Sabtu, 19 Desember 2009

[daarut-tauhiid] TUNTUNAN ULAMA' SALAF DALAM MENYIKAPI HARI RAYA NON MUSLIM

 



Bismillaah

Assalamu'alaykum wa Rohmatulloohi wa Barokatuhu

Tuntunan Ulama' Salaf dalam menyikapi hari raya non muslim
Penulis: Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa n
Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin

Pertanyaan :
Apakah boleh memberikan ucapan selamat hari raya atau yang lainnya kepada orang orang Masihiyun (penganut ajaran Isa al Masih)?

Jawaban :
Yang benar adalah jika kita mengatakan : Orang-orang nasrani, karena
kalimat masihiyun berarti menisbatkan syariat (yang di bawah Nabi Isa)
kepada agama mereka, artinya mereka menisbatkan diri mereka kepada
Al-Masih Isa bin Maryam.

Padahal telah diketahui bahwa Isa bin Maryam Alaihissalam telah membawa
kabar gembira untuk Bani Israil dengan(kedatangan) Muhammad.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Isa Putra
Maryam berkata: `Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang
sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)`. Maka tatkala rasul itu
datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka
berkata: Ini adalah sihir yang nyata" (Ash-Shaff: 6).

Maka jika mereka mengkafiri/mengingk ari Muhammad Shallallahu wa `alaihi
wa Sallam maka berarti mereka telah mengkafiri Isa, kerena mereka telah
menolak kabar gembira yang beliau sampaikan kepada mereka. Dan oleh
karena itu kita mensifati mereka dengan apa yang disifatkan Allah atas
mereka dalam Al-Qur`an dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasulullah
Shallallahu wa `alaihi wa Sallam dalam As-Sunnah, dan yang
disifatkan/digambar kan oleh para ulama muslimin dengan sifat ini yaitu
bahwa mereka adalah nashrani sehingga kitapun mengatakan: sesungguhnya
orang-orang nashrani jika mengkafiri Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa
Sallam maka sebenarnya mereka telah mengkafiri Isa bin Maryam.

Akan tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Isa bin Maryam telah
memberi kabar gembira kepada kami dengan seorang rasul yang akan datang
sesudahnya yang namanya Ahmad, sementara yang datang namanya adalah
Muhammad. Maka kami menanti (rasul yang bernama) Ahmad, sedangkan
Muhammad adalah bukanlah yang dikabargembirakan oleh Isa. Maka apakah
jawaban atas penyimpangan ini?

Jawabannya adalah kita mengatakan bahwa Allah telah berfirman: Maka
ketika ia (Muhammad) datang kepada mereka dengan
penjelasan-penjelas an،. Ayat ini menunjukkan bahwa rasul tersebut telah
datang; dan apakah telah datang kepada mereka seorang rasul selain
Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam setelah Isa? Tentu saja
tidak, tidak seorang rasulpun yang datang sesudah Isa selain Muhammad
Shallallahu wa `alaihi wa Sallam. Dan berdasarkan ini maka wajiblah
atas mereka untuk beriman kepada Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa
Sallam dan juga kepada Isa `Alaihissalam.

Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari
Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman
kepada Allah, Malaikat-malaikatNy a, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya
(mereka mengakatan): `Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya.،¦ (Al-Baqarah: 285)

Oleh karena itu Nabi Shallallahu wa `alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah
selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Isa
adalah hamba dan utusan Allah(Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari no. 3435 dalam kitab Ahaditsul Anbiya` bab Qauluhu Ta`ala:
Ya Ahal Kitabi La Taghlul Fi Dinikum, dan oleh Muslim no. 28 dalam
kitab Al-Iman bab Ad-Dalil `Alaa Inna Man Maata `Alat Tauhiid Dakhalal
Jannah Qath`an dari hadits `Ubadah bin Ash-Shamit Radhiallahu Anhu).

Maka tidak sempurna iman kita kecuali dengan beriman kepada Isa
Alaihissalam dan bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah, sehingga
kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang
nashrani; bahwa ia adalah putra Allah, dan tidak (pula mengatakan)
bahwa ia adalah tuhan. Dan kita tidak pula mengatakan sebagaimana yang
dikatakan oleh orang yahudi: bahwa beliau adalah pendusta dan bukan
seorang Rasul dari Allah, akan tetapi kita mengatkan bahwa Isa di utus
kepada kaumnya dan bahwa syariat Isa dan nabi-nabi yang lainnya telah
dihapus oleh syariat Nabi Muhammad Shallallahu wa `alaihi wa Sallam.

Adapun memberi ucapan selamat hari raya kepada orang-orang nashrani
atau yahudi maka ia adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama
sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Ahkam Ahli
Adz-Dzimmah, dan silahkan anda membaca teks tulisan beliau: "Dan adapun
memberikan ucapan selamat untuk syiar-syiar kekufuran yang bersifat
khusus maka ia adalah haram secara ijma`, seperti mengucapkan selama
untuk hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan : "hari raya yang
diberkahi untuk anda،¦ Maka yang seperti ini kalaupun orang yang
mengucapkan selamat dari kekufuran maka perbuatan itu termasuk yang
diharamkan. Dan ia sama dengan memberikan selamat untuk ujudnya kepada
salib. Bahkan itu lebih besar dosanya dan lebih dimurkai oleh Allah
daripada memberikan selamat atas perbuatannya meminum khamar, membunuh,
melakukan zina dan yang semacamnya. Dan banyak orang yang tidak
memiliki penghormatan terhadap Ad-dien terjatuh dalam hal itu dan ia
tidak mengetahui apa yang telah ia lakukan". Selesai tulisan beliau.
(Dinukil dari Ash-Shahwah Al-Islamiyah, Dhawabith wa Taujihat, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin) .

Pertanyaan :
Apakah boleh berpartisipasi dengan kalangan non muslim dalam Hari-hari
Raya mereka (Natal, Tahun Baru, Paskah, Imlek, dll, red), seperti hari
ulang tahun misalnya?

Jawaban :
Alhamdulillah. Seorang muslim tidak boleh berpartisipasi dalam
hari-hari perayaan mereka dan turut menunjukkan kegembiraan dan
keceriaan bersama mereka dalam memperingatinya, atau ikut libur bersama
mereka, baik itu peringatan yang bersifat keagamaan atau keduniawiaan.
Karena itu menyerupai musuh-musuh Allah yang memang diharamkan, selain
juga berarti menolong mereka dalam kebatilan. Diriwayatkan dengan
shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda: "Barangsiapa yang menyerupai satu kaum berarti termasuk
golongan mereka."

Sementara Allah juga berfirman: "Bertolong-tolongan lah dalam kebaikan
dan ketakwaan dan janganlah bertolong-tolongan dalam dosa dan
permusuhan; bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Keras
siksanya.." (QS.Al-Maa-idah : 2)

Maka kami nasihat agar Anda menelaah kibat Iqtidhaa-ush Shiratil
Mustaqiem karya Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah- - sebuah buku yang amat
bermutu sekali dalam persoalan tersebut. Wabillahit Taufiq. Semoga
shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam.

(Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa nomor 2540)

Pertanyaan :
Saya menyaksikan banyak kaum muslimin yang turut berpartisipasi dalam
merayakan Hari Natal dan berbagai perayaan lain. Apakah ada dalil dari
Al-Qur'an dan Sunnah yang bisa saya tunjukkan kepada mereka bahwa
kegiatan tersebut tidaklah disyariatkan?

Jawaban :
Ikut serta dalam Hari Raya orang kafir bersama mereka tidak boleh, berdasarkan hal-hal berikut:
Pertama: itu berarti menyerupai mereka. Nabi bersabda: "Barangsiapa
menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." Diriwayatkan
oleh Abu Dawud, dan dikatakan oleh Al-Albani -Rahimahullah- - : "Hasan
shahih." (Shahih Abu Dawud II : 761)

Ini merupakan ancaman keras. Abdullah bin Amru bin Ash Radhiallahu
'anhuma pernah menyatakan: "Barangsiapa yang tinggal di negeri kaum
musyrikin dan mengkuti acara Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu
meniru mereka hingga mati, ia akan merugi di Hari Kiamat nanti."

Kedua: Ikut serta berarti juga menyukai dan mencintai mereka

Allah berfirman: "Janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai wali kalian.."

Demikian juga Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman; janganlah
kalian menjadikan musuh-musuh- Ku dan musuh-musuh kalian sebagai wali
yang kalian berikan kepada mereka kecintaan padahal mereka telah kafir
terhadap kebenaran yang datang kepada mereka.."

Yang ketiga: Hari Raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah
keduniaan, sebagaimana ditegaskan dalam hadits: "Setiap kaum memiliki
Hari Raya, ini adalah Hari Raya kita.." Hari Raya mereka
mengekspresikan akidah mereka yang rusak, penuh syirik dan kekafiran.

Keempat: "Dan mereka-mereka yang tidak menghadiri kedustaan
(kemaksiatan) .." ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud dengan
kedustaan dalam ayat itu adalah Hari-hari Raya kaum musyrikin. Sehingga
tidak boleh menghadiahkan kepada mereka kartu ucapan selamat, atau
menjualnya kepada mereka, demikian juga tidak boleh menjual segala
keperluan Hari Raya mereka, baik itu lilin, pohon natal,
makanan-makanan; kalkun, manisan atau kue yang berbentuk stik atau
tongkat dan lain-lain.

Kalau yang dimaksud dengan peringatan di situ adalah peringatan Hari
Raya orang-orang kafir dan musyrikin tersebut, jelas tidak boleh kita
berpartisipasi dalam Hari Raya yang batil tersebut. Karena itu
mengandung kerja sama dan menolong mereka dalam berbuat dosa dan
permusuhan. Berpartisipasi dalam Hari Raya mereka juga berarti
Menyerupai orang-orang kafir. Islam telah melarang menyerupai
orang-orang kafir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dalam golongan
mereka." (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ahmad)

Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan: "Jauhilah musuh-musuh Allah pada Hari Raya mereka." Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi)

Ibnul Qayyim -Rahimahullah- - menyatakan: "Kaum muslimin tidak boleh
menghadiri perayaan Hari-hari Raya kaum musyrikin menurut kesepakatan
para ulama yang berhak memberikan fatwa. Para ulama fikih dari madzhab
yang empat sudah menegaskan hal itu dalam buku-buku mereka. Imam
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Umar bin
Al-Khattab Radhiallahu 'anhu bahwa beliau pernah berkata: "Janganlah
menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja mereka pada Hari Raya
mereka. Karena kemurkaan Allah sedang turun di antara mereka." Umar
juga pernah berkata: "Jauhilah musuh-musuh Allah itu pada Hari Raya
mereka." Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang bagus dari
Abdullah bin Amru Radhiallahu 'anhuma beliau pernah berkata:
"Barangsiapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan
Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga
mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat
nanti." (Lihat Ahkaamu Ahlidz Dzimmah I : 723-724).

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah- -
menyatakan dalam bukunya yang agung Iqtidha-ush Shirathil Mustaqiem
Mukhalafata Ash-haabil Jahiem: "Adapun apabila seorang muslimin menjual
kepada mereka pada Hari-hari Raya mereka segala yang mereka gunakan
pada Hari Raya tersebut, berupa makanan, pakaian, minyak wangi dan
lain-lain, atau menghadiahkannya kepada mereka, maka itu termasuk
menolong mereka mengadakan Hari Raya mereka yang diharamkan. Dasarnya
satu kaidah: tidak boleh menjual anggur atau jus kepada orang kafir
yang jelas digunakan untuk membuat minuman keras. Juga tidak boleh
menjual senjata kepada mereka bila digunakan untuk memerangi kaum
muslimin."
Kemudian beliau menukil dari Abdul Malik bin Habib dari kalangan ulama
Malikiyyah: "Sudah jelas bahwa kaum muslimin tidak boleh menjual kepada
orang-orang Nashrani sesuatu yang menjadi kebutuhan Hari Raya mereka,
baik itu daging, lauk-pauk atau pakaian. Juga tidak boleh memberikan
kendaraan kepada mereka, atau memberikan pertolongan untuk Hari Raya,
karena yang demikian itu termasuk memuliakan kemusyrikan mereka dan
menolong mereka dalam kekufuran mereka." (Al-Iqtidhaa cet. Darul
Makrifah dengan tahqiq Al-Qafiyy hal. 229-231)

Semua perayaan tahunan dan pertemuan tahunan (yang dirayakan non
Muslim, red) adalah Hari-hari Raya bid'ah dan ajaran bid'ah yang tidak
pernah diturunkan oleh Allah penjelasan tentang hal itu.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berhati-hatilah terhadap
amalan yang dibuat-buat. Setiap amalan yang dibuat-buat adalah bid'ah
dan setiap bid'ah adalah sesat." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud
dan At-Tirmidzi serta yang lainnya)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Masing-masing kaum
memiliki Hari Raya, dan ini adalah Hari Raya kita." (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah- - mengulas persoalan
tersebut secara panjang lebar dalam buku beliau Iqtidha-ush Shiratil
Mustaqiem Mukhalafata Ash-habil Jahiem, berkaitan dengan kecaman
terhadap berbagai Hari Raya bid'ah yang tidak ada asalnya dalam ajaran
Islam yang lurus. Adapun kerusakan yang terkandung dalam acara-acara
tersebut, tidak setiap orang, bahkan juga kebanyakan orang tidak dapat
mengetahui kerusakan yang terkandung dalam bentuk bid'ah semacam itu.
Apalagi bentuk bid'ah itu adalah bid'ah dalam ibadah syariat. Hanya
kalangan cerdik pandai dari para ulama yang dapat mengetahui kerusakan
yang terdapat di dalamnya.
Kewajiban umat manusia adalah mengikuti ajaran Kitabullah dan Sunnah
Rasul, meskipun ia belum bisa mengetahui maslahat dan kerusakan yang
terdapat di dalamnya. Dan bahwasanya orang yang membuat-buat satu
amalan pada hari tertentu dalam bentuk shalat, puasa, membuat makanan,
banyak-banyak melakukan infak dan sejenisnya, tentu akan diiringi oleh
keyakinan hati. Karena ia pasti memiliki keyakinan bahwa hari itu lebih
baik dari hari-hari lain. Karena kalau tidak ada keyakinan demikian
dalam hatinya, atau dalam hati orang yang mengikutinya, tidak akan
mungkin hati itu tergerak untuk mengkhususkan hari tertentu atau malam
tertentu dengan ibadah tersebut. Mengutamakan sesuatu tanpa adanya
keutamaan adalah tidak mungkin.
Kemudian Hari Raya (Ied) bisa menjadi nama untuk tempat perayaan, waktu
perayaan, atau pertemuan pada perayaan tersebut. Ketiganya memunculkan
beberapa bentuk bid'ah. Adapun yang berkaitan dengan waktu, ada tiga
macam. Terkadang di dalamnya juga tercakup sebagian bentuk tempat dan
aktivitas perayaan.
Pertama: Hari yang secara asal memang tidak dimuliakan oleh syariat,
tidak pernah pula disebut-sebut oleh para ulama As-Salaf. Tidak ada hal
yang terjadi yang menyebabkan hari itu dimuliakan.
Yang kedua: Hari di mana terjadi satu peristiwa sebagaimana terjadi
pada hari yang lain, tanpa ada konsekuensi menjadikannya sebagai musim
tertentu, para ulama As-Salaf juga tidak pernah memuliakan hari
tersebut. Maka orang yang memuliakan hari itu, telah menyerupai umat
Nashrani yang menjadikan hari-hari terjadinya beberapa peristiwa
terhadap Nabi Isa sebagai Hari Raya. Bisa juga mereka menyerupai
orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Hari Raya itu adalah syariat yang
ditetapkan oleh Allah untuk diikuti. Kalau tidak, maka akan menjadi
bid'ah yang diada-adakan dalam agama ini.
Demikian juga banyak bid'ah yang dilakukan masyarakat yang meniru-niru
perbuatan umat Nashrani terhadap hari kelahiran Nabi Isa
-'Alaihissalam- - , bisa jadi untuk menunjukkan kecintaan terhadap Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan memuliakan beliau. Perbuatan semacam
itu tidak pernah dilakukan oleh generasi As-Salaf, meskipun yang
mengharuskannya (bila memang boleh) sudah ada, dan tidak ada hal yang
menghalangi.
Yang ketiga: Hari-hari di mana dilaksanakan banyak syariat, seperti
hari Asyura, hari Arafah, dua Hari Raya dan lain-lain. Kemudian
sebagian Ahli Bid'ah membuat-buat ibadah pada hari itu dengan keyakinan
bahwa itu merupakan keutamaan, padahal itu perbuatan munkar yang
dilarang. Seperti orang-orang Syi'ah Rafidhah yang menghaus-hauskan
diri dan bersedih-sedih pada hari Asyura' dan lain-lain. Semua itu
termasuk perbuatan bid'ah yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah
Ta'ala dan Rasul-Nya, tidak pula oleh para generasi As-Salaf atau Ahli
Bait Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun mengadakan pertemuan
rutin yang berlangsung secara terus menerus setiap minggu, setiap bulan
atau setiap tahun selain pertemuan-pertemuan yang disyariatkan, itu
meniru pertemuan rutin dalam shalat lima waktu, Jumat, Ied dan Haji.
Yang demikian itu termasuk bid'ah yang dibuat-buat.
Dasarnya adalah bahwa seluruh ibadah-ibadah yang disyariatkan untuk
dilakukan secara rutin sehingga menjadi sunnah tersendiri dan memiliki
waktu pelaksanaan tersendiri kesemuanya telah ditetapkan oleh Allah.
Semua itu sudah cukup menjadi syariat bagi hamba-hamba- Nya. Kalau ada
semacam pertemuan yang dibuat-buat sebagai tambahan dari
pertemuan-pertemuan tersebut dan dijadikan sebagai kebiasaan, berarti
itu upaya menyaingi syariat dan ketetapan Allah. Perbuatan itu
mengandung kerusakan yang telah disinggung sebelumnya. Lain halnya
dengan bentuk bid'ah yang dilakukan seseorang sendirian, atau satu
kelompok tertentu sesekali saja."
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, seorang muslim tidak boleh
berpartisipasi pada hari-hari yang dirayakan setiap tahun secara rutin,
karena itu menyaingi Hari-hari Raya kaum muslimin sebagaimana telah
kita jelaskan sebelumnya. Tetapi kalau dilakukan sekali saja,
dimisalkan seorang muslim hadir di hari itu untuk memberikan penjelasan
kepada kaum muslimin lainnya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka,
maka tidak apa-apa, insya Allah. Wallahu A'lam.

(Dikutip dari Masa-il wa Rasaa-il oleh Muhammad Al-Humud An-Najdi 31.
Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Iftaa. Fatwa nomor 2540)
Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy. or.id/print. php?id_artikel= 406

 

Walhamdulillaah

Wassalamu'alaykum wa Rohmatulloohi wa Barokatuhu

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
====================================================
.

__,_._,___

Tidak ada komentar: