terbit teori relativitas lain, maka nilai c disana
adalah kecepatan suara.
hmmm, kemungkinan yang menarik :)
walau nanti akan ada masalah dengan kesetaraan massa energi yang
terkait c^2.
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Haryo Sumowidagdo"com
<haryo@...> wrote:
>
>
> Jawaban saya:
>
> 1. Hukum-hukum fisika tidak akan berubah jika manusia tidak
memiliki
> indera mata. Jika seluruh manusia yang ada sekarang menjadi
> buta/tuli/bisu, bahkan jika seluruh manusia punah, hukum-hukum
fisika
> tetap tidak berubah. Alasannya: karena secara konstruksi, hukum-
hukum
> fisika tersebut tidak bergantung dari pengamatnya siapa.
>
> 2. Kalau yang dimaksud 'relativitas' ini adalah teori yang
> dikonstruksi seperti special relativity
> (gantikan c dengan s, dimana s adalah kecepatan suara) saya tetap
> berpendapat teori serupa tidak bisa dikontruksi (meski dicoba
> dikonstruksi dalam konteks terbatas).
>
> Kunci dari special relativity adalah: sifat absolut kecepatan
cahaya
> <-> sifat topologi 3+1 spacetime. Gelombang akustik tidak memiliki
> sifat seperti kecepatan cahaya. Sehingga orang tidak bisa
> mengkonstruksi sesuatu yang analog dengan Lorentz invariance di
> special relativity dengan kecepatan suara.
>
>
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@com >
> wrote:
> >
> > Temans pecinta fisika,
> >
> > ada pertanyaan yang sangat menarik dlm sebuah milis dr seorang
> > senior q. atas izin ybs, pertanyaannya aq share disini
> >
> > ===================== =
> > Dear rekan-rekan,
> >
> > Seandainya saja manusia tidak dikarunia indera mata, hanya
melihat
> > dan mendengar dengan telinga, apakah akan timbul teori
relativitas
> > dengan batas kecepatan relative teratas adalah kecepatan suara?
> > Sehingga kecepatan diatas kecepatan suara, secara relative tidak
> > didefinisikan, alias tidak relevan dalam kerangka pengamatan.
> >
> > Salam,
> > -yohan-
> > El'93
> > ===================== =
> >
> > Ada yg mau membahas? silaken tanggapi (Jarang2 lho ada
pertanyaan
> > bagus kayak gini) :D
> >
> > wassalam
> > Yorga
> >
>
- 1f.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "bustanus salatin" ki_ageng_jenar@yahoo.com ki_ageng_jenar
Thu Nov 6, 2008 8:34 am (PST)
dualitas cahaya sebgai foton tunduk dengan hukum max planck E=hf=hc/y,Energi,h=konstanta, c=kec cahaya,f=frekuensi
sebagai materi terkena hukum gravitasi newto yang sedang dibhas ini
--- On Thu, 11/6/08, Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. > wrote:edu
From: Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. >edu
Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas
To: fisika_indonesia@yahoogroups. com
Date: Thursday, November 6, 2008, 2:53 AM
Kelihatannya dalam konteks diskusi semacam ini, definisi 'indera'
harus diperluas untuk juga mencakup alat-alat eksperimen yang bisa
mengubah sinyal yang tidak kasat mata menjadi sinyal yang bisa dilihat
indra manusia dan diolah.
Tentang dimensi ekstra, sebenarnya ada beberapa metode eksperimen
untuk melihat apakah ada dimensi ekstra tersebut.
1. Konsistensi potensial 1/r gravitasi Newton. Penyimpangan dari 1/r
yang signifikan menunjukkan adanya dimensi ekstra. Ada beberapa
eksperimen yang mencoba mengecek hukum Newton menggunakan neutron
dingin (cold neutron) hingga skala sub-milimeter.
2. Dalam konteks eksperimen semacam di Tevatron atau LHC, sinyal
eksperimen yang sangat kentara adalah produksi sebuah partikel tanpa
ada partikel lain untuk mengimbangi momentum partikel tersebut. Contoh:
proton + antiproton -> F + G, dimana F adalah partikel yang kita kenal
sehari-hari (misalnya foton/cahaya) dan G adalah graviton (kuanta
medan gravitasi). Dalam beberapa model, G menghilang ke dimensi
ekstra di luar dimensi 4 kita (ke-5, -6, ...). Jadi F hanya dilihat
sendirian.
Hukumm kekekalan momentum mengharuskan momentum F + G = 0. Hanya kalau
G bisa masuk ke dimensi ekstra, maka kelihatannnya F melanggar hukum
kekekalan momentum. Padahal sebenarnya ini mengindikasikan adanya
dimensi ekstra.
--- In fisika_indonesia@ yahoogroups. com, arifianto keren
<arifianto_ipb@ ...> wrote:
>
> Hemat saya jika memang tidak ada yang sanggup untuk mengamati suatu
fenomena maka tidak akan ada yang mempermasalahkan fenomena tersebut.
mungkin fenomena tersebut betul-betul terjadi tapi karena kita tidak
memiliki alat (indera) untuk mengamatinya maka siapa yang tahu.
>
> Bagaimana kalo pertanyaannya dibalik. bagaimana jika manusia
memiliki alat indera tambahan? misalnya dapat "melihat" dimensi ke-5
atau lebih, maka pastinya pandangan kita terhadap dunia akan
benar-benar berbeda.
>
> misalnya saja ada seseorang yang memiliki jumlah indera lebih dari
anda mengatakan di hadapan anda ada sebuah makhluk yang sedang
memukuli anda dengan keras, sedangkan anda tidak dapat melihat,
mendengar atau merasakan kehadiran "makhluk" tersebut. apakah anda
percaya? sedangkan orang tersebut dapat melihatnya dengan jelas karena
kelebihan inderanya tersebut?
>
> Regards,
>
> Arifianto
> Science Depatment
> BINUSSCHOOLSimprug
> Jl. Sultan Iskandar Muda Kav G-8
> Simprug JAKARTA SELATAN 12220 INDONESIA
> Phone:62 21 724 3663 Ext: 4805
> Fax: 62 21 7278 3939
> http://www.binus- school.net
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ __
> From: Suharyo Sumowidagdo <sss5946@... >
> To: fisika_indonesia@ yahoogroups. com
> Sent: Thursday, November 6, 2008 1:10:58 PM
> Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas
>
>
> --- In fisika_indonesia@ yahoogroups. com, "Muhammad Hikam"
> <m.hikam@ > wrote:
> >
> > Mas Haryo,
> >
> > Apa bener secara konstruksi hukum-hukum fisika tidak bergantung pada
> > pengamat?
> > Bagaimana dengan hasil eksperimen double-slit yang amat tergantung
> pada cara
> > mengamati?
>
> Pak Hikam ...
>
> Hasil eksperimen/pengamat annya _berbeda_.
> Hukum fisika yang memprediksi hasil eksperimennya _sama_.
>
> Analognya (meski tidak pas) mirip dengan orang melihat matahari dari
> Banda Aceh dan dari Jayapura. Tinggi matahari di atas horizon berbeda,
> tapi semuanya bisa dimengerti dan dijelaskan dari geometri optik.
>
> > Memang secara konstruksi siapa pun yang mengamati asalkan cara
> mengamatinya
> > sama maka hasilnya akan sama. Kalau tidak ada yang mengamati? Apa
> ada hukum
> > Fisika? :-)
>
> Masalahnya .. kalau tidak ada yang mengamati .. maka tidak ada yang
> perlu dibicarakan. Ini jatuh ke diskusi filosofis, seperti yang
> Handhika tulis itu. Saya saat ini belum berminat menjadi filsuf, jadi
> tidak bisa komentar.
>
> Haryo
>
- 1g.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Eka Subyantara" eka.subyantara@widyatama.ac.id eka_subyantara
Thu Nov 6, 2008 8:34 am (PST)
Bapak-bapak dan ibu-ibu mungkin pernah melihat foto-foto galaksi Bima Sakti
yang diambil menggunakan kamera dengan kepekaan film yang berbeda-beda, ada
yang peka terhadap cahaa tampak, cahaya infra merah, dan ultra violet, juga
terhadap rentang spektrum yang lain.
Hasilnya??? mudah ditebak, semua foto-foto yang dihasilkan berbeda-beda
hasilnya. Tapi justru dari foto-foto yang berbeda tersebut diperoleh
pemahaman yang lebih baik terhadap APA dan BAGAIMANA keadaan galaksi Bima
Sakti tersebut.
Kesimpulan: Cara pandang terhadap satu masalah akan lebih baik jika
dilengkapi dengan sudut pandang yang berbeda.
Tapi saya setuju, diamati atau tidak, dengan film yang berbeda-beda
kepekaannya atau bahkan tidak difoto, galaksi Bima Sakti tetap ADA DI
TEMPATNYA.
EntahNyanbungAtauTidakYangPentingIn ginBerbagiFikira n
- eka -
2008/11/6 Muhammad Hikam <m.hikam@gmail.com >
>
> Mas Haryo,
>
> Termasuk dalam jenis indra adalah "indra pemikiran" atau "indra
> kesadaran". Mereka yang sudah terbiasa dengan school of thought adanya
> dimensi ekstra tentu dengan mudah menyadari adanya dimensi ekstra tersebut,
> dan dalam konstruksi eksperimen dapat disusun untuk suatu pembuktian. You
> get what you are looking for. Sampai saat ini saya masih kesulitan untuk
> mencari pengamat yang obyektif.
>
> Bagaimana pun, tidak mungkin memisahkan Fisika dan Filsafat, at this level.
>
>
>
- 1h.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "zxabidin" zxabidin@yahoo.com zxabidin
Thu Nov 6, 2008 8:35 am (PST)
Tanpa indera mata, dapat dibuat suatu eksperimen untuk menguji teori
relativitas. Sepengetahuan saya eksperimen2 yg ada sekarang tidak pake
melihat langsung. Dapat dibuat berupa suara "klik" pada detektor.
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@com ...>
wrote:
>
> Temans pecinta fisika,
>
> ada pertanyaan yang sangat menarik dlm sebuah milis dr seorang
> senior q. atas izin ybs, pertanyaannya aq share disini
>
> ===================== =
> Dear rekan-rekan,
>
> Seandainya saja manusia tidak dikarunia indera mata, hanya melihat
> dan mendengar dengan telinga, apakah akan timbul teori relativitas
> dengan batas kecepatan relative teratas adalah kecepatan suara?
> Sehingga kecepatan diatas kecepatan suara, secara relative tidak
> didefinisikan, alias tidak relevan dalam kerangka pengamatan.
>
> Salam,
> -yohan-
> El'93
> ===================== =
>
> Ada yg mau membahas? silaken tanggapi (Jarang2 lho ada pertanyaan
> bagus kayak gini) :D
>
> wassalam
> Yorga
>
- 1i.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "yyoorrggaa" yyoorrggaa@yahoo.com yyoorrggaa
Thu Nov 6, 2008 8:36 am (PST)
Saya pikir begini
Realitas fisis keberadaannya tidaklah bergantung pada pengamat. ada
atau tidaknya pengamat tidak mempengaruhi ada-tidaknya "sesuatu
disana". Minyak di perut bumi tetap ada disana walau pun tidak ada
seorangpun yang tahu. hanya saja selama tidak ada seseorang yang
menemukannya, maka tidak ada yang akan mengenalnya.
Ini seperti energi yang terperangkap dalam materi. Hingga Einstein
menyatakannya dengan E=mc2 tidak ada seorang pun yang menyadari
kalau ada energi yang begitu besar dalam setiap gram materi. lalu
sampai kemudian Einstein menemukannya, apakah energi itu tidak ada?
kayaknya nggak gitu deh.
Disini posisi pengamat adalah untuk "menemukan" yang sebelumnya
tersembunyi.
Best regards,
Yorga
PS:
Jadi teringat sebuah hadits Qudsi. 4WI swt bersabda.
"AKU adalah khazanah tersembunyi, AKU suka (uhibbu) untuk dikenal,
maka AKU ciptakan makhluk"
Maaf pak Haryo, kalau jd agak masuk zona filsafat. Tetapi bukankah
mulanya fisika pun dimulai dari filsafat? ;)
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , handhika ramadhancom
<isaacnewtonid@...> wrote:
>
> hmm......
> David Hume (atau Bishop Berkeley?) pernah mengajukan pertanyaan
filosofis yg menarik:
> "Apakah bulan akan tetap berada di situ (eksis) seandainya tidak
kita amati? seandainya tidak ada satu orang manusia pun yg
mengamati?"
>
> Apakah eksistensi bergantung pada kesadaran?
>
> Apakah spin elektron terdefinisi sebelum ada pengukuran?
>
> hmm....
>
> HR
>
- 1j.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Thu Nov 6, 2008 12:37 pm (PST)
Memang tidak mungkin memisahkan fisika dan filsafat pada level ini.
Namun saya berpendapat bahwa pemikiran semacam ini efeknya hampir
tidak ada pada cara fisikawan bekerja. Cara kerja fisikawan selama
50-100-200 tahun terakhir belum banyak berubah. Bangun teori, buat
prediksi, uji dengan eksperimen, dan balik lagi.
Saya memang tidak membaca hal-hal filosofis semacam ini karena fokus
saya lebih kepada bagaimana saya bisa bekerja sebagaimana layaknya
fisikawan yang saya tahu dan lihat di sekeliling saya. Kalaupun suatu
waktu nanti ada kemajuan/pergantian paradigma di bidang ini, saya ragu
apakah cara kerja saya akan berubah drastis. Saat ini bagi saya
hal-hal filosofis terpaksa dikesampingkan dulu sebagai 'food for
thought' namun saya sebagai fisikawan profesional harus fokus dan
memproduksi riset sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan dan komunitas
saya. Memang 'gruesome' dan 'dirty', tapi itulah realita riset
sebenarnya (realita yang sering disembunyikan di depan pada calon
fisikawan muda kita :-).
Memang kesannya jadi pragmatis dan practical, tapi ini pilihan saya.
Jadi kalau mengutip dari kata-kata (pak Darmadi ?) dulu: What ? How
? Why ? Saya masih pada taraf How ?, bagaimana melakukan sesuatu dan
berusaha menjadi pelaku. Setelah menjadi pelaku yang baik, baru kalau
ada waktu berpikir 'Why ?'.
Haryo
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Muhammad Hikam"com
<m.hikam@...> wrote:
>
> Mas Haryo,
>
> Termasuk dalam jenis indra adalah "indra pemikiran" atau "indra
kesadaran".
> Mereka yang sudah terbiasa dengan school of thought adanya dimensi
ekstra
> tentu dengan mudah menyadari adanya dimensi ekstra tersebut, dan dalam
> konstruksi eksperimen dapat disusun untuk suatu pembuktian. You get
what
> you are looking for. Sampai saat ini saya masih kesulitan untuk mencari
> pengamat yang obyektif.
>
> Bagaimana pun, tidak mungkin memisahkan Fisika dan Filsafat, at this
level.
- 1k.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "JIPI Hari" kajipi@gmail.com phys_tea
Thu Nov 6, 2008 3:51 pm (PST)
Bro Haryo...
Hidup ini singkat teman...., namanya belajar tidak perlu menunggu dulu
sampe menjadi "pelaku" yang baik.
kayaknya dulu waktu kuliah pernah ada kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan
deh ..2 SKS mmh lupa ... dosennya.. Pak Parangtopo Alm , Pak Na atau
pak da Silva ...sekarang masih ada di silabus gak ya ?
--
Salam
[H,J]=-ipi
"Bukan Fisikawan Profesional - apa sama dengan bukan Fisikawan ?"
2008/11/7 Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. >edu
>
> Memang kesannya jadi pragmatis dan practical, tapi ini pilihan saya.
> Jadi kalau mengutip dari kata-kata (pak Darmadi ?) dulu: What ? How
> ? Why ? Saya masih pada taraf How ?, bagaimana melakukan sesuatu dan
> berusaha menjadi pelaku. Setelah menjadi pelaku yang baik, baru kalau
> ada waktu berpikir 'Why ?'.
>
> Haryo
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Muhammad Hikam"com
> <m.hikam@...> wrote:
> >
> > Mas Haryo,
> >
> > Termasuk dalam jenis indra adalah "indra pemikiran" atau "indra
> kesadaran".
> > Mereka yang sudah terbiasa dengan school of thought adanya dimensi
> ekstra
> > tentu dengan mudah menyadari adanya dimensi ekstra tersebut, dan dalam
> > konstruksi eksperimen dapat disusun untuk suatu pembuktian. You get
> what
> > you are looking for. Sampai saat ini saya masih kesulitan untuk mencari
> > pengamat yang obyektif.
> >
> > Bagaimana pun, tidak mungkin memisahkan Fisika dan Filsafat, at this
> level.
>
>
- 1l.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "zxabidin" zxabidin@yahoo.com zxabidin
Thu Nov 6, 2008 3:52 pm (PST)
Tidak sependapat sama sekali.
Postulat Einstein sama sekali tidak bergantung apakah manusia bisa
melihat atau tidak. Tidak bergantung seberapa cepat respon sensor
tubuh manusia.
Misalnya semua manusia buta. Meskipun begitu, seandainya peradaban
tetap berkembang. Manusia bisa membuat akselerator, roket, dan
komputer. (Dijamin susah)
Output data dari akseleratornya berupa huruf braille. Eksperimennya
dijalankan lalu ditinggalkan. Besoknya datang lagi baca huruf braille
nya. Percayalah setelah dibaca dan dihitung disimpulkan bahwa waktu
decay muon berenergi tertentu sepakat dengan postulatnya einstein
dengan c adalah kecepatan cahaya.
Kirim roket keluar angkasa. Bumi dan roket saling mengirim sinyal.
Bumi mengirim sinyal setiap 1 jam. Di roket ada detektor, setiap kali
menerima sinyal maka detektor akan trigger alat pencubit yang mencubit
manusia yg ada di roket. Percayalah frekuensi cubitan juga akan
sepakat dengan teori relativitas dengan c adalah kecepatan cahaya.
Bumi dan roket punya jam atom yang akan mencubit manusia setiap menit.
Cara cubitnya dibuat beda dengan cubitan detektor cahaya supaya
ketahuan bedanya.
Meskipun manusia adalah "dumb-creature" yang sistem sarafnya lambat
membutuhkan waktu lama utk mengirim sinyal dari lokasi cubitan ke
otak, kesimpulannya tetap sama.
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@com ...>
wrote:
>
> Buat aq, pertanyaan tsb sangat menarik karena implikasi dari
> pertanyaan ini adalah : apakah postulat einstein (bahwa kecepatan
> maksimum di alam semesta adalah kecepatan cahaya) itu benar?
>
> jangan-jangan postulat itu muncul hanya karena keterbatasan indra
> kita belaka... Yaitu "hanya" karena Tuhan tidak mendesainkan bagi
> kita indra untuk mendeteksi gelombang yang lebih cepat dari C.
>
> Ok coba kita telaah lebih lanjut.
>
> Teori relativitas einstein diturunkan dengan mempostulatkan
> kecepatan cahaya sebagai kecepatan maksimum yang mungkin ada. Karena
> kita mengindra sesuatu dengan perantaraan gel cahaya, maka jika kita
> bergerak mendekati c, gerakan yang diindra akan melambat. disisi
> lain, harus kita sadari kalau "waktu" sebenarnya adalah ilusi yang
> timbul akibat pengamatan momen-momen siklik.
>
> jika momen2 tersebut terjadi lebih lambat, maka "waktu" akan
> melambat. Nah kalau batas kecepatan relatif teratas adalah
> kecepatan suara, maka itulah "visi" terjauh manusia. sehingga
> nampaknya kalau terbit teori relativitas lain, maka nilai c disana
> adalah kecepatan suara.
>
> hmmm, kemungkinan yang menarik :)
>
> walau nanti akan ada masalah dengan kesetaraan massa energi yang
> terkait c^2.
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Haryo Sumowidagdo"com
> <haryo@> wrote:
> >
> >
> > Jawaban saya:
> >
> > 1. Hukum-hukum fisika tidak akan berubah jika manusia tidak
> memiliki
> > indera mata. Jika seluruh manusia yang ada sekarang menjadi
> > buta/tuli/bisu, bahkan jika seluruh manusia punah, hukum-hukum
> fisika
> > tetap tidak berubah. Alasannya: karena secara konstruksi, hukum-
> hukum
> > fisika tersebut tidak bergantung dari pengamatnya siapa.
> >
> > 2. Kalau yang dimaksud 'relativitas' ini adalah teori yang
> > dikonstruksi seperti special relativity
> > (gantikan c dengan s, dimana s adalah kecepatan suara) saya tetap
> > berpendapat teori serupa tidak bisa dikontruksi (meski dicoba
> > dikonstruksi dalam konteks terbatas).
> >
> > Kunci dari special relativity adalah: sifat absolut kecepatan
> cahaya
> > <-> sifat topologi 3+1 spacetime. Gelombang akustik tidak
memiliki
> > sifat seperti kecepatan cahaya. Sehingga orang tidak bisa
> > mengkonstruksi sesuatu yang analog dengan Lorentz invariance di
> > special relativity dengan kecepatan suara.
> >
> >
> >
> > --- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "yyoorrggaa"com
<yyoorrggaa@>
> > wrote:
> > >
> > > Temans pecinta fisika,
> > >
> > > ada pertanyaan yang sangat menarik dlm sebuah milis dr seorang
> > > senior q. atas izin ybs, pertanyaannya aq share disini
> > >
> > > ===================== =
> > > Dear rekan-rekan,
> > >
> > > Seandainya saja manusia tidak dikarunia indera mata, hanya
> melihat
> > > dan mendengar dengan telinga, apakah akan timbul teori
> relativitas
> > > dengan batas kecepatan relative teratas adalah kecepatan suara?
> > > Sehingga kecepatan diatas kecepatan suara, secara relative tidak
> > > didefinisikan, alias tidak relevan dalam kerangka pengamatan.
> > >
> > > Salam,
> > > -yohan-
> > > El'93
> > > ===================== =
> > >
> > > Ada yg mau membahas? silaken tanggapi (Jarang2 lho ada
> pertanyaan
> > > bagus kayak gini) :D
> > >
> > > wassalam
> > > Yorga
> > >
> >
>
- 1m.
-
Re: teori relativitas
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Thu Nov 6, 2008 4:11 pm (PST)
Manusia kenyataanya tidak bisa melakukan segala-galanya, dan harusn
membuat pilihan. Pilihan saya adalah mengesampingkan segala diskusi
filosofi itu ke samping. Saya kira semua orang juga membuat pilihan:
ada yang memilih tidak menjadi fisikawan, ada yang memilih mempelajari
hal selain fisika seperti matematika atau filsafat atau teknik.
Selama ini pilihan tsb tidak pernah saya rasakan mengganggu atau
menghambat kerja atau karir fisika saya. Orang lain mungkin berpikir
berbeda, tapi mereka bukan saya.
Sekali lagi, ini masalah selera dan pilihan individu. Lepas dari soal
pilihan, saya mengamati sudah terlampau banyak orang di Indonesia yang
terlalu asyik dalam sisi filsafatnya dan melupakan fisikanya: tidak
mau bergulat dengan riset dalam aspek-aspek 'kotor'nya.
Pergulatan dengan hal-hal yang tampaknya tidak relevan dengan fisika:
stupid bug di program komputer dalam bahasa C (x = y atau x == y),
koneksi kabel yang kendor di komponen elektronik detektor, notasi
aljabar yang beda +/-, gimana mencari suplai tabung gas nitrogen atau
helium yang murah, gimana negosiasi dengan Departemen Pertahanan di AS
untuk minta uranium dari rudal nuklir, gimana ngatur komunikasi antara
orang Rusia dengan orang Cina dalam bahasa Inggris agar bisa
komunikasi, dll.
Jipi menyebut nama Parangtopo dan Na Peng Bo. Justru dua orang itu
menunjukkan sifat-sifat mau bekerja dan menyingsingkan lengan baju,
dan mengotori tangan mereka melakukan hal-hal 'gruesome', sebelum
masuk ke filsafat. Saya belum sampai seperti beliau dua orang yang
juga bisa berfilsafat, masih sampai tahapan menyingsingkan lengan baju
dan mengotori tangan saja. Jadi jalan saya masih panjang.
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "JIPI Hari" <kajipi@...> wrote:com
>
> Bro Haryo...
>
> Hidup ini singkat teman...., namanya belajar tidak perlu menunggu dulu
> sampe menjadi "pelaku" yang baik.
> kayaknya dulu waktu kuliah pernah ada kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan
> deh ..2 SKS mmh lupa ... dosennya.. Pak Parangtopo Alm , Pak Na atau
> pak da Silva ...sekarang masih ada di silabus gak ya ?
> --
> Salam
>
> [H,J]=-ipi
- 2a.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com aziz_physic04
Wed Nov 5, 2008 10:35 pm (PST)
2008/11/6 Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. >edu
>
> Condensed matter/material kelihatannya paling dekat dengan
> atomic/molecular/optical (AMO) physics. Sudah cek ke jurusan Kimia,
> apakah di jurusan Kimia ada riset molecular structure/molecular
> spectroscopy. Ini malah mungkin lebih dekat dengan AMO dibandingkan
> condensed matter.
>
> Setahu saya tidak banyak fisikawan AMO di Indonesia. Grup OEAL di UI
> banyak kerja di laser dan spektroskopi. Namun yang kerja di ultra
> cold atoms, Bose-Einstein condensates sedikit.
>
> Jangan lupa belajar mekanika kuantum lanjut, teori grup, dan segala
> macam teori orbital molecular, chemical bond, etc yah !
>
>
pak haryo, apa ini juga berlaku bagi yang ingin mengambil peminatan ke arah
> particle physics atau ke arah nanotechnology?
>
>
>
>
>
>
>
--
Asis Pattisahusiwa
Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
- 2b.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Wed Nov 5, 2008 10:44 pm (PST)
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Asis Pattisahusiwa"com
<asisphysic04@...> wrote:
> pak haryo, apa ini juga berlaku bagi yang ingin mengambil peminatan
ke arah
> > particle physics atau ke arah nanotechnology?
Particle physics theory: kalau niatnya ke fisika partikel teori, kalau
bisa masuk grup fisika partikel/nuklir juga di Indonesia. Di
Indonesia tidak ada grup eksperimen soalnya.
Particle physics experiment: Masuk instrumentasi atau condensed matter
experiment. Sebagian besar pekerjaan fisikawan partikel eksperimen
adalah mendesain instrumen, elektronik, interfacing, dan detektor radiasi.
Nanotechonology: Condensed matter.
Tolong diingat, bahwa kemanapun penjurusan, tidak akan gunanya kalau
pemahaman dasar-dasar fisika lemah. Dengan sendirinya kalau
dasar-dasar kuat, pindah peminatan atau konsentrasi setelah lulus
sarjana tidak akan sulit.
- 2c.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com aziz_physic04
Wed Nov 5, 2008 11:41 pm (PST)
Tolong diingat, bahwa kemanapun penjurusan, tidak akan gunanya kalau
> pemahaman dasar-dasar fisika lemah. Dengan sendirinya kalau
> dasar-dasar kuat, pindah peminatan atau konsentrasi setelah lulus
> sarjana tidak akan sulit.
>
>
>
>
>
dari pengalaman bapak, pemahaman di mata kuliah apa yang sangat membantu
kita dalam peminatan itu, selain tentunya mekanika kuantum dan partikel
elementer.
--
Asis Pattisahusiwa
Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
- 2d.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Suharyo Sumowidagdo" sss5946@garnet.acns.fsu.edu haryo_hep
Thu Nov 6, 2008 12:05 am (PST)
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "Asis Pattisahusiwa"com
<asisphysic04@...> wrote:
>
> dari pengalaman bapak, pemahaman di mata kuliah apa yang sangat membantu
> kita dalam peminatan itu, selain tentunya mekanika kuantum dan partikel
> elementer.
Peminatan yang mana ? Tolong di-rinci, ada dua tiga peminatan yang
sudah didiskusikan di thread ini.
Haryo
- 2e.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com aziz_physic04
Thu Nov 6, 2008 8:35 am (PST)
2008/11/6 Suharyo Sumowidagdo <sss5946@garnet.acns.fsu. >edu
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups. <fisika_indonesia%com 40yahoogroups. com>,
> "Asis Pattisahusiwa"
> <asisphysic04@...> wrote:
> >
> > dari pengalaman bapak, pemahaman di mata kuliah apa yang sangat membantu
> > kita dalam peminatan itu, selain tentunya mekanika kuantum dan partikel
> > elementer.
>
> Peminatan yang mana ? Tolong di-rinci, ada dua tiga peminatan yang
> sudah didiskusikan di thread ini.
>
> Haryo
>
>
peminatan yang saya maksud adalah peminatan yang ke arah particle physic
theory atau nanotechnology.
--
Asis Pattisahusiwa
Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
- 2f.
-
Re: tAnYA TeNtaNG PemINAtan FisIkA
Posted by: "Haryo Sumowidagdo" haryo@fnal.gov haryo_fnal
Thu Nov 6, 2008 1:03 pm (PST)
OK. Saya akan tulis subyek, bukan mata kuliah. Alasannya mata kuliah
judulnya berganti-ganti di lain tempat.
Asumsi saya, anda sudah menguasai subjek-subjek yang dibahas di
perkuliahan wajib. Masalahnya sekali lagi, subjek-subjek di
perkuliahan wajib itu akan muncul dimana pun juga.
Particle physics theory:
- Matematika lanjutan: analisis tensor, geometri diferensial dan
teori grup, terutama Lie group (continous group) dan bukan discrete
group (crystallography).
- Teori relativitas khusus dan umum.
- Formulasi teori medan untuk interaksi fundamental. Mulai dari teori
quantum electrodynamics, lalu electroweak (SU(2)xU(1), GWS), dan
strong (SU(3), QCD).
- Analisis/Phenomenologi eksperimen. Bagaimana membuat prediksi
eksperimen dari teori anda.
- Programming tools entah pemrograman numerik klasik (dengan
Fortran/C) atau simbolik (Mathematica/Matlab etc).
Pada prinsipnya, untuk memulai riset anda bisa cukup mempelajari
sebagian saja dari subjek-subjek di atas. Ini tergantung dari
pembimbing anda. Particle theory bidangnya sangat luas: dari yang
sangat fundamental semacam field theory, string theory, sampai ke
lebih phenomenological seperti perhitungan numerik/detail tentang
prediksi eksperimen seperti cross-section, lifetime, atau mass dari
suatu partikel elementer.
Namun kalau anda serius ingin berkarir di fisika partikel teori,
sebaiknya semuanya memang di kuasai kalau mau menjadi fisikawan
partikel teori yang kompeten.
Nanotechnology:
Wah, ada nggak expert lain yang bisa komentar lebih detail.
Kelihatannya fokus utamanya adalah studi interaksi elektron dan foton
dengan sistem zat padat pada skala mikroskopik, namun lebih dari itu
saya tidak kompeten menjawabnya.
> peminatan yang saya maksud adalah peminatan yang ke arah particle physic
> theory atau nanotechnology.
>
>
> --
> Asis Pattisahusiwa
>
> Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
>
- 3a.
-
Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com aziz_physic04
Wed Nov 5, 2008 10:35 pm (PST)
bung roni, apakah anda pernah membaca tata krama dalam menulis dan mengirim
e-mail?
kalo belum nanti aku kirimin tata kramanya ke e-mail kamu.
salam.
Pada 6 November 2008 11:54, ronitoxid paranoid <ronitoxid@gmail.com >menulis:
>
>
> TAPI HAL YANG ANEH KALO MEMANG PENDARATAN DI BULAN ITU BENAR
> KENAPA SETELAH ITU TIDAK ADA PENDARATAN LAGI?
> KENAPA TIDAK ADA PERBAIKAN MENGENAI CARA MENDARAT YANG LEBIH AMAN DAN
> GAMPANG
> SECARA PENDARATAN PERTAMA SUDAH HAMPIR 40 TAHUN, MASA IYA SELAMA ITU GA ADA
> PERBAIKAN DAN PENGULANGAN MISI PENDARATAN DI BULAN
> JELAS ITU SAMA SEKALI BUKAN SIKAP SAINS YANG SELALU MAJU KE DEPAN (APALAGI
> AMERIKA)
>
> ANEH!
>
>
>
- 3b.
-
Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
Posted by: "yyoorrggaa" yyoorrggaa@yahoo.com yyoorrggaa
Wed Nov 5, 2008 11:41 pm (PST)
Bung Roni,
Kata siapa pendaratan di bulan cuma sekali? Maaf anda salah besar.
silakan cari di internet, berapa sering misi ke bulan dilakukan.
lalu kenapa sekarang orang ga lagi pergi ke bulan?...
jawabnya sederhana.... Muahhaal bo! :p hehehe
Sy cuma pengen menyarankan untuk melakukan explorasi dulu sendiri. toh
sekarang fasilitas untuk itu sudah sangat sangat sangat mudah. klo
niat, ada di ujung jari kita...
kalau kita bisa akses milis, maka google dan wikipedia juga pasti bisa
diakses. itu jadi rujukan awal yang paling mudah diakses. tinggal niat.
Yah walau belum jadi saintis, minimal kita musti mengasah mind set
saintis, seperti kritis, rasa ingin tahu yang besar, dan juga stamina
mental untuk menemukan jawaban. Bukan begitu bung? ;-)
gitu aja, semoga tambah penasaran
wassalam
Yorga
--- In fisika_indonesia@yahoogroups. , "ronitoxid paranoid"com
<ronitoxid@...> wrote:
>
> TAPI HAL YANG ANEH KALO MEMANG PENDARATAN DI BULAN ITU BENAR
> KENAPA SETELAH ITU TIDAK ADA PENDARATAN LAGI?
> KENAPA TIDAK ADA PERBAIKAN MENGENAI CARA MENDARAT YANG LEBIH AMAN DAN
> GAMPANG
> SECARA PENDARATAN PERTAMA SUDAH HAMPIR 40 TAHUN, MASA IYA SELAMA ITU
GA ADA
> PERBAIKAN DAN PENGULANGAN MISI PENDARATAN DI BULAN
> JELAS ITU SAMA SEKALI BUKAN SIKAP SAINS YANG SELALU MAJU KE DEPAN
(APALAGI
> AMERIKA)
>
> ANEH!
>
>
> On 11/5/08, yyoorrggaa <yyoorrggaa@...> wrote:
> >
> > nah betul yang dikatakan bung tri. cermin yang dipasang di bulan
> > adalah bukti lain adanya pendaratan manusia di bulan. cermin ini
> > memungkinkan pengukuran jarak bumi-bulan hingga ketelitian orde
> > milimeter (its very amazing brow! :D).
> >
> > Lalu ttg olivine dari sisa2 gunung berapi tidak mengandung air juga
> > tidak tepat. coba cari di wikipedia ttg olivine, disana dikatakan
> > kalau olivine yang terbentuk di kedalaman 310km pun (untuk tekanan
> > 14GPA ini) mengandung air dengan kadar 6900PPM.
> >
> > Mungkin dikiranya menghilangkan air dari senyawa hidrat itu semudah
> > mengeringkan pakaian basah hehehehe. ada masalah ikatan hidrogen,
> > trus juga susunan kimia senyawa tetangga yang ga boleh berubah. lalu
> > katakanlah bisa terlepas dari ikatan hidrat, itu air mau keluar
> > lewat mana? (emangnya sponge bob? hehehe) kalau air menemukan jalur
> > keluar lewat sebuah crack, tentunya Argon yang memiliki difusifitas
> > lebih tinggi dari air akan merembes keluar juga. akibatnya saat
> > diukur umurnya ga akan lagi sesuai dengan umur tata surya (oya
> > ternyata umur batu bulan menurut mas wiki, bukan 5 milyar tahun,
> > tapi 700 juta tahun, maap)
> >
> > wassalam
> > Yorga
> >
> > NB : satu hal menarik yang saya temukan, sebagian besar penentang
> > pendaratan di bulan bukanlah ilmuwan. kalaupun ilmuwan, biasanya
> > latar belakangnya sosial. sedangkan yang mendukung pendaratan
> > biasanya fisikawan. kenapa ya??? :D
> >
> > --- In
fisika_indonesia@yahoogroups. <fisika_indonesia%com 40yahoogroups. com>,
> > "Tri Laksmana"
> > <trilaksmana@> wrote:
> > >
> > > Mo nambahin dikit aja penjelasan Bung Yorga ini.
> > >
> > > Apollo 11, 14, dan 15 memasang cermin yang dapat memantulkan laser
> > yang
> > > ditembakkan dari Bumi ke permukaan Bulan. Dengan bantuan instrumen
> > > cermin+laser ini, kita dapat mengukur jarak Bumi-Bulan dan
> > perubahan2nya.
> > > Dari hasil pengukuran ini kita dapat mempelajari dengan lebih baik
> > dinamika
> > > antara Bumi - Bulan. Sumber:
> > > http://www.madsci.org/posts/ archives/ 1999-07/93135058 8.As.r.html
> > >
> > > Soal batuan bulan, pernah ada situs pendukung moon hoax yang
> > mengatakan
> > > bahwa batu bulan itupun palsu karena 1) diambil dari sisa2 gunung
> > berapi
> > > makanya gk mengandung air, dan 2) supaya jejak2 airnya hilang,
> > batu tersebut
> > > dimasukin ke dalam microwave. Hehehehe...
> > >
> > > Kalau mau tau soal moon hoax begini2, selain cari di google juga
> > bisa lihat
> > > di www.clavius.org.
> > >
> > > Salam,
> > > -tri-
> > >
> > > *2008/11/4 yyoorrggaa <yyoorrggaa@>
> > > *
> > > >
> > > > *Hmmm, ikut berkomentar ya. Saya dulu pernah terpengaruh dan
> > ragu
> > > > kalau manusia pernah mendarat di bulan. Namun sebagai orang yang
> > > > dibesarkan dengan kultur saintifik (ngaku2 saintis mah belum
> > berani
> > > > euy :D ) saya coba melakukan riset sederhana dengan bantuan om
> > > > google (thx God you create Larry Page and Sergey Brin), dengan
> > key
> > > > word "moon HOAX". hingga akhirnya saya menemukan sebuah situs
> > dengan
> > > > argumentasi yang rigor dan tidak terbantah. maklum yang nulis
> > > > fisikawan :D
> > > >
> > > > Di situs itu terdapat penjelasan untuk menerangkan
> > > > berbagai "kejanggalan" seperti bendera yang berkibar, foto2 aneh,
> > > > masalah radiasi di perjalanan, dibulan itu sendiri, etc. silahkan
> > > > baca sendiri (alamat situsnya cari sendiri yaa, itung2
> > kenalan 'ma
> > > > om google :) )
> > > >
> > > > diantara argumen2 itu, ada 2 argumen yang sulit dibantah.
> > > >
> > > > pertama tentang telemetri. telemetri adalah sistem pengukuran
> > posisi
> > > > dengan sinyal radio. sinyal ini di-broadcast secara omni
> > directional
> > > > dari pesawat apolo ke bumi. sehingga ground station bisa
> > mengetahui
> > > > posisi pesawat itu setiap saat. mulai dari keberangkatan,
> > mendarat
> > > > dan kembali ke bumi. dan sinyal itu bisa di pantau oleh siapa pun
> > > > yang punya radar. Posisi rusia sebagai musuh amrik saat itu
> > justru
> > > > mempertegas ketidakmungkinan manipulasi. sinyal telemetri palsu
> > > > pasti diketahui oleh rusia dan mereka ga mungkin diam. (argumen
> > yang
> > > > masuk akal, walau masih bisa dibantah sih kalo seneng debat :p )
> > > >
> > > > Nah argumen kedua lebih mantap karena ada bukti fisik yang ga
> > bisa
> > > > dibantah.
> > > >
> > > > Bukti yang tak terbantah itu adalah batuan bulan.
> > > >
> > > > Anda tahu apa yang sangat unik dari batuan bulan?
> > > >
> > > > yaak seratus... Batuan bulan sama sekali TIDAK mengandung air.
> > dan
> > > > inilah kunci argumen tersebut.
> > > >
> > > > dalam situs itu dia memperlihatkan foto dua jenis batuan yang
> > sama
> > > > yaitu olivine. Mineral yang sangat umum ditemukan, baik di bumi
> > > > ataupun di bulan.
> > > >
> > > > Olivine bumi memperlihatkan butiran kristal yang teralterasi
> > dengan
> > > > senyawa hidrat (senyawa hidrat adalah senyawa yang mengikat
> > molekul
> > > > air dalam bentuk padat. karbohidrat dan karat besi a/ contoh
> > senyawa
> > > > ini) Selain itu secara makro terdapat jejak2 erosi air.
> > > >
> > > > Sebaliknya olivine bulan sama sekali terbebas dari senyawa
> > hidrat.
> > > > sesuatu yang mustahil terjadi dipermukaan bumi akibat
> > berlimpahnya
> > > > air. dengan teknik pengukuran radioaktif, ditemukan bahwa umurnya
> > > > sekitar 5 milyar tahun, kurang lebih setara dengan perkiraan umur
> > > > tata surya (CMIIW).
> > > >
> > > > katakanlah ada ilmuwan NASA yang berniat memalsukan batu
> > tersebut.
> > > > maka ia harus memberikan tekanan sebesar 14GPa (Giga Pascal) dan
> > > > suhu 1200 derajat celcius selama paling tidak beberapa tahun :D.
> > Oya
> > > > jangan lupa ia harus memerangkap Gas Argon dalam rasio yang pas,
> > > > tepat DI DALAM batu itu.(sehingga saat diukur dgn teknik
> > radioaktif
> > > > memberikan umur 5 milyar tahun) (gimana caranya ya nyuntik gas ke
> > > > dalam batu??? emang sponge bob hehehehe ). dan ga cuma setengah
> > > > kilo... ada sekitar 400kg batuan serupa itu di NASA.
> > > >
> > > > Oya selain itu teknik penentuan umur batuan secara radioaktif
> > baru
> > > > ditemukan sekitar 10 tahun SETELAH (sekali lagi SETELAH)
> > pendaratan
> > > > manusia di bulan.
> > > >
> > > > Sebenarnya kalau memang niat bikin HOAX, ngapain susah2 membuat
> > batu
> > > > yang "waterless". toh cukup olivine bumi dan dengan statement "oo
> > > > ternyata di bulan ada air juga toh", habis perkara.
> > > >
> > > > Dan kalau ternyata NASA punya kemampuan bikin batu palsu kayak
> > gitu,
> > > > maka pendaratan di bulan 100 kali lebih mudah (dan lebih murah)
> > > > untuk dilakukan. :D
> > > >
> > > > gitu aja
> > > >
> > > > semoga tambah penasaran hehehehe :D
> > > >
> > > > wassalam
> > > > Yorga (EL97)
> > > >
> > > > *
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
> >
> >
>
- 4.
-
Re: [astronomi_indonesia] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
Posted by: "Tri Laksmana" trilaksmana@gmail.com tri_laksmana
Thu Nov 6, 2008 8:35 am (PST)
2008/11/3 dion_azani <dion_azani@yahoo.com >
> Terima kasih untuk rekan2 atas pencerahannya. Hal tersebut sangat
> membantu saya. Jadi semakin tertarik nih sama astronomi.
>
> Trims ...
>
> .
>
>
>
Menurut hemat saya, teori konspirasi yang mengatakan bahwa pendaratan di
Bulan itu palsu adalah teori yang tidak benar dan kebanyakan didasarkan pada
pemahaman yang buruk mengenai sains dan barangkali keinginan untuk membuat
sensasi dan uang kaget. Kalau dilihat dari argumen2 yang diberikan, semuanya
mudah dipatahkan dan seringkali hanya asal njlimet saja supaya kelihatan
meyakinkan.
Contoh2nya ada banyak, saya usulkan untuk googling saja atau melihat
situs-situs di bawah ini:
http://science.nasa.gov/ headlines/ y2001/ast23Feb_ 2.htm
http://www.redzero.demon.co. uk/moonhoax/
http://www.clavius.org/
Terserah saja sih pada akhirnya mau percaya yang mana, tapi cobalah untuk
membaca dulu argumentasi kedua pihak dan pertimbangkan sendiri mana yang
lebih masuk akal/rasional/rigorous/ ilmiah dst.
Salam,
-tri-
- 5.
-
Re: [indonesia] Re: Batas kecepatan dalam relativitas--ciptaan perta
Posted by: "yorga effendi" yyoorrggaa@yahoo.com yyoorrggaa
Thu Nov 6, 2008 8:37 am (PST)
Disinilah pemahaman tentang waktu jadi krusial.
kalau qt menyadari bahwa sebenarnya waktu adalah ilusi yang timbul akibat adanya "gerak", maka ini akan menyederhanakan permasalahan filosofis sekitar ke-eternal-an tuhan.
tuhan adalah Qadim, dzat yang tidak ada perubahan padaNYA. karena tidak ada perubahan di dalam dzat tuhan, maka adalah tidak relevan mendefinisikan waktu bagi tuhan. "waktu tuhan" adalah absurd, tidak bermakna apa-apa.
DIA adalah substansi yang lepas dari dimensi ruang dan waktu. realitas mutlak yang ke"ADA"annya tidak memerlukan apa pun.
Lalu untuk apa makhluk?
Terus terang ini pertanyaan yang mengganggu benak sy selama belasan tahun. hingga akhirnya pas masih kuliah dulu saya menemukan sebuah hadits Qudsi yang menjawab nya.
hadits qudsi tersebut berbunyi
"AKU adalah khazanah tersembunyi, AKU suka (Uhibbu) untuk dikenal, maka AKU ciptakan makhluk".
BagiNYA, makhluk itu ibarat pengamat yang akan mengeksplorasi kekayaan khazanah-NYA yang tersembunyi. Cuma pengamat. Sama sekali tidak mempengaruhi keberadannya. Tanpa makhluk DIA tetap ada.
Analog dengan energi yang terperangkap dalam materi. Hingga Einstein menyatakannya dengan E=mc2 tidak ada seorang pun yang menyadari kalau ada energi yang begitu besar dalam setiap gram materi. lalu apakah sebelum Einstein menemukannya, energi itu tidak ada? tentunya tidak demikian bukan. Energi dalam materi tetap ada, baik adanya pengamat ataupun tidak.
Demikian juga Tuhan, ada atau tidaknya pengamat tidak akan mempengaruhi eksistensiNYA.
Begitulah pendapat saya
Terima kasih
Wassalam
Yorga
--- On Thu, 11/6/08, yohan <yohan@csmcom.com > wrote:
From: yohan <yohan@csmcom.com >
Subject: [indonesia] Re: Batas kecepatan dalam relativitas--ciptaan pertama
To: indonesia@nextbetter.net
Date: Thursday, November 6, 2008, 3:20 PM
Bung Akhyar,
Menarik memulai bahasan dengan : "Dimulai dari pertanyaan awal penciptaan: Apa kira2 yang pertama kali diciptakan Tuhan?"
Tapi kadang-kadang ada hal yang menggelitik untuk diungkapkan : Apakah makna Tuhan ketika segala sesuatunya belum dimulai. Apakah Tuhan menciptakan dirinya sendiri persis bersamaan dengan diciptakannya ciptaan pertama. Karena keberadaan Tuhan hanya relevan ketika ada sesuatu yang bisa disebut sebagai Makhluk. Jadi apakah Tuhan dan Makhluk lahir secara bersama-sama, tidak ada yang mendahului diantara keduanya.
Salam,
-yohan-
Akhyar (Sent: Wednesday, November 05, 2008 3:45 PM)
Menurut saya tidak. bedakan hal yang menjadi substansi dan pengukuran. Bisa diukur atau tidak, itu lain soal. Yang utama adalah 'what really matters'.. whether u can measure it or not, it's ur problem, human..
Saya juga sedang bermain2 dengan cahaya, waktu dan energi. Masih sambil mimpi kanan kiri. Dikembangkan tanpa persamaan matematis. Saya ingin ini menjadi suatu ToE yang benar2 sederhana.
Bangunan dasarnya adalah Relativitas Einstein dan hukum Termodinamika. Dimulai dari pertanyaan awal penciptaan: Apa kira2 yang pertama kali diciptakan Tuhan?
Pertanyaan ini dijawab dengan mengingat kepada 7 Besaran Dasar yang saat ini diakui Internasional. Dari besaran2 dasar tersebut kita pertentangkan kebergantungan masing2 besaran dasar terhadap yang lain, dan akan kita temukan irisannya adalah Waktu. Semua Besaran Dasar yang kita kenal sekarang, bergantung pada Waktu. Silahkan diperiksa.
Kemudian saya menemukan kata2 dalam Al Kitab : 'In the beginning let there be light..'
Tadi di awal saya sebut, Tuhan seharusnya menciptakan waktu pertama kali. Mengapa Al Kitab menyebutnya Cahaya? Salahkah Alkitab dalam hal ini?
Tidak. Ini malah menjadi petunjuk yang bagus. Dalam kalimat 'In the beginning let there be light..' perhatikan kata : 'beginning' dan kata ini tak berarti apa2 tanpa adanya waktu..
Jadi, it may well be that God created Light after Time :)
Gabungkan dengan Hukum Termo tentang Kekekalan energi, dan karena Cahaya adalah salah satu bentuk Energi ini menjadi ramuan yang sangat menggoda. Sangat boleh jadi, Light is the purest form of Energy..
Maka setelah Waktu diciptakan, saat ini saya percaya Tuhan kemudian menciptakan Cahaya. Dan alkisah, jika kita ingat Hukum Termo tentang Entropi, maka Cahaya yang pertamakali diciptakan Tuhan tersebut akan terdegradasi terus menerus sampai akhirnya Kiamat tiba.
Dalam hal permulaan besar saya juga bukan menyebutnya sebagai Big Bang, tapi Silence Light. Saya percaya, Tuhan memulai penciptaan dalam keheningan. Dan Suara yang kita kenal sekarang adalah salah satu perwujudan Cahaya yang terdegradasi karena naiknya entropi. Itulah mengapa kecepatan suara jauh lebih lambat daripada Cahaya. Dan boleh jadi kecepatan suara akan terus menurun sampai kembali ke titik nol dan kita kembali menjumpai keheningan ..
Ingin sekali memformalkan rumusan ini, tapi belum ada waktunya :)
-padi tumbuh tak berisik-
--- On Wed, 11/5/08, yohan <yohan@rambinet.com > wrote:
From: yohan <yohan@rambinet.com >
Subject: [indonesia] Batas kecepatan dalam relativitas
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Cc: EL-ITB@yahoogroups.com , indonesia@nextbetter.net
Date: Wednesday, November 5, 2008, 10:48 AM
Dear rekan-rekan,
Seandainya saja manusia tidak dikarunia indera mata, hanya melihat dan mendengar dengan telinga, apakah akan timbul teori relativitas dengan batas kecepatan relative teratas adalah kecepatan suara? Sehingga kecepatan diatas kecepatan suara, secara relative tidak didefinisikan, alias tidak relevan dalam kerangka pengamatan.
Salam,
-yohan-
El'93
PT.CITRA SARI MAKMUR SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK Connecting the dist ance - anytime, anywhere, any content http://www.csmcom.com
- 6.
-
MOHON BANTUANNYA..
Posted by: "h3py08" h3py08@yahoo.co.id h3py08
Thu Nov 6, 2008 10:29 am (PST)
Yth. semua senior-senior..
terima kasih telah mengizinkan saya untuk menjadi member..
Saya adalah seorang mahasiswa yang sedang menyusun Skripsi dengan judul
PERBANDINGAN POSTSTACK TIME MIGRATION MENGGUNAKAN METODE FINITE
DIFFERENT, FREQUENCY SPACE, DAN EKSTENDED STOLT.
untuk itu saya sangat memohon bantuannya dalam penyelesaian skripsi tsb.
saat ini untuk bahan referensi, saya membutuhkan paper atau jurnal apa
saja yang berkaitan dengan judul saya itu, untuk itu saya mohon
bantuan dari saudara-saudara semuanya..
terima kasih...
EDIT MODERATOR:
Pembimbing skripsi anda di mana ? Saya terkadang memikirkan kenapa masih ada saja pembimbing skripsi yang kurang/tidak bertanggung jawab seperti ini.
Haryo
END EDIT MODERATOR:
- 7.
-
Bls: [FISIKA] teori relativitas
Posted by: "Mariano Nathanael" mariano_nathanael@yahoo.co.id mariano_nathanael
Thu Nov 6, 2008 3:53 pm (PST)
Menarik mengikuti pertanyaan tentang relativitas ini sehingga saya juga ingin memberikan pemikiran yang ada di benak saya.
Memang harus diakui bahwa hukum-hukum fisika tidak pernah berubah, apakah ada yang menemukannya atau tidak. Hukum fisika pasti dan tetap berlaku. Tetapi jika semua manusia tidak punya indera penglihatan, maka akan banyak hukum fisika yang tidak bisa ditemukan atau katakan saja akan menjadi sangat lambat untuk ditemukan. Contoh : Pemahaman tentang cahaya tampak akan menjadi mustahil untuk ada karena tidak akan tampak apapun (semua buta). Adakah yang disebut spektrum cahaya tampak? Rasanya tidak akan ada istilah itu dalam fisika jika semua manusia buta (meskipun gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang ~ 400 - 700 nm tetap ada. Akankah ditemukan gelombang elektromagnetik? Mungkinkah percobaan Maxwell dilakukan tanpa 'melihat"? Akankah Hukum Gravitasi Newton terkuak tanpa "melihat apel jatuh"? Akankah bintang-bintang yang menjadi dasar teori astronomi akan terpikirkan jika manusia tidak bisa melihatnya? Rasanya mengkhayalkan bahwa bintang itu ada
juga tidak mungkin karena tidak bisa melihat.
Maka kesimpulan saya, jika semua manusia buta, maka sains tidak akan berkembang seperti sekarang ini, betapa bersyukurnya kita karena Allah menciptakan mata bagi kita untuk menangkap gelombang cahaya tampak ...
_____________________ _________ __
Dari: yyoorrggaa <yyoorrggaa@yahoo.com >
Kepada: fisika_indonesia@yahoogroups. com
Terkirim: Kamis, 6 November, 2008 10:21:57
Topik: [FISIKA] teori relativitas
Temans pecinta fisika,
ada pertanyaan yang sangat menarik dlm sebuah milis dr seorang
senior q. atas izin ybs, pertanyaannya aq share disini
============ ========= =
Dear rekan-rekan,
Seandainya saja manusia tidak dikarunia indera mata, hanya melihat
dan mendengar dengan telinga, apakah akan timbul teori relativitas
dengan batas kecepatan relative teratas adalah kecepatan suara?
Sehingga kecepatan diatas kecepatan suara, secara relative tidak
didefinisikan, alias tidak relevan dalam kerangka pengamatan.
Salam,
-yohan-
El'93
============ ========= =
Ada yg mau membahas? silaken tanggapi (Jarang2 lho ada pertanyaan
bagus kayak gini) :D
wassalam
Yorga
__._
_____________________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
Need to Reply?
Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.
===============================================================
** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
<fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
<fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Individual | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
1 komentar:
polo ralph lauren
air max 270
timberlands
supreme clothing
kobe shoes
kyrie 4 shoes
balenciaga shoes
jordans
lebron 10
hermes belt
Posting Komentar