Jumat, 20 Mei 2011

[daarut-tauhiid] Kisah Seguci Emas

 

Kisah Seguci Emas

 

Sebuah kisah yang terjadi di masa
lampau, sebelum Nabi kita Muhammad dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada
kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara' yang sudah sangat
langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

 

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda:

 

Ada seorang laki-laki membeli
sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci
emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: "Ambillah emasmu,
sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas."

 

Si pemilik tanah berkata
kepadanya: "Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya."

 

Akhirnya, keduanya menemui
seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai
hakim itu: "Apakah kamu berdua mempunyai anak?"

 

Salah satu dari mereka berkata:
"Saya punya seorang anak laki-laki."

 

Yang lain berkata: "Saya punya
seorang anak perempuan."

 

Kata sang hakim: "Nikahkanlah
mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah
kalian berdua."

 

Sungguh, betapa indah apa yang
dikisahkan oleh Rasulullah ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan
materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas
kebendaan. Wallahul musta'an.

 

Dalam hadits ini, Rasulullah
mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual
merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka.
Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad
jual beli tersebut.

 

Kedua lelaki ini tetap bertahan,
lebih memilih sikap wara', tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu,
karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?

 

Mereka juga tidak saling berlomba
mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si
pembeli tanah: "Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu,
bukan membeli emas."

 

Barangkali kalau kita yang
mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan
dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita
sampaikan melalui kisah ini.

 

Hadits ini menerangkan ketinggian
sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang
bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara' mereka terhadap dunia, tidak
berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian
muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama
mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya
mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula
keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

 

Bandingkan dengan keadaan
sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: "Mencari yang haram
saja sulit, apalagi yang halal?" Subhanallah.

 

Kemudian, mari perhatikan sabda
Rasulullah dalam hadits An-Nu'man bin Basyir:

 

"Siapa yang terjatuh ke dalam
syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram."

 

Rasulullah sudah menjelaskan pula
dalam sabdanya yang lain:

 

"Tinggalkan apa yang meragukanmu,
kepada apa yang tidak meragukanmu."

 

Yakni tinggalkanlah apa yang
engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa
itu tidak mengandung kesamaran.

 

Sedangkan harta yang haram hanya
akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah, menghalangi terkabulnya
doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.

 

Tidak, ini bukan dongeng pengantar
tidur.

 

Inilah kisah nyata yang
diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan), yang Allah
berfirman tentang beliau:

 

"Dan tiadalah yang diucapkannya
itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (An-Najm: 3-4)

 

Kedua lelaki itu menjauh dari
harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi
hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya
lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan
di antara mereka.

 

Dengan keshalihan kedua lelaki
tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka
agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si
penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas
itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli
tanah, bukan emas.

 

Akan tetapi, rasa takut kepada
Allah membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan
tersebut.

 

Kemudian, datanglah keputusan
yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang
dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru
itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di
antara dua keluarga yang shalih ini.

 

Perhatikan pula kejujuran dan
sikap wara' sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak
yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak
jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu
lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya.

 

Pelajaran yang kita ambil dari
kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara' yang
sudah langka di zaman kita.

 

Adapun hukum masalah ini, maka
para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain,
lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik
emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli
dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual.
Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang
pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.

 

Berbeda dengan barang tambang
atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang
tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan
sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.

 

Kisah lain, yang mirip dengan
ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a'lam.

 

Beberapa abad lalu, di masa-masa
akhir tabi'in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah
seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya,
keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya
memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.

 

Pemuda itu adalah Tsabit. Baru
separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan
miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?

 

Akhirnya pemuda itu menahan
separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah
bertemu, dia berkata: "Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel
ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?"

 

Penjaga itu menjawab: "Bagaimana
saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu
adalah pemilik kebun apel ini."

 

"Di mana pemiliknya?" tanya
Tsabit.

 

"Rumahnya jauh sekitar lima mil
dari sini," kata si penjaga.

 

Maka berangkatlah pemuda itu
menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel
milik tuan kebun tersebut.

 

Akhirnya pemuda itu tiba di depan
pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata
dalam keadaan gelisah dan ketakutan: "Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa
saya datang ke sini?"

 

"Tidak," kata pemilik kebun.

 

"Saya datang untuk minta kerelaan
anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah
yang setengah lagi."

 

"Saya tidak akan memaafkanmu,
demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku," katanya.

 

Tsabit bertanya: "Apa syaratnya,
wahai hamba Allah?"

 

Kata pemilik kebun itu: "Kamu
harus menikahi putriku."

 

Si pemuda tercengang seraya
berkata: "Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi
putri anda? Ini anugerah yang besar."

 

Pemilik kebun itu melanjutkan:
"Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan."

 

Akhirnya pemuda itu berkata:
"Baiklah, saya terima."

 

Si pemilik kebun berkata pula:
"Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta,
tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri."

 

Pemuda itu sekali lagi
terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan
dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan
Hakim Yang Maha Adil?

 

"Kalau kau mau, datanglah sesudah
'Isya agar bisa kau temui istrimu," kata pemilik kebun tersebut.

 

Pemuda itu seolah-olah didorong
ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki
kamar istrinya dan memberi salam.

 

Sekali lagi pemuda itu kaget luar
biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang
wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata
mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini?
Siapa gerangan dia?

 

Akhirnya dia bertanya siapa gadis
itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.

 

Istrinya itu balik bertanya: "Apa
yang dikatakan ayahku?"

 

Kata pemuda itu: "Ayahmu
mengatakan kamu buta."

 

"Demi Allah, dia tidak dusta.
Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah."

 

"Ayahmu mengatakan kamu bisu,"
kata pemuda itu.

 

"Ayahku benar, demi Allah. Saya
tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah murka."

 

"Dia katakan kamu tuli."

 

"Ayah betul. Demi Allah, saya
tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah."

 

"Dia katakan kamu lumpuh."

 

"Ya. Karena saya tidak pernah
melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah."

 

Pemuda itu memandangi wajah
istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah
seorang hamba Allah yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan
ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu'man; Nu'man bin Tsabit Abu Hanifah.

 

Duhai, sekiranya pemuda muslimin
saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya
para pemudinya seperti sang ibu, dalam 'kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan
kelumpuhannya'.

 

Demikianlah cara pandang
orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran?

 

Wallahul Muwaffiq.

 

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah/ibrah/425-kisah-seguci-emas-ibrah-edisi-49.html

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: