Rabu, 12 November 2008

[FISIKA] Digest Number 2585

Milis Fisika Indonesia (MFI)

Messages In This Digest (12 Messages)

1.1.
Re: teori relativitas From: yyoorrggaa
1.2.
Re: teori relativitas From: Irwan Effendi
1.3.
Re: teori relativitas From: Budy Wuysang
1.4.
Re: teori relativitas From: arifianto keren
2.
Krisis global From: Asis Pattisahusiwa
3a.
Re: Pendaratan di bulan, benarkah ? From: Asis Pattisahusiwa
3b.
Pendaratan di bulan, benarkah ? From: Ma'rufin Sudibyo
4.
teori dasar pesawat atwood From: Aulia Setiaji
5.
[Mekanika] Kembalai ke konsep dasar Energi Potensial From: Husnin Mubarak
6.
Suplemen TWAS From: Rasahgelo
7.
Re: Keajaiban medan magnet di Madinah From: Ma'rufin Sudibyo
8a.
Re: tentang diskusi Pendaratan di bulan di MFI From: Zaenal Arief

Messages

1.1.

Re: teori relativitas

Posted by: "yyoorrggaa" yyoorrggaa@yahoo.com   yyoorrggaa

Tue Nov 11, 2008 2:26 am (PST)

Mas Haryo, terima kasih tanggapannya. Jawaban anda "mengenyangkan".

Jadi adalah mungkin untuk mendeteksi gelombang yang merambat >c asal
gelombang tersebut punya kopling dengan gelombang lain yang masih
mampu qt deteksi.

artinya kalaupun manusia buta, kemungkinan teori relativitas masih
bisa direkonstruksi (dengan syarat diatas itu) walaupun perlu effort
yang jaaaauuuuh lebih besar. (salah satu effort terbesar adalah
membuat orang2 yang buta itu percaya bahwa ada gelombang yang
kecepatannya 1jt kali lebih cepat dari suara :D )

hmmm, menarik :-D

wassalam
Yorga

NB : aq punya hipotesis (ehmmm mungkin tepatnya spekulasi)
kalau "jiwa" atau "soul" kemungkinan adalah fenomena gelombang yang
lebih cepat dari c. manifestasinya ada dan bisa dirasakan, hanya
saja tidak bisa dideteksi dengan indera jasmani yang dimiliki
manusia.
Ada yang berminat mengembangkan ini sebagai teori fisika? siapa tahu
dapet Nobel, hehehehe :-D

--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, "Haryo Sumowidagdo"
<haryo@...> wrote:
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@>
> wrote:
> >
> > Maksud aq bukan begitu.
> >
> > gini deh. maksud dari "buta" disini adalah jika indra yang
dimiliki
> > adalah maksimum indra yang merespon gel suara, (baik untuk
mendengar
> > ataupun "melihat" seperti kelelawar atau seperti di film dare
devil)
> > apakah mungkin kemudian manusia merekonstruksi hukum fisika (atau
> > instrumen atau apapun) mengenai sesuatu yang "beyond the
border"?
>
> Ini rangkaian argumen bahwa sekali lagi, seandainya manusia itu
buta,
> maka fenomena cahaya/elektromagnetik tetap akan ditemukan.
>
> Asumsi 1:
> - Indra manusia tidak sensitif kepada fenomena elektromagnetik.
>
> Asumsi 2:
> - Di alam ini ada fenomena elektromagnetik (kecepatan cahaya) dan
> fenomena akustik (kecepatan suara).
>
> Sekarang, apa syarat manusia yang buta bisa menemukan fenomena
> elektromagnetik ?
>
> Kuncinya:
>
> Apakah ada hubungan (interaksi, coupling) antara fenomena
> elektromagnetik dengan fenomena akustik. Bentuknya macam apa tidak
> penting, yang penting ada atau tidak.
>
> Jika ada, maka manusia BISA mendeteksi fenomena elektromagnetik via
> hubungan fenomena elektromagnetik dan akustik.
>
> Jika tidak ada, maka manusia TIDAK BISA mendeteksi fenomena
> elektromagnetik.
>
> Faktanya: _ada_ fenomena/gejala alam yang mengkaitkan
elektromagnetik
> dan akustik (contoh kasar: petir). Jadi ada interaksi antara
> elektromagnetik dan akustik. Memang akan perlu laamaaaaa sekali
bagi
> manusia yang buta untuk menemukan bentuk-bentuk hukum
elektromagnetik,
> tapi jika manusia yang buta mau berusaha keras, maka evolusi ilmu
di
> masyarakat yang buta ini pada akhirnya akan menemukan hukum-hukum
> elektromagnetik.
>
> >
> > Jika jawabannya mungkin, maka ini membuka peluang perluasan ilmu
> > fisika ke arah baru. yaitu ke arah dimensi lebih tinggi. atau
> > perancangan instrument2 untuk melacak keberadaan gelombang yang
lebih
> > cepat dari c. siapa tahu 100 tahun kemudian ada yang dapet Nobel
> > karena berhasil membuktikan keberadaan gelombang yang lebih cepat
> dari c.
>
> Sekali lagi, yang menjadi masalah bukan _indra_ manusia, melainkan
> _interaksi_ antara fenomena yang baru (yang tidak dikenali indra
> manusia) dengan fenomena yang dikenali indra manusia.
>
> Ide perluasan ilmu fisika ke arah fenomena lebih besar dari c
> (namakanlah C, C huruf besar) sudah terpikir sejak lama, dan bukan
ide
> baru dikalangan fisikawan teori. Model-model yang mengkonstruksi
> fenomena C itu ada.
>
> http://en.wikipedia.org/wiki/Tachyon
>
> Fenomena C _bisa_terdeteksi_ kalau ada interaksi dari fenomena C
> dengan fenomena yang kita kenal. Sekarang, _kita_ belum mengamati
> gejala alam yang menunjukkan ada atau tidak adanya C. Jadi tidak
ada
> bukti apakah C ada, ataupun C tidak ada.
>
>
>
> Haryo
>

1.2.

Re: teori relativitas

Posted by: "Irwan Effendi" hero_tsai@mainsyscon.net   hero_tsai

Tue Nov 11, 2008 2:26 am (PST)

Maaf juga, tapi saya rasa karena perbedaan cara terjemahan. Tebakan saya anda baca versi terjemahan yang dari Robert W Lawson.

Kalau ya, maka kalimat itu terdapat di paragraph

This expression approaches infinity as the velocity v approaches the
velocity of light c. The velocity must therefore always remain less
than c, however great may be the energies used to produce the
acceleration. If we develop the expression for the kinetic energy in
the form of a series, we obtain
Yang ada di section General Results of The Theory

Beda style tapi artinya sama persis

1a.
Re: teori relativitas
Posted by: "arifianto keren" arifianto_ipb@yahoo.com arifianto_ipb
Sun Nov 9, 2008 10:29 pm (PST)

Maaf tapi apa dasar anda mengatakan hal tersebut:
>oleh karena itu kecepatan cahaya adalah kecepatan yang tidak mungkin dicapai oleh benda

Saya pernah membaja naskah asli relativitas einstein
1.3.

Re: teori relativitas

Posted by: "Budy Wuysang" supeskrim@yahoo.com   supeskrim

Tue Nov 11, 2008 9:04 am (PST)

Kan masih ada indra lain yang bisa menangkap kecepatan rambatan radiasi misalnya panas atau kecepatan rambatan listrik. IMHO.

--
BlackBerry® 8320
GTalk/MSN: nguik.gnuik@gmail
YM: supeskrim
ICQ/AIM: 459567681

-----Original Message-----
From: "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@yahoo.com>

Date: Tue, 11 Nov 2008 09:39:18
To: <fisika_indonesia@yahoogroups.com>
Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas


Mas Haryo, terima kasih tanggapannya. Jawaban anda "mengenyangkan".

Jadi adalah mungkin untuk mendeteksi gelombang yang merambat >c asal
gelombang tersebut punya kopling dengan gelombang lain yang masih
mampu qt deteksi.

artinya kalaupun manusia buta, kemungkinan teori relativitas masih
bisa direkonstruksi (dengan syarat diatas itu) walaupun perlu effort
yang jaaaauuuuh lebih besar. (salah satu effort terbesar adalah
membuat orang2 yang buta itu percaya bahwa ada gelombang yang
kecepatannya 1jt kali lebih cepat dari suara :D )

hmmm, menarik :-D

wassalam
Yorga

NB : aq punya hipotesis (ehmmm mungkin tepatnya spekulasi)
kalau "jiwa" atau "soul" kemungkinan adalah fenomena gelombang yang
lebih cepat dari c. manifestasinya ada dan bisa dirasakan, hanya
saja tidak bisa dideteksi dengan indera jasmani yang dimiliki
manusia.
Ada yang berminat mengembangkan ini sebagai teori fisika? siapa tahu
dapet Nobel, hehehehe :-D


--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, "Haryo Sumowidagdo"
<haryo@...> wrote:
>
> --- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, "yyoorrggaa" <yyoorrggaa@>
> wrote:
> >
> > Maksud aq bukan begitu.
> >
> > gini deh. maksud dari "buta" disini adalah jika indra yang
dimiliki
> > adalah maksimum indra yang merespon gel suara, (baik untuk
mendengar
> > ataupun "melihat" seperti kelelawar atau seperti di film dare
devil)
> > apakah mungkin kemudian manusia merekonstruksi hukum fisika (atau
> > instrumen atau apapun) mengenai sesuatu yang "beyond the
border"?
>
> Ini rangkaian argumen bahwa sekali lagi, seandainya manusia itu
buta,
> maka fenomena cahaya/elektromagnetik tetap akan ditemukan.
>
> Asumsi 1:
> - Indra manusia tidak sensitif kepada fenomena elektromagnetik.
>
> Asumsi 2:
> - Di alam ini ada fenomena elektromagnetik (kecepatan cahaya) dan
> fenomena akustik (kecepatan suara).
>
> Sekarang, apa syarat manusia yang buta bisa menemukan fenomena
> elektromagnetik ?
>
> Kuncinya:
>
> Apakah ada hubungan (interaksi, coupling) antara fenomena
> elektromagnetik dengan fenomena akustik. Bentuknya macam apa tidak
> penting, yang penting ada atau tidak.
>
> Jika ada, maka manusia BISA mendeteksi fenomena elektromagnetik via
> hubungan fenomena elektromagnetik dan akustik.
>
> Jika tidak ada, maka manusia TIDAK BISA mendeteksi fenomena
> elektromagnetik.
>
> Faktanya: _ada_ fenomena/gejala alam yang mengkaitkan
elektromagnetik
> dan akustik (contoh kasar: petir). Jadi ada interaksi antara
> elektromagnetik dan akustik. Memang akan perlu laamaaaaa sekali
bagi
> manusia yang buta untuk menemukan bentuk-bentuk hukum
elektromagnetik,
> tapi jika manusia yang buta mau berusaha keras, maka evolusi ilmu
di
> masyarakat yang buta ini pada akhirnya akan menemukan hukum-hukum
> elektromagnetik.
>
> >
> > Jika jawabannya mungkin, maka ini membuka peluang perluasan ilmu
> > fisika ke arah baru. yaitu ke arah dimensi lebih tinggi. atau
> > perancangan instrument2 untuk melacak keberadaan gelombang yang
lebih
> > cepat dari c. siapa tahu 100 tahun kemudian ada yang dapet Nobel
> > karena berhasil membuktikan keberadaan gelombang yang lebih cepat
> dari c.
>
> Sekali lagi, yang menjadi masalah bukan _indra_ manusia, melainkan
> _interaksi_ antara fenomena yang baru (yang tidak dikenali indra
> manusia) dengan fenomena yang dikenali indra manusia.
>
> Ide perluasan ilmu fisika ke arah fenomena lebih besar dari c
> (namakanlah C, C huruf besar) sudah terpikir sejak lama, dan bukan
ide
> baru dikalangan fisikawan teori. Model-model yang mengkonstruksi
> fenomena C itu ada.
>
> http://en.wikipedia.org/wiki/Tachyon
>
> Fenomena C _bisa_terdeteksi_ kalau ada interaksi dari fenomena C
> dengan fenomena yang kita kenal. Sekarang, _kita_ belum mengamati
> gejala alam yang menunjukkan ada atau tidak adanya C. Jadi tidak
ada
> bukti apakah C ada, ataupun C tidak ada.
>
>
>
> Haryo
>



------------------------------------

===============================================================
** Arsip : http://members.tripod.com/~fisika/
** Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
<fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================
Yahoo! Groups Links



1.4.

Re: teori relativitas

Posted by: "arifianto keren" arifianto_ipb@yahoo.com   arifianto_ipb

Tue Nov 11, 2008 5:25 pm (PST)

Yaa.. itu hanya perbedaan sudut pandang saja. Sebuah teori masih bisa dibantah, dikoreksi atau bahkan diruntukan sama sekali jika ada teori yang lebih bisa diterima. Siapakah yang menerima? ya para ilmuan yang pinter-pinter itu khususnya para fisikawan prof-doc gitu. Kalo orang awam seperti saya ini cuma bisa mempelajarinya dan bukan menentukan kebenaran.

Btw pernah dengar teori partikel "tachyon" sebuah partikel hipotesis yang diajukan karena melihat fenomena yang terjadi pada skala kosmik yakni tumbukan kosmik. saat partikel-partikel kosmik yang bergerak dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya (konon ada yang mencapai 99.99% kecepatan cahaya) bertumbukan akan menghasilkan partikel tachyon yang bergerak melebihi kecepatan cahaya sejak awal terbentuknya. berdasarkan para ilmuan kehadiran partikel ini dizinkan oleh (secara matematis) teori relativitas khusus. sifat-sifatnya mungkin kurang bisa diterima oleh orang awam, yakni partikel tersebut memiliki massa diam (rest mass) bernilai imajener, saat ia melepaskan energi dalam bentuk radiasi kosmik maka kecepatannya bertambah besar, partikel tersebut tidak pernah memiliki kecepatan sama atau dibawah kecepatan cahaya, dan ia bisa mundur ke massa lampau (berdasarkan TRK).

Regards,
 
Arifianto
Science Depatment
BINUSSCHOOLSimprug
Jl. Sultan Iskandar Muda Kav G-8
Simprug JAKARTA SELATAN 12220 INDONESIA
Phone:62 21 724 3663 Ext: 4805
Fax: 62 21 7278 3939
http://www.binus-school.net

________________________________
From: Irwan Effendi <hero_tsai@mainsyscon.net>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, November 11, 2008 2:01:26 PM
Subject: [FISIKA] Re: teori relativitas

Maaf juga, tapi saya rasa karena perbedaan cara terjemahan. Tebakan saya anda baca versi terjemahan yang dari Robert W Lawson.
 
Kalau ya, maka kalimat itu terdapat di paragraph
 
This expression approaches infinity as the velocity v approaches the
velocity of light c. The velocity must therefore always remain less
than c, however great may be the energies used to produce the
acceleration. If we develop the expression for the kinetic energy in
the form of a series, we obtain

Yang ada di section General Results of The Theory
 
Beda style tapi artinya sama persis
 
1a.
Re: teori relativitas
Posted by: "arifianto keren" arifianto_ipb@ yahoo.com   arifianto_ipb
Sun Nov 9, 2008 10:29 pm (PST)

Maaf tapi apa dasar anda mengatakan hal tersebut:
>oleh karena itu kecepatan cahaya adalah kecepatan yang tidak mungkin dicapai oleh benda
 
Saya pernah membaja naskah asli relativitas einstein

2.

Krisis global

Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com   aziz_physic04

Tue Nov 11, 2008 9:03 am (PST)

salam hormat,

sungguh saya tidak menyangka kalo krisis global di Amerika akan separah ini.
namun, saya juga sangat penasaran dengan reaksi para fisikawan terutama para
ahli ekonofisik mengenai hal itu. adakah yang mempunyai informasi tentang
reaksi/asumsi para ekonofisik itu?

tolong di share ya.....

thank's.

--
Asis Pattisahusiwa

Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
3a.

Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?

Posted by: "Asis Pattisahusiwa" asisphysic04@gmail.com   aziz_physic04

Tue Nov 11, 2008 9:04 am (PST)

sebelumnya saya minta maaf kalo ada kata-kata saya yang kasar. namun,
sebaiknya kalo kita bergelut di suatu bidang atau apapun namanya, ada
baiknya kita mengetahui seluk beluk bidang itu termasuk tata kramanya
semampu kita. walaupun sedikit yang penting ada daripada tidak sama sekali.

saya sebenarnya penasaran, apa sebenarnya tujuan kita menjelajahi bulan? apa
hanya untuk mengeksplorasi bulan? kalo hanya untuk itu, saya fikir sudah
cukup dengan hasil jelajah pertama oleh Apollo 11.

--
Asis Pattisahusiwa

Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
3b.

Pendaratan di bulan, benarkah ?

Posted by: "Ma'rufin Sudibyo" marufins@yahoo.com   marufins

Tue Nov 11, 2008 7:02 pm (PST)

Dalam bincang2 tentang pendaratan manusia di Bulan, sering kita terjebak pada "percaya nggak percaya" soal pendaratan itu, tanpa mencoba menoleh lebih jauh tentang sumbangan ilmiah dari peristiwa tersebut.

Mari kita tinjau dua saja diantaranya. Saya mengutipnya dari publikasi American Geophysical Union 1974 dan bulletin Icarus 168 (2004). Yang pertama itu himpunan geofisikawan yang prestisius, sementara yang kedua bulletin ilmiah yang tak kalah prestisiusnya.

Pertama, tentang interior Bulan. Mayoritas pemahaman struktur internal Bulan datang dari data-data kegempaan Bulan (moonquake) yang direkam seismometer-seismometer yang dipasang oleh misi Apollo 11 - 17 (kecuali Apollo 13), yang berfungsi hingga 1977 - 1983 ketika instrumen itu dimatikan karena pasokan listriknya telah menyusut. Misalnya saja, antara 1972 - 1977 tercatat 38 kali gempa Bulan sangat dangkal dengan magnitude hingga 5,5 skala Richter, yang skala guncangannya di Bumi kita sudah melebihi dahsyatnya Gempa Yogya. Ada empat jenis gempa Bulan : gempa sangat dalam (hiposentrum > 700 km, disebabkan oleh gaya pasang surut dalam sistem Bumi-Bulan), gempa tumbukan meteorit, gempa termal (hiposentrum ~ 60 km, disebabkan oleh pemuaian kerak Bulan oleh sinar Matahari setelah 2 minggu menjalani kondisi malam) dan gempa sangat dangkal (hiposentrum 20 - 30 km, disebabkan oleh pemerosotan struktur tepi kawah muda).

Dari data kegempaan ini, yang berdasarkan spektrum gelombang primer (P) yang longitudinal/kompresional dan gelombang sekunder (S) yang transversal, diketahui struktur internal Bulan terbagi ke dalam tiga lapisan : kerak (tebal rata-rata 60 km), selubung/mantel (tebal rata-rata 1.530 km, dari kedalaman 60 km hingga 1.590 km) dan inti (diameter 350 km).

Ada yang unik dari kerak Bulan, dimana pada wajah Bulan yang dekat Bumi (Earthside) secara rata-rata 12 km lebih tipis ketimbang kerak sisi jauh (farside). Ini membuat pusat massa Bulan dan pusat geometrisnya jadi tak berimpit, yakni berselisih 1,8 km, sesuatu yang tidak dijumpai di Bumi dan planet lainnya. Mengapa demikian? Ini terkait dengan evolusinya.

Selubung terdiri dari 3 lapisan : selubung atas, tengah dan bawah. Kini kerak Bulan, selubung atas dan selubung tengah berada pada fase padat, sementara selubung bawah (mulai kedalaman 1.000 km) dan inti fasenya setengah cair. Tebalnya bagian padat ini membuat transfer panas dari interior Bulan ke permukaan terjadi secara konduksi, sehingga magma dari selubung Bulan tidak sanggup bermigrasi ke permukaan baik secara konveksi maupun adveksi. Bandingkan misalnya dengan Bumi, yang bagian padatnya hanya ada di kerak (dengan ketebalan rata-rata 40 km), dialasi selubung yang setengah cair. Ini membuat transfer panas ke kerak Bumi berlangsung secara konveksi dan adveksi, dimana terjadi sirkulasi dalam selubung dan itulah yang menggerakkan lempeng-lempeng tektonik.

Mungkinkah data struktur interior Bulan didapat tanpa harus meletakkan seismometer di permukaan? Secara teknis sangat sulit, dan kalopun bisa hanyalah parsial. Clementine misalnya, pesawat antariksa yang diorbitkan ke Bulan pada 1999, bisa mendeteksi inti Bulan lewat sifat magnetik Bulan (yang sangat lemah) yang ditangkap magnetometer boom-nya yang supersensitif, namun tidak untuk struktur keseluruhan.

Yang kedua, dinamika jarak Bumi-Bulan. Pemahaman ini berasal dari data-data retroreflektor, yakni cermin khusus yang sengaja dipasang di permukaan Bulan dalam misi Apollo 11 - 15 (kecuali Apollo 13) dan dirancang sedemikian rupa sehingga jika dikenai seberkas cahaya maka cahaya itu akan dipantulkan kembali ke sumbernya. Dengan menggunakan Laser, jarak Bumi-Bulan bisa diketahui dengan sangat teliti. Pada dekade 1970-an, ketidakpastian jarak Bumi-Bulan dengan retroreflektor 'hanya' 15 cm, namun di dekade ini telah jauh lebih akurat dengan ketidakpastian hanya 1 - 2 mm saja, sehingga bahkan cukup memadai untuk menguji prinsip ekivalensi yang menjadi batu bata dasar relativitas Einstein.

Dari sini akhirnya diketahui bahwa sumbu mayor orbit Bulan selalu bertambah besar sebanyak 3,6 cm/tahun. Ini terkait dengan gaya pasang surut dalam sistem Bumi-Bulan, dimana implikasi perubahan itu membuat periode rotasi Bumi menjadi sedikit melambat, sementara Bulan semakin menjauh. Bulan akan terus menjauh dari Bumi sedikit demi sedikit hingga sampai di region dimana gaya pasang surut sistem Bulan-Matahari lebih dominan dan pada saat itu Bulan akan lebih dikontrol oleh gravitasi Matahari.

Jika diekstrapolasikan mundur ke belakang, mudah ditebak bahwa Bulan pernah bergabung jadi satu dengan Bumi. Pemisahan (fission) Bumi - Bulan diperkirakan terjadi pada masa awal tata surya ketika proto-Bumi dihantam benda langit seukuran Mars, yang membuat sebagian selubung Bumi terlepas ke angkasa dan terkondensasi sendiri hingga membentuk Bulan. Ini konsisten dengan data densitas rata-rata Bulan (yang besarnya 3,35 g/cc atau sama dengan densitas selubung Bumi) dan keberadaan mineral ilmenit (FeTiO3) di batuan Bulan yang 10 kali lipat lebih tinggi dari batuan Bumi, sementara konsentrasi ilmenit setinggi itu di Bumi hanya ditemukan pada selubung (berdasarkan data seismik). Kesimpulan ini juga ditunjang rekaman fosil stromatolit di Bumi dari zaman Devon (400 juta tahun silam), yang jelas menunjukkan bahwa setahun Bumi saat itu terdiri dari 400 hari (bandingkan dengan 365 hari di masa sekarang).

Mungkinkah menentukan pertambahan jarak 3,6 cm/tahun ini tanpa meletakkan retroreflektor di Bulan? Amat sangat sulit, untuk tidak mengatakan tidak mungkin. Dengan gelombang radar jelas tidak mungkin, karena ketidakpastiannya cukup besar (dalam orde beberapa ratus hingga beberapa km). Sementara menggunakan satelit, misalnya, kita harus memperhitungkan efek relativitas umum akibat pelengkungan kurvatur ruang-waktu di dekat Bumi dan juga di dekat Bulan, yang membuat deteksi posisi satelit bisa bergeser beberapa km dari titik yang sebenarnya.

Dari dua hal itu saja, bisa dilihat bahwa misi Apollo ke Bulan membuat pengetahuan kita tentang Bulan menjadi berlipat ganda secara eksponensial.

Saya percaya Wernher von Braun, Farouk el-Baz dan orang-orang pinter di balik misi Apollo sejatinya takkan mempersoalkan skeptisme dan hiruk pikuk tentang benar tidaknya pendaratan itu. Sebab ini bukan wilayah "percaya nggak percaya", namun lebih pada bagaimana mengkajinya, mengkritisinya dan sekaligus memaparkan antitesisnya (kalo ada) dalam metodologi yang bisa dipercaya. Sebab pendaratan itu sebuah peristiwa ilmiah, bukan dogma. Dan sejauh ini pihak2 yang menganggap pendaratan di Bulan sebagai hoax gagal untuk menjelaskan (secara ilmiah pula) bagaimana pengetahuan kita tentang satelit Bumi itu menjadi berlipat ganda pasca dekade 1960-an. Terlebih data2 dari misi Apollo tetap menunjukkan konsistensinya jika dibandingkan dengan misi2 antariksa yang lebih kemudian, seperti Lunar Prospector 1996, Clementine 1999, Magellan 1989 dan Cassini 1997 (meski dua yang terakhir tadi sebenarnya hanya memanfaatkan gravitasi Bulan untuk pergi ke planet lain).

Salam,

Ma'rufin

________________________________
From: Asis Pattisahusiwa <asisphysic04@gmail.com>
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, November 11, 2008 4:05:05 AM
Subject: Re: [FISIKA] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?

sebelumnya saya minta maaf kalo ada kata-kata saya yang kasar. namun, sebaiknya kalo kita bergelut di suatu bidang atau apapun namanya, ada baiknya kita mengetahui seluk beluk bidang itu termasuk tata kramanya semampu kita. walaupun sedikit yang penting ada daripada tidak sama sekali.

saya sebenarnya penasaran, apa sebenarnya tujuan kita menjelajahi bulan? apa hanya untuk mengeksplorasi bulan? kalo hanya untuk itu, saya fikir sudah cukup dengan hasil jelajah pertama oleh Apollo 11.

--
Asis Pattisahusiwa

Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon


4.

teori dasar pesawat atwood

Posted by: "Aulia Setiaji" auliasetiaji@yahoo.com   auliasetiaji

Tue Nov 11, 2008 9:04 am (PST)

saya mahasiswa PGRI Semarang jurusan fisika, saya kesulitan untuk memahami teori tentang pesawat atwood. untuk itu saya minta bantuan untuk diberikan materi tesebut

aulia eko setiaji

5.

[Mekanika] Kembalai ke konsep dasar Energi Potensial

Posted by: "Husnin Mubarak" my@husninmubarak.com   husnin.mubarak

Tue Nov 11, 2008 2:18 pm (PST)

Dear Milis Yth.
Energi Potensial adalah energi yang dimiliki benda karena posissinya.
V = mgh, posisi ini diukur dari titik acual(CMIIW).

Bagaimana cara mengukur titik acuan ?
1. Pada Partikel yang bergerak vertikal keatas atau kebawah, sistem pegas yang digantung, ayunan sederhana, batang yang di gantung kemudian disimpangkan. Titik cuan diukur dari mana ? Apa dasarnya diambil titik acuan tersebut ?
2. Titik acuan dapat berubah sesuai dengan pilihan sistem koordinat ?
3. Dalam mencari persamaan gerak, sering menggunakan Formulasi Lagrange dan Hamilton.
L=T-V;H=T+V, Pada saat menentukan Energi Potensial (V), apakah ada hubngannya dengan Momen Inersia ?. Acuan diukur dari pusat massa atau dari ujung bawah ?

Mohon dikoreksi, dikomentari jika konsepnya keliru.

Terimakasih
Husnin Mubarak
@: my@husninmubarak.com
YM: husnin.mubarak

6.

Suplemen TWAS

Posted by: "Rasahgelo" rasahgelo@yahoo.com   rasahgelo

Tue Nov 11, 2008 4:31 pm (PST)

yth. anggota fisika_indonesia,

dalam rangka memperingati ulang tahun ke-25 TWAS (The Academy of
Sciences for the Developing World), Nature Publishing Group
menerbitkan suplemen 'A World of Science in the Developing World' yang
merupakan '... a reflection of the insights and expertise of TWAS
members and scientists who have been closely associated with the academy.'

Artikel-artikel mereka bisa diakses bebas di
http://ealerts.nature.com/cgi-bin24/DM/y/hoiD0bTwJ40HjC0B83C0ER

Salah satu artikel menarik yang terkait dengan basic sciences adalah
'Do the Maths' oleh Le Dung Trang, kepala grup matematika ICTP,
Trieste (link artikel di
http://www.nature.com/nature/journal/v456/n1s/pdf/twas08.42a.pdf)

Satu paragraf penting dalam artikel tersebut yang menurut saya patut
menjadi renungan kita bersama adalah 'More recently, other developing
countries have emerged as vibrant centres of mathematical research and
training, with faculty and students competing successfully on the
world stage. These include Brazil (in dynamical systems), China (in
differential geometry), India (in combinatory mathematics), Mexico (in
geometry and analysis) and Vietnam (in convex analysis).'

salam,
h.

7.

Re: Keajaiban medan magnet di Madinah

Posted by: "Ma'rufin Sudibyo" marufins@yahoo.com   marufins

Tue Nov 11, 2008 7:01 pm (PST)

Sebelum memperbincangkan magnetiknya, coba dilihat batuannya dulu.

Kota Madinah dan sekitarnya secara geologis berdiri di atas Arabian Shield yang tua (umur 700-an juta tahun) yang dihiasi endapan lava alkali basaltik (thoelitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang usianya muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa ini muncul ke permukaan Bumi dari kedalaman 40-an km melalui zona rekahan sepanjang 600 km yang dikenal sebagai Makkah-Madinah-Nufud volcanic line, karena membentang dari dekat Makkah di selatan, melintasi Madinah dan berujung di daratan Nufud di utara. Sehingga vulkanisme Arabia merupakan vulkanisme hotspot seperti halnya vulkanisme Kepulauan Hawaii dan sangat bertolak belakang dengan vulkanisme produk subduksi antar lempeng (seperti di Indonesia) yang menghasilkan magma bersifat asam.

Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan ini, seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar (betul, Harrah Khaybar adalah perbukitan berbatu tandus yang menjadi lokasi benteng-benteng suku Yahudi dalam Perang Khaybar). Namun jangan bayangkan gunung-gunung ini berbentuk kerucut yang menjulang tinggi dan eksotis sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Karena vulkanisme Arabia lebih didominasi erupsi efusif (leleran) sehingga gunung berapi yang muncul bersifat melebar, dengan puncak-puncak yang rendah dan 'jelek'. Kompleks semacam ini lebih cocok disebut volcanic field (atau harrah, dalam bahasa Arab-nya).

Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km, ia membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 2.000 km kubik endapan lava yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir Harrah Rahat telah meletus besar sebanyak 13 kali dengan periode antar letusan rata-rata 346 tahun. Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256 CE, yang memuntahkan 500 juta meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. Lava ini mengalir hingga 23 km ke utara dan hampir menenggelamkan kota suci Madinah yang letaknya memang lebih rendah, jika saja tidak ada mukjizat yang membuat aliran lava berhenti ketika jaraknya tinggal 4 km saja dari Masjid Nabawi. Jangan bandingkan letusan itu dengan, misalnya, Merapi 2006 yang 'hanya' memuntahkan 8 juta meter kubik lava saja.

Nah, basalt, secara umum tersusun dari mineral piroksen, olivin, ilmenit dan feldspar. Tiga mineral pertama mengandung besi namun tidak dalam porsi dominan seperti Fe3O4. Memang dimungkinkan mineral-mineral itu melapuk dan kemudian besi-nya membentuk Fe3O4 sendiri dan terkonsentrasi di Jabal Magnet hingga menghasilkan anomali magnetik mengingat Fe3O4 memiliki sifat ferromagnetik. Namun ini sulit dibayangkan mengingat umur basalt di sekitar Madinah masih sangat muda, tidak lebih dari 2 juta tahun. Terlebih dengan sumber panas (magma) di bawahnya, memungkinkan besi melampaui titik Curie terutama saat letusan sehingga kehilangan sifat kemagnetannya.

Anomali magnetik memang ada di sebelah utara Madinah, yakni di dekat dataran tinggi Nufud. Namun anomali ini lebih terkait dengan struktur sirkular al-Madafi yang dicurigai merupakan kawah produk tumbukan benda langit jutaan tahun silam, dimana kemungkinan benda langit tersebut adalah meteorit siderit yang sangat kaya akan besi (kandungan besi-nya bisa mencapai 90 % berat). Namun Jabal Magnet terpisah cukup jauh dari al-Madafi sehingga sulit untuk mengaitkan keduanya.

Memang semuanya perlu diteliti lebih lanjut. Perlu ada survei magnetik dan gravitasi di Jabal Magnet. Hanya, sependek pengetahuan saya, fenomena di Jabal Magnet lebih mirip dengan fenomena sejenis di Gunung Kelud, yang tempo hari telah diteliti secara intensif oleh pak Amin Widodo dkk dari ITS. Fenomena Gunung Kelud sendiri disimpulkan merupakan 'ilusi optik' karena pengaruh soil creep yang membuat tegakan pohon-pohon di sisi jalan itu menjadi berbeda.

Di Jabal Magnet, 'ilusi optik' itu mungkin lebih dikontrol oleh gerakan dari bawah permukaan Bumi. Pada 1999 silam otoritas Saudi Geological Survey (SGS) sempat dikejutkan dengan adanya aktivitas swarm (gempa kecil terus menerus) di Harrah Rahat, pertanda naiknya sejumlah besar magma. Ini memaksa SGS memasang sejumlah seismometer. Dan di sekitar Madinah diketahui betapa aktifnya kegempaan Harrah Rahat, terkait dengan migrasi magma tersebut, yang memproduksi ratusan gempa-gempa kecil tiap hari dengan magnitude 1 - 3 skala Richter dan adakalanya mencapai 4 skala Richter. Barangkali migrasi magma tadi juga menyelusup ke bawah Jabal Magnet dan menghasilkan perubahan kontur permukaan.

Salam,

Ma'rufin

________________________________
From: muzadi didik optalnindi <ddk_on@yahoo.com>
To: sains@yahoogroups.com; guru_cerdas@yahoogroups.com; fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Saturday, September 27, 2008 7:52:52 AM
Subject: [sains] Terusan: [Ida Arimurti] Fwd : Keajaiban medan magnet di Madinah

dodi budiristio <dodibudiristio@ yahoo.com> wrote: Kepada: alumni_smariagitma <alumni_smariagitma@ yahoogroups. com>,
idaarimurtiandfrien ds@yahoogroups. com, genaro-ngalam@ yahoogroups. com
Dari: dodi budiristio <dodibudiristio@ yahoo.com>
Tanggal: Wed, 17 Sep 2008 00:44:36 -0700 (PDT)
Topik: [Ida Arimurti] Fwd : Keajaiban medan magnet di Madinah

Cerita keajaiban medan magnet di Madinah

Ada sebuah wilayah di utara Madinah yang merupakan tempat wisata warga sekitar, letaknya di balik Gunung Uhud, sekitar 25 kilometer utara pusat kota Madinah. Jalan raya di sana menuju kuldesak, jalan buntu. Banyak warga camping di sini. Jangan dibayangkan sama seperti di Indonesia, di mana tempat perkemahan biasanya merupakan lahan hijau nan penuh rumput dan pepohonan.

Di utara Madinah ini, lahan tempat campingnya adalah sebuah tanah lapang tandus, padang pasir, dengan pohon dan semak sesekali dikelilingi oleh bukit batu. Daerah ini berada di luar batas tanah haram.

Warga Madinah yang ingin melakukan perkemahan atau sekadar jalan-jalan biasanya membawa tenda sendiri dan berkendaraan pribadi. Mereka juga membawa makanan sendiri. Persis tradisi rakyat Indonesia di era tahun 1970-an yang sering melakukan piknic di pinggir jalan dengan beralaskan tikar dan makan-makan seadanya, duduk bersama di bawah pohon.

Wilayah ini termasuk wilayah tersubur di Madinah, selain di Quba. Jalannya berkelak-kelok, berbeda dengan jalan-jalan raya kebanyakan di sini yang lurus-lurus. Yang tumbuh ditanahnya juga kurma terbaik di Jazirah Arab, kurma Nabi atau Kurma Ajwa. Dinamakan demikian karena diyakini pohon kurma tersebut dahulu langsung ditanam Rasulullah SAW. DI masa dahulu, wilayah ini merupakan tempat uzlah atau menyepi bagi mereka yang tengah berselisih pendapat agar bisa mendapat ketenangan.

Namun, yang membuat wilayah ini terkenal ke seantero jagad bukanlah karena wilayah yang disebut sebagai perkampungan putih (Mantheqa Baidha) ini dijadikan tempat wisata, melainkan keajaiban alamnya yang hanya ada di segelintir tempat di dunia. Banyak orang percaya bahwa di daerah ini terdapat sebuah medan magnetik yang sangat kuat dan besar.

Fenomena alam yang luar biasa ini bisa dirasakan sepanjang lima kilometer ruas jalan dari ujung aspal sampai pintu masuk ke daerah ini. Jalan ini sendiri berakhir di lima deret bukit yang mengelilingi wilayah tersebut. Jalannya turun naik. Namun kendaraan yang menuju perbukitan jalannya hanya bisa pelan, seolah ada yang menahan. Sebaliknya, dari arah perbukitan, walau jalannya tidak menurun tetapi turun naik, semua kendaraan akan berjalan dengan cepat bahkan bisa sampai 120km/jam walau persneling dibebaskan. Bahkan kendaraan dimatikan pun akan tetap melaju sekencang itu.

Ini tentu bukan isapan jempol. Beberapa jamaah Indonesia sempat membuktikan cerita itu. Kami sendiri mencoba untuk mengetes apakah memang ada medan magnet atau sekadar tipuan mata. Dengan sebuah bus besar, rombongan kami melalui daerah ini. Sesaat menjelang masuk ke wilayah yang dikatakan ada medan magnetiknya, guide Kami menyerukan agar handphone yang ada segera dimatikan untuk menghindari hilangnya data. Semua penumpang mengeluarkan ponselnya dan mematikan. Kecuali ponsel milik Kami. Kami ingin mengecek benar tidaknya himbauan guide kami tersebut.

Sesaat kemudian, guide kami berseru, "Inilah saatnya…". TIba-tiba bus besar yang kami tumpangi memposisikan free pada roda gigi busnya…dan bus pun berhenti. Tak sampai beberapa detik, bus yang tadinya berhenti dan masih di free roda giginya tiba-tiba bergerak perlahan. Kian lama kian kencang. Hingga ajaib, kendaraan yang Kami tumpangi melaju dengan kecepatan 90 kilometer per jam sejauh tiga kilometer!

Sang pemandu perjalanan Kami mencoba menerangkan fenomena unik. Dia mengatakan bahwa kemungkinan besar bukit-bukit yang ada di sekitar mengandung magnet yang kuat, sehingga bisa menarik tiap logam ke arahnya.
Kami pun mengecek ponsel yang tidak Kami matikan. Ternyata benar. Ponsel Kami tidak bekerja dan bahkan banyak data hilang di dalamnya. Kami jelas sedih, tapi rasa takjubnya jauh lebih besar.

Subhanallah… Allahu Akbar!

Kami telah membuktikannya. Dan bagi siapa saja yang pergi HAJI atau umroh dan melalui wilayah ini, segera matikan ponsel Anda dan bersiap menikmati pengalaman yang tidak terlupakan. Jangan lupa, matikan ponsel Anda, atau data-data di dalam ponsel akan banyak yang hilang….

Kian Besar Kian Cepat

Menurut warga sekitar, kecepatan kendaraan yang bisa ditarik oleh medan magnet di wilayah ini bisa berbeda-beda. Semakin besar dan berat kendaraan yang melintas, maka akan semakin cepat magnet menariknya hingga bisa sampai 120 kilometer perjam sejauh lima kilometer! Sudah banyak yang membuktikan hal tersebut. Ada sejumlah orang yang datang dengan kendaraan berbeda dan membuktikannya.

Bukit Gravitasi
Tidak banyak tempat di seluruh dunia yang memiliki medan magnetic seperti di Madinah ini. Tempat serupa ada di Korea Selatan, Yunani, Australia, timur Amerika, dan juga di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya saja, kekuatan magnet di daerah-daerah tersebut tidaklah sekuat yang ada di Madinah.

Siapa pun bisa mengalami hal ini dengan mengunjungi langsung wilayah tersebut. Namun bagi yang belum bisa merasakan sendiri, silakan menonton fenomena unik ini dengan mengklik situs youtube dengan menulis 'Gravity Hills' atau 'Magnetic Hills' di kolom pencariannya.

Yang jelas, keajaiban ini seharusnya mampu menambah kecintaan kita kepada Allah SWT, yang telah menciptakan alam semesta seisinya dengan kesempurnaan. ......... .. (sumber : forumbebas)

------------ --------- --------- ---
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.

[Non-text portions of this message have been removed]

8a.

Re: tentang diskusi Pendaratan di bulan di MFI

Posted by: "Zaenal Arief" zaenal@pudak.com

Tue Nov 11, 2008 7:02 pm (PST)

baik pak Franklin kita sama-sama belajar, ngak pake emosi tapi pake logika sesuai usulan pak Franklin .

Zaenal

----- Original Message -----
From: Franklin
To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
Sent: Saturday, November 08, 2008 5:02 PM
Subject: [FISIKA] tentang diskusi Pendaratan di bulan di MFI

Bung Zaenal,

mungkin anda salah mengerti. Apakah saya balas memaki-maki Bung Roni?
Apakah saya balas menanggapi dia dengan menggunakan "Caps Lock" pada
posting saya? Mungkin Bung Zaenal pribadi segan memberitahukan
kesalahan Bung Roni dan menganggap sama sekali bukan masalah jika
diskusi berubah menjadi ajang saling bentak yang mana emosi
dikedepankan di atas logika, dan merasa cukup "dewasa" untuk toleran
dan membiarkan kesalahannya. Kali ini saya pun mengingatkan Bung
Zaenal sebagai sesama orang "dewasa": toleran terhadap suatu kesalahan
juga harus ada batasnya.

Mari kita objektif saja disini, diskusi kita akan pendaratan di bulan
sebenarnya semakin melorot kualitasnya jika sampai terjerumus menjadi
adu emosi dan saling bentak seperti (entah sengaja atau tidak sengaja)
menuliskan kata per kata dengan huruf besar-besar untuk menonjolkan
opininya.

Jika ada yang tersinggung dengan "hardikan" saya yang "tidak dewasa",
Franklin mengaku salah dan memohon maaf. Bagaimanapun juga, kita
belajar bersama-sama di milis ini. Bukankah dengan saling mengingatkan
kesalahan masing-masing, mengakui letak kesalahannya, dan berusaha
agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di saat yang akan datang
kita pun sama-sama melangkah maju menjadi pribadi yang lebih baik?
Terlebih lagi di milis ilmiah seperti Milis Fisika Indonesia.
Seharusnya logika, dan bukan emosi yang diutamakan disini.

salam,
Franklin

--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, "Zaenal Arief" <zaenal@...>
wrote:
>
> nah ini lebih "dewasa" dari pada pak Franklin, yg langsung
menghardik..... saya kira nggak semua orang ngerti tata krama email....

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Moderator Central

Get answers to

your questions about

running Y! Groups.

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                     <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================

Tidak ada komentar: