Kamis, 12 November 2009

[daarut-tauhiid] PRIORITASKAN TAUHID WAHAI KAUM MUSLIMIN !

 



Bismillaah

Assalamu'alaykum wa Rohmatulloohi wa Barokatuhu

*Prioritaskan Tauhid Wahai Kaum Muslimin!*

Suatu fenomena yang tidak bisa kita pungkiri adalah terpuruknya ummat Islam
di berbagai sisi kehidupan. Mulai dari sisi ekonomi, politik, moral-akhlaq
bahkan sisi 'aqidahnya dan hampir semua sisi kehidupannya, ummat Islam dalam
keadaan lemah. Dari fenomena ini muncul para pemerhati kehidupan ummat yang
berusaha untuk mengangkat keterpurukan tersebut. Kita lihat bagaimana
gigihnya mereka dalam usahanya tersebut, mulai dari mengadakan
seminar-seminar sampai kepada aplikasi nyata berupa praktek di lapangan.

Dari gambaran ini nampaknya mereka benar-benar ikhlash dalam usahanya
tersebut.

Di antara mereka ada yang memulai dengan membenahi sisi ekonominya dengan
beralasan bahwa jika ummat ekonominya kuat maka akan jaya. Yang lainnya
lebih menitik beratkan sisi politiknya, sosial budaya, moral-akhlaq dan
lainnya dengan mengemukakan argumentasinya masing-masing.

Tapi, wahai saudaraku kaum muslimin, apa yang diperoleh mereka dengan
usahanya tersebut? Kejayaan? Kemakmuran? Kesejahteraan? Atau bahkan ummat
semakin terpuruk keadaannya?

Benar, ummat Islam bukannya semakin membaik bahkan semakin terpuruk
kehidupan mereka, walaupun berbagai kalangan cendekiawan, ekonom, elit
politik telah berusaha mengatasinya. Mengapa hal ini terjadi wahai
saudaraku? Apa yang salah dari usaha mereka?

Iya, kita semua tidak bisa memungkiri usaha mereka tersebut, yang kita
menyangka mereka itu benar-benar ikhlash dan kita berharap demikian. Tapi
ingat, tidak cukup semata-mata ikhlash dalam melakukan suatu ibadah
(memperbaiki kondisi ummat) bahkan harus ditambah syarat yang kedua yaitu
sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bagaimana
Rasulullah mengatasi keterpurukan ummat pada zamannya, apakah memulai dengan
ekonomi, politik, sosial-budaya, moral-akhlaq atau bagaimana? Jawabannya ada
dalam hadits berikut ini:

Dari Ibnu 'Abbas rodhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam ketika mengutus Mu'adz bin Jabal rodhiyallahu 'anhu ke
Yaman, beliau bersabda: "Sesungguhnya Engkau akan mendatangi suatu kaum dari
Ahlul Kitab (Yahudi & Nashara), maka jadikanlah yang pertama kali Engkau
serukan kepadanya adalah syahadat (persaksian) bahwasanya tidak ada Tuhan
yang berhak diibadahi selain Allah -dalam suatu riwayat: sampai mereka
mentauhidkan Allah- maka jika mereka mentaatimu terhadap perkara tersebut,
maka beritahukan kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka
shalat lima waktu dalam sehari semalam, kemudian jika mereka mentaatimu
dalam perkara tersebut maka beritahukan kepada mereka bahwasanya Allah
mewajibkan atas mereka shadaqah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya
mereka lalu diberikan kepada orang-orang faqirnya. Maka jika mereka
mentaatimu terhadap perkara tersebut maka hati-hatilah kamu dari harta-harta
mulia (berharga dan paling mahal) milik mereka dan takutlah dari do'anya
orang yang terzhalimi karena sesungguhnya tidak ada antara do'a tersebut dan
Allah suatu hijab (penghalang) pun." (Muttafaqun 'alaih).

Urgensi Tauhid dalam Kehidupan

Kita lihat, bagaimana Rasulullah menyuruh Mu'adz agar memulai dakwahnya
kepada penduduk Yaman dengan tauhid, dalam keadaan penduduk negeri Yaman
adalah orang-orang miskin yang tentunya butuh perbaikan ekonomi. Inilah
manhaj dakwah para Nabi dalam memperbaiki kondisi ummat dengan memulai
tauhid terlebih dahulu. Dengan inilah Nabi dan para shahabatnya mencapai
kejayaan di mana Romawi dan Persi -bangsa adi kuasa pada waktu itu- tunduk
di bawah telapak kaki-telapak kaki mereka.

Kalau ada yang bertanya, bahwa yang didakwahi oleh Mu'adz adalah orang-orang
kafir (Ahlul Kitab) tentu tauhidlah yang paling utama agar didakwahkan
kepada mereka, sedang di negeri kita adalah orang-orang muslim yang sudah
mengetahui tauhid?

Kita jawab: benar di negeri kita adalah orang-orang muslim tapi sudahkah
mereka mengetahui makna dan hakikat tauhid (kalimat syahadat) dengan
sebenar-benarnya dan melaksanakan konsekuensi kalimat tersebut dalam amalan
mereka? Cobalah renungkan pertanyaan ini, wahai orang-orang yang ingin
memperbaiki kondisi ummat!

Tidakkah kita lihat, masih banyak di antara kaum muslimin yang mendatangi
kuburan para wali (atau yang dianggap wali), mereka berdo'a kepadanya,
meminta rizki kepadanya dan meminta agar dipenuhi berbagai kebutuhan mereka
kepada orang-orang yang ada dalam kuburan tersebut. Bukankah ini kesyirikan
yang nyata! Belum lagi praktek-praktek kesyirikan lainnya yang mereka
lakukan.

Sungguh benar firman Allah Ta'ala: "Dan sebagian besar dari mereka tidak
beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan
sembahan-sembahan lain)." (Yuusuf:106) . Al-Haitsamiy menjelaskan ayat ini:
"Banyaknya manusia terjerumus kepada kesyirikan tanpa mereka sadari."
Subhaanallaah, Allaahu Akbar!. Musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin
adalah terjatuh kepada kesyirikan dan kekufuran tanpa mereka sadari. Apakah
kita ridha kalau saudara kita atau teman kita sesama muslim atau bahkan kita
sendiri jatuh kepada kesyirikan tanpa kita sadari ???

Sungguh, wahai saudaraku kaum muslimin, kalau sebagian dari kita terjatuh
kepada kesyirikan atau kekufuran dalam keadaan dia hidup di tengah-tengah
kaum muslimin dan dakwah Islam telah sampai kepadanya maka dia tidak
dimaafkan (tidak ada 'udzur baginya) karena telah tegak hujjah atasnya.
Kalau dia mati dan masih dalam keadaan demikian (berbuat syirik) maka kita
perlakukan dia sebagaimana kita memperlakukan kaum musyrikin.
Na'uudzubillaahi min dzaalik, Nas`alullaahas Salaamah wal 'Aafiyah. Aamiin.

Untuk itu, wahai saudaraku kaum muslimin, wajib atas kita, wajib atas kita
dan sekali lagi wajib atas kita untuk mempelajari tauhid dengan
sebenar-benarnya -dan mementingkan perkara ini-, mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada keluarga kita, tetangga dan
kaum muslimin secara umum. Allah Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (At-Tahriim: 6).

Manhaj Dakwah kepada Allah

Hadits tersebut (hadits Ibnu 'Abbas di atas-pent) menjelaskan
langkah-langkah yang wajib yang harus ditempuh oleh seorang da'i yang
menyeru kepada Allah, maka awal sesuatu yang wajib ia mulai adalah berdakwah
kepada tauhid dan mengesakan Allah semata dengan ibadah dan menjauhi
kesyirikan yang kecilnya dan yang besarnya, dan yang demikian itu (akan
tercapai) dengan menyerukan kepada persaksian bahwasanya tidak ada yang
berhaq diibadahi selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah.
Dan maksud dari syahadat tersebut adalah bahwasanya ibadah-ibadah dengan
semua jenisnya adalah haq yang tetap untuk Allah semata, yang selain-Nya
tidak berhaq sedikitpun darinya, tidak dari malaikat yang didekatkan, Nabi
yang diutus, ataupun orang yang shalih, tidak pula batu, pohon, matahari,
bulan ataupun yang lainnya.

Maka tidak ada yang berhak diberikan do'a kecuali Allah semata, tidak ada
yang berhaq dimintai istighatsah (minta dihilangkan dari kesusahan,
kesempitan, mara bahaya dan sejenisnya) kecuali kepada-Nya, tidak ada yang
dimintai pertolongan kecuali kepada-Nya, tidak ada yang berhak ditawakkali
kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang berhak ditakuti dan diharapkan kecuali
Dia.

Maka barangsiapa yang memalingkan sesuatu dari ibadah-ibadah ini atau yang
lainnya kepada selain Allah maka sungguh ia telah berbuat syirik kepada
Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang
yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang
zhalim itu seorang penolongpun. " (Al-Maa`idah: 72).

Dan tidaklah yang diinginkan dari (pengucapan) kalimat Laa ilaaha illallaah
adalah pengucapan dengan lisan semata bahkan wajib untuk mengetahui maknanya
dan beramal dengan tuntutan kalimat tersebut dan juga harus menyempurnakan
syarat-syaratnya, syarat-syaratnya itu ada tujuh, yaitu:

(1). Al-'ilmu, yaitu mengetahui maknanya dengan benar yang meniadakan
kebodohan akan maknanya;
 
(2). Al-Yaqiin, yaitu meyakini kebenaran kalimat
tersebut yang meniadakan adanya keraguan;
 
(3). Al-Qabuul, yaitu menerima dengan sepenuh hati konsekuensi/ tuntutan kalimat
tersebut yang meniadakan penolakan;
 
(4). Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dan patuh terhadap kalimat
tersebut artinya kita melaksanakan dengan sebaik-baiknya tuntutan kalimat
tersebut, yang meniadakan dari meninggalkan kalimat tersebut;
 
(5). Al-Ikhlaash, yaitu kita mengucapkan kalimat tersebut karena Allah Ta'ala
bukan karena riya' atau lainnya, yang meniadakan adanya kesyirikan;
 
(6). Ash-Shidqu, yaitu jujur dalam mengucapkan kalimat tersebut yang akan
meniadakan kedustaan;
 
(7). Al-Mahabbah, yaitu mencintai kalimat tersebut, mencintai Allah,
Rasul-Nya dan apa-apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya,
yang meniadakan kebencian;
 
(8). Ada yang menambahkan syarat yang kedelapan yaitu, mengkufuri
semua yang diibadahi selain Allah.

Dan yang dimaksud dengan "Syahaadatu anna Muhammadan Rasuulullaah" adalah
mengetahui maknanya dan beramal dengan konsekuensi- konsekuensinya. Maka
tidaklah yang diinginkan juga semata-mata pengucapan dengannya (tetapi) yang
diinginkan adalah membenarkan apa-apa yang beliau khabarkan, mentaati
apa-apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa-apa yang beliau larang dan
cegah dan beribadah kepada Allah dengan yang Allah syari'atkan kepada lisan
Rasul yang mulia ini, tidak dengan hawa nafsu dan tidak pula dengan
kebid'ahan.

Maka wajib atas setiap muslim mengetahui (makna) dua kalimat syahadat ini
dengan pemahaman yang sebenar-benarnya dan beramal dengan sungguh-sungguh
dengan tuntutan-tuntutan kedua kalimat tersebut, yaitu pembenaran, keimanan
dan beramal dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah dalam Al-Kitab dan
As-Sunnah, baik yang berkaitan dengan 'aqidah maupun yang berkaitan dengan
ibadah-ibadah dan syari'at-syari' at dalam setiap sisi kehidupan.

Faidah yang dapat diambil dari hadits ini:
1. Bahwasanya tauhid adalah pokoknya Islam.
2. Bahwasanya rukun Islam yang paling penting setelah tauhid adalah
menegakkan shalat.
3. Bahwasanya sewajib-wajib rukun Islam setelah shalat adalah zakat yang
wajib, yaitu merupakan dari hak harta.
4. Sesungguhnya seorang imam adalah yang bertugas mengambil zakat dan
membagikannya (kepada yang berhaq) baik oleh dirinya sendiri atau oleh
wakilnya.
5. Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya cukup mengeluarkan zakat
kepada satu golongan.
6. Bahwasanya tidak boleh membagikan zakat kepada orang kaya.
7. Bahwasanya diharamkan atas petugas zakat mengambil harta terbaiknya (dan
juga bagi yang mengeluarkan zakat tidak boleh memberikan yang paling
buruknya, tapi berikan yang pertengahannya) .
8. Dalam hadits ini terdapat peringatan agar berhati-hati dari semua jenis
kezhaliman.
9. Diterimanya khabar dari seseorang yang adil (khabar ahad) dalam masalah
aqidah dan amalan.
10. Agar seorang da'i memulai dalam dakwahnya dengan sesuatu yang paling
penting kemudian yang penting dan seterusnya.

{Lihat Mudzakkiratul Hadiits An-Nabawiy fil 'Aqiidah wal Ittiba' karya
Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhaliy} . Wallaahu a'lamu bish Shawaab.

*Ma'had Adhwa`us-salaf*
Dusun Manjah Beureum Desa Cimekar Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung -
Indonesia
*Telepon:* +62 22 7026 9125 *e-mail:* info@adhwaus- salaf.or. id
sumber: www.adhwaus- salaf.or. id versi offline

Walhamdulillaah

Wassalamu'alaykum wa Rohmatulloohi wa Barokatuhu

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: