Kamis, 13 November 2008

[daarut-tauhiid] Miskin Syukur

taken from http://warnaislam.com

Pagi hari masih bisa beli nasi uduk, lengkap dengan bihun, tempe
goreng atau semur jengkol sebenarnya sudah bagus. Tetapi kerap mulut
berbicara lain, "Nasi uduk melulu, nggak ada makanan lain?" Akhirnya
sampai sore sepiring nasi uduk itu tak disentuh sama sekali.

Sudah sepuluh tahun bekerja dan punya penghasilan tetap saja mengeluh,
"Kerja begini-begini saja, nggak ada perubahan, gaji sebulan habis
seminggu…" Belum lagi `nyanyian' isteri di rumah, "cari kerja tambahan
dong pak, biar hidup kita nggak susah terus"

Dikaruniai isteri yang shaleh dan baik masih menggerutu, "baik sih,
rajin sholat, tapi kurang cantik…" Tidak beda dengan seorang perempuan
yang menikah dengan pria bertampang pas-pasan, "Sudah miskin nggak
ganteng pula. Masih untung saya mau nikah sama dia…"

Punya kesempatan memiliki rumah meski hanya type kecil dan rumah
sangat sederhana tentu lebih baik dari sekian orang yang baru bisa
mimpi punya rumah sendiri. Disaat yang lain masih ngontrak dan
nomaden, mulut ini berceloteh, "Ya rumah sempit, gerah, sesak.
Sebenarnya sih nggak betah, tapi mau dimana lagi?"

Sudah bagus suaminya tidak naik angkot atau bis kota berkali-kali
karena memiliki sepeda motor walau keluaran tahun lama. Eh,
bisa-bisanya sang isteri berkomentar, "Jual saja pak, saya malu kalau
diboncengin pakai motor butut itu".

Ada lagi yang dikaruniai anak, sudah bagus anaknya terlahir normal,
tidak cacat fisik maupun mental. Gara-gara anaknya kurang cantik atau
tidak tampan, ia mencari kambing hitam, "Bapak salah milih ibu nih,
jadinya wajah kamu nggak karuan begini". Padahal di waktu yang
berbeda, ibunya pun berkata yang hampir mirip, "Maaf ya nak, waktu itu
ibu terpaksa menikahi bapakmu. Habis, kasihan dia nggak ada yang naksir".

Kita, termasuk saya, tanpa disadari sudah menjadi orang-orang miskin.
Bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, justru sebaliknya kita
tengah berlimpah harta dan memiliki sesuatu yang orang lain belum
berkesempatan memilikinya. Kita benar-benar miskin meski dalam keadaan
kaya raya, karena kita tak pernah bersyukur dengan apa yang
dianugerahkan Allah saat ini. Ya, kita ini miskin rasa syukur.

Punya sedikit ingin banyak, boleh. Dapat satu, ingin dua, tidak
dilarang. Merasa kurang dan mau lebih, silahkan. Tidak masalah kok
kalau merasa kurang, sebab memang demikian sifat manusia, tidak pernah
merasa puas. Pertanyaannya, yang sedikit, yang satu, yang kurang itu
sudah disyukuri kah?

Pada rasa syukur itulah letak kekayaan sebenarnya. Berangkat dari rasa
syukur pula kita merasa kaya, sehingga melahirkan keinginan membagi
apa yang dipunya kepada orang lain. Kita miskin karena tidak pernah
mensyukuri apa yang ada. Meski dunia berada di genggaman namun kalau
tak sedikit pun rasa syukur terukir di hati dan terucap di lisan,
selamanya kita miskin.

Coba hitung, duduk di teras rumah sambil sarapan pagi, ditambah
secangkir kopi panas yang disediakan isteri shalihah. Sesaat sebelum
berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor, lambaian tangan si kecil
seraya mendoakan, "hati-hati Ayah…". Subhanallah, ternyata Anda kaya
raya! (gaw)

__._,_.___
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
===================================================
Recent Activity
Visit Your Group
Need traffic?

Drive customers

With search ads

on Yahoo!

Moderator Central

Get answers to

your questions about

running Y! Groups.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: