Kamis, 13 November 2008

[FISIKA] Digest Number 2586

Messages In This Digest (2 Messages)

Messages

1a.

Pendaratan di bulan, benarkah ?

Posted by: "yyoorrggaa" yyoorrggaa@yahoo.com   yyoorrggaa

Wed Nov 12, 2008 1:44 am (PST)

Oooo gitu ya. terima kasih banyak untuk info ttg geologi bulan.

Pa ma'rufin, saya pernah dengar bahwa penelitian tentang geologi
bulan juga telah mengungkapkan bahwa bulan pernah terbelah dua.
apakah hal ini valid?

regards,
Yorga

--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, Ma'rufin Sudibyo
<marufins@...> wrote:
>
> Dalam bincang2 tentang pendaratan manusia di Bulan, sering kita
terjebak pada "percaya nggak percaya" soal pendaratan itu, tanpa
mencoba menoleh lebih jauh tentang sumbangan ilmiah dari peristiwa
tersebut.
>
> Mari kita tinjau dua saja diantaranya. Saya mengutipnya dari
publikasi American Geophysical Union 1974 dan bulletin Icarus 168
(2004). Yang pertama itu himpunan geofisikawan yang prestisius,
sementara yang kedua bulletin ilmiah yang tak kalah prestisiusnya.
>
> Pertama, tentang interior Bulan. Mayoritas pemahaman struktur
internal Bulan datang dari data-data kegempaan Bulan (moonquake)
yang direkam seismometer-seismometer yang dipasang oleh misi Apollo
11 - 17 (kecuali Apollo 13), yang berfungsi hingga 1977 - 1983
ketika instrumen itu dimatikan karena pasokan listriknya telah
menyusut. Misalnya saja, antara 1972 - 1977 tercatat 38 kali gempa
Bulan sangat dangkal dengan magnitude hingga 5,5 skala Richter, yang
skala guncangannya di Bumi kita sudah melebihi dahsyatnya Gempa
Yogya. Ada empat jenis gempa Bulan : gempa sangat dalam (hiposentrum
> 700 km, disebabkan oleh gaya pasang surut dalam sistem Bumi-
Bulan), gempa tumbukan meteorit, gempa termal (hiposentrum ~ 60 km,
disebabkan oleh pemuaian kerak Bulan oleh sinar Matahari setelah 2
minggu menjalani kondisi malam) dan gempa sangat dangkal
(hiposentrum 20 - 30 km, disebabkan oleh pemerosotan struktur tepi
kawah muda).
>
> Dari data kegempaan ini, yang berdasarkan spektrum gelombang
primer (P) yang longitudinal/kompresional dan gelombang sekunder (S)
yang transversal, diketahui struktur internal Bulan terbagi ke dalam
tiga lapisan : kerak (tebal rata-rata 60 km), selubung/mantel (tebal
rata-rata 1.530 km, dari kedalaman 60 km hingga 1.590 km) dan inti
(diameter 350 km).
>
> Ada yang unik dari kerak Bulan, dimana pada wajah Bulan yang dekat
Bumi (Earthside) secara rata-rata 12 km lebih tipis ketimbang kerak
sisi jauh (farside). Ini membuat pusat massa Bulan dan pusat
geometrisnya jadi tak berimpit, yakni berselisih 1,8 km, sesuatu
yang tidak dijumpai di Bumi dan planet lainnya. Mengapa demikian?
Ini terkait dengan evolusinya.
>
> Selubung terdiri dari 3 lapisan : selubung atas, tengah dan bawah.
Kini kerak Bulan, selubung atas dan selubung tengah berada pada fase
padat, sementara selubung bawah (mulai kedalaman 1.000 km) dan inti
fasenya setengah cair. Tebalnya bagian padat ini membuat transfer
panas dari interior Bulan ke permukaan terjadi secara konduksi,
sehingga magma dari selubung Bulan tidak sanggup bermigrasi ke
permukaan baik secara konveksi maupun adveksi. Bandingkan misalnya
dengan Bumi, yang bagian padatnya hanya ada di kerak (dengan
ketebalan rata-rata 40 km), dialasi selubung yang setengah cair. Ini
membuat transfer panas ke kerak Bumi berlangsung secara konveksi dan
adveksi, dimana terjadi sirkulasi dalam selubung dan itulah yang
menggerakkan lempeng-lempeng tektonik.
>
> Mungkinkah data struktur interior Bulan didapat tanpa harus
meletakkan seismometer di permukaan? Secara teknis sangat sulit, dan
kalopun bisa hanyalah parsial. Clementine misalnya, pesawat
antariksa yang diorbitkan ke Bulan pada 1999, bisa mendeteksi inti
Bulan lewat sifat magnetik Bulan (yang sangat lemah) yang ditangkap
magnetometer boom-nya yang supersensitif, namun tidak untuk struktur
keseluruhan.
>
> Yang kedua, dinamika jarak Bumi-Bulan. Pemahaman ini berasal dari
data-data retroreflektor, yakni cermin khusus yang sengaja dipasang
di permukaan Bulan dalam misi Apollo 11 - 15 (kecuali Apollo 13) dan
dirancang sedemikian rupa sehingga jika dikenai seberkas cahaya maka
cahaya itu akan dipantulkan kembali ke sumbernya. Dengan menggunakan
Laser, jarak Bumi-Bulan bisa diketahui dengan sangat teliti. Pada
dekade 1970-an, ketidakpastian jarak Bumi-Bulan dengan
retroreflektor 'hanya' 15 cm, namun di dekade ini telah jauh lebih
akurat dengan ketidakpastian hanya 1 - 2 mm saja, sehingga bahkan
cukup memadai untuk menguji prinsip ekivalensi yang menjadi batu
bata dasar relativitas Einstein.
>
> Dari sini akhirnya diketahui bahwa sumbu mayor orbit Bulan selalu
bertambah besar sebanyak 3,6 cm/tahun. Ini terkait dengan gaya
pasang surut dalam sistem Bumi-Bulan, dimana implikasi perubahan itu
membuat periode rotasi Bumi menjadi sedikit melambat, sementara
Bulan semakin menjauh. Bulan akan terus menjauh dari Bumi sedikit
demi sedikit hingga sampai di region dimana gaya pasang surut sistem
Bulan-Matahari lebih dominan dan pada saat itu Bulan akan lebih
dikontrol oleh gravitasi Matahari.
>
> Jika diekstrapolasikan mundur ke belakang, mudah ditebak bahwa
Bulan pernah bergabung jadi satu dengan Bumi. Pemisahan (fission)
Bumi - Bulan diperkirakan terjadi pada masa awal tata surya ketika
proto-Bumi dihantam benda langit seukuran Mars, yang membuat
sebagian selubung Bumi terlepas ke angkasa dan terkondensasi sendiri
hingga membentuk Bulan. Ini konsisten dengan data densitas rata-rata
Bulan (yang besarnya 3,35 g/cc atau sama dengan densitas selubung
Bumi) dan keberadaan mineral ilmenit (FeTiO3) di batuan Bulan yang
10 kali lipat lebih tinggi dari batuan Bumi, sementara konsentrasi
ilmenit setinggi itu di Bumi hanya ditemukan pada selubung
(berdasarkan data seismik). Kesimpulan ini juga ditunjang rekaman
fosil stromatolit di Bumi dari zaman Devon (400 juta tahun silam),
yang jelas menunjukkan bahwa setahun Bumi saat itu terdiri dari 400
hari (bandingkan dengan 365 hari di masa sekarang).
>
> Mungkinkah menentukan pertambahan jarak 3,6 cm/tahun ini tanpa
meletakkan retroreflektor di Bulan? Amat sangat sulit, untuk tidak
mengatakan tidak mungkin. Dengan gelombang radar jelas tidak
mungkin, karena ketidakpastiannya cukup besar (dalam orde beberapa
ratus hingga beberapa km). Sementara menggunakan satelit, misalnya,
kita harus memperhitungkan efek relativitas umum akibat pelengkungan
kurvatur ruang-waktu di dekat Bumi dan juga di dekat Bulan, yang
membuat deteksi posisi satelit bisa bergeser beberapa km dari titik
yang sebenarnya.
>
> Dari dua hal itu saja, bisa dilihat bahwa misi Apollo ke Bulan
membuat pengetahuan kita tentang Bulan menjadi berlipat ganda secara
eksponensial.
>
> Saya percaya Wernher von Braun, Farouk el-Baz dan orang-orang
pinter di balik misi Apollo sejatinya takkan mempersoalkan skeptisme
dan hiruk pikuk tentang benar tidaknya pendaratan itu. Sebab ini
bukan wilayah "percaya nggak percaya", namun lebih pada bagaimana
mengkajinya, mengkritisinya dan sekaligus memaparkan antitesisnya
(kalo ada) dalam metodologi yang bisa dipercaya. Sebab pendaratan
itu sebuah peristiwa ilmiah, bukan dogma. Dan sejauh ini pihak2 yang
menganggap pendaratan di Bulan sebagai hoax gagal untuk menjelaskan
(secara ilmiah pula) bagaimana pengetahuan kita tentang satelit Bumi
itu menjadi berlipat ganda pasca dekade 1960-an. Terlebih data2 dari
misi Apollo tetap menunjukkan konsistensinya jika dibandingkan
dengan misi2 antariksa yang lebih kemudian, seperti Lunar Prospector
1996, Clementine 1999, Magellan 1989 dan Cassini 1997 (meski dua
yang terakhir tadi sebenarnya hanya memanfaatkan gravitasi Bulan
untuk pergi ke planet lain).
>
> Salam,
>
>
> Ma'rufin
>
>
>
>
> ________________________________
> From: Asis Pattisahusiwa <asisphysic04@...>
> To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, November 11, 2008 4:05:05 AM
> Subject: Re: [FISIKA] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
>
>
> sebelumnya saya minta maaf kalo ada kata-kata saya yang kasar.
namun, sebaiknya kalo kita bergelut di suatu bidang atau apapun
namanya, ada baiknya kita mengetahui seluk beluk bidang itu termasuk
tata kramanya semampu kita. walaupun sedikit yang penting ada
daripada tidak sama sekali.
>
>
> saya sebenarnya penasaran, apa sebenarnya tujuan kita menjelajahi
bulan? apa hanya untuk mengeksplorasi bulan? kalo hanya untuk itu,
saya fikir sudah cukup dengan hasil jelajah pertama oleh Apollo 11.
>
>
> --
> Asis Pattisahusiwa
>
> Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
>

2.

[artikel chem-is-try.org] Merubah batuan besi menjadi bahan anti kan

Posted by: "mr.soetrisno" chemcafe@yahoo.com   mr.soetrisno

Wed Nov 12, 2008 8:17 am (PST)

Kategori Kimia Anorganik
Merubah batuan besi menjadi bahan anti kanker
Oleh Viko Ladelta

Ada banyak bahan kimia yang sedang dikembangkan oleh para peneliti
saat ini karena prospeknya untuk di gunakan sebagai zat anti kanker.
Fokus terbesar adalah penelitian terhadap senyawa-senyawa dari
tumbuhan baik darat maupun tumbuhan laut yang bersifat aktif terhadap
sel kanker. Senyawa-senyawa ini pada umunya merupakan turunan
flavanoid. Sayangnya, untuk menemukan senyawa aktif tersebut
dibutuhkan waktu yang agak lama karena harus diekstrak dari berbagai
sumber, dikarakterisasi, diuji aktivitasnya kemudian baru disintesis
untuk memperbanyak jumlahnya.

Pada dua dekade belakangan, ahli Biomaterial mulai mempelajari
material-material anorganik untuk diaplikasikan sebagai anti kanker.
Magnetit (Fe3O4) adalah senyawa yang paling menjanjikan untuk bidang
ini. Magnetit merupakan salah satu jenis oksida besi yang paling umum
dikenal dan terdapat cukup banyak di alam. Sesuai namanya, senyawa ini
bersifat magnet (magnet alam pertama yang ditemukan manusia).
Strukturnya sangat unik yaitu spinel terbalik karena sebenarnya
senyawa ini merupakan gabungan dari dua oksida besi yaitu FeO dan
Fe3O4 yang dihubungkan oleh jembatan oksigen. Struktur seperti ini
menghasilkan resultan momen magnet yang nyata serta kemampuan untuk
transfer elektron ke ion tetangga secara simultan.

[selengkapnya] http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=213

Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Special K Group

on Yahoo! Groups

Learn how others

are losing pounds.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web
===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke :
                     <fisika_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com>
===============================================================

Tidak ada komentar: