Jumat, 25 Desember 2009

[daarut-tauhiid] H Ismail Saul Yenu

 

*H Ismail Saul Yenu
(Mualaf, Kepala Suku Besar Serui, dan Mantan Kepala Pendeta)*

*Missionaris tidak membangun peradaban baru, justru mempertahankan budaya
terbelakang.*

Hidayah datang tak mengenal umur. Itulah yang saya alami. Saat usia
menginjak angka 68 tahun, Allah membuka pintu hati saya untuk masuk Islam.
Padahal bertahun-tahun, saya adalah seorang pendeta, malah saya adalah
ketua
pendeta di Manokwari. Saya sekaligus adalah Kepala Suku Besar Serui.

Saya terlahir dengan nama Saul Yenu. Saya adalah manusia tiga zaman. Saya
merasakan hidup di zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Saya lahir 28
Oktober 1934. Karena itu saya pernah merasakan perih getirnya perjuangan.
Saat itu saya sebagai pejuang pembebesan Irian Jaya.

Ternyata setelah kemerdekaan, penduduk Irian Jaya bukannya tambah
berbudaya.
Mereka tetap saja dalam ketertinggalan. Mereka tetap telanjang. Padahal di
sana banyak berkeliaran para misionaris. Kekayaan alam yang dimiliki Irian
Jaya ternyata tak memberi dampak kemajuan kepada penduduknya.

Ini saya lihat berbeda dengan kalangan Muslim. Kebetulan saya bergaul
dengan
baik dengan kaum Muslim di Irian Jaya, terutama ABRI (sekarang TNI) yang
sering mengadakan kegiatan ABRI masuk desa pada dasawarsa 70-80-an. Mereka
semua berpakaian. Mereka pun membangunkan rumah-rumah gratis bagi warga
Irian. Begitu senangnya saya dengan mereka hingga saya pun dengan senang
hati sering memberi bantuan kepada mereka. Kebetulan saat itu saya bekerja
di Departemen Pekerjaan Umum.

Pergaulan intensif saya dengan orang-orang Muslim itu sedikit demi sedikit
menimbulkan kekaguman pada diri saya. Mereka selalu membersihkan diri
setiap
hari minimal lima kali sehari. Mereka pun selalu shalat. "Wah,
jangan-jangan
karena mereka sembahyang terus tiap hari, bumi ini menjadi berkah," pikir
saya.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami. Kami hanya ke gereja seminggu
sekali. Itu pun tidak wajib. Berarti doa hanya sekali seminggu. Itu pun
banyak di antara jemaaht gereja masih dalam keadaan habis minum bir dan
minuman keras lainnya. "Bagaimana doa bisa diterima kalau mabuk," pikir
saya.

Tapi itulah, kenyataaannya. Suatu saat saya berpikir: "Kalau Kristen
terus,
berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan pernah maju."
Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di Irian Jaya
pertama
kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun peradaban baru. Justru
mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang sebenarnya terbelakang.

Pergaulan saya dengan orang-orang Muslim mengantarkan saya pada sebuah
kesimpulan bahwa Islam identik dengan kemajuan. Dan inilah yang saya lihat
sendiri. Orang-orang Muslim justru mengajak kami menggunakan pakaian.
Belakangan saya baru tahu bahwa ada kewajiban bagi setiap Muslim menutup
aurat.

Begitu eratnya hubungan saya dengan kaum Muslim ini hingga kalangan
Kristen
di Manokwari menyebut saya pendeta Krimus, alias Kristen Muslim. Saya
bilang
kepada mereka: "Janganlah mengatakan seperti itu, nanti malah bisa menjadi
Muslim betulan."

Kekaguman saya atas perilaku kaum Muslim itulah yang membuat tekad saya
kian
kuat untuk memeluk Islam. Saya yakin: Islam adalah kemajuan. Pelajaran
kependetaan yang saya jalani di Gereja Tabernakel tak mampu mencegah
keinginan saya memenuhi panggilan Allah.

*
Jalan Berliku*

Ternyata tak mudah masuk Islam. Mungkin karena saya adalah kepala pendeta
dan kepala suku besar. Hingga suatu saat ketika saya menyampaikan niat
saya
kepada seorang kepala KUA di Manokwari, dia menolak. Sepertinya dia tak
berani mengislamkan saya.

Tapi niat hati ini tak bisa dibendung. Saya akhirnya memutuskan pergi ke
Jakarta demi niat tersebut. Saya dibantu oleh saudara Khairudin, kenalan
saya yang bekerja di Angkatan Laut. Saya kemudian diantar ke Condet,
menghadap seorang ulama di sana. Di situ saya mengucapkan syahadat. Saya
pun
mengubah nama menjadi Ismail Saul Yenu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya dibawa ke Masjid Al Azhar di Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan. Saat itu bulan Februari 2002. Keislaman saya
disahkan
di masjid besar itu. "Alhamdulillah." Setelah itu, saya pun disunat. Saya
dibawa ke Bandung. Dalam kondisi sudah tua seperti ini saya harus sunat
bersama anak-anak. Memang agak malu, tapi harus bagaimana lagi.

Masuk Islam saya ternyata sampai juga ke Irian Jaya, Belanda, dan Jerman.
Mereka gempar. Jelas mereka tak terima langkah saya, apalagi saya punya
posisi yang penting di Manokwari khususnya Suku Besar Serui.

Karena itu saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya ingin tinggal
di Jakarta terlebih dahulu, sekalian belajar Islam. Kebetulan saat itu
adalah musim haji. Saya ingin sekali naik haji. Berkat bantuan teman-teman
di Jakarta, akhirnya saya dibantu Pak Amien Rais untuk menunaikan haji.
Dalam kondisi masih diperban, saya berangkat haji bersama rombongan
Aisyiyah.

Sepulang dari haji, saya diminta tak langsung pulang ke Irian. Tapi saya
tetap nekad. Saya yakin Allah akan selalu menyertai kita. Saya yang sejak
haji mengenakan gamis panjang dan topi haji, berangkat naik kapal Pelni.
Banyak liku-liku di perjalanan, termasuk ketika kapal dilarang merapat di
Ambon karena ada konflik. Saya nekad meminta kapal dibolehkan sandar.
Kapal
pun sandar.

Ketika kapal Ciremai sampai di Manokwari, saya justru disambut. Tidak
hanya
kalangan Islam tapi juga Kristen. Saya diterima secara adat dengan cara
melewati kain slopang sepanjang 40 meter berwarna biru tua. Ini adalah
simbol kematian. Tapi di atas kain itu ditaruh 100 piring yang menandakan
kebangkitan. Ini artinya, sebagai pendeta sudah mati dan bangkit lagi
sebagai haji.

Sejak itu saya berusaha menyampaikan Islam kepada siapapun. Baik kepada
keluarga maupun saya datang langsung ke gereja. Saya selalu bilang kepada
mereka: "Saya datang untuk sampaikan firman Allah yang sebenarnya."

Memang baru hal-hal ringan yang saya sampaikan seperti tidak boleh mabuk,
harus selalu bersih dan suci. Saya juga menyampaikan bahwa Islam tidaklah
seperti yang digambarkan oleh para misionaris sebagai agama yang harus
dibenci. Islam adalah agama yang baik yang mengajarkan manusia untuk
berbudaya luhur, tidak telanjang seperti sekarang. "Ajaran yang demikian
baik, seharusnya bisa diterima," kata saya dalam setiap pertemuan.

Paling tidak hingga kini sudah ada 50 orang yang masuk Islam.
Alhamdulillah.
Sebanyak 20 di antaranya sudah naik haji. Keluarga pun beberapa mengikuti
jejak saya. Anak saya yang berjumlah 37 orang, tujuh di antaranya sudah
masuk Islam. Istri saya empat orang, dua di antaranya pun sudah jadi
mualaf.
Alhamdulillah. Saya akan terus berusaha agar penduduk Irian terbebas dari
keterbelakangannya dengan cara mengajak mereka masuk Islam.
Berbagai bantuan kini sedang saya kumpulkan, terutama adalah pakaian. Saya
ingin mereka berpakaian, menutup aurat. Itulah salah satu ajaran
Islam.[] *diolah
oleh mujiyanto dari hasil wawancara*

sumber: mediaumat




[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: