http://www.dakwatun
Tazkiyatun Nafs
24/9/2007 | 12 Ramadhan 1428 H | Hits: 1.547
Menjauhi Dosa Besar (Bagian 2)
Oleh: Tim dakwatuna.com
Sebab-sebab manusia cenderung berbuat dosa dan bahaya perbuatan dosa
Sebagaimana orang senang berbuat kebajikan karena dorongan untuk
memperoleh pahala dan balasan serta bertaubat positif dalam diri orang
tersebut. Ada pula sebagaian orang cenderung berbuat dosa. Hal ini
karena beberapa sebab seperti berikut ini:
1. Karena dia lupa kepada Allah swt.
Karena lupa bahwa Allah Maha Melihat dan Menyaksikan, membuat
seseorang merasa tidak mendapat penghalang dalam dirinya untuk
melakukan perbuatan dosa demi meraih kesenangan sesaat. Maka dari itu,
kalau dia sadar Allah swt. memperhatikannya, niscaya dia akan malu
melakukannya karena merasa diperhatikan Allah swt. Itulah sebabnya
kenapa orang cenderung bersembunyi ketika melakukan maksiat. Allah
swt. Mengingatkan lepada kita, jangan lupa kepada Allah swt. (Al
Hasyr: 19).
2. Karena dia lupa bahwa Allah swt. yang telah mengkaruniai segala
sesuatu kepadanya
Seharusnya manusia berterima kasih melalui ketaatan-ketaatan yang
dilakukan untuk-Nya. Tapi, manusia justru melakukan yang sebaliknya:
memakai semua yang dikaruniai Allah untuk melanggar larangan-Nya. Hal
itu seperti pernah disebutkan oleh Nabi Zakaria kepada Bani Israil;
Bagaimana kalau kalian mempunyai budak atau pegawai yang kalian penuhi
segala kebutuhannya ternyata dia menyeleweng dan bekerja untuk orang
lain. Tentu hal itu tidak wajar dan tidak pantas serta layak diskors
atau dihukum. Padahal, nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya
tidak terhitung banyaknya. (Ibrahim: 34)
3. Karena dia lupa kalau Allah swt. itu selain Maha Pengasih juga
keras siksaan-Nya
Banyak pendosa ketika diingatkan agar berhenti dari maksiatnya serta
merta dia menjawab Allah swt. itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang
dengan tetap terus bermaksiat ria. Padahal selain memiliki sifat
tersebut, Allah juga memiliki sifat Maha Keras azabnya. (Al Maidah: 98)
4. Bahwa setiap perbuatan manusia ada catatan yang ditulis oleh malaikat
Catatan malaikat ini sebagai bukti baik-buruknya seluruh perbuatan
manusia (Qaf: 17-18). Tidak ada satupun perbuatan kita yang terlepas
dari catatan malaikat. Bahkan di hari akhirat kelak seluruh anggota
tubuh kita akan bersaksi: lidah, tangan, kaki, dan lain-lain (An-nur:
4). Kalau orang merasa bahwa dia telah dijasai, diperhatikan dan
bahkan dihadapkan kepada ancaman, niscaya dia akan berhati-hati untuk
tidak terjerumus ke dalam kubangan dosa yang berakibat sangat fatal di
dunia dan apalagi di akhirat.
Macam-macam dosa besar
Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang jumlah
macam-macam dosa besar itu. Ada yang mengatakan 3, ada yang mengatakan
7, ada pula 9 dan ada pula 70 sampai ada 300 macam.
Di antaranya disebutkan Rasulullah saw. seperti yang di riwayatkan
oleh Imam Muslim, syirik kepada Allah, membunuh anak karena takut
miskin, men-zinai istri tetangga, durhaka terhadap kedua orang tua,
bersaksi bohong, membunuh, bermain sihir, dan memakan harta anak yatim.
Adapun secara garis macam dosa besar yang dimaksud adalah sebagai
berikut :
1. Menyekutukan Allah
Yaitu dengan menjadikan selain Allah sebagai tandingan dan sekutu
dalam segala hal dan sekecil apapun. Ini termaktub dalam ayat di atas:
"Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia." Seluruh manusia
harus mengakui bahwa Allah adalah Esa. Tidak ada sesuatupun yang patut
disembah, diminta pertolongan dan dipatuhi kecuali Allah swt. Kadang
masyarakat kita tidak sadar melakukan sesuatu yang menyimpang dalam
berdoa dan memohon kepada Allah. Bahkan ada di antara mereka, karena
begitu lama hidup dalam kesulitan dan kemiskinan lalu lari ke kuburan,
tempat-tempat keramat dan perdukunan agar diberikan jalan hidup yang
lebih baik.
Syirik terbagi dua bagian: syirik akbar dan syirik ashgar.
Masing-masing memiliki dua bagian: dzahirun jali (yang tampak nyata)
dan bathinun khafi (yang samar tersembunyi)
akbar adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam melakukan sesuatu
perbuatan yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah,
seperti menjadikan tuhan-tuhan lain bersama Allah, baik secara
terang-terangan dengan mentaati, menyembah, memohon pertolongan selain
kepada Allah, dan tersembunyi, seperti sifat sombong, takabbur dan
ujub, yang kesemua hal tersebut merupakan bagian syirik yang
tersembunyi, sebagainana dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa Allah
swt. tidak akan memasukkan seorang hamba kedalam surga apabila di
dalam hatinya ada sebesar atom (biji sawi) dari sifat takabbur. Atau
bersumpah dan bernadzar kepada selain Allah. "Kemusyrikan lebih samar
ketimbang derap langkah semut di atas batu hitam di malam yang gelap
gulita." Adapun yang dimaksud dengan syirik kecil adalah menganggap
sesuatu benda memiliki kekuatan gaib, seperti memakai kalung dan
benang sebagai jimat, peramal, dukun atau tenung dan guna-guna.
Kedua bagian dari syirik tersebut di atas merupakan dosa besar yang
tidak akan diampuni oleh Allah swt. Seperti yang telah difirmankan
dalam surat An-Nisa ayat 116: "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni
dosa mempersekutukkan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa
yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki. Dan
barangsiapa mempersekutukkan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah
tersesat sajauh-jauhnya.
Satu hal yang dianggap syirik oleh Allah adalah melakukan kurban untuk
berhala-berhala atau selain Allah. Bentuknya tidak terbatas hanya pada
menyembelih binatang, tetapi juga dengan mempersembahkan sesajen ke
laut dan sejenisnya. Perbuatan ini jelas-jelas berbau syirik. Namun,
setan membungkusnya dengan berbagai hal yang berbau Islami. Sehingga
orang-orang yang tidak mengerti menyangka bahwa apa yang mereka
lakukan adalah ajaran Islam. Padahal tidak sama sekali. Setan tidak
hanya masuk melalui pintu-pintu kejahatan untuk menyesatkan manusia,
tetapi ia juga masuk melalui pintu-pintu ibadah dengan menimbulkan
ritual baru yang dibungkus dengan beberapa hal berbau Islam. Tujuannya
tak lain adalah menyesatkan kaum muslimin dan manusia pada umumnya. Di
negeri ini ritual-ritual pengorbanan dan persembahan sesajen masih
sangat sering dilakukan di berbagai pelosok. Yang menyedihkan adalah
mereka yang melakukannya notabene adalah kaum muslimin, bahkan mereka
menganggap hal itu ajaran Islam. Na'udzubillah!
Juga sama halnya dengan mengundi nasib, meramal, dan sejenisnya. Nasib
adalah perkara gaib yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah. Para
peramal itu hanya menerka-nerka dan sebagian meneruskan bisikan setan
kepadanya. Sesuatu yang bersifat spekulatif kadang-kadang memang
mengena, tetapi itu tetap tidak mengubah statusnya dari hal yang
spekulatif. Ramalan bintang, shio, membaca telapak tangan, kartu
tarot, dan sejenisnya merupakan variasi bentuk dari meramal dan
mengundi nasib. Bentuk berbeda, tetapi hakikatnya sama. Jadi semua
dosa kemungkinan dapat diampuni oleh Allah swt. kecuali syirik. Sebab,
syirik merupakan pangkal segala kejahatan dan sumber dosa yang
dilakukan manusia. Orang musyrik sama dengan orang yang mengingkari
keberadaan Allah swt.
2. Sihir
Sihir adalah perbuatan setan yang disampaikan kepada manusia sehingga
dirinya merasa punya kekuatan, menetahui yang ghaib dan lain
sebagainya. Setan mengajarkan sihir untuk menyesatkan pelaku dan umat
manusia, sehingga orang yang melihat sihir seakan suatu kebenaran.
Sebagaimana firman Allah:
"Dan ikutilah apa yang dibacakan oleh setan atas kerajaan Sulaiman,
padahal Sulaiman tidak ingkar (kepada Allah) namun setanlah yang
ingkar, mereka mengajarkan kepada manusia sihir." (Al-Baqarah: 102)
Dalam keseharian banyak kita temui jenis-jenis sihir, baik dukun,
santet, pelet, dan lain sebagainya. Dan apapun jenisnya sihir adalah
bagian dari kafir dan dosa besar.
3. Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang benar
Membunuh jiwa yang diharamkan kecuali karena ada sesuatu sebab yang
benar. Seperti yang ditegaskan dalam firman Allah: "Dan janganlah kamu
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang benar". Yaitu membunuh orang lain tanpa ada sebab
dan alasan yang dibenarkan Islam seperti mempertahankan akidah dan
jiwa dalam perang, qishas (membunuh pembunuh seseorang secara
sengaja), membunuh orang yang murtad dan terang-terangan memusuhi
Islam, dan berzina padahal sudah menikah. Rasulullah saw. pernah
bersabda: "Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang bersaksi bahwa
tiada Ilah selain Allah dan aku adalah Rasulullah melainkan dengan
salah satu dari tiga sebab: pezina yang sudah menikah, jiwa dengan
jiwa, dan orang yang meninggalkan agama serta memisahkan diri dari
jama'ah."
Isyarat di atas tidak terbatas pada pengharaman membunuh jiwa, namun
mencakup pada perbuatan yang menjurus pada pembunuhan, seperti
permusuhan dan adu domba sehingga orang lain bertikai dan saling
membunuh, dengki dan lain-lain pada perbuatan yang akibatnya
menghilangkan nyawa orang.
Dalam ayat lain Allah swt. banyak mengisyaratkan akan pelarangan tiga
perkara; syirik, zina, dan membunuh jiwa saling beriringan. Ini karena
ketiga hal tersebut merupakan tindak kriminal yang dikategorikan
sebagai pembunuhan. Syirik misalnya dapat membunuh fitrah dan hati
yang terdapat dalam diri manusia, zina dapat membunuh kehidupan
sosial, sedangkan yang ketiga merupakan pembunuhan jiwa seseorang
secara sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan.
Orang yang membunuh seseorang disebut pembunuh, fasiq, dzalim atau
pendurhaka dan kafir. Sebagaimana disabdakan dalam hadits Rasulullah
saw.: "Memaki-maki orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya
adalah kekafiran." (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu majah)
Adapun ganjaran bagi orang yang membunuh adalah dosa besar, walaupun
yang dibunuh adalah musuh Allah atau orang kafir yang memiliki ikatan
perjanjian damai dengan negara Islam dan telah mendapatkan jaminan
keamanan. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw.: "Barangsiapa yang
membunuh kafir mu'ahad (orang kafir yang tinggal di negeri yang
terikat perjanjian damai dengan negara Islam), maka ia tidak akan
dapat mencium bau surga. Ketahuilah bahwa bau surga itu dapat dicium
dari jarak perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu
majah)
Sedangkan ganjaran orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja,
maka hukumannya adalah neraka Jahannam (An-Nisa: 93). Dalam hadits
disabdakan: "Lenyapnya dunia ini lebih ringan menurut Allah daripada
membunuh seorang mukmin tanpa adanya alasan yang benar." (HR. Ibnu majah).
Dan yang termasuk membunuh yang dilarang Allah adalah membunuh anak
yang telah diamanahkan Allah karena takut jatuh miskin dan melarat,
karena Allah sendiri yang akan memberi rizki kepada mereka. Seperti
yang telah difirmankan Allah, "Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu
karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada
mereka."
Orang-orang Arab semasa jahiliyah biasa membunuh anak putrinya
hidup-hidup. Sebagian di antara mereka ada yang didorong rasa cemburu,
ada yang takut miskin, dan mayoritas melakukannya karena untuk
menghindari rasa malu dan aib. Sehingga Allah menurunkan ayat yang
melarang mereka membunuh anak, entah apa pun alasannya. Sebab
Allah-lah yang menciptakan, memberi rezeki dan sudah menjamin bagi
hamba-hamba-
Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., "Apakah dosa yang
paling besar?" Beliau menjawab, "Engkau menjadikan tandingan bagi
Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.
"Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab, "Engkau membunuh anakmu karena
takut dia akan makan bersamamu."
Larangan membunuh anak mengisyaratkan akan keuniversalan ajaran Islam
dan keunikannya. Dimana setelah Allah menjabarkan hak orang tua dari
anaknya dan kewajiban anak terhadap orang tua, Allah juga tidak
mengesampingkan hak anak dari orang tuanya dan kewajiban orang tua
terhadap anaknya. Keduanya harus saling beriringan dan sejalan, saling
memberikan perhatian antara keduanya. Jangan sampai seorang bapak
menuntut kepada anaknya untuk berbuat baik kepadanya sementara ia
sendiri tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang bapak terhadap
anaknya: mendidik dan mengasuhnya serta membimbingnya dengan baik.
Patut disadari bahwa bimbingan, arahan, dan didikan orang tua kepada
anaknya akan mempengaruhi jiwa anak tersebut. Baik dan buruknya
seorang anak bergantung pada didikan orang tuanya.
Tentunya pemenuhan kewajiban orang tua terhadap anaknya merupakan
langkah pertama sebelum anak melakukan kewajibannya di hadapan orang
tuanya untuk berbuat baik. Orang tua harus memelihara, memberi makan,
mendidik dan mengasuh anaknya, dan memberi sesuatu yang terbaik
kepadanya. Ketika semua kewajiban itu terpenuhi, maka orang tua berhak
menuntut haknya dari si anak. Paling tidak sebagai imbalan atas
pemenuhan kewajiban-kewajiban ini, orang tua berhak mendapat
penghormatan, ketaatan, perlakuan baik, kasih sayang, dan perhatian
yang mereka perlukan di hari tua.
4. Berbuat keji, baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.
Hal ini diisyaratkan dalam firman-Nya: "Dan janganlah kalian mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun
yang tersembunyi.
Para mufassirin menafsirkan maksud dari kalimat "al-fawahis" dengan
segala bentuk kemungkaran dan kekejian. Ini berarti Allah melarang
semua kemungkaran dan kekejian, baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, agar manusia terjauhkan dari hal-hal yang kotor dan yang
dapat menodai kehormatannya. Sebagian mufassirin lainnya mengartikan
makna kalimat tersebut dengan zina, dan ditulis dalam bentuk jama'
(plural). Karena kemungkaran tersebut memiliki banyak pendahuluan yang
dapat menarik kepada perbuatan keji tersebut, seperti tabarruj
(buka-bukaan)
pacaran, pergaulan bebas, mengumbar senyum dan aurat, dan lain-lain
yang menyebabkan orang terjerumus dalam perzinaan. Pendapat tersebut
diperkuat dengan adanya kalimat "la taqrabu" (jangan mendekati).
Karena langkah untuk mencegah terjadinya perbuatan tersebut adalah
jangan sekali-kali mendekati perbuatan yang menjurus kepada perbuatan
zina.
Adapun maksud dari kalimat "terang-terangan dan sembunyi-sembunyi"
adalah bahwa segala kemungkaran dan kekejian haram hukumnya tanpa
terkecuali baik yang dilakukan dengan terang-terangan dan sembunyi.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Beliau berkata, "Semasa jahiliyah mereka
menganggap zina bukan dosa selagi dilakukan secara tersembunyi, dan
mereka menganggapnya keburukan jika dilakukan terang-terangan dan
terbuka."
5. Memakan harta orang lain dan harta anak yatim dengan cara yang bathil
Allah swt. berfiman:
"Dan janganlah kalian memakan harta sebagian dari kalian dengan
bathil, kecuali melalui jual beli dan saling ridho." (An-Nisa: 29)
"Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang
bathil, kalian mengambilnya melalui hakim (pengadilan) agar kalian
dapat memakan harta sekelompok manusia dengan dosa sedangkan kalian
mengetahui." (Al-Baqarah: 188)
"Sesungguhnya orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zhalim,
mereka memasukkan api neraka dalam perut mereka, dan mereka akan
dimasukkan ke dalam neraka sa'ir." (An-Nisa: 10)
"Dan ambillah harta anak yatim (dengan cara yang baik) dan janganlah
kamu ganti keburukan dengan kebaikan, dan janganlah kamu memakan harta
mereka seperti harta kamu sendiri, karena sesungghnya yang demikian
itu adalah merupakan dosa yang besar." (An-Nisa: 2)
-- bersambung..
http://www.dakwatun
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================

Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
Tidak ada komentar:
Posting Komentar