Rabu, 16 Desember 2009

[sekolah-kehidupan] Digest Number 2914

Messages In This Digest (17 Messages)

Messages

1a.

Re: Naskah Kelana Yang Masuk

Posted by: "Novi Khansa" novi_ningsih@yahoo.com   novi_ningsih

Tue Dec 15, 2009 2:52 am (PST)



di-cc juga ke milis, ga?
naskah yang diterima dikirim ke email dan di-cc ke milis juga.

salam

Novi
(salah satu) panitia

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Ranma Konisuki <ranmakonisuki@...> wrote:
>
> Naskah sy yang judulnya MENANTI CINTA DI BARAT JAKARTA kok belum tertera ya... mohon bantuannya admin...
>

2a.

[Ruang Keluarga] Cinta Segi Tiga

Posted by: "Kang Dani" fil_ardy@yahoo.com   fil_ardy

Tue Dec 15, 2009 5:20 am (PST)



Nibras
beranjak besar, 19 bulan usianya. Usia ketika dia membutuhkan perhatian
penuh dari kami. Transformasi sikap, kebiasaan dan perilakunya mulai
nampak ke permukaan. Idealnya, kami --orang tuanya-- "hadir" full tanpa sekat pembatas apapun. Siap dengan jawaban se ensiklopedi atas semua pertanyaan derasnya.

Banyak
sekali hal yang kami rasa belum cukup untuk dapat diberikan kepadanya
pada masa tumbuh kembang saat ini. Belum genap rasanya peluk cium yang
ia terima dari kami, dan sekarang, Nibras harus lebih sedikit mandiri
dalam usia batitanya :), karena ada cinta lain yang harus berbagi
kemesraan dengannnya.

Perbendaharaan
kata-kata yang Nibras ucapkan, semakin hari semakin bertambah. Ekspresi
yang juga sudah lebih responsif, pertanda otak kirinya berkembang
dengan sempurna. Ia akan berkata "Yaaah.. tatooh" ketika melihat
sesuatu terjatuh. Ia akan berkata "pipiz..pipiz.." dan minta diantarkan
ke kamar mandi
ketika ia merasa "penuh", dan banyak hal lain termasuk ketika ia
bersikap egois kepada teman-temannya, tidak mau berbagi dan lain-lain.
Selain  sikap minor tersebut, Nibras juga sudah belajar menyayangi, ia
akan mencium mesra Irhamna dan mengelusnya sambil berkata "dedeeee...
dedeeee", seakan sadar bahwa stausnya sekarang adalah seorang Kakak.
Seorang sulung yang mengerti betul Adik kecilnya membutuhkan perhatian
lebih dari Kami.

Feel Guilty Pregnancy

Maret 2009. Frekuensi tamu bulanan Endah yang unpredictable
pasca kelahiran Nibras, sudah tidak membuat kami heran. Pengaruh pil KB
yang dikonsumsinya sedikit banyak mempengaruhi siklus bulanan tersebut.
Hingga, pada satu waktu di bulan Maret, Endah merasa ada yang lain di
tubuhnya. Sebagai ibu beranak satu, ia tahu cinta itu kembali hadir.
Strip dua pada alat tes kehamilan menegaskan segalanya. Si sulung
Nibras akan mempunyai adik.

Merasa Bersalah. Itu
yang saya rasakan ketika pertama kali Endah mengabarkan kehamilan keduanya. Out of plan!
Itu yang paling membuat saya tidak "percaya diri" dalam menyambut bayi
kedua kami. Nibras yang masih batita, Endah yang baru pulih dari luka
pasca caesar pertama, kondisi keuangan keluarga yang belum membaik,
Stabilitas dalam Negeri yang masih labil terkait kasus KPK dan Bank
Century *yang ini asli dibuat-buat*, dan masih banyak pertimbangan lain
yang terpatahkan dengan kehadiran Irhamna di rahim Endah.

Sulah Semakin Lebar

Jika
berada dalam kondisi terjepit dan memerlukan pemikiran yang dalam, ciri
utama yang terdapat pada saya adalah sulah yang tampak semakin lebar.
Sulah (bagian kening yang semakin lebar karena rambutnya rontok) di
kepala saya, tampak semakin lebar dan berminyak. Setiap kali saya
merapikan rambut, dua sudut di kening bagian atas tampak semakin
menjorok ke dalam, persis seperti orang-orang yahudi yang terus
merangsek memperluas wilayah jajahannya di tanah pemukiman Palestina.
Fuuh.

Itulah
yang terjadi seiring kehamilan kedua Endah yang semakin membesar. Rasa
bersalah dan kekhawatiran tidak termanage dengan baiknya keluarga kami
kedepan, menjadi baban tersendiri buat saya. Dan "yuwass wisu fi
sudurinnas" adalah suporter resmi ketika saya mulai menyalahkan banyak
hal. Menyalahkan Endah yang kemungkinan lupa minum pil KB, menyalahkan
saya yang tidak mengingatkan Endah untuk minum pil KB, menyalahkan
kondisi ekonomi yang tidak juga membaik, menyalahkan nutfah yang
menempel di rahim Endah, menyalahkan Dia yang memberi amanah terlalu
cepat kepada kami. Astaghfirullah...

Bukan Ucapan Selamat

Berbeda
dengan kehamilan pertama yang bertabur ucapan selamat, ditambah dengan
"publikasi" maksimal saat itu, kali ini, saya sengaja diam. Ada
kekhawatiran yang saya rasakan bahwa orang-orang akan berfikir sedikit
"miring" kepada saya. Benar saja, ketika beberapa orang mengetahui
kabar kehamilan ke-2 Endah, tidak sedkikit yang berkomentar -menurut
saya- tidak membantu. "kok bisa?", "loh, emangnya Nibras dah berapa
bulan?", "Emang ga KB?", "Kasian ya Nibras, Masih kecil dah punya
adek". Hiks.. saya menggigil di sudut ruangan. Sendirian. Meski saya
sadar, tidak ada sentimen negatif dalam pertanyaan mereka.

Tanpa
bisa naik banding atau sekedar membela diri, saya menerima vonis itu
dengan pasrah. Berada pada pihak yang paling bertanggung jawab atas
ketidak tepatan menurut manusia ini. Tentu saya tidak berhak
misuh-misuh membela diri, ajeg keras kepala bahwa saya bukan actor
utama dalam ketidak tepatan menurut mereka, ada DIA yang lebih
kontributif dalam hadirnya cinta ke-2. Dan, pada titik itu, was-was
yang membuat saya kalap menyalahkan diri, mendebu. Hilang menguap.
Berganti keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, saya memutuskan
berhenti menyalahkan, dan akan memulai mencintai kehadirannya. Meyakini
semua akan baik-baik saja adalah cara terbaik yang bisa saya yakini
saat ini. Bahwa yang menurut kita kurang tepat, bisa jadi ketepatan
mutlak di sisi-Nya.

Cinta Segi Tiga

Tidak
seperti sebelumnya, ketika saya berangkat ke kantor di pagi hari.
Nibras merengek ingin naik ke motor saya dan menolak turun. Jika
dipaksa, dia akan menangis sejadi-jadinya. Hal yang jarang terjadi
ketika Irhamna belum hadir. Biasanya, Nibras hanya akan melambaikan
tangan dan berkata " Tadtaaaaah... tadtaaaah" sambil tersenyum, atau
sesekali memberikan saya ciuman jarak jauh.

Entah
karena ia menyadari bahwa sepeninggal saya ke kantor, perhatian
Bundanya akan terbagi untuk sang adik, atau karena sebab lain Nibras
bersikap seperti itu. Mungkin saja, karena dia merasa bahwa dengan
berada dekat dengan saya, setidaknya ia mendapatkan jatah cinta yang
utuh, dan Irhamnapun mendapatkan cinta utuh itu dari Bundanya. Semua
bahagia. atau mungkin Nibras menyadari, dengan ketiadaan saya di rumah
sepanjang hari, dia harus berbagi cinta dengan adiknya yang masih rapuh.

Jelang
malam, Irhamna sering minta perhatian lebih karena popoknya basah, pup,
haus dll. Begitu juga Nibras, ia sering memandangi  adiknya yang serius
menyusu pada Bundanya. Ada gurat cemburu di mata Nibras yang tak jarang
berakhir dengan rengekan rewel. Lalu saya, sesekali akan membantu Endah
mengganti popok, membersihkan pup Irhamna, dan menggendongnya. Untuk
Endah, saya akan dengan lembut mengucapkan "sabar ya, Bun" ketika ia
mulai lelah, dan luka caesarnya terasa perih, atau punggungnya yang
mulai pegal. Untuk Nibras, saya akan mengajaknya ke kamar mandi,
mencuci kakinya yg kotor, mengambilkan susu segarnya, lalu mengajaknya
kembali ke tempat tidur dan membekalinya mimpi.

Jakarta, 15 Desember 2009

Dani Ardiansyah

www.JasaPenerbitan.com
www.CatatanKecil.Multiply.com

2b.

Re: [Ruang Keluarga] Cinta Segi Tiga

Posted by: "asma_h_1999" asma_h_1999@yahoo.com   asma_h_1999

Tue Dec 15, 2009 2:45 pm (PST)



Dan,
ass.wr.wb

Sesuatu terjadi tak pernah dengan tiba-tiba, selalu ada makna dibaliknya. Don't ever bother your self with what people say. Just keep a struggle bro. Insyaallah di setiap kesulitan ada kemudahan.

trus buat nibras, dari artikel yg pernah aku baca, emang ada rasa tersisih saat adik bayi hadir, serasa mengambil jatah kasih sayang selama ini pada sang kakak. jadi biar dia gak kerasa kehilangan, saat endah ngurusian irhamna, Dani atau orang-orang di sekeliling nibras yang kudu memberikan perhatian ekstra pada dirinya. gitu kira-kira.

Selamat berjuang untuk membesarkan keluarga dan anak-anak.

Wassalam,
as

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Kang Dani <fil_ardy@...> wrote:
>
> Nibras
> beranjak besar, 19 bulan usianya. Usia ketika dia membutuhkan perhatian
> penuh dari kami. Transformasi sikap, kebiasaan dan perilakunya mulai
> nampak ke permukaan. Idealnya, kami --orang tuanya-- "hadir" full tanpa sekat pembatas apapun. Siap dengan jawaban se ensiklopedi atas semua pertanyaan derasnya.
>
> Banyak
> sekali hal yang kami rasa belum cukup untuk dapat diberikan kepadanya
> pada masa tumbuh kembang saat ini. Belum genap rasanya peluk cium yang
> ia terima dari kami, dan sekarang, Nibras harus lebih sedikit mandiri
> dalam usia batitanya :), karena ada cinta lain yang harus berbagi
> kemesraan dengannnya.
>
> Perbendaharaan
> kata-kata yang Nibras ucapkan, semakin hari semakin bertambah. Ekspresi
> yang juga sudah lebih responsif, pertanda otak kirinya berkembang
> dengan sempurna. Ia akan berkata "Yaaah.. tatooh" ketika melihat
> sesuatu terjatuh. Ia akan berkata "pipiz..pipiz.." dan minta diantarkan
> ke kamar mandi
> ketika ia merasa "penuh", dan banyak hal lain termasuk ketika ia
> bersikap egois kepada teman-temannya, tidak mau berbagi dan lain-lain.
> Selain  sikap minor tersebut, Nibras juga sudah belajar menyayangi, ia
> akan mencium mesra Irhamna dan mengelusnya sambil berkata "dedeeee...
> dedeeee", seakan sadar bahwa stausnya sekarang adalah seorang Kakak.
> Seorang sulung yang mengerti betul Adik kecilnya membutuhkan perhatian
> lebih dari Kami.
>
>
> Feel Guilty Pregnancy
>
> Maret 2009. Frekuensi tamu bulanan Endah yang unpredictable
> pasca kelahiran Nibras, sudah tidak membuat kami heran. Pengaruh pil KB
> yang dikonsumsinya sedikit banyak mempengaruhi siklus bulanan tersebut.
> Hingga, pada satu waktu di bulan Maret, Endah merasa ada yang lain di
> tubuhnya. Sebagai ibu beranak satu, ia tahu cinta itu kembali hadir.
> Strip dua pada alat tes kehamilan menegaskan segalanya. Si sulung
> Nibras akan mempunyai adik.
>
> Merasa Bersalah. Itu
> yang saya rasakan ketika pertama kali Endah mengabarkan kehamilan keduanya. Out of plan!
> Itu yang paling membuat saya tidak "percaya diri" dalam menyambut bayi
> kedua kami. Nibras yang masih batita, Endah yang baru pulih dari luka
> pasca caesar pertama, kondisi keuangan keluarga yang belum membaik,
> Stabilitas dalam Negeri yang masih labil terkait kasus KPK dan Bank
> Century *yang ini asli dibuat-buat*, dan masih banyak pertimbangan lain
> yang terpatahkan dengan kehadiran Irhamna di rahim Endah.
>
>
> Sulah Semakin Lebar
>
> Jika
> berada dalam kondisi terjepit dan memerlukan pemikiran yang dalam, ciri
> utama yang terdapat pada saya adalah sulah yang tampak semakin lebar.
> Sulah (bagian kening yang semakin lebar karena rambutnya rontok) di
> kepala saya, tampak semakin lebar dan berminyak. Setiap kali saya
> merapikan rambut, dua sudut di kening bagian atas tampak semakin
> menjorok ke dalam, persis seperti orang-orang yahudi yang terus
> merangsek memperluas wilayah jajahannya di tanah pemukiman Palestina.
> Fuuh.
>
> Itulah
> yang terjadi seiring kehamilan kedua Endah yang semakin membesar. Rasa
> bersalah dan kekhawatiran tidak termanage dengan baiknya keluarga kami
> kedepan, menjadi baban tersendiri buat saya. Dan “yuwass wisu fi
> sudurinnas” adalah suporter resmi ketika saya mulai menyalahkan banyak
> hal. Menyalahkan Endah yang kemungkinan lupa minum pil KB, menyalahkan
> saya yang tidak mengingatkan Endah untuk minum pil KB, menyalahkan
> kondisi ekonomi yang tidak juga membaik, menyalahkan nutfah yang
> menempel di rahim Endah, menyalahkan Dia yang memberi amanah terlalu
> cepat kepada kami. Astaghfirullah...
>
>
> Bukan Ucapan Selamat
>
> Berbeda
> dengan kehamilan pertama yang bertabur ucapan selamat, ditambah dengan
> "publikasi" maksimal saat itu, kali ini, saya sengaja diam. Ada
> kekhawatiran yang saya rasakan bahwa orang-orang akan berfikir sedikit
> “miring” kepada saya. Benar saja, ketika beberapa orang mengetahui
> kabar kehamilan ke-2 Endah, tidak sedkikit yang berkomentar â€"menurut
> sayaâ€" tidak membantu. “kok bisa?”, “loh, emangnya Nibras dah berapa
> bulan?”, “Emang ga KB?”, “Kasian ya Nibras, Masih kecil dah punya
> adek”. Hiks.. saya menggigil di sudut ruangan. Sendirian. Meski saya
> sadar, tidak ada sentimen negatif dalam pertanyaan mereka.
>
> Tanpa
> bisa naik banding atau sekedar membela diri, saya menerima vonis itu
> dengan pasrah. Berada pada pihak yang paling bertanggung jawab atas
> ketidak tepatan menurut manusia ini. Tentu saya tidak berhak
> misuh-misuh membela diri, ajeg keras kepala bahwa saya bukan actor
> utama dalam ketidak tepatan menurut mereka, ada DIA yang lebih
> kontributif dalam hadirnya cinta ke-2. Dan, pada titik itu, was-was
> yang membuat saya kalap menyalahkan diri, mendebu. Hilang menguap.
> Berganti keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, saya memutuskan
> berhenti menyalahkan, dan akan memulai mencintai kehadirannya. Meyakini
> semua akan baik-baik saja adalah cara terbaik yang bisa saya yakini
> saat ini. Bahwa yang menurut kita kurang tepat, bisa jadi ketepatan
> mutlak di sisi-Nya.
>
>
> Cinta Segi Tiga
>
> Tidak
> seperti sebelumnya, ketika saya berangkat ke kantor di pagi hari.
> Nibras merengek ingin naik ke motor saya dan menolak turun. Jika
> dipaksa, dia akan menangis sejadi-jadinya. Hal yang jarang terjadi
> ketika Irhamna belum hadir. Biasanya, Nibras hanya akan melambaikan
> tangan dan berkata “ Tadtaaaaah… tadtaaaah” sambil tersenyum, atau
> sesekali memberikan saya ciuman jarak jauh.
>
> Entah
> karena ia menyadari bahwa sepeninggal saya ke kantor, perhatian
> Bundanya akan terbagi untuk sang adik, atau karena sebab lain Nibras
> bersikap seperti itu. Mungkin saja, karena dia merasa bahwa dengan
> berada dekat dengan saya, setidaknya ia mendapatkan jatah cinta yang
> utuh, dan Irhamnapun mendapatkan cinta utuh itu dari Bundanya. Semua
> bahagia. atau mungkin Nibras menyadari, dengan ketiadaan saya di rumah
> sepanjang hari, dia harus berbagi cinta dengan adiknya yang masih rapuh.
>
> Jelang
> malam, Irhamna sering minta perhatian lebih karena popoknya basah, pup,
> haus dll. Begitu juga Nibras, ia sering memandangi  adiknya yang serius
> menyusu pada Bundanya. Ada gurat cemburu di mata Nibras yang tak jarang
> berakhir dengan rengekan rewel. Lalu saya, sesekali akan membantu Endah
> mengganti popok, membersihkan pup Irhamna, dan menggendongnya. Untuk
> Endah, saya akan dengan lembut mengucapkan “sabar ya, Bun” ketika ia
> mulai lelah, dan luka caesarnya terasa perih, atau punggungnya yang
> mulai pegal. Untuk Nibras, saya akan mengajaknya ke kamar mandi,
> mencuci kakinya yg kotor, mengambilkan susu segarnya, lalu mengajaknya
> kembali ke tempat tidur dan membekalinya mimpi.
>
> Jakarta, 15 Desember 2009
>
>
> Dani Ardiansyah
>
> www.JasaPenerbitan.com
> www.CatatanKecil.Multiply.com
>

2c.

Re: [Ruang Keluarga] Cinta Segi Tiga

Posted by: "Lygia Nostalina, Ms" lygianostalina@yahoo.com   lygianostalina

Wed Dec 16, 2009 1:06 am (PST)





he he he..jadi ingat waktu dulu aku juga ngalamin kejadian yang hampir mirip. cuma bedanya, Rayna lahir saat kakaknya Hafidz baru berusia 13 bulan !!ini murni 'kecelakaan' manis..hehehehe....rayna mulai muncul dalam rahim saat aku sedang sibuk menyelesaikan skripsi yang tak kunjung beres. baru 4 bulan usia Hafidz ketika aku menyadari bahwa ternyata aku cuma datang bulan satu kali pasca melahirkan normal, untuk kemudian tamu bulanan itu menghilang kembali. halah..halah.....takut..jelas itu rasa yang pertama kali muncul di benak aku. deg2an ..gimana caranya mengumumkan kepada keluarga besar bahwa hafidz bakal punya adik lagi. akhirnya....dengan tekad bulat dan pemikiran yang panjang, kehamilan kedua ini aku sembunyikan dulu. entah pemikiran seperti apa yang melandasi keputusan itu, tapi saat itu aku berfikir bahwa itulah keputusan yang tepat.

singkatnya, selama 6 bulan pertama masa kehamilan, berhasil aku jalani dengan lancar tanpa seorangpun yang tau kecuali aku dan (mantan) suami. mungkin karena tubuhku yang tergolong 'agak' besar ( ssst...agak lho ya.....inget...) jadi kehamilan kedua ini tidak begitu terlihat. yang pasti, ketika 6 bulan sudah terlewati, baru aku memberanikan diri untuk mengumumkan kepada orangtua bahwa aku hamil. dan walhasil mereka mendadak pingsan ! ---> ini jelas2 lebay.....tolong diabaikan saja.....terima kasih...

hehehe..alhamdulillah sampai sekarang semua lancar2 saja..
buat kang dani, mbak endah, nibras dan irhamna....selamat menjadi keluarga kecil sejahtera dan bahagia ya...( copas iklan KB )....
salam cinta,
Tante Gia nu Geulis Tea

--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, Kang Dani <fil_ardy@.. .> wrote:

>

> Nibras

> beranjak besar, 19 bulan usianya. Usia ketika dia membutuhkan perhatian

> penuh dari kami. Transformasi sikap, kebiasaan dan perilakunya mulai

> nampak ke permukaan. Idealnya, kami --orang tuanya-- "hadir" full tanpa sekat pembatas apapun. Siap dengan jawaban se ensiklopedi atas semua pertanyaan derasnya.

>

> Banyak

> sekali hal yang kami rasa belum cukup untuk dapat diberikan kepadanya

> pada masa tumbuh kembang saat ini. Belum genap rasanya peluk cium yang

> ia terima dari kami, dan sekarang, Nibras harus lebih sedikit mandiri

> dalam usia batitanya :), karena ada cinta lain yang harus berbagi

> kemesraan dengannnya.

>

> Perbendaharaan

> kata-kata yang Nibras ucapkan, semakin hari semakin bertambah. Ekspresi

> yang juga sudah lebih responsif, pertanda otak kirinya berkembang

> dengan sempurna. Ia akan berkata "Yaaah.. tatooh" ketika melihat

> sesuatu terjatuh. Ia akan berkata "pipiz..pipiz. ." dan minta diantarkan

> ke kamar mandi

> ketika ia merasa "penuh", dan banyak hal lain termasuk ketika ia

> bersikap egois kepada teman-temannya, tidak mau berbagi dan lain-lain.

> Selain  sikap minor tersebut, Nibras juga sudah belajar menyayangi, ia

> akan mencium mesra Irhamna dan mengelusnya sambil berkata "dedeeee...

> dedeeee", seakan sadar bahwa stausnya sekarang adalah seorang Kakak.

> Seorang sulung yang mengerti betul Adik kecilnya membutuhkan perhatian

> lebih dari Kami.

>

>

> Feel Guilty Pregnancy

>

> Maret 2009. Frekuensi tamu bulanan Endah yang unpredictable

> pasca kelahiran Nibras, sudah tidak membuat kami heran. Pengaruh pil KB

> yang dikonsumsinya sedikit banyak mempengaruhi siklus bulanan tersebut.

> Hingga, pada satu waktu di bulan Maret, Endah merasa ada yang lain di

> tubuhnya. Sebagai ibu beranak satu, ia tahu cinta itu kembali hadir.

> Strip dua pada alat tes kehamilan menegaskan segalanya. Si sulung

> Nibras akan mempunyai adik.

>

> Merasa Bersalah. Itu

> yang saya rasakan ketika pertama kali Endah mengabarkan kehamilan keduanya. Out of plan!

> Itu yang paling membuat saya tidak "percaya diri" dalam menyambut bayi

> kedua kami. Nibras yang masih batita, Endah yang baru pulih dari luka

> pasca caesar pertama, kondisi keuangan keluarga yang belum membaik,

> Stabilitas dalam Negeri yang masih labil terkait kasus KPK dan Bank

> Century *yang ini asli dibuat-buat* , dan masih banyak pertimbangan lain

> yang terpatahkan dengan kehadiran Irhamna di rahim Endah.

>

>

> Sulah Semakin Lebar

>

> Jika

> berada dalam kondisi terjepit dan memerlukan pemikiran yang dalam, ciri

> utama yang terdapat pada saya adalah sulah yang tampak semakin lebar.

> Sulah (bagian kening yang semakin lebar karena rambutnya rontok) di

> kepala saya, tampak semakin lebar dan berminyak. Setiap kali saya

> merapikan rambut, dua sudut di kening bagian atas tampak semakin

> menjorok ke dalam, persis seperti orang-orang yahudi yang terus

> merangsek memperluas wilayah jajahannya di tanah pemukiman Palestina.

> Fuuh.

>

> Itulah

> yang terjadi seiring kehamilan kedua Endah yang semakin membesar. Rasa

> bersalah dan kekhawatiran tidak termanage dengan baiknya keluarga kami

> kedepan, menjadi baban tersendiri buat saya. Dan âEURoeyuwass wisu fi

> sudurinnas� adalah suporter resmi ketika saya mulai menyalahkan banyak

> hal. Menyalahkan Endah yang kemungkinan lupa minum pil KB, menyalahkan

> saya yang tidak mengingatkan Endah untuk minum pil KB, menyalahkan

> kondisi ekonomi yang tidak juga membaik, menyalahkan nutfah yang

> menempel di rahim Endah, menyalahkan Dia yang memberi amanah terlalu

> cepat kepada kami. Astaghfirullah. ..

>

>

> Bukan Ucapan Selamat

>

> Berbeda

> dengan kehamilan pertama yang bertabur ucapan selamat, ditambah dengan

> "publikasi" maksimal saat itu, kali ini, saya sengaja diam. Ada

> kekhawatiran yang saya rasakan bahwa orang-orang akan berfikir sedikit

> âEURoemiring� kepada saya. Benar saja, ketika beberapa orang mengetahui

> kabar kehamilan ke-2 Endah, tidak sedkikit yang berkomentar âEUR"menurut

> sayaâEUR" tidak membantu. âEURoekok bisa?�, âEURoeloh, emangnya Nibras dah berapa

> bulan?�, âEURoeEmang ga KB?�, âEURoeKasian ya Nibras, Masih kecil dah punya

> adek�. Hiks.. saya menggigil di sudut ruangan. Sendirian. Meski saya

> sadar, tidak ada sentimen negatif dalam pertanyaan mereka.

>

> Tanpa

> bisa naik banding atau sekedar membela diri, saya menerima vonis itu

> dengan pasrah. Berada pada pihak yang paling bertanggung jawab atas

> ketidak tepatan menurut manusia ini. Tentu saya tidak berhak

> misuh-misuh membela diri, ajeg keras kepala bahwa saya bukan actor

> utama dalam ketidak tepatan menurut mereka, ada DIA yang lebih

> kontributif dalam hadirnya cinta ke-2. Dan, pada titik itu, was-was

> yang membuat saya kalap menyalahkan diri, mendebu. Hilang menguap.

> Berganti keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, saya memutuskan

> berhenti menyalahkan, dan akan memulai mencintai kehadirannya. Meyakini

> semua akan baik-baik saja adalah cara terbaik yang bisa saya yakini

> saat ini. Bahwa yang menurut kita kurang tepat, bisa jadi ketepatan

> mutlak di sisi-Nya.

>

>

> Cinta Segi Tiga

>

> Tidak

> seperti sebelumnya, ketika saya berangkat ke kantor di pagi hari.

> Nibras merengek ingin naik ke motor saya dan menolak turun. Jika

> dipaksa, dia akan menangis sejadi-jadinya. Hal yang jarang terjadi

> ketika Irhamna belum hadir. Biasanya, Nibras hanya akan melambaikan

> tangan dan berkata âEURoe TadtaaaaahâEUR¦ tadtaaaah� sambil tersenyum, atau

> sesekali memberikan saya ciuman jarak jauh.

>

> Entah

> karena ia menyadari bahwa sepeninggal saya ke kantor, perhatian

> Bundanya akan terbagi untuk sang adik, atau karena sebab lain Nibras

> bersikap seperti itu. Mungkin saja, karena dia merasa bahwa dengan

> berada dekat dengan saya, setidaknya ia mendapatkan jatah cinta yang

> utuh, dan Irhamnapun mendapatkan cinta utuh itu dari Bundanya. Semua

> bahagia. atau mungkin Nibras menyadari, dengan ketiadaan saya di rumah

> sepanjang hari, dia harus berbagi cinta dengan adiknya yang masih rapuh.

>

> Jelang

> malam, Irhamna sering minta perhatian lebih karena popoknya basah, pup,

> haus dll. Begitu juga Nibras, ia sering memandangi  adiknya yang serius

> menyusu pada Bundanya. Ada gurat cemburu di mata Nibras yang tak jarang

> berakhir dengan rengekan rewel. Lalu saya, sesekali akan membantu Endah

> mengganti popok, membersihkan pup Irhamna, dan menggendongnya. Untuk

> Endah, saya akan dengan lembut mengucapkan âEURoesabar ya, Bun� ketika ia

> mulai lelah, dan luka caesarnya terasa perih, atau punggungnya yang

> mulai pegal. Untuk Nibras, saya akan mengajaknya ke kamar mandi,

> mencuci kakinya yg kotor, mengambilkan susu segarnya, lalu mengajaknya

> kembali ke tempat tidur dan membekalinya mimpi.

>

> Jakarta, 15 Desember 2009

>

>

> Dani Ardiansyah

>

> www.JasaPenerbitan. com

> www.CatatanKecil. Multiply. com

>

3a.

Bls: [sekolah-kehidupan] Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Posted by: "ammy ramdhania" ammy_ram@yahoo.co.id   ammy_ram

Tue Dec 15, 2009 10:49 am (PST)



waduh..telat deh
Met Milad pak sinang
semoga sisa umur bapak semakin bermanfaat
dihiasi dengan indahnya amal shalih dan idwarnai dengan indahnya ibadah
subhanallah, dari jauh kami mendoakan semoga bapak tetap sehat wal afiat
dan tetap menjadi bapak Eska yang tak pernah kering dari nasihat dan petuah
bagi anak-anaknya di kelas super Sekolah Kehidupan

Wassalam
AMMY

________________________________
Dari: pandika_sampurna <pandika_sampurna@yahoo.com>
Kepada: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Terkirim: Sel, 15 Desember, 2009 14:39:02
Judul: [sekolah-kehidupan] Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Nah lho, akhirnya ketahuan.
Siapa ya dalangnya sehingga Kang Hadian tahu milad saya.
Hayo ngaku!

Alhamdulillah hari ini umur saya memasuki 50 tahun. Kata orang Jakarta sih "Gocap" gitu.
Untungnya temen-teman tahu lewat milis, kalau enggak saya harus ngasih apa ya, bayangin kalau harus traktir 2700an anggota ESKA, wuih enggak ketulungan tu, lebih-lebih dari PILKADA.

Ya mudah-mudahan ke depan kehidupan saya akan lebih baik lagi. Lebih bermanfaat untuk kehidupan sesama, baik keluarga, teman, dan masyarakat lainnya.

Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua, khususnya semua anggota ESKA yang ada.

Terima kasih untuk ucapannya.

Salam,
Sinang Bulawan

--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, Hadian Febrianto <hadianf@... > wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wr.wb
>
> Selamat MILAD Pa Sinang Bulawan, semoga usia yang telah diberikanNya
> mendapatkan barokah dan diberikan yang terbaik untuk yang akan datang.
>
> Wassalaamu'alaikum wr.wb
>
> --
> Regards,
> Hadian Febrianto, S.Si
> PT SAGA VISI PARIPURNA
> Jl. PHH Musthofa no.39
> Surapati Core Blok K-7 Bandung
> Ph: (+6222) 8724 1434
> Fax: (+6222) 8724 1435
>

Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
4a.

Re: [Fiksi] Tiga Perempuan

Posted by: "asma_h_1999" asma_h_1999@yahoo.com   asma_h_1999

Tue Dec 15, 2009 2:15 pm (PST)



Nopee....ini pengalaman siapa ajaaa? dirimu juga yaaa (upsss...kayaknya salah tebak).

-content cerita-

Untuk isi, cerita yang begini emang udah banyak kejadiannya dalam hidup kita sehari-hari. Intinya dari cerpenmu aku juga jadi mikir nih, kalo ada laki-laki yang mendekati dirimu, maka:

1. tanyain dia masih single or not (single-yah lampu hijaulah)

2. tanyain lagi tuh ke dirimu wahai para wanita, selama ini lelaki yang kamu pikir akrab dengan dirimu teh, selama ini menganggap kamu sebagai apa ?

- sebagai tempat keluh kesah ('tempat sampah'-istilah nopi di cerpen).
- sekedar iseng
- ato bener2 sayang, cinta dan serius. Caranya, waduh...aku juga gak tau. soalnya aku sendiri juga suka kecele (kenapa jadi ngaku sendiri nih-jiyaaa)

-suasana tokoh-
untuk tiga karakter tokohmu, aku agak bertanya juga Vi, mereka kan baru bertemu yaa, tapi kesannya kayak sudah akrab gitu,sampai udah pake colek tangan segala. Suasana akrabkan biasanya dibangun dulu lewat perkenalan ya. Memang sih ada orang-orang terbuka, yang dari awal pertemuan mereka enak aja ngobrolin tentang diri mereka. Tapi chemistry akrab, menurutku tetap biasanya dibangun dulu. ada sikap ditahan-tahan dulu, jaim kali istilahnya dan tidak terjadi secara instan.

-bahasa-
menurutku bahasa cerpen tiga perempuan perlu diedit lagi Vi. Kalo bisa ada yang dipangkas.

gitu non.

cheers,
as

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, novi khansa' <novi_ningsih@...> wrote:
>
> Rico Hendarwan menandai foto Anda
> Rico Hendarwan mengomentari foto Anda
> Salamah Dwi mengomentari foto Anda
> Rien W mengomentari foto Anda
> Agung mengomentari foto Anda
>
> Lyn memerhatikan lima notifikasi di Facebook-nya. Banyak
> nama-nama yang tak dikenalnya di sana. Tak lama notifikasi terus
> bertambah dan bertambah. Hanya nama Rico yang dikenalinya. Teman Lyn
> semasa SMU dulu. Hmm, lebih dari sekadar teman tadinya, pikir Lyn, tapi
> semua harus selesai ketika ada sesuatu yang menghalangi mereka berdua
> untuk bersatu. Hal itu terjawab dalam sebuah foto yang Rico tandai juga
> untuk Lyn.
> Sebuah foto bergambar seorang laki-laki dan perempuan berjilbab putih. Di tengahnya ada tulisan:
>
> Insya Allah menikah
>
> Rico Hendarwan
> &
> Wiena Mulia Sari
>
> Gedung BKOW,
> Jalan Raden Inten, Kali Malang
> Jak-Tim
>
>
> Lyn menutup foto itu dan menghapus notifikasi untuk foto dan sign out dari Facebook.
> Di dua tempat yang berbeda dua perempuan menangis. Keduanya juga baru saja membuka Facebook
> dan menemukan foto tersebut. Bedanya satu perempuan menangis tersedu
> sedan, yang lainnya langsung mengusap air matanya dan nyaris membanting
> BB yang dipegangnya.
>
> ***
> “Jalan Raden Inten di mana, Bu?” tanya seorang gadis dengan jilbab panjangnya berwarna biru tua.
> “Naik aja, mikrolet 26, bilang abangnya raden Inten, biasanya kalau
> masih pagi gini ga lewat, jadi ntar naik ojek aja ke dalamnya. Emang
> mau ke mana, neng? Kondangan? Pagi bener?”
> “Iya, bu.. mau datang ke akad nikahnya.”
> “Dari mana, neng?”
> “Bandung” ujar Tyas tersenyum. “Makasi, bu” Tyas berpamitan dan
> menyalami sang ibu. Si ibu tertegun sesaat, mengamati Tyas yang begitu
> sopan.
> “Biar cepet dapat jodoh, neng ya. Ati-ati di jalan” ujar sang ibu.
> “Makasi, bu” ujar Tyas tersenyum, sayangnya sang jodoh yang diharap akan menikah dengan orang lain…
>
> ***
>
> aq udah sampe jkt. Lgsg ke lokasi. Begitu acara selesai, aq pulang. Ga usah bilang ibu. Thx, dek.
>
>
> Lyn mengirim SMS ke adiknya di Medan. Lyn pergi pagi-pagi benar
> untuk mengejar penerbangan pukul 6.00 pagi. Tiket sudah didapat
> beberapa hari lalu. Lyn tak bisa berterus terang kepada ibu, untuk apa
> dia ke Jakarta. Apalagi, memberi tahu kalau Ricolah yang akan menikah.
> Ibu pasti akan marah besar.
> Beberapa waktu lalu Rico beberapa kali pernah datang ke rumah Lyn
> saat tugas di Medan. Entah apa yang dilakukan Rico, tiba-tiba ibu dan
> bapak Lyn menyukai Rico dan kata mereka, Rico sudah bersedia melamar
> Lyn suatu saat nanti, tinggal tunggu waktu. Lyn hanya bisa terperangah.
> Tidak semudah itu meluluhkan hati ibu dan bapak. Apalagi, dengan Rico
> yang keturunan Jawa. Orangtua Lyn lebih senang dengan orang yang
> sukunya sama.
> Lyn merasa segalanya berjalan lancar, mudah dan menyenangkan. Sejak
> pernyataan dari orangtua Lyn, Lyn pun makin ringan menjalani
> ‘persahabatan’ dengan Rico seolah masa depan sudah di depan mata. Entah
> kenapa, Rico sering berkelit ketika Lyn mengajak membicarakan soal masa
> depan dan lainnya hingga notifikasi foto tersebut.
>
> ***
>
> Mata Dona nanar menatap jalan di depannya. Semua bagaikan sebuah
> film yang berkali ganti-ganti adegan. Di sana dilihat dirinya sedang
> tertawa, menangis, dan marah. Ada satu laki-laki yang berkali-kali juga
> ada di samping Dona. Makin mengingatnya, air matanya makin deras.
> Diusapnya asal karena tangannya terus memegang setir. Masih teringat
> kemarahan mamanya saat Dona nekat pergi hari itu.
>
> “Kamu, tuh baru pulang, Don, masak langsung pergi lagi. Seberapa pentingnya orang itu buat kamu?” tanya mama.
>
> Dona memang baru pulang dari Australia. Liburan panjang dari kampusnya ingin dimanfaatkan untuk refreshing di Indonesia. Selain itu, ada sebuah janji yang harus Dona tunaikan. Janji kepada seseorang yang menunggu Dona.
> Sesampainya di bandara, Dona menyempatkan membuka facebook orang tersebut dan mendapati sebuah kabar yang sama sekali tidak mengenakkan. Rico menikah. Bagaimana
> dengan janjinya selama ini, menunggunya selesai studi dan kemudian
> menikah. Atau janjinya menyusul mencari beasiswa ke Australia.
> Kemarahan besar meliputi diri Dona. Begitu Pak Amin menjemput, Dona
> langsung ngotot mengambil alih mobil andai saja mama tak berkali-kali
> menghubungi Dona.
>
> “Pulang dulu. Pulang…” perintah mama Dona.
>
> “Oke, aku pulang, tapi dari rumah aku tetap berangkat ke sana”
>
> “Terserah” ujar mama Dona.
>
> Rrrrrriiit. Dona mengerem mobilnya. Kini dia sudah sampai ke sebuah
> Gedung di daerah kali malang. Diperhatikannya orang yang mulai banyak.
> Dilihatnya sosok dua wanita berjilbab yang sedang berbincang-bincang.
> Pikiran Dona kacau, betapa kehilangan yang ke sekian sangat
> menyakitkan. Betapa murkanya Dona pada sosok Rico yang sudah
> menjanjikan banyak hal pada Dona. Betapa bukan kabar yang seperti ini
> yang ingin Dona dapatkan sepulangnya ke Indonesia.
>
> ***
>
> Suasana sudah cukup ramai ketika Tyas melangkahkan kakinya di sebuah
> gedung yang megah. Di gedung inilah, orang yang pernah Tyas harapkan
> melamarnya, akan menikah. Dibutuhkan kekuatan yang luar biasa untuk
> sekadar hadir. Untuk menunaikan janji kepada laki-laki yang entah
> karena kebodohannya tak pernah mengerti perasaan Tyas. Atau mungkin
> justru Tyas yang bodoh karena mau saja dijadikan ‘tempat sampah’ oleh
> laki-laki yang demen curhat dan mengadu pada Tyas. Ada titik bening
> yang tak malu muncul dari sudut mata Tyas. Masih teringat oleh Tyas
> obrolannya beberapa waktu lalu dengan Rico. Obrolan singkat via YM
> setelah penguman pernikahan Rico dan calonnya,
>
> rico_oke: BUZZ
> rico_oke: Datang, ya, Yas…
> ukhti_tyas: hmm, ga tahu
> rico_oke: yah, kamu kan sahabatku, kok ga datang
> ukhti_tyas: eh, insya Allah. Af1, aku pamit, ya
>
>
> Tak kuat menahan tangis, Tyas segera sign out dari YM. Kata ‘sahabat’ yang tak pernah Tyas mengerti.
>
> “Eh, maaf.” Seorang wanita tak sengaja menubruk Tyas yang tengah melamun.
>
> “Nggak apa-apa.” Ujar Tyas tersenyum.
>
> “Hmm, eh ini gedung wanita, BKOW, kan ya?” ujar Lyn masih terengah-engah.
>
> “Iya, mbak.”
>
> “Eh, ya kenalin aku Evelyn, panggil aja Lyn” ujar Lyn menyalami
> Tyas. Di mata Lyn wanita di hadapannya begitu cantik, santun, dan
> ramah. Beda sekali dengan dirinya yang berantakan dan cuek.
>
> “Aku Tyas. Aku juga mau ke pernikahan temanku, kok.” Ujar Tyas.
> Dalam hatinya Tyas seperti melihat seorang wanita yang enerjik, penuh
> semangat dan lucu. Bagaimana mungkin hadir pada pesta pernikahan dengan
> setelan batik, tapi sepatu sport. Tyas tersenyum menatap sepatu Lyn.
>
> “Eh kenapa?” Lyn melihat kakinya. “Ya Allah… astaghfirullah, aku
> tadi buru-buru. Nih, aku pake ransel ke sini. Bawa selop, sih. Saat itu
> juga Lyn segera duduk dekat taman dan melepas sepatu sportnya,
> menggantinya dengan selop.
>
> “Mbak Lyn lucu” ujar Tyas.
>
> “Hehehe…” Lyn tertawa. Teringat perjalanan panjangnya dari Medan.
> Teringat begitu hebohnya ia mengganti pakaian di toilet bandara sampai
> lupa mengganti sepatu sportnya ketika turun dari taksi.
>
> “Masuk, yuk.” Ujar Tyas mengajak Lyn.
>
> ***
>
> Mata Tyas menerawang menatap sebuah tempat. Di sana ada meja kecil,
> sejumlah seserahan yang berjejer rapi. Seorang tua tengah duduk di
> tengah, lainnya duduk di pinggir-pinggir. Tak lama seorang laki-laki
> duduk di hadapan laki-laki tua itu. Rico. Tyas menatap laki-laki itu
> sambil mengingat pertama kali mereka bertemu di sebuah komunitas maya.
>
> “Permisi” ujar Dona yang kini duduk di samping Tyas.
>
> “Silakan” ujar Tyas.
>
> “Hmm, udah mulai belum, mbak?” tanya Dona berbasa-basi.
>
> “Belum, filmnya belum dimulai” celetuk Lyn yang ada di samping Tyas. Dona menengok ke arah suara itu dan menatap Lyn.
>
> “Hehe, becanda, kenalin, aku Lyn” ujar Lyn sambil menyalami Dona.
>
> “Hehe, basi banget ya aku, udah tahu belum mulai, ya. Maaf, ya
> soalnya aku ga kenal hampir semua orang di sini… SKSD boleh, donk,
> hehe” ujar Dona tersenyum pada Lyn.
>
> “Aku Tyas” Tyas menyalami Dona.
>
> Dona menatap Rico dari kejauhan. Hmm, laki-laki ini menikah.
> Padahal baru kemarin dia berjanji, aaargh, betapa bodohnya aku. Sudah
> jelas dia cuma pandai berjanji, tapi ga pernah mau berkorban dan
> berjuang… See, dia menikah sekarang. Di sini aku ingin membuktikan, apa
> aku baik-baik saja di sini…
>
>
> Lyn merasa beruntung, jauh dari kotanya, bisa bertemu dengan Tyas
> dan Dona. Mereka wanita yang cantik, ramah dan punya ciri khas
> masing-masing. Kini matanya menerawang pada sosok Rico. Dengan setelan
> jas hitam dan sebuah peci yang kebesaran, Lyn semakin geram. Rasanya
> ingin melempar Rico dengan sepatu sportnya, tapi itu cuma imajinasi
> sesaat karena Dona mulai mengajak bicara lagi.
>
> “Hmm, kalian temannya siapa?” tanya Dona penasaran.
>
> Tyas terdiam. Tidak mungkin dia bicara kalau dia temannya Rico.
> Pasti sedemikian dekatnya hingga datang kemari pagi-pagi, apalagi kalau
> tahu dia dari Bandung. Lyn tak menyahut dan mengambil HP dari
> ranselnya. Dona kesal dan mengulang pertanyaannya lagi. Seorang ibu
> yang kesal karena terganggu dengan Dona yang berisik, mencubit pinggang
> Dona.
>
> “aaaau” ujar Dona
>
> “ssssst”
>
> Tyas hanya tersenyum, sementara Lyn nyaris tertawa kalau saja Tyas tak mencolek tangannya.
>
> Menit demi menit berlalu hingga tanpa terasa sudah hampir sejam,
> acara tak jua dimulai. Kaki Dona mulai kesemutan. Tyas dan Lyn sudah
> berkali-kali ganti posisi. Ada desas-desus dari ibu-ibu yang ikut duduk
> di dekat Tyas, Lyn dan Dona, kalau mempelai wanita dan keluarga belum
> juga datang. Aneh, pikir Lyn, bukannya biasanya yang mengadakan pesta
> adalah mempelai wanita, eh bisa-bisanya nggak datang. Pertanyaan Lyn
> terjawab ketika mendengar kedua ibu bergosip di sebelahnya.
>
> “Dari awal bapaknya nggak setuju, tuh, jadinya, nggak datang-datang”
>
> “Lah, ibunya gimana?”
>
> “Tadinya udah setuju, nah nggak tahu, tadi pagi masih nggak masalah. Kayaknya si Wiena kabur juga, malulah keluarganya”
>
> “Lha, kok bisa?”
>
> Lyn yang gatal untuk berkomentar pun, tiba-tiba udah ikutan ngomong.
> “Bu, gosip ye?”
>
> “Ih, beneran, neng.”
>
> Lagi-lagi Tyas mencubit pinggang Lyn. Lyn mendelik,
> “Psst, ada gosip, nih” ujar Lyn menengok ke Tyas dan Dona.
>
> ***
> Tak berapa lama, tampak seorang laki-laki berpakaian rapi
> mengumumkan sesuatu. Sang penghulu yang tadi duduk di tengah sudah
> beranjak dan berpamitan pergi. Lyn, Dona, dan Tyas saling berpandangan.
>
> “Assalamu’alaykum Warahmatullahi wa barakatuh. Kami mohon maaf
> kepada hadirin, kami baru mendapat kabar kalau mempelai wanita sedang
> kurang sehat. Untuk itu, pernikahan ditunda, kami berterima kasih atas
> kehadiran saudara-sadaudara. Wassalamu’alaykum warahmatullahi
> wabarokatuh”
> “Tuh, kan bener, si Wiena kabur” bisik ibu-ibu di sebelah Lyn.
>
> ***
> Tyas memandang Rico yang tak juga bangkit dari tempat duduknya.
> Berdesir rasa kasihan dari diri Tyas. Biar bagaimana pun keadaan
> seperti ini sangat menyedihkan dan memalukan. Dona tersenyum penuh
> dengan kemenangan, seolah Dewi Fortuna tengah berpihak padanya.
> Kemarahan yang tadi mengendap di dadanya mulai terkikis. Terbalas sudah
> dendam membara dalam hati Dona. Pikir Dona, kalau saja calon istrinya
> meninggalkan, berarti memang Rico tak pernah cukup baik menjadi seorang
> suami.
>
> Lyn menatap sejenak kedua teman barunya. Tyas dengan wajah murung
> dan Dona dengan senyum kemenangan. Entah kenapa ada sesuatu hal yang
> Lyn rasakan, tapi bukan sebuah kesedihan atau kesenangan. Ditatapnya
> Rico dari kejauhan. Tak juga ada rasa.
>
> “Hmm, mau sampai kapan di sini?” tanya Dona pada Tyas dan Lyn
>
> “Eh pulang aja, yuk,” ujar Tyas.
>
> “Hmm, ga seru banget, sih…” timpal Lyn.
>
> “Justru seru, Lyn, jarang-jarang ada pernikahan kayak gini.” Ujar
> Dona tersenyum licik seolah hal seperti itu bisa dijadikan becandaan.
>
> Tyas menatap Dona.
> “Eh, maksudku, kasian…” ujar Dona meralat ucapannya.
>
> Dona, Tyas, dan Lyn beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang akad nikah.
>
> Rico menghela napas panjang. Banyak dari tamu menghampirinya,
> menepuk pundaknya. Mereka kasihan pada Rico. Bukan perjalanan yang
> mudah antara Wonogiri dan Jakarta untuk melangsungkan pernikahan.
> Perasaan ‘dibuang’ dan dipermalukan menghantui Rico. Orang tua Rico
> sudah dari tadi meninggalkan ruang akad, mereka syok. Mereka memilih
> untuk istirahat di ruang ganti.
> Berjam-jam Wiena tak ada kabar. Wiena kabur dari rumah. Ayah Wiena
> kaget dan masuk rumah sakit pagi itu juga. Rico baru mendengar kabar
> setelah berjam-jam menunggu.
>
> Rico menatap para tamu yang beranjak pergi. Tiba-tiba Rico melihat
> tiga wanita yang pernah ada dalam hidupnya, mereka bersama. Tyas yang
> cantik dan keibuan, Dona yang cerdas, wartawan, penulis, dan Lyn,
> seorang guru yang ramah, tapi tegas. Lyn, Tyas… mana mungkin mereka ada
> di sini. Lyn tinggal di Medan, Tyas di Bandung dan Dona di Ausie. Rico
> mencoba mengingat-ingat janjinya dengan Dona beberapa waktu lalu.“Astaghfirullah”
>
> “Kenapa, nak?”
>
> “Eh, gapapa, Om”
>
> “Sabar, ya” ujar omnya Rico.
> ***
>
> “Kalian mau ke mana? Kita cari makan, yuk. Laper, nih. Udah datang
> pagi-pagi ga bisa makan. Pake acara nasi kotaknya ga dibagiin lagi.”
> Ujar Dona nyeplos.
>
> “Makan di mana?” tanya Tyas.
>
> “Aku tahu beberapa tempat enak daerah sini. Eh ngomong-ngomong kalian dari mana?”
>
> Tyas terdiam.
> Lyn juga diam.
>
> “Aku dari Bandung,” jawab Tyas. Toh apa gunanya menyembunyikan identitas.
>
> “Ow, jauh juga. Kamu temannya siapa? Rico atau is eh calon istrinya?” tanya Dona lagi
>
> “Rico”
>
> “Oh.” Ujar Lyn dan Dona bareng.
>
> “Kalau kamu, Lyn?”
>
> “Aku dari Medan.
>
> Tyas dan Dona terkejut.
>
> “Ya udah, jadinya kita makan di mana?” Lyn mengalihkan perhatian kedua teman barunya.
> ***
> Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir. Banyak orang yang juga
> memilih pulang saat itu juga setelah mendapat kabar dari kerabat Rico.
> Setiap berpapasan dengan banyak orang, selalu terdengar desas-desus tak
> sedap.
> “Aku udah siapin kotak tisu gini juga, kenapa akadnya ga jadi, sih” ujar Dona asal ceplos ketika memasuki mobilnya.
>
> “Tisu.. untuk nangis?” tanya Lyn.
>
> “Uupps… nggak aku lagi pilek” ujar Dona asal sambil berpura-pura menarik ingus di hidungnya.
>
> Tyas menatap Dona, kini dia duduk di bangku depan sebelah Dona.
> “Kayaknya mbak Dona nggak pilek, deh tadi”
>
> “Hehehe. Iya untuk nangis, tapi nangis karena bodoh…” ujar Dona.
>
>
> ***
> Burger Grill, Kalimalang, Jak-Tim
> “Kamu dari Bandung, yas?” tanya Dona
>
> “Iya.” Ujar Tyas singkat.
>
> “Kamu… dekat banget, eh maksudku sahabatan dengan Rico?”
>
> “Hm…. lumayan, sih… dia yang minta aku datang ke pernikahannya.” Ujar Tyas berusaha bersikap normal.
>
> “Oooh… aku agak familiar aja sama wajah kamu, yas.. kayak pernah
> kenal.” Ujar Dona. Dona yang pernah kuliah di Psikolog seperti melihat
> ada yang Tyas sembunyikan.
>
> Lyn baru saja dari kamar mandi mendatangi Tyas dan Dona yang memilih tempat duduk dekat jendela.
>
> “Asyik juga, ya di sini… udah pesen apa, nih?” tanya Lyn.
>
> “Aku pengen pesen lontong sayurnya, enak, deh, Lyn, mas mesen donk” ujar Dona memanggil pelayan.
>
> Ketiganya memesan apa yang diinginkan.
> Dona masih mengotak-atik BB-nya. Tyas sibuk dengan bukunya, dan Lyn
> menerawang menatap pemandangan di luar lewat jendela besar bening.
> Ketiganya sibuk dengan urusan masing-masing hingga tanpa sadar Tyas
> menangis. Lyn yang berada di sebelah Tyas melihat dan memeluk Tyas.
> “Kenapa, yas?” tanya Lyn.
>
> “Aku ga tahan, mbak… aku ke sini ini benar-benar perjuangan,
> perjuangan berat. Aku sebenarnya suka sama Rico dan aku pikir Rico juga
> begitu, tapi dengan teganya dia men-tag aku di undangan nikahnya. Aku
> ke sini kayak orang bodoh, aku berusaha biasa bisa jadi sahabat aja,
> tapi aku tetap ga tahan, mbak.” Ujar Tyas terus menangis.
>
> Dona yang berada di seberang meja Tyas dan Lyn menggenggam tangan Tyas.
> “Sabar, ya sayang” ujar Dona.
>
> “Makasi, ya…. aku senang, ada mbak Lyn dan mbak Dona di sini.
> Sebenarnya, kalau boleh milih aku lebih pengen di rumah, di kamar. Aku
> mau menghapus semua tentang Rico. Aku nekat aja ke sini, mbak.”
>
> “Sama-sama Yas… sabar, ya”ujar Lyn. Lyn sudah menduga apa yang Tyas alami.
>
> Ketiganya diam hingga pelayan meletakkan makanan dan minuman pesanan mereka.
>
> Dona menatap Tyas.
> “Yas… Rico tahu kalau kamu suka dia?” tanya Dona langsung.
>
> “Hmmm, ga tahu, mbak, tapi aku pikir… dari sikapnya itu, dia perhatian, suka SMS dan nelpon, dan banyak lagi.” Ujar Tyas polos.
> Diusap air matanya. Entah kenapa, Tyas berani menceritakan kisah
> hidupnya kepada dua orang yang baru dikenal, tapi keadaan yang membuat
> Tyas tidak tahan dan memilih menumpahkan semuanya. Tyas merasa teramat
> bodoh terkungkung dalam mimpinya sendiri tentang Rico. Rico yang
> santun, baik, perhatian, punya banyak prestasi, wawasan yang luas,
> ternyata tak lebih dari seorang yang senang tebar pesona. Memang tak
> pernah ada pernyataan dari Rico, tapi Tyas sudah terlanjur mengisi
> hatinya dengan sosok Rico.
>
> Dona kembali mengotak-atik BB-nya.
> “Pantes… aku familiar dengan kamu, sepanjang jalan dari bandara ke
> rumah, aku otak-atik FB Rico dan salah satu cewek yang paling sering
> ada di page Rico tuh kamu. Aku pikir nikahnya sama kamu.” Ujar Dona masih memegang BB-nya. “Kalau ada notes, kamu pasti tag Rico pertama kali, dan kalau Rico bikin notes
> kamu juga selalu komen… Hmm, sudah sebegitunya Rico ga sadar juga, ya”
> ujar Dona sambil menyeruput jus alpukat kesukannya. Pandangannya
> menerawang keluar jendela. Seharusnya kepulangannya ke Indonesia adalah
> untuk memastikan semuanya, tapi ternyata harus ini yang terjadi.
> Kehilangan lagi.
>
> Lyn menatap Dona. Begitu mudahnya ceplas-ceplos dan spontan.
>
> “Hehehehe… aku pada dasarnya pemalu, mbak. Cuma lewat FB aja aku
> bisa begitu.” Ujar Tyas. Air matanya sudah tak keluar, tapi terlihat
> jelas bengkak di matanya.
>
> “Kamu kenal di mana?” tanya Dona. Entah kenapa saat itu feeling
> psikologinya yang lebih kuat dibanding sakit hatinya sendiri yang ia
> rasakan pada Rico. Dona merasa Tyas perlu bantuan, walau sempat
> beberapa kali Dona jengah dengan apa yang Tyas lakukan di FB Rico
> selama ini. Satu lagi, usia Tyas terpaut jauh dengan dirinya. Tyas
> masih muda, belum terlalu banyak pengalaman dengan sosok yang bernama
> lelaki dan sesuatu yang bernama cinta.
>
> “Komunitas, mbak… kami satu komunitas. Dari awal dia yang menyapa
> aku dulu, terus kita makin akrab, tanpa sadar sahabatan… aku cuma
> merasa Rico butuh momen yang tepat untuk hmmm… melamar aku, aku milih
> untuk nunggu….” ujar Tyas malu-malu.
>
> Polos benar dia, pikir Dona
>
> Lyn mencoba mengingat-ingat perkataan Rico. Dia beberapa kali
> menceritakan soal komunitas maya yang dia ikuti. Yah, ada seorang
> wanita di sana. Wanita yang berkali-kali diceritakan pada Lyn, tapi
> wanita itu tidak seperti Tyas. Dia tidak sepolos, cantik, ayu, santun
> seperti Tyas. Wanita itu lebih kuat, punya komitmen dan tegas.
>
> Lyn menatap Dona. Gambaran wanita di depannya seperti yang
> diceritakan pada Lyn. Wanita yang katanya harusnya menjadi istri Rico,
> tapi tak disetujui orangtuanya.
>
> “Kamu sendiri, Lyn? Apa kamu juga punya hmmm, hubungan khusus dengan Rico?” tanya Dona.
>
> Lyn tak kaget lagi dengan pertanyaan Dona. Lyn sudah menduga Dona juga akan mengorek-ngorek informasi dari Lyn.
>
> “Hmmm… mungkin, tapi ternyata aku terlalu berharap banyak, mbak…
> sama halnya dengan Tyas, aku ga pernah menanyakan atau dapat pernyataan
> dari Rico. Aku jalani dengan let it flow sampai aku sadar,
> ternyata aku cuma dijadiin ‘tempat sampahnya’ dia… Butuh waktu yang
> lumayan lama untuk menyadari itu… tapi paling tidak aku tak berharap
> banyak… hanya… orangtuaku sudah terlanjur suka pada Rico”
>
> “Maksudnya”
>
> “Yah, mereka pikir Rico serius denganku. Aku juga ga ngerti,
> bisa-bisa Rico mencuri perhatian orangtuaku, hingga mereka sudah
> berpikir kalau kami akan segera menikah… padahal dari Riconya justru
> tak ada pernyataan apapun… aneh… setiap aku tanyakan soal itu, Rico
> justru mengelak dan berkelit…. dari situ aku mulai ngerti, malah
> belakangan dia cerita tentang seorang wanita… yang katanya dia sukai,
> tapi ga mungkin sama-sama. Aku pikir, kalau emang dia suka aku, ga
> mungkin donk dia menceritakan wanita lain…” ujar Lyn menatap Dona.
>
> Dona masih menikmati burgernya sambil mendengarkan Lyn. Lyn tampak
> lebih tegar dan logis dibanding Tyas. Lyn tak terpenjara dengan
> imajinasinya, tapi Dona merasa Lyn sempat punya harapan pada Rico dan
> tak terbalas.
>
> “Wanita itu aku pikir mbak Dona” ujar Lyn. Dona terperanjat. Tyas menjatuhkan sendok yang tadi digenggamnya.
>
> “Eh, kenapa bisa mikir gitu?” ujar Dona
>
> “Hehehe… di antara kita yang belum cerita kan mbak Dona.” Ujar Tyas
> polos “Iya, mbak… udah deh kita buka-buka semuanya… mumpung kita
> ketemu… aku udah pasrah… capek malah ngadepin semua ini”
>
> Dona menatap kedua teman barunya. Tidak mudah baginya membuka diri, tapi ada sebuah chemistry untuk bisa dekat dengan keduanya.
> “Hmmm… yah sama dengan kalian, aku cukup dekat dengan Rico. Aku saat
> ini kuliah S2 di Ausie. Aku pulang ke Indonesia juga ada janji dengan
> dia, tapi ternyata dia menikah… aku sendiri ga di-tag. Hmmm,
> aku sengaja siapin tisu, untuk nangis, pastinya… karena aku pikir…
> kenapa aku lagi-lagi harus bodoh dengan bertemu orang yang salah”
>
> Lyn menatap Dona. Meyakinkan diri bahwa Donalah wanita yang selama ini menjadi objek puisi-puisi yang dibuat Rico.
>
> “Hmmm… aku kenal dia di komunitas, tapi kayaknya beda komunitas
> dengan kamu, Yas… komunitasku tentang kepenulisan gitu… kami biasa
> saling menilai tulisan. Katanya, sih awalnya Rico kagum dengan
> tulisanku yang begitu mengharu biru, sampai akhirnya kami akrab.”
>
> “Oh, mbak di komunitas Pena, ya?”
>
> “Yup…”
>
> “Aku pernah diajak Rico untuk gabung di Pena.” Ujar Tyas.
>
> Dona terdiam. Bagaimanapun, sepolos apapun Tyas, Rico tetaplah salah
> mengumbar perhatian dan banyak hal ke banyak wanita. Baru dua orang
> yang ditemuinya, entah ada berapa wanita lagi yang terjerat dan merasa
> disukai Rico.
>
> “Bedanya aku dengan kalian… ketika aku merasa Rico memberi perhatian lebih, aku tanyakan langsung… apa dia menyukaiku…?”
>
> Tyas tersedak. Lyn tanpa sengaja menjatuhkan HP-nya.
>
> “Aku pernah gagal, jadi aku nggak mau gagal lagi, walau pada
> akhirnya, Rico justru tidak lebih baik dengan mantan suamiku.” Ujar
> Dona.
>
> Tyas kembali tersentak mendengar perkataan Dona. Mbak Dona
> janda? Tak terlihat sama sekali kalau Mbak Dona sudah menikah. Dia
> memang terlihat sudah berusia 25 ke atas, tapi sudah janda. Rasanya
> mustahil. Tyas tak berpikir sejauh itu. Mbak Dona menikah umur berapa?
>
> “Aku menikah umur 19 tahun ketika masih kuliah S1. Pernikahan yang
> hanya berumur tiga tahun dan kami bercerai. Saat itu kami tak memiliki
> anak.” Pernyataan Dona seolah menjawab tanya Tyas.
>
> Lyn menatap Dona. Memikirkan kembali curhat Rico di suatu malam,
> curhat yang secara tersirat menegaskan kalau Rico tak punya perasaaan
> apa-apa pada Lyn. Rico menceritakan ketidaksetujuan orangtua Rico atas
> calon yang ia tawarkan. Mungkin karena Dona janda.
>
> “Aku bercerai karena ternyata suamiku itu menikahiku karena
> mengincar kekayaan papa… seperti sinetron, ya… tapi begitulah, yang
> jelas long story. Setahun perceraianku, aku bertemu dengan
> Rico, hmmm, adalah satu anugerah sendiri buatku. Dia mengajakku untuk
> melupakan masa lalu dan merenda masa depan. Banyak nasihat yang aku
> pegang… bisa dibilang Rico salah satu orang yang berpengaruh buatku.”
> Ujar Dona.
>
> Tyas dan Lyn terdiam.
>
> “Hmm, makanya aku tak pernah main-main saat Rico dengan sikapnya
> mendekatiku… ternyata gayung bersambut, Rico juga menyukaiku, tapi dia
> berdalih tak bisa memperjuangkanku.”
>
> Suasana hening.
>
> “Tidak disetujui orangtuanya?” ujar Lyn memecah keheningan.
>
> “Iya, karena aku janda.” Ujar Dona. “Anehnya, dengan dalih sahabat,
> dia meminta masih bisa terus dihubungi dan bersikap biasa. Hmm, aku ga
> bisalah… masalah kami itu pengorbanan dan perjuangan dan kebersamaan.
> Katanya dia punya cinta, tapi dia tidak punya komitmen. Berkali-kali
> kami bertengkar sampai akhirnya… aku memilih untuk mengikuti alurnya,
> bersahabat… tapi dengan mengurangi frekuensi kedekatan kami…”
>
> “Puisi-puisi di notes Rico itu?” tanya Lyn.
>
> “Ah… ya… dasar laki-laki, dari puisi itu, berapa banyak wanita
> kecele, ya… sampai menduga-duga ditujukan untuk siapa? Yah, beberapa
> puisi itu dikirim japri ke aku.” Ujar Dona,
>
> Tyas terdiam. Dirinya makin teramat bodoh. Istana imajinasinya
> perlahan hancur berkeping-keping mendengar kenyataan di depannya.
> Melihat Dona ada rasa pedih, sekaligus rasa miris. Ironis. Ternyata
> selama ini wanita yang selalu ditulis dalam puisi Rico adalah Dona.
>
> “Aku sudah menduga, mbak. Aku melihat Rico begitu tersiksa pada
> puisinya, tapi juga begitu lemah karena tak bisa berbuat apa-apa.” Ujar
> Lyn.
> “Bukan tidak bisa, tapi tidak mau” ujar Dona. Ada kristal bening
> keluar dari mata Dona. Sebuah tisu disodorkan Tyas kepada Dona.
> Ditatapnya wajah Tyas. Ternyata selama ini wanita yang disangkanya
> lebih dipilih Rico pun sama. Sama-sama kecewa dengan sikap Rico yang
> tidak tegas dan tukang tebar pesona.
>
> “Seharusnya aku ada janji dengan Rico, tapi tampaknya dia lupa padaku… menikah saja dia tak mengundangku.”
>
> “Janji?”
>
> “Yah, biar gimana juga Rico akan kuliah S3 di Ausie, dan harusnya
> kami bertemu saat aku pulang ke Indonesia.” Ujar Dona. “Terlalu banyak
> yang Rico janjikan ke aku… aku merasa bodoh.” Ujar Dona.
>
> Tyas menghampiri Dona dan memeluknya.
> “Mbak… bukankah dengan mengetahui semua ini, mbak tidak lagi harus gagal.” Ujar Tyas. Tyas merasa persoalan Dona lebih berat.
>
> “Terima kasih Tyas, maafin aku ya udah nyangka kamu macam-macam”
> ujar Dona. Kebencian pada Tyas luntur saat itu juga. Ditatapnya Lyn.
> Satu-satunya wanita yang tak menangis saat itu.
> Lyn terdiam canggung. Ditatapnya dua wanita itu. Tyas yang polos,
> Dona yang tegas dan pernah terluka. Mereka sama-sama penuh cinta,
> sama-sama terjebak dengan seorang yang sama, yang juga melukai hati
> Lyn. Lyn tak ingin mempermasalahkah. Lyn hanya memikirkan orangtuanya.
> Biar bagaimanapun Rico sudah menjadi harapan orangtua Lyn. Begitu
> sulitnya bagi Lyn memberi tahu mereka kalau Rico tak lebih dari seorang
> teman.
> “Rico bagaimana kabarnya, Lyn? Kapan ke sini lagi?”
> “Baik, bu… ga tahu, sibuklah dia..”
> “Masak datang ke rumah calon sibuk segala… cepat suruhlah melamar ke rumah dia” ujar mama Lyn beberapa waktu lalu.
>
> Lyn menghela napas mengingat perbincangannya dengan mamanya beberapa waktu lalu. Tiba-tiba dirinya tersadar.
> “Aku harus segera pulang, nih. Aku ngejar pesawat jam 2… hmmm, aku kabur dari rumah, hehe” ujar Lyn
>
> “Haaaa, kamu serius Lyn?” tanya Dona tak percaya.
>
> “Masak sih, mbak Lyn” Ujar Tyas kaget.
>
> “Iyalah… kalau aku bilang-bilang, bisa-bisa orangtuaku minta ikut,
> dipenggallah Rico, hehehe” ujar Lyn berceloteh menghidupkan suasana
> yang tadinya begitu sendu.
>
> Dona dan Tyas terkekeh.
> ***
> Perjalanan menuju bandara dilalui dengan diam. Lyn tertidur di
> bangku belakang. Tyas masih sibuk membaca novel Kang Abik sambil
> sesekali mengusap air matanya. Dona konsentrasi dengan jalan di
> depannya. Pastilah Allah sudah menentukan takdir bertemu dengan
> kedua teman barunya. Pertemuan yang hanya beberapa jam saja, tetapi
> begitu berarti bagi ketiganya.
>
> Tinit tinit..
> Lyn terbangun mendengar bunyi sms dari HP-nya.
>
> Dari Rico
> Lyn, gimana kabar Medan?
> Rasanya pengen makan roti cane, masakan ibumu,
> dan jalan-jalan ke danau Toba
> Kamu lagi ngapain? Aku ingin cerita banyak
>
> Lyn membaca SMS itu dan memilih menutup kembali HP-nya, meletakkan
> kembali ke dalam tas dan meneruskan tidur. Terpikir di benaknya untuk
> menyatakan yang sebenarnya tentang Rico pada kedua orangtuanya. Menutup
> segala pintu “boleh curhat” kepada Rico.
>
> Tak lama, ponsel Tyas berbunyi. Tyas segera menutup bukunya dan mengambil HP dari kantongnya.
>
> Dari Rico
> Hidup tak selamanya indah, ya…
> Tapi, sangat indah ketika masih bersahabat dengan kamu…
> Apa kabar Tyas?
>
> Tyas membacanya dengan wajah mendelik. Sesekali menatap Dona yang
> masih berkonsentrasi dengan pemandangan di depan. Dihapusnya SMS dari
> Rico. Dimasukkan kembali HP-nya ke dalam tas.
>
> “Seru, yas ceritanya?” tanya Dona
>
> “Iyah… akhirnya Anna menikah dengan Azzam…” ujar Tyas polos.
>
> “Jangan kebanyakan baca yang kayak gituan, sekali-kali baca tuh
> cerita tentang kekerasan rumah tangga, hehehe. Biar di otak kamu ga
> hanya yang indah-indah tentang pernikahan” ujar Dona asal nyeplos.
>
> “Iiiih, mbak Dona jahil.” Tyas merasa makin dekat dengan Dona. Baru
> diketahui kemudian usianya terpaut lima tahun. Tyas seperti menemukan
> sosok ‘kakak’ dalam diri Dona.
>
> “Becanda, neng”
>
> Nut nut
> Giliran HP Dona berbunyi.
> Serentak Lyn dan Tyas berkata
> “Pasti dari Rico”
>
> “Eh, kenapa jadi kompakan gini? Mau bikin grup lawak bareng, ya”
> celoteh Dona sambil membayar uang tol ke loket. Dicek Hp-nya sambil
> membaca keras-keras SMS dari Rico.
> Seharusnya aku menuruti nuraniku…
> Memperjuangkanmu dan memenuhi janji-janjiku
> Masih adakah tempat buatku untuk ada di sisimu
>
>
> ***
>
>
>
>
> Terinspirasi dari berbagai hal, terutama begitu banyaknya ‘sandiwara’ di dunia maya, khususnya Facebook . Terinspirasi juga dari seorang teman dengan cerita serunya . Thank u inspirasinya, neng, hehehe…
> Sepenuhnya cerita ini fiksi, kalau merasa ada kisah yang sama dan tokohnya mirip, sueeer, itu cuma kebetulan aja
>
>
>
> ***
>
> "Anda adalah cermin dari pikiran-pikiran Anda Sendiri"
> (Syekh Muhammad Al Ghazali)
>
> ***
>
>
>
> novi_khansa'kreatif
> ~Graphic Design 4 Publishing~
> YM : novi_ningsih
> http://akunovi.multiply.com
> http://novikhansa.wordpress.com/
>

5.

Art-Living Sos 2009 (A-12 Sebuah Nama...

Posted by: "IETJE SRI UMIYATI GUNTUR" ietje_guntur@bca.co.id

Tue Dec 15, 2009 4:31 pm (PST)





Dear Allz...

Apa kabar ? Semoga menjelang liburan akhir tahun ini semakin sehat dan semakin bersemangat yaa...hehe...

Kayaknya memang banyak PR kita di akhir tahun ini yang harus diselesaikan. Ada yang mencapai target...dan ada yang mesti dirancang ulang dengan langkah dan metoda yang baru. Semoga semua lancar, yaaa....

Oya....kali ini saya ingin berbagi cerita tentang `nama´. Iya...nama atau identitas pribadi. Kenapa bagi saya nama ini sangat penting, karena dengan nama kita akan mempunya image, mempunyai jati diri. Nama di dunia nyata saja sudah demikian rumitnya, apalagi di dunia maya. Itulah yang ingin saya sajikan kepada teman dan sahabat saya....

Semoga berkenan....selamat menikmati....

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Art-Living Sos 2009 (A-12

Start : 15/12/2009 10:22:40

Finish : 15/12/2009 15:58:53

SEBUAH NAMA di DUNIA MAYA

Pagi-pagi. Di kantor. Sebelum melakukan apa-apa, tugas pertama saya adalah membuka komputer. Maksudnya...menyalakan dan melihat isinya. Bukan membongkarnya lho...hmmm...

Lalu, urutan pertama adalah membuka email . Surat elektronik. Satu persatu ditelusuri. Ada email internal perusahaan, berkaitan dengan pekerjaan. Ya, iyalah...dengan perusahaan sebesar ini dan jaringan kantor yang tersebar di seluruh Indonesia, paling gampang memang berhubungan dengan email....Apalagi dengan kecanggihan teknologi sekarang, tidak hanya sekedar email, berupa surat, tetapi foto dan data pun bisa dikirim dan diterima di tujuan dengan cepat dan akurat....Itu kalau tidak salah alamat... hehehehe...

Kemudian email-email lain...dari teman dan sahabat. Serta dari alamat-alamat yang tidak jelas identitasnya. Ada yang menawarkan kekayaan sebesar 5 Milyar ( hari gini ??? yang benar saja...kalau dibelikan kerupuk dapat berapa truk ???). Ada yang menawarkan obat kuat buat pria ! Uuuhh...nih pasti salah sambung. Ada juga yang melemparkan debat kusir tidak jelas mengenai topik yang provokatif. Nggak penting...langsung hapus. Ada juga...aha...ini dia...kata-kata mutiara yang manis dan indah...Sayangnya tidak ada nama pengirimnya. Hanya sebaris kata di bawah `Kupu-kupu Pengisap Madu´. Woeee....

Email yang mirip hama di kebun bunga itu langsung saya buang ke keranjang sampah. Busyeett...butuh waktu tidak kurang dari lima belas menit untuk mengenyahkan email kategori sampah itu. Dan memberinya tanda, sebagai SPAM. Jadi lain kali kalau masuk, langsung bisa menuju ke sana...heh heh...

Saya tertarik pada email dari si Kupu-kupu Pengisap Madu ini. Dan saya perhatikan, emailnya sudah beberapa kali masuk ke dalam inbox email saya. Lumayan bagus juga kutipan-kutipan yang disalinkannya, yang diunduh atau di-download entah dari mana. Nggak apa-apalah...yang penting kan isinya. Bukan si Kupu-kupu itu.

Yang agak mengganggu memang email provokasi yang entah dari mana bisa masuk ke dalam inbox saya. Administrator IT ( Information Technology...bagian sistem informasi perusahaan ) di kantor saya pun sudah kewalahan membendung email dengan identitas yang berubah-ubah ini. Nama milisnya berganti-ganti. Nama pengirimnya pun tidak jelas siapa. Selain isi emailnya bersumber dari data yang ngawur, terkadang topiknya malah menimbulkan perdebatan yang tidak jelas tujuannya ( ya tujuannya memang mungkin untuk itu...memancing kekisruhan saja).

Beberapa orang yang kemudian saya kirimi email melalui jalur pribadi ternyata juga sebal dengan kiriman email seperti ini. Tetapi setiap kali dibuang dan diberi tanda SPAM, dia akan muncul lagi dengan nama baru. Ini sangat mengganggu dan jelas sangat membuang waktu untuk menekan tanda delete pada keyboard komputer.

♥

Melihat email yang bertebaran di dalam inbox komputer , saya jadi mengernyitkan dahi sedikit...(jarang-jarang lho saya mengernyitkan dahi...hehehe...).

Dunia maya dengan segala emailnya memang dunia tanpa batas. Setiap orang bisa membuat alamat email dengan segala nama atau sebutan yang dia sukai. Boleh Kupu-kupu pengisap madu...boleh Pendekar penebar pesona...boleh Bidadari dari Langit ke tujuh. Atau yang agak heroik...misalnya Pendekar Pembela Kemiskinan...atau yang agak narsis sedikit...Si Ganteng dari Jembatan Semanggi ...(mungkin yang ini pasangannya si Manis Jembatan Ancol !).

Membuat alamat email atau akun memang bebas. Tidak ada yang melarang kita mau menggunakan nama apa saja. Itu sekedar nama. Sekedar agar orang lain mengetahui jati diri kita. Mau benar atau mau palsu, itu adalah urusan lain.

Namun demikian, bila kita menggunakan alamat email ini di dalam urusan yang formal, seperti di kantor saya. Bukan hanya nama yang harus asli, tetapi unit kerja dan nomor telepon pun wajib dicantumkan di dalam identitasnya. Ini selain sebagai persyaratan kelengkapan administrasi pengguna alamat email, juga untuk menghindari kesalahan pengiriman surat atau data ke pihak yang salah. Misalnya untuk nama Lina, di kantor saya lebih 10 orang menggunakan nama tersebut. Belum lagi nama populer seperti Budi dan Bambang, entah berapa puluh orang lagi yang menyandang nama tersebut. Tanpa identitas unit kerja dan nomor telepon yang jelas, bisa-bisa salah sambung...dan tentu saja akibatnya bisa fatal.

Untuk perusahaan yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi seperti perusahaan tempat saya bekerja, kesalahan pengiriman data bukan hanya sekedar urusan salah pencet atau salah ketik. Tetapi bisa-bisa dikenakan dakwaan yang melanggar pasal sekian-sekian dari undang-undang tentang kerahasiaan data. Jadi jelas, urusan identitas di sini bukan urusan main-main.

Tentu akan beda masalahnya dalam urusan informal. Seperti di milis-milis komunitas. Kita bisa lebih bebas menuliskan identitas semau kita. Apalagi kalau milis model abal-abal yang tiap bulan berubah identitas agar tidak terlacak sebagai SPAM. Nama semodel Pendekar Pemetik Bunga atau Kupu-kupu Pengisap Madu akan laris manis silih berganti mengisi milis seperti ini. Tetapi dari pengalaman saya, beberapa milis dari komunitas yang formal mewajibkan anggotanya untuk mengisi data pribadi, dengan nama dan identitas yang asli, lengkap dengan nomor telepon, dan kalau perlu dilengkapi dengan blog atau website yang dimiliki. Gunanya agar ketika bertukar informasi atau mempublikasi suatu topik, akan jelas siapa yang mengirim dan bertanggungjawab atas isi surat elektronik tersebut.

Jadi sebetulnya, tidak hanya dalam organisasi perusahaan yang memang peduli dengan ketertiban administrasi, di dalam milis komunitas tertentu juga sangat peduli dengan identitas yang jelas dari anggotanya. Tak hanya itu. Mereka pun memiliki aturan sangat ketat terhadap anggotanya, karena mereka sadar bahwa milis komunitas mereka memiliki integritas terhadap keberadaan dan visi terbentuknya komunitas dunia maya tersebut.

Mereka sangat concern terhadap image yang akan terbentuk dari persepsi masyarakat, paling tidak pengguna milis tersebut. Dan dengan hati-hati mereka mengelola keanggotaannya, agar tetap dapat saling bertukar informasi secara terbuka dan transparan dalam koridor etika berkomunikasi yang telah disepakati. Mereka sangat menghargai kepercayaan anggotanya terhadap anggota lain, sehingga bila terjadi silang pendapat, tidak ada anggota yang berkata ," Waaah...ndak jelas siapa yang nulis !"

♥

Menyimak pentingnya nama sebagai identitas pribadi di dalam komunikasi dunia maya, saya jadi merenung.

Nama memang milik pribadi. Di balik nama itu ada sebuah pribadi yang ingin tampil di dunia maya, dunia di mana tidak ada tatapan mata yang langsung atau persentuhan secara fisik. Menampilkan nama sebagai identitas memiliki konsekwensi bahwa kita akan dikenal. Secara positif mau pun negatif.

Menampilkan diri seutuhnya, apa adanya, memang ada resikonya.

Ketika kita tampil memikat dan menyenangkan orang banyak, tidak jarang kita akan menerima limpahan pujian dan sanjungan. Baik pujian yang disampaikan secara terbuka di tataran milis, maupun melalui jalur pribadi. Sebaliknya, kalau kita tampil dengan tulisan (ya namanya milis...mail list...pasti yang nongol tulisan atau gambar)...yang kurang menyenangkan, kurang bagus, kurang berkenan di hati orang banyak...ehemm, jangan kuatir...dalam waktu tidak terlalu lama akan muncul kritik, protes, bahkan boleh jadi cercaan yang memerahkan wajah dan telinga.

Berdasarkan pertimbangan resiko itulah, banyak orang yang memilih tidak menampilkan nama asli atau identitas pribadinya ke ranah maya. Mereka bersembunyi di balik nama-nama rekaan yang terkesan netral atau bahkan semodel Kupu-kupu Pengisap Madu tadi. Resiko dipuji atau dikritik pun bisa mereka terima dengan tangan terbuka, karena mereka toh bisa berkilah ," Itu bukan saya ! Yang dipuji dan dikritik itu adalah Si Kupu-kupu!"

Ini memang salah satu teknik avoidance conflict yang sering dipergunakan oleh orang-orang yang rendah hati atau rendah diri. Ketidakmampuan mereka menerima diri, diselubungi dengan nama atau identitas yang berbeda dengan dirinya. Sehingga, dia tetap dapat eksis, dapat tetap tampil, tapi dalam perlindungan nama lain yang akan menerima resiko dari perbuatannya.

Kita sebagai pribadi yang sudah memutuskan untuk tampil di forum dunia maya yang formal, tentu tidak mau menjadi seseorang yang seperti si Kupu-kupu Pengisap Madu. Apalagi bila milis komunitas kita adalah milis yang terbuka keanggotaannya, dengan tata aturan main yang jelas, dengan kedekatan emosi dan pikiran yang dijalin melalui pertemuan atau kopdar ( kopi darat) komunitas....kita tentu sangat ingin kita dikenal sebagaimana kita apa adanya. Nama, yang kita sandang, siapa pun itu adalah identitas diri kita. Dengan nama itu kita eksis, dengan nama itu kita tampil, dan dengan nama itu kita menjalin hubungan dengan sesama anggota milis atas dasar saling percaya.

Kalau bukan kita sendiri yang menghargai nama kita, bagaimana orang lain dapat menghargai diri kita ?

Untuk apa kita bersembunyi di balik identitas Kupu-kupu Pengisap Madu, kalau kita punya jati diri yang layak ditampilkan di forum.

Mari masuk ke dunia maya....Mari tampilkan diri kita yang sebenarnya. Hargai nama kita. Hargai identitas kita. Okeyyyy....???

♥♥♥

Jakarta, 15 Desember 2009

Salam hangat,

Ietje S. Guntur

Special note :

Terima kasih untuk sahabat-sahabat milis dan para moderator yang luar biasa...mas Hendry , mbak Lina, mbak Ayu, mbak Lilla, Kang Husni- Trainersclub, mbak Lies-Profec, Mas Teddy-Indonesia NLP, mas Ronny-Lingkar LOA , Cak Masbukhin dan cak Eko-Bizmart, Bang Charles, mbak Ellies-Excellent, mas Jojo, Mas Eko Jalu-Motivasi Indonesia, Mas Harry-MOCI dan RUBI, Mas Pandu-Karl May Indonesia, mas Boku-PsiUnpad...dan milis-milis tempat saya mendapat tempat berekspresi dengan leluasa...Manager Indonesia, Sekolah Kehidupan, HR Opensources, KemahMarComm, IATD, Rumah Ilmu...juga milis abal-abal yang menginspirasi tulisan ini...thanks bangeeeett untuk semua penerimaan dan kesempatan yang diberikan kepada saya sebagai anggota milis yang kadang-kadang nyeleneh juga...hehehe...thanks buat semangat dan inspirasinya...

:BCA:
6.

Fwd: [MQS] Undangan MQSPI-4 "Kudapatkan Surga DirumahKu"

Posted by: "Mimin" minehaway@gmail.com   mine_haway

Tue Dec 15, 2009 4:33 pm (PST)



FYI,

---------- Forwarded message ----------
From: qolbun salim <qolbun.salim@yahoo.com>
Date: 2009/12/15
Subject: [MQS] Undangan MQSPI-4 "Kudapatkan Surga DirumahKu"
To: MQS team <qolbun.salim@yahoo.com>

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1431 dengan semangat
perubahan yang lebih baik.

*Daarut Tauhiid Jakarta bersama Manajemen Masjid Raya Pondok Indah (MRPI)
mengundang dalam acara special yaitu :*

*Malam Muhasabah Menuju Qolbun Salim PI 4 (MQSPI-4)*
*Edisi Spesial Awal Tahun Hijriyah*

*tema** *: *"Kudapatkan Syurga DirumahKu"*

*Waktu :*
*Kamis, 17 Desember 2009 / 1 Muharram 1431 H**
Pukul 18:00 sd 06:00 (bermalam/mabit)
Bertempat di Masjid Raya Pondok Indah (MRPI),*

*Jl. Sultan Iskandar Muda No. 1, Jakarta Selatan** *
*
Nara Sumber :**
**- Ust. Nurul Huda Haem **(Pengasuh Majelis Motivasi Cinta)*
*- Ust. Zen El Fuad, S.Si* *(Motivator Sinergi Semesta)*

*Imam Qiyamullail*

*Ust. Abul A'la Al Maududi*

*Muhasabah & Kuliah Subuh*

*Ust. Edi Abu Marwah*

*Agenda :**
**Kajian Tematis & Dialog interaktif - Qiyamullail -Muhasabah dan Bazar**
*
Acara ini terbuka untuk umum, pria/wanita, ihwan/akhwat dan tidak dikenakan
biaya.

Untuk informasi lebih lanjut dipersilahkan menghubungi :
*DT Jakarta : 021- 7235255**
MQS Hotline (Kasmudi) : 021- 70145049*

Ladang beramal untuk bisa ikut menginformasikan acara kegiatan ini dan
semoga Alloh SWT membalas dgn lebih baik.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

*(Tim Publikasi MQSPI-4)*

*~MQS~*
Menebar Rahmat dan Manfaat, Saling Berbagi dan Membantu
http://www.majelisqolbunsalim.blogspot.com (please visit us)
email & YM : qolbun.salim@yahoo.com (please contact us)

--
http://minesweet.co.cc
http://minehaway.com
7.

The Japan Foundation's Fellowship for Intellectual Exchange 2010

Posted by: "idoscholar" idoscholar@yahoo.com   idoscholar

Tue Dec 15, 2009 4:34 pm (PST)



The Japanese government organized a scholarship program called "Japan
Foundation's Fellowship for Intellectual Exchange 2010-2011".The
fellowship program aims to assist in the development of a new generation
of intellectual leaders who are familiar with Japan and are able to
incorporate topics related to Japan to their own field of research in
future. Read more at http://scholarshipabout.blogspot.com/
<http://scholarshipabout.blogspot.com/>

8a.

[Catcil] Kucing-kucingan

Posted by: "Mimin" minehaway@gmail.com   mine_haway

Tue Dec 15, 2009 4:44 pm (PST)



Menurutku sih kejadian ini lucu, tapi kalau saya nggak pandai bercerita
jadinya teman2 nggak ada yang ketawa
Let's check it dot!

*************

"Ceknya sudah diproses Mbak." Finance menyampaikan kabar baik itu setelah
berjam-jam aku menunggu. Awalnya disuruh nunggu stempel dulu, karena
stempelnya dibawa ke bank. Kebetulan OB juga butuh stempel untuk invoice
yang akan dikirim (deadline tanggal 15 Desember 2009) pukul 14.00 WIB. Aku
pun jalan bareng OB ke PIM 1 untuk minta stempel. Ternyata orang yang bawa
stempel nggak ada di PIM. HPnya juga nggak bisa dihubungi. Hampir satu jam
bengong di PIM. OB nggak mau diajak ke kantor baru untuk ambil stempel.
Detik-detik menunggu, ada kabar bahwa stempel akan disusulkan oleh *driver *ke
PIM. Driver yang ditunggu nggak kelihatan juga. Biar gampang, aku dan OB
keluar PIM untuk menjemput stempel dan dokumen revisi yang dibawa *driver*.
Clingak-clinguk lihat kanan kiri jalan, nggak ada juga. Parahnya lagi aku
nggak punya no HP driver itu, sementara HP OB yang ada no HP driver lowbat.
OB masuk PIM lagi, ke *bank arcade* lagi, dapat brosur lagi hihi..., dan
tetap nggak membawa hasil. Kita duduk lagi.

Sebut saja Ahmad (orang yang bawa stempel) *misscall*. Tak telepon balik
malah nggak bisa. Pak Ahmad telepon lagi. Mengabarkan bahwa dia masih di
Plaza 5 Pondok Indah. Berhubung aku mau kesitu juga, pengin sekali nyusul.
Takutnya, aku ke Plaza 5, Pak Ahmad ke PIM. Jadi aku dan OB tetap menunggu
di PIM saja. Beberapa menit kemudian Pak Ahmad menyuruh kita nyusul ke Plaza
5, tapi OB nggak mau karena jengkel. Daripada buang-buang waktu, aku jalan
dari PIM 2 menuju Plaza 5. Sampai di halaman Metro, Pak Ahmad telepon
"transaksi sudah selesai, Mbak. Tunggu di PIM saja." Fiuh...
Aku nggak mau balik PIM lagi karena cek harus segera cair, kalau nggak orang
proyek pasti teriak. Akhirnya aku berhasil memaksa Pak Ahmad nunggu di
Plaza 5. Sampai di bank, aku langsung naik tangga ke lantai dua. Pak Ahmad
nggak ada hikss...
Lalu aku turun dan melihat lambaian tangan Pak Ahmad dibalik kaca. *Ah..
leganya.* Cek di stempel lalu aku naik tangga lagi. Semenit kemudian Pak
Ahmad telepon lagi "Mbak Min kesini sama siapa? OB dimana?"
"Sendirian Pak, OB masih nunggu di pintu 9 PIM 2" jawabku sambil nulis nomor
rekening boss.

Klik, telepon mati.
"Ahmad mana?" suara OB mengagetkanku, entah apa yang membuat dia berubah
pikiran, malah nyusul ke Plaza 5 wekeke...
"Udah keluar, buruan kejar" jawabku sambil tertawa.

***************
Lucu nggak???
Thanks for reading.

--
http://minesweet.co.cc
http://minehaway.com
8b.

Re: [Catcil] Kucing-kucingan

Posted by: "siril_wafa" siril_wafa@yahoo.co.id   siril_wafa

Tue Dec 15, 2009 6:19 pm (PST)



Lucu sich bu . . . . .

tapoi belum bisa tertawa lebar, masih senyum-senyum aja.... (hehehe)
ditungggu cerita lucunya lagi ya . . . .tfs.

Salam,
Sis

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Mimin <minehaway@...> wrote:
>
> Menurutku sih kejadian ini lucu, tapi kalau saya nggak pandai bercerita
> jadinya teman2 nggak ada yang ketawa
> Let's check it dot!
>

9a.

Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Posted by: "catatankecil" fil_ardy@yahoo.com   fil_ardy

Tue Dec 15, 2009 6:56 pm (PST)



waduh..telat juga nih. Met Milad Pak Sinang semoga usia yang ada semakin bermanfaat untuk bekal dunia dan akhirat. Semoga, Pak Sinang menjadi suri tauladan bagi kami, dan bagi keluarga besar SK.

Selamat berbahagia,

Dani

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Hadian Febrianto <hadianf@...> wrote:
>
> Assalaamu'alaikum wr.wb
>
> Selamat MILAD Pa Sinang Bulawan, semoga usia yang telah diberikanNya
> mendapatkan barokah dan diberikan yang terbaik untuk yang akan datang.
>
> Wassalaamu'alaikum wr.wb
>
> --
> Regards,
> Hadian Febrianto, S.Si
> PT SAGA VISI PARIPURNA
> Jl. PHH Musthofa no.39
> Surapati Core Blok K-7 Bandung
> Ph: (+6222) 8724 1434
> Fax: (+6222) 8724 1435
>

9b.

Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Posted by: "siril_wafa" siril_wafa@yahoo.co.id   siril_wafa

Tue Dec 15, 2009 7:44 pm (PST)



Met milad ya Pak SInang, maaf agak telat ..

Salam,
Sis

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "catatankecil" <fil_ardy@...> wrote:
>
> waduh..telat juga nih. Met Milad Pak Sinang semoga usia yang ada semakin bermanfaat untuk bekal dunia dan akhirat. Semoga, Pak Sinang menjadi suri tauladan bagi kami, dan bagi keluarga besar SK.
>
> Selamat berbahagia,
>
> Dani
>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Hadian Febrianto <hadianf@> wrote:

9c.

Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Posted by: "punya_retno" punya_retno@yahoo.com   punya_retno

Tue Dec 15, 2009 8:58 pm (PST)



selamat milad pak sinang :)
semoga pak sinang dan keluarga selalu dirahmati Allah ya. amin

salam,

-retno, catur & raihana-

--- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "siril_wafa" <siril_wafa@...> wrote:
>
> Met milad ya Pak SInang, maaf agak telat ..
>
>
> Salam,
> Sis
>
>
> --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, "catatankecil" <fil_ardy@> wrote:
> >
> > waduh..telat juga nih. Met Milad Pak Sinang semoga usia yang ada semakin bermanfaat untuk bekal dunia dan akhirat. Semoga, Pak Sinang menjadi suri tauladan bagi kami, dan bagi keluarga besar SK.
> >
> > Selamat berbahagia,
> >
> > Dani
> >
> >
> > --- In sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, Hadian Febrianto <hadianf@> wrote:
>

9d.

Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang

Posted by: "yudhi mulianto" yudhi_sipdeh@yahoo.com   yudhi_sipdeh

Wed Dec 16, 2009 1:04 am (PST)



Selamat Milad Pak Sinang :-)

Semoga sehat selalu dan usia selanjutnya semakin barokah begitu juga keluarga dan teman-teman Sk semua.

salam

yudhi

--- On Tue, 12/15/09, pandika_sampurna <pandika_sampurna@yahoo.com> wrote:

From: pandika_sampurna <pandika_sampurna@yahoo.com>
Subject: [sekolah-kehidupan] Re: [LONCENG] Selamat MILAD pa Sinang
To: sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Date: Tuesday, December 15, 2009, 2:39 AM

 

Nah lho, akhirnya ketahuan.

Siapa ya dalangnya sehingga Kang Hadian tahu milad saya.

Hayo ngaku!

Alhamdulillah hari ini umur saya memasuki 50 tahun. Kata orang Jakarta sih "Gocap" gitu.

Untungnya temen-teman tahu lewat milis, kalau enggak saya harus ngasih apa ya, bayangin kalau harus traktir 2700an anggota ESKA, wuih enggak ketulungan tu, lebih-lebih dari PILKADA.

Ya mudah-mudahan ke depan kehidupan saya akan lebih baik lagi. Lebih bermanfaat untuk kehidupan sesama, baik keluarga, teman, dan masyarakat lainnya.

Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua, khususnya semua anggota ESKA yang ada.

Terima kasih untuk ucapannya.

Salam,

Sinang Bulawan

--- In sekolah-kehidupan@ yahoogroups. com, Hadian Febrianto <hadianf@... > wrote:

Assalaamu'alaikum wr.wb

Selamat MILAD Pa Sinang Bulawan, semoga usia yang telah diberikanNya

mendapatkan barokah dan diberikan yang terbaik untuk yang akan datang.

Wassalaamu'alaikum wr.wb
 
--

Regards,

Hadian Febrianto, S.Si

PT SAGA VISI PARIPURNA

Jl. PHH Musthofa no.39

Surapati Core Blok K-7 Bandung

Ph: (+6222) 8724 1434

Fax: (+6222) 8724 1435

10.

(catcil) Air mata Kerinduan

Posted by: "agus syafii" agussyafii@yahoo.com   agussyafii

Tue Dec 15, 2009 9:22 pm (PST)



Air Mata Kerinduan

By: agussyafii

Sore itu kedatangan Pak Liem ke Rumah Amalia sudah direncanakan. Kedatangannya sengaja untuk menyisihkan rizkinya untuk anak-anak Amalia. Katanya, 'menyisihkan rizki untuk anak-anak Amalia rasanya rizki saya kian melimpah,' Pak Liem dilahirkan dalam keluarga Tionghoa. Pada usia pertengahan waktu mudanya pernah didera rasa kegelisahan setiap harinya.

Pada malam hari seolah ada suara, 'bila hatimu gelisah, sholat aja,' Dia bingung sebab tidak tahu bagaimana cara sholat. 'saya nggak tahu bagaimana cara sholat' katanya dalam hati. 'Belajarlah! sholat akan membawa ketentraman dalam hatimu.' Kata suara itu. Sejak itulah Pak Liem belajar sholat dari orang lain, buku tata cara sholat. Berbekal sajadah dan iman didada dia mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun resiko yang terjadi. Awalnya sebagai seorang muallaf dia menerima ujian dan cobaan dalam setahun usaha bangkrut.

Namun semua itu disyukurinya karena dia telah terbiasa meghadapi pasang surut dalam dunia usaha sampai akhirnya menikah dan punya anak. Ujian terhadap imannya belum berakhir pada suatu malam dirinya sedang berbaring antara kondisi setengah tertidur dan tersadar, dia melihat dirinya sedang sholat diatas sajadah di dalam kamarnya. Disaat mengucapkan takbir, entah kenapa air matanya mengalir begitu deras. Sebuah air mata kerinduan. Entah kenapa ada rasa rindu seperti sedang rindu pada kekasih yang sudah lama dinantinya seolah sebentar lagi dirinya hendak bertemu. 'Mungkin itu kerinduan saya kepada Sang Khaliq' ucap Pak Liem sore itu.

Setelah peristiwa malam itu, anak saya sakit. Menurut diagnosis dokter ahli harus segera dioperasi. Waktunya kemudian ditentukan. Beberapa hari lagi dilakukan operasi. Sepenuhnya saya percaya kepada dokter ahli. 'Hal ini ujian terberat cinta saya kepada Alloh SWT,' begitu tutur Pak Liem tak dapat menyembunyikan kesedihannya. 'Saya berserah diri kepadaNya dan memohon kesembuhan bagi putra saya.' lanjutnya. Operasinya berjalan dengan baik dan anaknya Pak Liem bisa kembali dengan keluarga.

'Alloh SWT memang sedang menguji sekaligus melindungi saya,' Tuturnya pada saya. Usaha di Kota kembali berjalan. Rukonya bertambah satu lagi. 'Kini hidup saya terasa lebih tentram dan tenang.' Kata Pak Liem tanpa ragu. Setelah itu Pak Liem meminum teh hangat yang telah disediakan istri saya, dia menghela napas panjang. Matanya seolah menerawang angkasa luas. Raut wajahnya nampak guratan-guratan cermin dari air mata yang sering mengalir. 'Saya rindu..entah kenapa ada kerinduan. Mungkinkah orang seperti saya layak rindu kepadaNya?' Begitulah tutur Pak Liem yang senantiasa meneteskan air mata kerinduan kepada Sang Khaliq. Subhanallah..

--
Ya Alloh, Ya Tuhanku, Jika aku menyembahMu karena takut pada api neraka, maka masukkan aku di dalamnya! Dan jika aku menyembahMu karena ingin surgaMu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembahMu karena kecintaanku kepadaMu, maka berilah aku kesempatan untuk melihat wajahMu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu. (Doa Rabiah al-Adawiyah).

Wassalam,
agussyafii

--
Yuk, sambut tahun baru hijriyah bersama anak-anak Amalia. Dalam program kegiatan 'Amalia Cinta Muharram (ACM) pada hari Ahad, 20 Desember 2009 di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan komentar anda di http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431

11.

(Rampai) Puisi-puisi nya Icha Koraag

Posted by: "Elisa Koraag" elisa201165@yahoo.com   elisa201165

Tue Dec 15, 2009 11:45 pm (PST)




01.
 
Daun berguguran jatuh di halaman hati
tetes hujan memendarkan sinar mentari
angin bertiup, membelai semua benda
menyapu debu hingga berterbangan
 
mataku nanar entah menatap apa
rasanya ringan dan kosong
seringan kapas
seringan bulu ayam
 
dan melayang......
asap knalpot metromini
menyembur hitam, bau
menyentakku ke alam nyata
 
Ah lamunanku buyar.
Tadi aku melamun apa yah?
 
 
 
 
02.
 
Taman hati tercemar,
bunga bunga menjadi layu
mentari enggan bersinar
sayap kupu-kupu patah
Kumbang bingung
sepotong rumput bergoyang
menandakan masih ada kehidupan
 
Akankah sayap patah pulih kembali?
Akankah denting melodi cinta terdengar lagi
tuk iringi langkah tarian jiwaku
Tapi sekarang, aku lupa langkahnya.
 
03.
 
Ingin ku tata kembali
sepotong hati yang terluka
ingin ku belai dengan seluruh rasa
karena ku tahu, sakit itu
 
Tak ada yang bisa mengobati
mungkin besok sembuh
tapi sulit melupakan perihnya
karena terasa bagai bilah bambu di ujung jari.
 
04.
 
sayup ku dengar suara memanggil
ku tajamkan  telinga untuk menyimak
tapi suara itu hilang
tiba-tiba sunyi dan sepi
 
aku gamang, dimana aku?
 
 
05.
 
Selaksa kata terkumpul sudah
tapi lenyap diujung lidah
bibir terkatup tak mampu
berucap
ada tawa ada luk
aku lelah
 
 
Icha Koraag 16 Des 2009
 
 
Aku ngbelog maka aku bahagia:
http://puisinyaicha.blogspot.com/2009/12/01.html
 

Recent Activity
Visit Your Group
Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Mental Health

Learn More

Weight Loss Group

on Yahoo! Groups

Get support and

make friends online.

Need to Reply?

Click one of the "Reply" links to respond to a specific message in the Daily Digest.

Create New Topic | Visit Your Group on the Web

Tidak ada komentar: